Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Berkumpul -


__ADS_3

Gia berjalan beriringan dengan Nissa didalam Mall, hari ini mereka melakukan quality time sebagai kakak-adik. Gia memutuskan menghubungi Nissa karena jadwalnya hari ini sedikit lengang, ia mengajak adiknya untuk jalan-jalan dan belanja keperluan mereka disebuah Mall yang cukup besar di Jakarta.


Suasana tampak ramai. Di kota metropolitan, meskipun ini adalah weekday tetap saja Mall akan banyak dikunjungi oleh orang-orang yang meluangkan waktu seperti halnya Gia dan Nissa saat ini. Mereka tengah mencari buku disalah satu toko buku yang ada didalam Mall tersebut.


Setelah selesai dengan itu, Gia dan Nissa masuk kedalam supermarket yang menjual barang-barang kebutuhan rumah tangga. Puas berbelanja, merekapun duduk disalah satu toko ice-cream untuk melengkapi kebersamaan mereka hari ini yang jarang terjadi.


"Kak, makasih ya udah penuhi semua kebutuhan aku. Aku harap kakak selalu sehat dan bahagia" Nissa menggenggam tangan kakaknya yang duduk dihadapannya.


"Itu udah kewajiban kakak sekarang. Kamu kan tanggung jawab kakak juga!" Gia membalas adiknya dengan menepuk-nepuk punggung tangan gadis itu.


"Tapi ingat kak, kakak harus pikirin juga hidup kakak kedepannya!" Celetuk Nissa.


"Huum" Gia mengangguk pasrah.


Tapi tiba-tiba kebersamaan mereka harus terusik ketika sepasang suami istri ikut bergabung bersama mereka.


"Hai...." Gia mendongak melihat ke asal suara. Ternyata Lyra dan Ivan sudah datang. Gia sekalian membuat janji temu dengan mereka setelah Gia tahu mereka masih berada di Jakarta.


Gia menyambut mereka dengan hangat, lalu mengambil alih Kimmy yang berada dalam Stroller. Gia tampak antusias dengan bayi mungil itu.


"Kalian enggak usah balik. Di Jakarta aja ya ya ya?" Pinta Gia pada Lyra dan Ivan.


"Bilang aja kamu mau kita tetap di Jakarta karena kamu enggak mau pisah sama Kimmy kan?" Suara Ivan ikut nimbrung diantara mereka.


"Yeahh...tau aja kamu! Lyra sama kamu mau balik ya balik aja. Kimmy biar di Jakarta sama aku dan Nissa. Ya nggak dek?" Gia menatap Nissa untuk menagih jawaban yang sama. Nissa pun mengiyakan.


"Enak aja kamu! buatnya susah tau!" Celetuk Lyra yang disambut kekehan oleh mereka berempat.


"Susah tapi kan kamu suka sayang!" Ujar Ivan dengan gaya cool khas-nya.


Lyra pun memasang wajah malu-malu, sementara Gia melotot ke arah Ivan.


"Udah ya. Kalian ini jangan lupa disini ada Nissa! tolong pembahasannya jangan menodai pikiran adikku!" Gia menggoda Ivan dan Lyra dengan sedikit memelototkan matanya.


"Kasian ya nasib jomblo" Jawab Nissa menyengir.


"Bilang aja kamu yang meriang Gi kalau dengar yang begituan!" Kata Ivan yang lalu mendapat tepukan dari tangan istrinya, Lyra.


"Makanya buru cari lagi sana biar enggak meriang!" Ivan terus saja menggoda Gia dan selalu mendapat tatapan tajam dari Lyra. Lyra berharap Ivan mau mengerem ucapannya yang kadang terlalu tajam. Tapi bukan Gia namanya jika mau meladeni ucapan Ivan. Gia sudah cukup mengenal Ivan jadi ia hanya berlagak masa bodoh dengan Ivan yang kadang menjengkelkan.


"Sayang, ucapannya agak di filter dong!" Protes Lyra pada sang suami.

__ADS_1


"Biarin aja, Ra! Aku udah kebal!" jawab Gia acuh.


"Hahaha lihat! dia aja udah kebal sama ucapan aku, sayang!" Ivan menatap Lyra sambil tersenyum.


"Iyalah, ucapan kamu yang pedas-pedas itu udah enggak mempan sama aku!" Sanggah Gia.


Namun, tiba-tiba suara tawa dan riuh itu hening seketika bersamaan seseorang yang datang menghampiri meja mereka.


"Aku boleh gabung?" Suara lelaki itu mendominasi diantara mereka.


Lyra menyambut lelaki itu dengan ramah, serta menyuruhnya duduk disamping Ivan. Gia membuang muka untuk menetralkan perasaannya yang tiba-tiba berdebar tidak karuan.


"Gi, kamu udah ketemu Arga kan pas di nikahan Mikha?" Lyra melihat kearah Gia yang duduk diseberangnya. Gia hanya mengangguk kikuk untuk menjawab Lyra.


Nissa yang sedari awal melihat kedatangan Arga, terus memperhatikan lelaki itu, ia kemudian menyadari bahwa itu adalah lelaki yang tempo hari mengantar kakakknya pulang. Terbukti dari sikap Gia yang mendadak jadi pendiam.


