Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Kedatangan Tamu Special -


__ADS_3

"Iya, sebentar" ucapku dari dalam rumah berjalan menuju ruang depan membukakan pintu.


"Ka-kamu?" Ucapku sedikit terperangah.


"Kenapa kamu bisa tau aku tinggal disini? Tambahku melihat Nico tersenyum berdiri diambang pintu kontrakanku bak seorang tamu special.


"Maaf, aku mengikutimu ketika kamu pulang dipertemuan terakhir kita" ucap Nico.


"Mau apa kamu kesini?


"Aku ingin mengetahui jawabanmu atas permintaanku"


"Apa kamu sudah mengguyur kepalamu dengan air kulkas? Apa kamu lupa aku sudah menolakmu?" Cetusku.


Tapi tiba-tiba, Nico selalu bertindak diluar dugaanku. Dia duduk bersimpuh didepanku memohon.


"Apa yang kamu lakukan, Nico? Jangan seperti ini!" Ucapku pelan sambil memperhatikan sekelilingku. Aku tidak enak membuat keributan disekitaran kontrakan.


"Aku tidak bisa seperti ini terus, Gia! Aku menginginkanmu!" Katanya dengan memohon.


"Astaga Nico, kita sudah berpisah cukup lama. Kenapa kamu sekarang seperti ini. Ayo berdiri Nico. Aku tidak ingin kamu seperti ini!"


Jangan heran ketika aku berbicara terkesan ketus dan agak baku kepada Nico. Aku ketus karena aku tidak menyukai sifatnya dan karena Nico sudah orang lain buatku semenjak kami berpisah.


Lain hal nya jika aku berbicara kepada Erick, aku bisa berbicara seperti apa-adanya diriku. karena itu hanya ku lakukan kepada orang yang kurasa cukup akrab denganku.


"Karena aku menyesali keadaanmu. Aku juga baru menyadari sangat membutuhkanmu setelah kehilanganmu dan aku bodoh telah menyia-nyiakanmu" jawab Nico kepadaku.


Aku pun berjongkok dihadapan Nico sambil memegang kedua bahunya tanpa maksud apa-apa. Aku hanya prihatin kepadanya.


"Nico, tidak ada yang perlu kamu sesali atas aku. Aku begini karena kesalahanku sendiri. Dan kamu dengan kehidupanmu yang sekarang adalah pilihanmu sendiri. Jadi jangan salahkan dirimu atau keadaan tapi ini semua sudah memang yang terbaik untuk kita" ucapku menguatkan hati Nico.


"Kita tidak bisa bersama lagi, Nico. Kita sudah punya kehidupan masing-masing" tambahku.


"Apa tidak bisa kamu membuka hati sedikit saja untuk aku masuk didalamnya?"


"Tidak bisa, Nico. Aku tidak mencintai kamu lagi." ucapku tegas sembari mengajaknya berdiri.


Nico pun perlahan berdiri dan memelukku tiba-tiba. Aku terperangah dan mencoba melepas paksa pelukan itu.


"Biarkan dulu seperti ini. Sebentar saja. Mungkin ini adalah yang terakhir kalinya" pinta Nico.


Entah kenapa aku yang awalnya berusaha melepaskan pelukannya, tiba-tiba hanya langsung terdiam mendengar Nico berkata seperti itu. Aku tidak merasa getaran apapun saat Nico memelukku. biasa saja. Datar dan terasa Asing. Aku sedikit kikuk dan risih. Tapi aku diam saja.


Tanpa kami berdua sadari, ada dua pasang mata yang diam memperhatikan kami.


Nico mengelus puncak kepalaku. Melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahuku dengan kedua tangannya. Menatap lurus ke dalam mataku.


"Aku mencintai kamu Gia, sekalipun kamu menolakku seperti ini! Dan juga ingatlah ini! kapanpun kamu membutuhkanku, Aku akan siap untuk menjadi orang yang bisa kamu andalkan." Katanya.


