Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Kedatangan Erick -


__ADS_3

Suara ketukan pintu membangunkan Gia dari tidurnya. Gia menatap jam di dinding kamar, menunjukkan pukul 19:40 malam.


"Astaga lama sekali aku tertidur" gumam Gia dalam hati.


Gia beranjak dan ingin membuka pintu depan, Gia menyangka Lyra sudah pulang bekerja. Tapi ini terlalu cepat. Biasanya Lyra akan pulang pukul 21:30 malam jika ia masuk sore.


Gia membuka pintu dan memunculkan sesosok lelaki yang sangat dikenalinya.


"Erick?" Gia terperangah dengan adanya Erick didepan kontrakannya.


Gia mengingat Erick yang akan segera bertunangan dengan Mikha. Tapi bukan itu yang ingin Gia tanyakan saat ini, ketika melihat Erick didepan matanya yang lain dari pada biasanya.


Erick melihat Gia yang terdiam, ia pun diam tanpa suara. Ia masuk kedalam rumah Gia tanpa permisi.


Gia mengikuti Erick yang sudah mendahuluinya untuk masuk.


"Ada apa?" Tanya Gia tak mengerti dengan sikap Erick.


"Duduklah. Aku mau bicara!" Jawab Erick memerintah seolah dia yang punya kuasa dirumah ini.


Gia menurut saja, ia duduk di kursi. Erick yang masih berdiri lalu menuju pintu dan menutupnya. Membuat Gia makin terheran-heran dengan kelakuannya.


"Kamu mau apa, Erick?" Tanya Gia sedikit panik.


"Gia, ayo kita pergi!" Kata-kata itu lolos dari mulut Erick.


"Apa maksudmu? Kamu udah menyetujui pertunangan itu kan?"


"Iya, aku terpaksa, sayang. Bisakah kamu mengerti kondisiku saat ini?"


Gia terdiam, ia kembali melihat Erick dengan teliti. Tubuhnya sangat kurus bahkan Gia tidak pernah melihat Erick sekurus ini. Rambutnya yang biasa disisir rapi dengan potongan undercut, kini tampak kusut dan lusuh tanpa sisiran. Pipinya terkesan semakin tirus efek dari berat badannya yang sepertinya menurun drastis.


Erick terlihat kacau dengan mata cekung dan terdapat lingkaran hitam disekitar mata oriental itu.


Wajahnya yang tampan tampak tidak ada aura kebahagiaan yang terpancar.


Gia amat sedih mendapati lelaki yang dicintainya seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Erick, Gia bahkan tidak mengetahuinya. Gia merasa bodoh tidak mengetahui apa saja yang telah Erick lewati.


"Kenapa kamu bisa seperti ini, Rick?" Tanpa sadar Gia meneteskan air matanya.


Erick mendekat kearah dimana Gia duduk, ia berdiri sambil menangkup pipi Gia dengan kedua tangannya. Menatap mata Gia dengan intens.


"Jangan menangis!" Pinta Erick lirih.


Mendengar suara Erick yang bergetar, Gia menenggelamkan wajahnya diperut Erick yang berdiri dihadapannya. Tangannya melingkar posesif di pinggang Erick.


"Maafkan aku jika kamu begini karena aku!" Akhirnya Gia menangis terisak-isak sambil bersandar di perut Erick.


Erick mengelus kepala Gia. Ia berusaha menenangkan Gia. Ia mau menjelaskan semuanya pada Gia. Ia tidak mau Gia salah paham dengan keadaan yang Erick yakini Gia sudah mengetahuinya sekarang.


"Aku nggak akan bertunangan dengannya! Aku hanya akan menikah denganmu!" Kata Erick penuh dengan penekanan.


Gia mendongak melihat Erick tanpa melepaskan pelukannya,


Erick menghapus jejak-jejak air mata dengan ibu jarinya di pipi mulus Gia.


"Duduklah!" Ucap Gia pada Erick seraya melepaskan kaitan tangannya dipinggang Erick.


Erick pun menurut, duduk disamping Gia. Ia diam ingin membuka pembicaraan. Memulainya dari awal agar Gia mengerti mengapa akhirnya Mikha menjadi calon tunangannya.


"Beberapa bulan lalu, Mikha datang kerumahku. Aku nggak tau dia tau darimana rumah orangtua ku, itu nggak penting."


