Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Percakapan Kakak dan Adik -


__ADS_3

Mikha pulang kerumahnya dengan wajah merah menahan amarah.


Mikha menggeram dalam hati mengingat ulah Gia dibutik tadi. Apalagi jika mengingat Gia yang akan menikah dengan Erick.


Mikha sudah mendengar kabar itu dari Mama Anna. Tentu saja sepulangnya Gia dan Erick dari rumah orangtuanya kemarin, mama Anna langsung memberitahukan hal mengecewakan itu pada Mikha.


Tak berselang lama dari telepon mama Anna kepada Mikha perihal itu. Ivander, kakak Mikha pun langsung menguatkan hati adiknya untuk segera berbesar hati karena baru saja Papa Johan membatalkan acara pertunangan Mikha dan Erick yang bahkan belum terealisasikan.


Papa Johan mengucapkan maaf karena yang akan menjalani tetaplah Erick, jadi beliau tidak bisa memaksakan kehendak anaknya yang telah dewasa dan bisa menentukan pilihannya sendiri.


Prakk..


Mikha membuka dengan kasar pintu ruang kerja Ivan. Ia melihat Ivan yang seketika itu juga mengangkat wajahnya sembari memasukkan figura foto dalam laci kerjanya.


Mikha mencebik melihat ulah kakaknya itu. Ingin berkata-kata, tapi kalimatnya yang sudah diujung lidah langsung dipotong oleh kalimat Ivan.


"Kenapa dek?" Tanya Ivan yang melihat gelagat kesal diwajah adiknya.


"Kak, apa nggak bisa kakak pinta orangtua Erick untuk memikirkan lagi soal pertunangan kami!" Pintanya sedikit memelas.


Mikha terbiasa meminta apapun pada kakaknya. Ia tergantung pada Ivan sejak kedua orangtuanya tiada.


Dan beruntungnya segala permintaan Mikha selalu dituruti oleh Ivan. Termasuk mencari tahu latar belakang Erick dan Gia ketika dia memintanya dulu.


"Udahlah dek, keputusan Oom Johan itu sudah Final. Lagian, kamu juga nggak bisa memaksakan perasaan Erick!"


"Lalu aku harus bagaimana kak?" Mulai menyolot.


"Ya kamu ikhlaskan dia dek!"


"Hahaha, maksud kakak apa? Kakak mau aku jadi seperti kakak yang mengikhlaskan orang yang ku cintai bersama orang lain?" Protes Mikha.


"Dek!" Ivan memperingatkan Mikha untuk tidak melanjutkan kalimatnya.


Tapi Mikha yang sudah kesal sedari melihat Gia hari ini dibutik, seolah melampiaskan kemarahannya pada kakak lelakinya itu.


"Sudahlah, kak! Aku tidak bisa seperti kakak. Aku tidak ingin seperti kakak. Yang merelakan orang yang ku cintai itu bersama oranglain! Aku tidak mau setiap malam bahkan setiap hari hanya harus melihat fotonya saja! Apalagi diam-diam seperti pencuri!" Jawab Mikha menyindir kelakuan Ivan.


"Mikha!" Ivan sedikit berteriak bahkan ia sudah berdiri dari posisinya.


"Kakak pikir aku nggak tau, foto siapa di laci kakak itu! Perempuan itu kan? Yang nggak bisa kakak lupain? Apa kakak mau aku juga jadi seperti kakak?"


Ivan berjalan mendekati adiknya. Ia mengambil kedua tangan Mikha dan menggenggamnya.


"Dek, kakak cuma nggak mau kamu makin kecewa lagi. Kalau kamu memaksakan Erick, nanti kalian sama-sama tersiksa menjalaninya!" Ucap Ivan pelan meyakinkan Mikha.


"Dan perihal hubungan kakak, itu biarlah jadi urusan kakak. Jangan kamu campuri!" Ucapan Ivan yang sudah bernada tegas.


"Kak, aku sudah cukup kecewa dimasa lalu, kak. Aku tidak mau kecewa lagi sekarang, mungkin dulu aku mengalah karena aku tau sainganku adalah sahabatku sendiri. Tapi sekarang? Apa aku juga harus melakukan hal yang sama? Gia bukan siapa-siapa!" Mikha mulai mengeluarkan airmatanya.