Aku terpaku tanpa bisa mengucapkan satu patah katapun mendengar ucapannya.


"Aku pergi. Carilah aku jika kau butuh apapun!" katanya lagi.


Nico pun mulai berjalan lemas meninggalkanku yang terdiam dengan pikiran yang entah.


Setelah ku lihat Nico agak menjauh, aku memutuskan ingin menutup pintu rumah. Tapi pintuku di tahan dari luar. Aku keluar melihat siapa orang yang menahan pintu itu.


Baru saja aku keluar pintu. Tapi...


...Plak...!!...


Pipiku tiba-tiba ditampar oleh seseorang.


"Lyra...." Lirihku.


"Kamu pantas mendapatkannya" ucapnya ketus sembari air matanya mengalir keluar.


"Aku kira kamu benar-benar pergi dari kehidupan Nico. Tapi nampaknya kamu memanfaatkan keadaanmu untuk membuat Nico kembali, bahkan kalian saling bertemu dibelakangku!" katanya lagi.


"Ti,tidak Lyra. Ini tidak seperti yang kamu kira" sanggahku.


"Apanya yang tidak? Aku melihat dengan mata kepalaku kalian berpelukan. Bahkan Nico tidak pernah menatapku seperti tadi. Seperti dia menatapmu" cecar Lyra ber-api-api.


Ku lihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain yang melihat keributan kami. Tapi mataku melihat satu sosok dengan sepasang mata yang sepertinya sedari tadi menonton kami. Dia memasang wajah dingin yang juga menatap wajahku. Arga.


"Astaga, kenapa dia bisa ada disitu? Sedang apa dia?" Batinku bertanya-tanya.


"Kenapa kamu hanya diam, Gia?"


Suara Lyra membuat pandanganku beralih lagi kepada Lyra sekarang.


"Lyra, aku dan Nico tidak ada hubungan"


Ku dengar Lyra berdecih.


"Entah kenapa aku menolongmu waktu itu. Harusnya ku biarkan saja kamu tergeletak dijalanan. Aku benar-benar menyesal, Gia! Ku pikir kau adalah wanita baik-baik tapi setelah ku sadari, kau tak lain hanya seorang jal**g perebut milik orang lain"


...Plak..!!...


Tanpa kusadari aku secara refleks menampar pipi Lyra yang sudah basah dengan air mata. Perbuatanku itupun mengundang air mataku sendiri yang langsung mengalir keluar menetes di pipiku. Entah kenapa aku bisa kelepasan menampar Lyra. Mungkin karena aku sangat terpukul dengan kata-kata Lyra barusan.


"Bagaimanapun aku menyangkalnya, kau akan tetap pada kepercayaanmu bahwa aku adalah pihak yang salah. Jadi, terserahmu saja mau menilaiku seperti apa. Tapi ku tegaskan! aku bukan jal**g seperti yang kau katakan! Aku tidak pernah merebut milik siapapun! Sekarang silahkan pergi dari sini!" ucapku sembari menunjuk ke arah jalanan.


Lyra menatapku tajam. Mengepalkan tangannya. Dia tidak berkata apa-apa lagi. Lalu dia pergi meninggalkan aku yang mematung didepan pintu.


Aku terjongkok diambang pintu, menangkup wajahku dengan kedua tanganku. Aku menangis sejadi-jadinya.


Tapi aku lupa keberadaanku sekarang adalah didepan pintu rumah yang bisa memancing siapa saja bertanya tentang keadaanku.


"Kamu tidak apa-apa?" Suara seseorang menyadarkanku dan aku membuka telapak tangan yang menutupi wajahku. Lalu aku mendongak menatap seseorang yang berdiri dihadapanku. Arga.


'Ya Tuhan, aku lupa dia juga berada disana sedari tadi' batinku berbicara.


"Ka,kamu mau apa kesini?" Aku bertanya pada Arga.


"Aku kesini mau anter ini, disuruh mama. Lebih tepatnya sih dipaksa" ucapnya terus terang sambil menekan kata 'dipaksa'. Sambil dia menyodorkan sebuah paperbag ke arahku.