"Dia amat pandai mengambil hati keluargaku. Diam-diam dia mendekati mereka semua untuk mengambil hati, itu semua tanpa sepengetahuanku!" Jelas Erick.


Gia diam mendengarkan penjelasan Erick.


"Sampai pada akhirnya, ketika aku nggak dapat restu dari mama, aku memilih untuk meminta restu papaku. Diluar kendaliku, papa semakin drop dengan kondisinya." ucapan Erick terputus. Ia menarik nafas dalam mengingat papanya.


"Papa, papa masuk ICU. Dan semua menyalahkan aku. Aku nggak tahu harus berbuat apa. Aku ingin lari dari kenyataan. Tapi aku juga bukan anak durhaka yang akan meninggalkan papaku disaat dia sedang sakit."


Gia mengelus pundak Erick dari samping. Menenangkannya.


"Setelah papa sadar dan mulai membaik, ia berbicara kepadaku untuk segera menikah dengan siapapun yang dipilihkan oleh mama, awalnya aku nggak tau ternyata mamaku udah punya calon untuk dia kenalkan kepadaku."


"Dan wanita itu adalah Mikha?" Tebak Gia.


Erick mengangguk lemah.


"Aku nggak punya pilihan lain selain mengiyakan keputusan mereka, Gia! Kesehatan papa jadi taruhannya!"


"Lalu sekarang kenapa kamu mengajak aku pergi?"


"Karena papa udah merestui kita, sayang. Meskipun yang lain enggak."


Gia terperangah, menatap Erick disampingnya. Gia benar-benar tidak mengerti.


"Papa udah semakin membaik sekarang, tapi beliau menangkap kesedihanku. Sebagai sesama lelaki, papa tahu betul perasaanku. Papa menyuruhku pergi menikahimu. Tapi didepan mama, papa seolah mengusirku pergi. Padahal sebenarnya papa sudah merestui kita."


"Papa sedih melihat aku, papa bilang kalau papa udah lama memendamnya, tapi papa juga nggak bisa menentang mama. Bagaimanapun, papa sebagai suami harus menghargai keputusan istrinya."


"Lalu Kenapa kamu jadi seperti ini?" Tanya Gia sembari memperhatikan penampilan Erick dari kepala sampai kaki.


Erick tersenyum kecut dan ia memegang tangan Gia.


"Maafkan aku, enggak mendapat kabar kamu membuat aku jadi seperti orang bodoh. Dan keadaan dirumah membuatku semakin terpuruk. Saat ini, aku terpaksa meminum anti depresan dari dokter." jawab Erick yang seketika menampilkan wajahnya yang murung.


Gia syok dan merasa tidak percaya dengan yang didengarnya. Ia seketika melepaskan genggaman tangan Erick. Ia berdiri untuk menenangkan pikirannya.

__ADS_1


"Maaf sayang. Aku benar-benar nggak bisa tanpa kamu! Ini pula lah yang mendorong papa merestui kita! Karena papa menyesali keputusannya ketika melihat kondisiku!"


"Apa kamu berbuat bodoh ha?"


Erick tampak diam dan menundukkan kepalanya.


"Jawab jujur, Rick! Apa lagi yang kamu lakukan?" Desak Gia. Suara Gia mulai meninggi.


"Aku mabuk-mabukan hampir setiap malam" ucap Erick sambil membuang pandangannya.


Gia menatap langit-langit ruang depan, rasanya ia mau memaki Erick saat ini juga.


"Apa lagi? Apa lagi yang kamu lakukan?" Desak Gia lagi disela-sela kemarahannya yang hampir memuncak.


"Nggak ada lagi"


"Jangan bohong!"


"Enggak ada Gia!" Suara Erick semakin lemah.


"Baiklah, kalau kamu nggak mau jujur, sekarang tinggalkan rumah ini!" Ucap Gia seraya menunjuk ke arah pintu.


Erick bangkit dari duduknya, ia mendekati Gia yang membelakanginya. Ia membalik tubuh Gia agar menghadapnya.


"Maafkan aku" ucap Erick sambil memegang dua sisi pundak Gia.


Air mata Gia kembali menetes melihat dengan jelas wajah Erick yang sekarang. Ia sadar sedikit banyaknya Erick begini karenanya.


Erick membawa Gia dalam pelukannya. Gia makin meraung didada Erick.


