Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Perasaan Mikha -


__ADS_3

Arga bangun dan bergegas untuk menjemput Lyra pagi ini. Mereka berencana untuk kembali kerumah Ivan untuk menanyakan perihal Mikha dan Gia sesuai usul Nico malam tadi.


Arga benar-benar kurang tidur. Tapi ia paksakan untuk tetap beranjak mengingat Gia yang belum kunjung pulang juga kerumah. Perasaan Arga mulai tidak enak, takut akan hal buruk menimpa Gia.


Arga sudah mengirim pesan pada Lyra untuk bersiap-siap.


Ketika ia baru saja memasang seatbelt, ponselnya bergetar tanda adanya sebuah pesan baru.


Arga membaca pesan yang masuk. Lalu tersenyum miring.


Arga mulai mengemudikan mobilnya menuju tujuannya.


.


.


.


Dilain sisi Lyra menunggu Arga dikontrakan namun sampai sudah lewat dari jam yang dijanjikan, belum ada tanda-tanda kedatangan Arga.


Lyra mulai gelisah. Mencoba menghubungi nomor Arga tapi usaha nya sia-sia. Nomor Arga berada diluar jangkauan.


.


.


.


Arga memasuki kawasan pegunungan yang sejuk, dimana banyak terdapat tempat-tempat wisata dan area outbound, serta hamparan pemandangan yang menyejukkan mata.


Tentu saja Arga tau daerah ini. Dulu ia bahkan sering kesini bersama keluarganya. Arga menikmati perjalanannya yang mendadak ini.


Hingga sampailah Arga pada sebuah rumah putih yang disebut sebagai Villa milik keluarga Wijaya. Villa itu sangat asri dan tampak nyaman. Tidak seperti tampilan Villa yang mewah tapi Villa ini kental dengan nuansa khas alam dengan pendopo didepannya.


Tampak seorang pria tambun berjaga didepan pintu. Ia menanyakan perihal kedatangan Arga.


Setelah Arga memberitahukan niatnya, pria itu menyuruh Arga duduk di pendopo dan menunggu sebentar.


Tak berselang lama, pria itu keluar lagi meminta Arga untuk mengikutinya masuk. Ia mengarahkan Arga untuk bertemu seseorang yang memang ingin Arga temui.


Arga menemukan pria itu duduk bersandar di sofa.


Pria itu menyapanya.


"Baguslah kau menuruti ku untuk datang sendiri. Duduklah!" Ujar Ivan.


Arga tidak mau berbasa-basi. Tujuannya kesini untuk menjemput Gia. Yang ia yakini sekarang memang berada disini setelah menerima pesan Ivan beberapa saat lalu.


"Dimana Gia?" Tanya Arga langsung pada tujuannya.


Ivan berdiri dari duduknya melihat Arga tak mau berbasa-basi dengannya.


"Ada, hanya saja aku ingin Mikha yang membiarkannya pergi!" Jawab Ivan.

__ADS_1


Arga tersenyum miring mendengar kata-kata Ivan.


"Emm tapi tunggu dulu! Kau tidak punya hubungan dengan wanita itu kan? Ku dengar, dia akan segera menikah!" Tambah Ivan lagi.


Arga mengangguk-angguk sambil tersenyum.


"Iya, aku tidak ada hubungan dengannya. Dan dia akan menikah dengan Erick!" Jawab Arga santai.


"Wah wah wah tidak ku duga, sepertinya cintamu bertepuk sebelah tangan!" Ivan menyeringai. Ucapannya jelas bernada mengejek ditelinga Arga.


Arga diam dan tak menyurutkan senyum dari bibirnya. Ia terus tersenyum menatap Ivan.


"Mungkin ini adalah karma untukmu! Kau tau kan karma itu datangnya memang cepat sekali!" Ujar Ivan kemudian sambil ikut tersenyum.


"Sudahlah! Kau jangan bahas hal semacam itu. Tunjukkan saja dimana Gia. Biar kami bisa pulang dengan tenang dari sini. Dan katakan pada Mikha jangan kekanak-kanakan begini!"


"Hahahaha aku jadi paham sakit hati adikku sebesar apa sekarang!" Ujar Ivan sambil mengambil ponsel dari saku celananya.


Ivan tampak menelepon seseorang.


"Turunlah! Biarkan wanita itu pulang sekarang!" Titah Ivan pada seseorang diseberang panggilannya.


Beberapa saat kemudian tampak sosok Mikha menuruni tangga. Ia nampak terkejut dengan kehadiran Arga. Ia menatap Arga penuh arti. Lalu beralih menatap Ivan.


"Kak, kenapa harus ada dia disini?" Tanya Mikha tak terima.


Ivan hanya mengangkat bahu.


"Enggak! Aku enggak mau!" Ucapan Mikha sontak membuat Arga dan Ivan terkejut.


"Mikha! Bukankah kakak sudah memberitahumu! Kau sudah keterlaluan Mikha!" Ucap Ivan tegas.


Mendengar Ivan dengan nada suara yang mulai tinggi, mata Mikha mulai berkaca-kaca.