"Ini apa?" Tanyaku.

__ADS_1


Aku langsung berdiri didepannya. Menghapus jejak-jejak air mata dipipi ku.


"Lihat saja sendiri!"


"Ya sudah, aku pulang" tambahnya lagi.


Aku mengurungkan niatku untuk melihat isi paperbag. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Arga yang sudah berbalik badan akan pergi meninggalkan kediamanku.


"Apa kamu melihat semuanya?" Kataku bertanya pada Arga.


Arga mengangguk tapi posisinya tetap membelakangiku.


"Kenapa kamu tidak bertanya ada apa dengan yang kamu lihat barusan?" Tanyaku.


Karena biasanya orang-orang akan ada rasa ingin tahu atas apa yang dilihatnya didepan matanya. Terlebih kejadian yang memalukan seperti tadi.


Arga berbalik badan menatapku.


Dia tersenyum menampakkan lesung dipipinya seperti kemarin.


"Itu bukan urusanku" jawabnya cuek.


Aku terdiam mendengar jawabannya. Ada benarnya kata-katanya bahwa itu bukan urusannya. Aku bernafas lega karena orang ini tidak mencampuri urusanku tapi aku takut jika dia akan beranggapan kalau aku wanita tidak baik seperti yang dilihatnya.


Entah kenapa batinku menolak hal itu dan ingin menjelaskan jika ia bertanya.


"Aku pulang" katanya yang melihatku terdiam. Dia lalu berjalan sedikit menuju mobilnya yang ku lihat ternyata diparkir diujung jalan.


💠💠💠💠💠


*Pov Author


Erick terbangun dari tidurnya yang baru disadarinya sedang berada di sofa tempat tidur sebuah kamar rumah sakit. Ia baru menyadari dirinya tertidur lelap semalaman. Mungkin karena ia habis melakukan perjalanan jauh.


Erick mengantuk dan tertidur karena menunggu seseorang. Ya seseorang yang seharusnya sudah ia temui hari ini untuk mengurus Mikhayla dirumah sakit ini.


Erick duduk dan bangkit dari posisinya. Dia memijat pelipisnya sembari mengedarkan pandangan matanya. Melihat sekeliling.


Mikhayla sudah sadar dan sedang terduduk menatapnya. Disampingnya ada seorang lelaki yang sepertinya sedang menyuapi Mikhayla makan.


"Kamu sudah bangun?" Kata lelaki itu bertanya pada Erick.


"Kamu wali yang ku telpon kemarin?" Tanya Erick kembali.


"Ya, aku Ivander. Aku kakaknya Mikhayla"


Erick hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Erick beranjak, memutuskan masuk ke kamar mandi yang ada diujung ruangan. mencuci wajahnya. Setelah siap, ia pun langsung keluar lagi sudah dengan wajah yang segar setelah ia mencucinya tadi. Erick terlihat terburu-buru.


"Maaf, Aku harus pamit dan maaf juga karena aku ketiduran cukup lama" ucap Erick pada kedua orang yang ada didepannya.


"Jangan! Kamu disini saja dulu. Kelihatannya kamu sangat lelah." Ucap Mikhayla yang tiba-tiba bersuara.


"Iya aku baru tiba dikota ini mungkin karena itu aku tidur cukup lama. Tapi aku masih punya urusan lain yang lebih penting" jawab Erick pada Mikhayla.


"Baiklah, aku mengucapkan banyak terimakasih karena kamu telah menolong adikku" ucap Ivander.


"Iya. Aku harus pergi sekarang" Erick memutuskan untuk beranjak pergi.


"Tunggu! Siapa namamu?" Lagi-lagi Mikhayla menahan kepergian Erick.


"Aku Mikha" kata Mikha lagi , ia memperkenalkan dirinya.


"Iya aku sudah tahu" jawab Erick singkat seperti sikapnya pada orang kebanyakan.


