
*POV. Erick
Aku baru saja tiba di Bandara. Di kota impian Gia yang pernah ia ceritakan kepadaku.
"Aku pengen kesana suatu saat nanti, Yang. Paling nggak satu kali lah seumur hidupku." Ucap Gia kala itu.
Tujuanku kesini sudah jelas untuk menemukan Gia. Tapi aku masih ragu apa memang Gia akan dapat ku jumpai disini. Instingku yang memaksa hingga akhirnya akupun memutuskan untuk segara tiba di kota ini, sebelum masa cuti kerja ku habis.
Hari menjelang siang ketika aku sampai. Karena memang aku tidak menunggu siapapun untuk menjemputku di Bandara, maka ku putuskan segera keluar Bandara dan memesan Taxi menuju Hotel yang sudah ku booking melalui aplikasi di ponselku.
****
Aku meletakkan barang-barangku didalam kamar hotel. Aku tidak ingin membuang-buang waktu untuk mencari Gia. Maka meski aku baru saja sampai, aku langsung beranjak pergi untuk menyusuri kota ini ketempat-tempat ramai yang kemungkinan bisa membawaku bertemu dengan Gia.
Tapi tiba-tiba kejadian tidak terduga terjadi didepan hotel. Aku melihat seorang wanita yang baru mengalami tabrak lari. Mobil yang menabraknya sempat berhenti sesaat lalu pergi begitu saja dengan sangat kencang dan hilang termakan jarak.
Keadaan sekitar tidak begitu ramai, karena itu terjadi di jam sibuk kantor dan hari kerja. Mungkin orang-orang sedang tidak banyak berada diluar ruangan.
Hingga pada saat aku melihat wanita itu, aku langsung refleks berlari ke arahnya dan mendekatinya.
Wanita itu tidak sadarkan diri. Aku melihat darah mulai bercucuran keluar dari kepalanya. Keadaan mulai ramai dengan orang yang hilir mudik lalu berhenti dipinggir jalan memperhatikan wanita itu dan aku yang terjongkok disisinya.
"Buruan Mas, langsung bawa ke rumah sakit!" Ucap seseorang di jalanan.
Ramai dan riuh ku rasakan disekelilingku menonton kejadian tragis yang baru saja terjadi didepan mataku. Aku mengikuti naluri dan jiwa kemanusiaanku untuk memapah dan menolong wanita itu.
Ku angkat pelan-pelan tubuhnya yang sudah banyak luka lecet akibat bergesekan dengan aspal jalan. Baju serta tanganku terkena imbas dari darahnya yang masih mengalir.
Seseorang dengan tangannya menyetop taxi yang lewat. Dan akupun langsung masuk dengan terburu-buru kedalam taxi membawa wanita yang na'as ini.
"Kerumah sakit terdekat ya pak. Tolong antar dengan cepat!" Ucapku tersengal-sengal kepada supir taxi dengan suara yang bergetar.
Taxi pun melaju menuju rumah sakit terdekat di kota itu.
****
"Bagaimana keadaan pasien, dokter?" Tanyaku pada dokter yang menangani wanita yang ku tolong.
"Bisa saya berbicara pada walinya? Anda siapanya?"
"Saya menemukannya dijalanan, dia korban tabrak lari. Saya tidak tau siapa dia dan dimana keluarganya. Tapi saya yang membawanya kesini. Jadi anggap saja saya walinya dokter"
"Baiklah, keadaan pasien sudah tidak apa-apa, kami sudah melakukan scan dikepalnya yang terbentur. tidak ada tanda-tanda yang membahayakan sampai saat ini. tapi pembuluh darahnya terkoyak sedikit. Kita harus menunggu dia sadar dulu, Karena saya mau memastikan benturan dikepalanya itu, apakah ada pengaruh terhadap kesadaran dan daya ingat pasien atau tidak."
"Ya dokter, apa saya bisa melihat keadaannya?"
"Tentu saja, dan juga carilah identitasnya. Saya permisi dulu" ucap dokter itu pamit kepadaku.
Aku melangkah masuk kedalam ruangan pasien. Aku memperhatikan wanita yang belum sadarkan diri itu. Melihat keadaan kepala wanita itu yang terbalut dikelilingi perban dan beberapa lecet di wajah dan lengannya. Serta tangannya yang sudah dihiasi selang infus.