Arga menatap Gia sekilas, Gia duduk diseberang kanan Arga, tepatnya diujung. Arga tak berniat menyapanya atau menyunggingkan senyum. Ia hanya memasang ekspresi datar saat mereka tanpa sengaja saling bertatapan.


Arga memutuskan untuk bercakap-cakap dengan Ivan saja yang baru diketahuinya juga telah menikah dengan Lyra.


"Apa disini hanya kau dan Lyra yang berpasangan?" Tanya Arga pada Ivan namun tentu saja didengar oleh semua yang berada dimeja itu. Arga ingin memastikan kecurigaannya, kenapa Gia selalu tanpa suaminya. Namun, pertanyaan Arga itu tentu di mengerti oleh Ivan. Ivan tahu ada maksud dibalik ucapan Arga itu.


"Kau terlalu lama dinegeri orang, sampai kau kurang up to date!" kata Ivan menyahuti Arga, lebih tepatnya menyindir Arga yang tak tahu apa-apa.


Ivan hanya mengangkat bahu ketika Gia dengan sengaja membanting sendok ice-creamnya ke gelas, hingga menimbulkan dentingan.


"Kau sendiri, mana pasanganmu?" Ivan berusaha mengalihkan suasana dengan pertanyaan lain kepada Arga.


"Maksudmu istriku?" Arga tersenyum miring sambil melirik Gia yang sekilas memanyunkan bibir.


"Kau sudah menikah?" Lyra menatap Arga, menuntut jawabannya.


Sementara Nissa nampak terperangah tak percaya, mendengar lelaki yang ia anggap dekat dengan kakaknya dan sempat ia lihat mencium Gia dimalam itu sudah menikah. "Astaga" Batin Nissa mencoba menenangkan diri.


"Kenapa jika ku bilang aku sudah punya istri semua menganggapku sudah menikah?" Arga malah balik bertanya dengan pertanyaan yang tak kalah ambigu dari pernyataan Ivan sebelumnya.


"Kalau kau bilang sudah punya istri, tentu saja artinya kau sudah menikah, bod*h!" seru Ivan dengan ucapan pedasnya.


"Siapa bilang?" kembali Arga bertanya pada Ivan. Mereka seperti sedang beradu argumen.


"Ya tentu saja semua orang akan bilang begitu!" Jawab Ivan dengan mantap.

__ADS_1


Arga hanya tersenyum miring. Ivan menatapi semua yang ada disitu untuk mendukung ucapannya.


"Mungkin maksudnya dia memiliki istri tapi tidak menikahinya!" Suara Gia mulai terdengar walau ia menjawab itu dengan nada malas.


Arga kembali tersenyum miring, ini yang dia harapkan, memancing agar Gia membuka suara dan menyapanya. Arga tak mau menyapa lebih dulu karena tempo hari dia sudah mengiyakan permintaan Gia untuk tidak saling mengenal jika bertemu.


"Maksudnya?" Ketiga orang yang berada disitu menatap Gia dan mengeluarkan pertanyaan spontan yang sama dan nyaris serentak mengucapkannya. Lyra, Ivan, dan Nissa menuntut agar Gia menjelaskan maksud dari ucapannya.


"Loh, kenapa menatapku begitu? tanyakan saja padanya! kan aku cuma mengatakan hal yang terlintas dikepalaku!" elak Gia.


Arga mengu-lum senyumnya mendengar Gia yang tak mau menjelaskan apa maksud dari ucapannya.


"Itu benar, aku belum menikah tapi aku sudah punya istri!" Jawab Arga kemudian. membebaskan Gia dari tatapan ketiga orang tadi. Kini mereka malah balik menatap Arga. Mereka seperti orang bodoh diantara Arga dan Gia. Dipermainkan oleh kata-kata ambigu dari keduanya.


"Ah terserahlah, aku tidak mau jadi bodoh jika menanggapi kalian berdua!" ketus Ivan.


Lyra menepuk jidatnya sendiri. Sementara Nissa mengaduk-aduk ice cream yang sudah sejak tadi tak dimakannya lagi.


Gia memberikan Kimmy pada Lyra yang sudah selesai dengan ice-creamnya. Arga memperhatikan itu, dan menatapnya bingung.


"Apa itu anak kalian?" Tanya Arga pada Lyra.


"Iya ini anakku dan Ivan. Kimmy." Ujar Lyra.


Arga tertunduk dan memegang pelipisnya. Selama ini dia salah menduga bahwa Kimmy adalah anak Gia dan Erick. Bahkan ketika menghampiri meja mereka tadi, Arga terus curi-curi pandang melihat Gia yang sedang memangku Kimmy dan bermain dengan bayi itu dengan telaten, layaknya ibu dan anak.


"Kenapa, Ga?" Tanya Lyra merasa aneh dengan sikap Arga.


"Tak apa." Ucap Arga datar.


"Apa kau mau memiliki anak juga walau kau tidak menikah?" Tanya Ivan.


"Maksudmu apa?" Arga seperti tidak terima ucapan Ivan barusan.


"Yeah..Kau bisa memiliki seorang istri tanpa menikah. Jadi, ku pikir kau juga menginginkan anak tanpa menikah!" jawab Ivan dengan entengnya. Arga menatap Ivan dengan tajam, bisa-bisanya Ivan membalikkan kata-kata Arga dengan mengait-ngaitkan seorang anak. Ingin rasanya Arga mencek*k leher lelaki kaku didepannya ini.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2