"Kak, kakak punya kekuasaan! Kakak bisa atur semuanya sesuai perintah kakak! Memenuhi keinginan adikmu ini, kak! Itu tidak sulit bagi kakak!" Menangis tersedu-sedu.


Mendengar kata-kata Mikha, Ivan jadi mengingat laki-laki yang menjadi idola adiknya sedari masuk ke universitas. Mikha terlalu banyak berharap dan akhirnya kecewa.


Mikha tidak bisa berbuat banyak karena saingannya adalah sahabatnya sendiri. Sekalipun Ivan membantu dengan kekuasaan yang ia miliki, itu tidak dapat merubah apapun.


"Maka dari itu dek, sejak awal kakak sudah bilang, kakak nggak mau kamu kecewa lagi. Kakak bisa saja memaksakan hal dengan kekuasaan yang kakak punya!"

__ADS_1


"Tapi enggak dengan perasaan! Itu hak mutlak masing-masing personal!" Tambah Ivan lagi.


Mikha menatap nanar wajah pias kakaknya. Jangankan untuk mengabulkan cinta yang Mikha inginkan, cinta yang Ivan miliki pun harus ia tepiskan walau ia punya kekuasaan.


Mikha sadar apa yang Ivan ucapkan adalah benar. Perasaan adalah hak masing-masing orang, tidak bisa dipaksakan kepada siapa dan tidak bisa diatur untuk siapa.


Tapi Mikha juga merasa begitu dengan perasaannya kini, ia tak bisa mengatur karena perasaannya begitu saja menancap kepada Erick. Erick yang pernah menyelamatkan nyawanya.


Maka itulah ia tidak bisa melupakan Erick begitu saja. Bahkan kehadiran Erick yang sangat tiba-tiba dalam hidupnya, mampu membuatnya melupakan seseorang yang ia cintai selama ini dalam diam.


"Apa kali ini aku harus mengalah lagi? Gumamnya dalam hati.


Ivan merangkul adiknya yang patah hati untuk kedua kali itu. Ivan tau Mikha tidak mudah jatuh hati pada oranglain kecuali orang itu memberikannya hal istimewa.


Ivan paham hal istimewa apa yang Erick berikan pada Mikha. Meski secara tak sengaja, tapi pada kenyataannya Erick menolong nyawa Mikha. Makanya Ivan tak melarang adiknya itu untuk mendekati Erick.


Tapi setelah tahu Erick tak membalas perasaan Mikha, rasanya ia juga ikut sakit melihat kekecewaan adiknya.


"Sabar ya dek, mungkin kali ini kamu harus merelakan lagi! Mereka akan segera menikah!"


Mikha tak bergeming, ia diam dalam pikirannya sendiri. Ia menghargai keputusan Ivan yang tak mau memaksakan perasaan Erick.


Tapi, dilain sisi Mikha belum ikhlas untuk merelakan begitu saja. Mikha tak mau seperti Ivan yang melepas kepergian kekasihnya lalu menyesalinya sekarang!


Dan sekarang Ivan malah larut dalam kepatah-hatiannya, lalu sepertinya tak mau membuka hati untuk wanita lain.


"Kak, apa kakak sudah ikhlas melepaskan wanita itu?" Tanya Mikha yang sudah mulai mereda emosi.


"Humm seperti kakak bilang, itu biar jadi urusan kakak!"


"Apa pada adikmu sendiri pun kakak tidak mau berbagi cerita?" Mulai penasaran.


"Bedanya? Kita sama-sama patah hati dan tak mendapatkan cinta kita kan?" Jawab Mikha yang mengulumm senyumnya, mengingat nasib yang sama dengan kakaknya.


"Beda dek, kalau kamu sama Erick memang tidak punya hubungan apa-apa. Tapi kalau kakak dengannya, kami memang berpacaran. Lebih tepatnya, kakak cuma dijadikan lelaki cadangan dek. Hahaha" jawab Ivan sambil berlagak tertawa mengingat kebodohannya dulu.


"Lelaki cadangan? Maksudnya? Wanita itu juga punya pacar yang lain sebelum kakak?