"Namamu?" Tanya Mikha lagi. Menuntut.


"Erick"


"Terima kasih Erick, kau sudah menolongku! Bisakah kita bertemu lagi nanti?" Dari pertanyaannya dapat Erick simpulkan bahwa ada harapan besar Mikha dapat bertemu lagi dengan Erick.


"Mungkin" jawab Erick acuh.


"Aku permisi" tambah Erick lagi.


Mikhayla hanya mengangguk tapi tatapan matanya tetap melihat Erick yang sudah beranjak. Bahkan matanya tidak beralih walau orang yang dilihatnya sudah pergi berlalu.


"Udah dek, udah pergi dia!" ucap Ivan membuyarkan pandangan Mikha dari pintu kamar.


"Iss kakak ini ya. Nggak usah nebak-nebak isi pikiranku ya"


"Nggak usah nebak-nebak kakak juga tau isi kepalamu, dek"


Mereka pun tertawa serentak.


"Kak, sepertinya dia lelaki baik dan bertanggung jawab"


"Terus?"


"Dia adalah lelaki yang menyelamatkan aku"


"Lalu?"


"Sepertinya aku akan membalas kebaikannya, kak"


"Ya sudah, tinggal kamu kasih aja dia uang terimakasih"


Mikha berdecak kesal menatap Ivan.


"Isss kakak ini ya. Bukan seperti itu!, Dari penampilannya, kelihatannya dia tidak ada permasalahan soal uang"


"Jadi kamu mau balas kebaikannya pakai apa?


"Pakai hati aku kak" jawab Mikha dengan percaya diri.


"What?" Pekik Ivan sedikit syok dengan jawaban Mikha.


"Sepertinya aku menyukai dia kak"

__ADS_1


"Sudah bisa ku tebak isi kepalamu. Jangan macam-macam, kita tidak tahu siapa dia. Aku tidak mau kamu dipermainkan lagi oleh lelaki manapun! ingat kita hanya hidup berdua tanpa orangtua. Aku harus selektif soal pasanganmu!" Tegas Ivan kepada adiknya.


"Kita bisa tau kok siapa dia. Kan ada kakak yang dengan mudah tau identitas orang. Dia beda lho kak. Dia bukan lelaki seperti itu."


"Sok tau kamu!"


Mikha memanyunkan bibirnya melihat kakaknya.


"Kakak cari tau ya siapa dia, aku ingin bertemu lagi dengannya. Dan ku pastikan itu akan terjadi" ucap Mikha berbinar-binar.


Melihat harapan besar dimata adiknya, mau tidak mau Ivan pun mengangguk.


"Iya iya gampang. Yang penting kamu sembuh dulu. Belum sembuh mana bisa mengejar cinta dek"


"Hahahahah kakakku Ivander Adijaya berbicara cinta. Aku jadi geli mendengarnya"


Mereka pun tertawa-tawa sembari Mikha melanjutkan acara makan siangnya yang tertunda.


💠💠💠💠💠


Erick kembali ke hotel tempatnya menginap. Ia memutuskan mandi. Selepas mandi, ia memesan mobil untuk disewanya beberapa hari selama ia berada dikota ini.


Erick memutuskan mencari Gia ke alun-alun kota. Dia berjalan menyusuri alun-alun. Dia tidak tahu apa tujuannya ini sudah benar. Dia mencoba bertanya kepada orang-orang sekitar dengan menunjukkan foto Gia yang ada di ponselnya.


Sampai saat sore, Erick belum menemukan titik terang untuk ia menemukan Gia.


"Aku tidak boleh putus asa, aku harus mencarinya lagi" tekad Erick dalam hatinya.


💠💠💠💠💠


Gia memutar otak untuk mengucapkan terimakasih kepada bu Dewi karena telah membelikannya handphone baru. Barang yang diantar Arga kemarin ternyata berisi handphone dengan keluaran terbaru yang pasti dibeli dengan harga mahal.


Bisa Gia pastikan harganya berkali-kali lipat dari ponselnya yang rusak.