Apalagi jika mengingat Gia! Mikha tidak habis pikir jika Arga juga menyukai Gia, karena Arga dengan sukarela mencari-cari dan menjemput Gia kesini. Lalu Erick yang Mikha sukai sekarang bahkan akan menikah dengan Gia.


"Enggak kak! Apa aku harus melepaskan Gia, kak? Dia akan menikah dengan Erick, Bagaimana dengan perasaanku? Aku sudah pernah mengikhlaskan seseorang, apa sekarang hal itu harus ku lakukan lagi?" Mikha melirik Arga.


Arga menarik nafas dengan berat.


Begitupun dengan Ivan. Ivan tahu perihal perasaan adiknya dimasa lalu. Untuk itulah tadi dia menyinidr Arga perihal Karma.


Sebelumnya, pada masa kuliah dulu Arga dan Mikha berteman dekat. Mikha menaruh hati pada Arga. Arga tahu itu.


Tapi karena Arga tidak mempunyai rasa yang sama, Arga malah berpacaran dengan wanita lain yang satu kampus dengan mereka tapi berbeda fakultas. Wanita itu adalah Citra, yang ternyata dibelakang hari baru Arga ketahui adalah sahabat Mikha.


Mikha awalnya tak terima. Tapi ia berusaha mengalah karena Citra adalah sahabatnya. Mikha kembali sakit hati saat tahu Citra malah menduakan Arga. Padahal sudah jelas-jelas Mikha dengan susah payah mengikhlaskan Arga untuk Citra. Tapi Citra malah menyia-nyiakan Arga.


Mikha tidak pernah memberitahu Arga perihal perselingkuhan Citra meskipun ia tahu. Tapi ketika Arga meminta Citra untuk menjadi tunangannya, Mikha sangat sakit hati karena Arga memilih wanita yang salah. Sampai akhirnya, Citra meninggal dan Arga baru tahu kenyataannya.


Setelah Citra meninggal, Mikha sempat membuang harga dirinya, ia meminta Arga agar menerima cintanya tapi lagi-lagi Arga menolaknya karena Arga belum bisa membuka hati. Sejak itu, Arga benar-benar laki-laki kejam dipandangan Mikha.


"Sudahlah Mikha. Kau menyangka hanya dirimu yang harus mengikhlaskan orang lain, tapi kau lupa bahwa aku dan bahkan kakakmu ini juga sudah melakukan hal yang sama!" Ujar Arga dengan entengnya.

__ADS_1


Ivan terkejut mendengar kata-kata Arga yang mengandung arti. Arti bahwa Arga tau sesuatu tentang Ivan.


Sedangkan Mikha langsung mencebik. Namun ia membenarkan kata-kata Arga dalam hatinya.


"Kalian cuma mengikhlaskan orang satu kali. Sedangkan aku? Aku sudah dua kali. Apakah aku memang setidak-pantas itu untuk mendapatkan cintaku?" Cecar Mikha sembari menghapus air matanya.


Ivan menatap Arga tajam. Arga membuang pandangan karena malas untuk membahas hal ini. Ini sudah terlalu lama untuk diungkit lagi sekarang.


"Sudahlah. Jangan ungkit masalalu!" Jawab Arga dengan nada datar.


Ivan ingin beranjak melangkah meninggalkan dua manusia didepannya yang punya masalalu absurd ini.


Tapi langkah kaki nya terhenti ketika Mikha menahan lengannya.


"Kakak mau kemana? Jangan biarkan aku disini hanya berdua dengan laki-laki kejam ini kak!" Mikha menunjuk-nunjuk wajah Arga sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Arga mengelus-elus tengkuknya melihat ulah Mikha.


Ivan tersenyum miring.


"Kalian selesaikan urusan kalian. Kakak tidak akan ikut campur lagi. Jangan lupa keluarkan Gia dari kamar tamu!" Ucap Ivan sembari berjalan santai meninggalkan Arga dan Mikha.


"Apa?" Ucap Arga dengan nada menantang karena ketika menatap kedepan malah melihat wajah Mikha yang merah menahan emosi padanya.


"Dunia ini memang lucu ya? Dan aku yang jadi korban lelucon disini!" Ujar Mikha menatap Arga.


Arga mendengus. Ia juga patah hati atas pernikahan Gia dan Erick. Tapi ia tak bersikap seperti Mikha. Ia mencoba mengikhlaskan meski sulit.


"Aku tidak mau membahas hal semacam itu. Tunjukkan saja Gia ada dimana biar aku yang mengeluarkannya dari sana!" Ujar Arga acuh seperti biasanya.


Mikha tersenyum miring.


"Hah! Bisa-bisanya kau ini tetap sok cool seperti itu!"


Mikha berjalan menuju kamar tamu diikuti Arga yang menggeleng-gelengkan kepalanya heran melihat tingkah Mikha.


Mikha membuka pintu kamar tamu dan membangunkan Gia yang masih tertidur.


"Lihatlah bisa-bisanya dia tidur nyenyak sekarang. padahal aku hampir tak tidur semalaman mencari dan memikirkannya." Batin Arga.


.


.


.


Bersambung...


...Lanjut enggak nih????...


.......


.......

__ADS_1


__ADS_2