Ivan mengangguk.


"Dan kakak mengetahuinya?"


Ivan mengangguk lagi.


"Dan dia meninggalkan kakak, setelah dia yakin dengan pacarnya yang lain? Begitu?" Tambahnya semakin penasaran.


"Hahaha, sudahlah jangan banyak tau! Banyak tau nanti bisa membuatmu bodoh!" Jawab Ivan dengan seadanya sambil mengacak-acak rambut Mikha.


Ivan pergi meninggalkan Mikha yang masih mencoba mencerna ucapan kakaknya. Tapi ia tiba-tiba teringat ucapan Gia tadi yang juga mengatainya bodoh.


Saat Mikha hendak marah pada Ivan, ia menoleh dan tak mendapatlan lagi Ivan berada diruangan yang sama.


"Kakak!!!!!!!" Jeritnya hendak protes pada Ivan.


*****


Gia dan Lyra saat ini sedang sarapan di ruang depan yang merangkap menjadi tempat makan mereka sehari-harinya.

__ADS_1


Gia memesan dua bungkus nasi uduk yang biasa. Yang sudah jadi fovoritnya dan kini juga jadi favorit Lyra.


Mereka menyantapnya dengan saling berbincang ringan


"Oh ya Gi, nanti kalau kamu menikah, Arga kamu undang kan?" Pertanyaan Lyra yang membuat selera makan Gia tiba-tiba hilang.


"Kenapa? Kok kamu nanyain itu?" Bahkan menyebut nama Arga pun Gia serasa enggan.


"Itu apa? Arga?"


Gia mengangguk pelan.


"Eh iya waktu kemarin aku ke pasar, waktu kamu pulang kampung aku ketemu Arga sama mamanya!"


"Ohh.. jadi dia tau dari kamu perihal pernikahanku?" Menebak situasi yang sempat membuat Gia panik.


"Iya, aku pikir itu hal baik juga untuk didengar Arga. Karena aku taunya kan kalian deket sebagai teman aja. Tapi--"


ucapan Lyra yang menggantung membuat Gia menghentikan aktifitasnya mengaduk-aduk nasi dan memang sudah tak berselera makan.


"Aku memang cuma berteman sama dia, Ra!" Ucap Gia tegas.


"Lah iya, aku juga nyangkanya gitu kan? Tadi aku bilang gitu kan? Kenapa kamu keliatannya marah? Maaf" jawab Lyra mulai lirih.


"Bukan gitu, Ra. Aku rasa kamu sama Erick tuh sama. Sama-sama menyangka aku memberi dia harapan. Padahal jelas-jelas aku berteman sama dia"


"Gi, maaf ya. Tapi setelah bertemu Arga kemarin aku bisa menyimpulkan bahwa Arga memang berharap lebih sama kamu. Kamu tau kan maksud aku?'


Gia berdecak. Lalu diam tak memberi komentar apapun.


"Gi, sebaiknya kamu tegas sama Arga seperti kamu tegas sama Mas Nico!"


"Udah kok! Kemarin dia udah nelpon aku!" Jawab Gia polos.


"Lalu?"


"Ya dia memang bilang dia berharap lebih sama aku. Tapi perasaannya benar-benar terlambat. Ra, aku harus apa? Apa keputusanku sudah benar? Apa selama ini memang aku memberi dia harapan ya?"


"Kamu udah benar, tegas lebih baik. Toh dia juga menerima kenyataan kan. Lagipupa memang kalian nggak punya hubungan."


Gia mengangguk paham.


"Mungkin dia ku undang saja ya pas aku menikah!" Jawab Gia lagi.


"Ya sebaiknya sih gitu, Ra. Minimal ya biar itu sebagai pukulan agar dia tau kenyataannya memang dia nggak boleh berharap lagi sama kamu." Lyra menepuk-nepuk pelan pundak Gia.


.


.


.


Bersambung...


.Hai aku up 2 bab sekaligus ya malam ini. karena udah 2 hari aku nggak Up🙏


gimana? masih mau dilanjutin enggak cerita ini?

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya. beri Rate bintang 5 dan Like. beri Vote, poin dan koin juga ya buat yang punya. hehehhe


__ADS_2