"Kau mencoba bunuh diri kan?" Tebak Gia.


"Maaf" jawab Erick sambil menenggelamkan wajahnya dipundak Gia.


Gia memukul-mukul dada Erick. Ia mengenal Erick sangat dekat. Ia tahu Erick akan melakukan hal bodoh, tapi ia tidak menyangka Erick begitu nekat.


Gia menyadari hal itu karena tidak mungkin Erick meminum anti depresan jika dia tidak melakukan hal-hal yang diluar batas.


Gia melepaskan pelukan Erick dengan sedikit mendorong tubuh Erick.


"bilang sama aku yang sebenarnya!"


Erick mengangguk lemah. ia sedikit membungkuk, bersandar di dinding sambil mengacak lalu mencengkram rambutnya sendiri.


"Aku nggak berniat bunuh diri, aku hanya menelan obat tidur bersamaan dengan alkohol, aku butuh obat-obat itu untuk tidur. Aku nggak bisa tidur setiap malam. Di kepala ku hanya ada rasa bersalahku kepadamu dan tekanan-tekanan dari keluargaku. Semuanya terasa berputar-putar."


Tidak ada jawaban lagi dari mulut Gia.


suasana hening.


"Aku minta maaf Erick!" akhirnya Gia bersuara memecah keheningan. ia merasa bersalah. Setetes demi setetes air matanya jatuh lagi.


"Lalu, apa rencana kamu? Kamu mau kita kawin lari aja?" Akhirnya Gia memberikan satu-satunya ide dikepalanya.


Erick tersenyum mendengar kata-kata Gia.


"Sepertinya kegilaanku udah menular sama kamu!" Kata Erick.


Mendengar itu Gia jadi ikut menyunggingkan senyum dibibirnya walau airmatanya masih membasahi pipi.


"Bersiaplah untuk ikut denganku!" Kata Erick lagi.


"Kamu benar-benar mau bawa aku kawin lari?" Gia sedikit syok.


Erick menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak sepengecut itu! Aku udah ada lampu hijau dari papa meski itu hanya dibelakang mama, tapi papa berjanji akan membantu kita."


"Maksudnya gimana sih? Aku jadi bingung!"


"Kita akan menemui keluargaku untuk terakhir kalinya. Kali ini papa akan membantu membuka pikiran mama dan yang lain."


"Jika ternyata mereka tetap pada pendirian, kita tetap akan menikah. Dibawah restu orangtuamu saja!" Jelas Erick.


Gia mengerti sekarang apa yang dimaksud Erick.


"Lalu pertunangan kamu?"


"Itu urusan papa, dia yang akan membatalkan dengan keluarga Mikha"


"Tapi Erick, bukannya undangan udah disebar?"


"Hah! itu bisa-bisanya Mikha aja sayang"


"Aku nggak ngerti!" Jawab Gia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu nggak tau Mikha seperti apa, ku pikir kamu adalah orang pertama dan terakhir yang akan menerima undangan itu!"


"Maksudnya Mikha menipu aku?"


Erick hanya mengangkat kedua bahunya sambil menaikkan kedua alisnya pula.


"Menyebalkan! Dasar licik!"


"Loh kenapa kamu jadi marah?"


"Terus aku harus memuji dia karena menipuku? Membodohi aku? Dia licik Erick! Prilakunya seolah sedang mengibarkan bendera perang sama aku!"

__ADS_1


Erick tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya mendengar pernyataan Gia.


"Kamu memang tidak sepolos kelihatannya, sayang!" Ujarnya dengan nada bangga.


"Bukan gitu, dia bersikap seolah nggak mengenal aku disaat kami memutuskan berbisnis. Ternyata dia udah tau siapa aku. Tapi dia memutar-balikkan fakta didepan aku!"


"Udahlah, dia nggak penting. Siapkan aja diri kamu sekarang, kamu siap menghadapi mama dan kakak-kakakku?"


"Hamba sudah siap dicaci maki, Tuan!" Jawab Gia membuat Erick menarik sudut bibirnya.


"Ya udah, aku ke kamar dulu beresin barang-barang aku. Besok kita balik kampung!" Kata Gia lagi sambil cengengesan.


"Oke, aku tunggu diteras aja ya. Disini hawanya nggak enak!" Jawab Erick.


"Nggak enak gimana?"