Tapi masalahnya, Gia tidak tahu mengucapkan terimakasihnya kemana.


"Alamatnya aku nggak tau, nomor kontaknya apalagi" kata Gia menggerutu.


Menurut Gia, handphone yang dibelikan bu Dewi untuknya ini sangat berlebihan. Makanya Gia merasa tidak enak.


"Aku belanja kepasar saja ya pagi ini. Siapa tau ketemu bu Dewi lagi belanja juga" batin Gia


Akhirnya Gia berangkat kepasar menggunakan angkutan umum.


Setelah selesai berbelanja, Gia memutuskan duduk dikursi kayu panjang tempatnya pernah duduk bersama bu Dewi.


"Gia..." Sapa seseorang yang dari nada suaranya teramat senang.


"Bu dewi" kata Gia juga tak kalah senang karena berjumpa dengan orang yang ingin sekali dia temui.


"Bu, sebelumnya terimakasih ya karna sudah membelikan Gia handphone baru. tapi kenapa ibu harus kasih Gia handphone sih bu? kan Gia sudah ikhlas." tanya Gia langsung pada point nya.


"Ya nggak apa-apa Gia. Kan ibu sudah buat punya kamu rusak."


"Iya tapi kan nggak harus yang mahal banget bu, yang biasa aja sudah cukup" kata Gia tidak enak.


"Lho memangnya Arga belikan yang mahal banget ya? Ibu nggak tahu. karna Arga yang ibu suruh beli dan pilihkan"


Gia terkejut mendengar kata-kata bu Dewi. Mendadak Gia teringat kejadian yang lalu, saat Arga melihat kedatangan Lyra. Atau mungkin Arga juga melihat kedatangan Nico sebelum Lyra. Gia tidak tahu sama sekali sedari kapan Arga melihat kejadian itu dan sampai seberapa jauh yang Arga lihat.


Gia juga terkejut Karena yang Gia tahu Arga orang yang Acuh dan tidak mau peduli. Tetapi bisa-bisanya Arga mau membelikan Gia ponsel canggih. Meski disuruh ibunya dan terpaksa, Gia mengacungi jempol untuk Arga didalam hatinya. "Dia penurut juga ternyata." batin Gia


"Oh begitu ya bu, jadi Gia harus terima kasih sama Arga juga ya bu?" Tanyaku balik kepada si Ibu.


"Boleh kalau kamu mau. Tapi orangnya lagi nggak disini, Arga lagi ada kerjaan di Jakarta"


"Apa Arga ada cerita sesuatu sama ibu waktu pulang dari mengantar handphone itu ketempat Gia?" Tanya Gia pada bu Dewi. Gia ingin memastikan apa Arga ada bercerita pada mamanya perihal Arga yang melihay kejadian tempo hari dikontrakan Gia.


"Cerita apa ya? Arga bilang sudah dikasih ke kamu. Itu saja" jawab bu Dewi.


Gia bernafas lega mendengar jawaban bu Dewi. Karena ia tidak ingin lebih banyak lagi orang yang tahu permasalahannya.


"Berarti benar Arga tidak mau mencampuri urusanku walau mungkin ia melihat semuanya" batin Gia.


"Memangnya ada terjadi sesuatu ya?" Tanya bu Dewi sembari menaik turunkan kedua alisnya dan tersenyum penuh arti.


Gia hanya tersenyum.


"Ibu setuju kok kalau memang ada terjadi sesuatu diantara kalian" tambah bu Dewi lagi.


"Hah?" Gia terperangah heran mencoba memfilter kata-kata bu Dewi barusan.


.


.


.


.


Bersambung...


*


*


Hai guys? Gimana dong?


Erick ketemu Mikhayla dan Gia malah disetujui sama Arga nih?


Terus kapan ya Erick ketemu Gia?


Pantengin terus yah!!!


. Jangan lupa like, coment dan vote.


Bintang 5 nya juga yahhhh.


Laf laf laf ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2