"Nggak enak kalau belum sah. hahaha"


"Issss" Gia meninggalkan Erick yang juga beranjak keluar rumah.


Tak berapa lama Gia sudah keluar menemui Erick diteras, memberikannya minuman.


"Udah?" Tanya Erick seraya menerima minumannya dari tangan Gia.


"Huum"


"Kita akan menikah, sayang!" Ujar Erick dengan nada bahagia.


"Kamu senang kan?" Tambahnya lagi.


"Aku senang tapi aku belum tenang jika belum menghadap orangtua kamu"


"Nggak apa, apapun keputusan mereka kita akan tetap menikah. Aku udah nggak mau memikirkan perasaan mereka lagi. Mereka juga nggak pernah mikirin perasaan aku" jawab Erick dengan nada acuh.


Erick mengalihkan pandangannya kearah depan Gang kontrakan Gia. Ia melihat Porsche Panamera hitam yang tak asing. Tak lama, lelaki yang sangat familiar dipandangannya sedang menuruni mobil mewah itu.


Gia memejamkan matanya sesaat melihat Arga menuruni mobil dan berjalan menuju ke kontrakannya.


"Matilah aku! Kenapa Arga datang kesini?" batin Gia.


Setelah pembicaraan terakhir Gia dan Arga waktu itu, Arga pernah mengatakan akan ke Jakarta mengurus pekerjaannya. Selama 4 bulan belakangan, Gia tak pernah lagi bertemu Arga. Meski terkadang Arga sering mengabari Gia lewat pesan. Tapi Gia terlalu fokus dengan bisnisnya untuk melupakan Erick waktu itu. Gia pun secara tidak langsung menghindari Arga. Jadi semenjak itu, ini adalah kali pertama Arga berkunjung lagi ke kontrakan Gia. Mungkin dia baru pulang kemari sekarang setelah urusannya selesai di Jakarta.


"Kamu masih berhubungan dengannya?" Pertanyaan Erick menyadarkan Gia dari ingatannya tentang Arga.


"Aku udah lama nggak dengar kabarnya" jawab Gia jujur.


"Maksudnya? Kalian memang berhubungan tapi udah lost contact, gitu?"


"Bukan! Bukan gitu!" Jawab Gia cepat.


Tak lama, orang yang dibicarakan pun sampai didepan mereka. Dengan senyum yang amat dipaksakan terpancar dari wajah Arga.


"Maaf jika kedatanganku mengganggu waktu kalian" sapa Arga.


"Mau apa kau kemari?" Tanya Erick tanpa basa-basi.


"Yang jelas aku bukan mau menemuimu!" Jawab Arga memancing emosi Erick.


"aduh Arga kenapa jawabanmu begitu!" Batin Gia berbicara.


"Kamu sehat, Gi?" Tanya Arga pada Gia. Ia cuek dan mengacuhkan Erick yang ada dihadapannya.


Gia bangkit dari duduknya, menghampiri Erick yang berdiri didepan Arga. Gia mengelus lengan Erick. Berjaga-jaga jika Erick dan Arga harus terlibat dalam keributan lagi.


Gia berusaha menenangkan Erick jika saja saat ini Erick sudah merasa emosi melihat Arga.


Erick yang mendapat perlakuan itu dari Gia, memutuskan beranjak.


"Bicarakan apa yang ingin kalian bicarakan! Aku tunggu kamu, Gi!' ucap Erick tegas seraya masuk kedalam rumah.


Gia menatap Arga dengan kikuk.


"Kenapa, Ga?" Tanya Gia.


"Maaf aku enggak tau dia ada disini"


"Huum. Kamu ada perlu apa?"


"Aku cuma mau ngeliat keadaanmu aja."


"Aku baik-baik aja kok, Ga"


Gia menoleh kedalam rumah sebagai kode untuk Arga agar menyudahi percakapan ini sampai disini.


"Baiklah, aku pulang ya!" Kata Arga mencoba tersenyum.


Gia mengangguk.


"Maaf ya, Ga!" Gia pun masuk kedalam rumah meninggalkan Arga yang masih mematung diposisinya.


Arga kembali ke mobilnya. Ia merasa kacau dengan kehadiran Erick disisi Gia.


"Sia-sia gue langsung kesini begitu sampek dari Jakarta!" Ucap Arga pada dirinya sendiri.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2