"Wanita malang" batinku.
Aku melihat sling bag wanita itu diletakkan diatas nakas samping tempat tidur. Aku mencoba memeriksa isinya untuk mencari identitasnya.
Aku membuka dompetnya yang kelihatannya cukup mahal.
Aku melihat namanya di kartu pengenalnya.
"Mikhayla" ucapku membaca identitas wanita itu yang baru saja ku temukan.
Aku meletakkan kembali dompet itu, beralih ke ponsel wanita itu. Aku mencoba membuka menu phonebook untuk menghubungi keluarga Mikhayla. Untungnya ponsel itu tidak dikunci menggunakan password.
Aku tidak menemukan kontak yang seharusnya berkaitan dengan orangtua Mikhayla. Dengan terpaksa, Aku membuka aplikasi pesan untuk memastikan orang yang dekat dengan Mikhayla agar bisa ku hubungi dan memberitahukan kondisi Mikhayla pada orang tersebut.
Aku berhenti pada satu nama kontak yang seharusnya bisa ku hubungi terkait wanita ini. Dengan nama kontak "My Sunshine"
Aku menghubungi nomor itu menggunakan ponselku sendiri.
...Tut.......
...Tutt.......
Beberapa kali nada itu terdengar tapi panggilan tidak juga diangkat oleh seseorang diseberang sana.
Aku mencoba menghubunginya lagi dan lagi. Tapi tetap tidak ada yang mengangkat panggilanku. Akhirnya aku terpaksa menggunakan ponsel Mikhayla untuk menghubungi nomor tersebut.
Dari awal, aku mau menggunakan ponsel Mikhayla saja untuk menghubungi kontak yang menurutku akan bisa menangani wanita ini. Tapi aku menghargai privasi Mikhayla dan tidak ingin menggunakan ponsel itu lebih jauh dari sekedar mencari kontak penting.
Dan biasanya, sebagian orang tertentu tak akan mau mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal.
Benar saja dugaanku, kontak yang tadi ku hubungi dengan ponselku tidak menjawab panggilanku. Tapi, sekali panggilan menggunakan ponsel Mikhayla, panggilan itu langsung dijawab tanpa menunggu lama.
"Hallo" suara pria diseberang sana terdengar.
"Hallo, apa benar ini dengan orang yang mengenal Mikhayla?"
"Iya, kamu siapa? Kenapa kamu memakai handphone Mikha?"
"Maaf Pak, saya hanya ingin memberitahukan bahwa wanita pemilik handphone ini sedang berada dirumah sakit karena tabrak lari"
"Apa? Bagaimana keadaannya? Dirumah sakit mana?"
__ADS_1
"Lebih baik bapak lihat sendiri keadaannya, di rumah sakit Witra Medika."
"Baik, saya segera kesana sekarang!"
Panggilan berakhir. Aku harus menunggu orang yang barusan ku telpon untuk datang.
"Hufffffff" aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya.
Aku tidak menyangka kedatanganku dihari pertama ke kota ini malah seperti ini. Kedatanganku untuk mencari Gia harus ku tunda demi menyelamatkan satu nyawa.
Semoga saja setelah ini aku bisa segera meninggalkan rumah sakit untuk menemukan Gia-ku.
Aku duduk di sofa rumah sakit. Kebetulan ruangan yang ditempati wanita ini adalah ruangan VVIP dengan difasilitasi ruangan yang lebih besar serta terdapat Sofa dan TV.
Sebelumnya, setelah keluar dari ruang UGD, perawat yang menangani Mikhayla langsung mengantarkannya masuk ke VVIP Room.
Ketika ku tanyakan, katanya Mikhayla punya kartu khusus perawatan untuk ditempatkan di ruangan VVIP rumah sakit. Aku hanya mengangguk tanda mengerti.
π π π π π
*POV. Gia
Aku terbangun agak kesiangan hari ini. Aku ingin membeli sarapan nasi uduk didepan gang yang sudah menjadi langgananku.
Tapi dikarenakan aku datang saat hari sudah menjelang siang, sudah dipastikan aku tidak dapat menikmati nasi uduk yang kini menjadi favorite ku.
"Sudah habis, neng!" Ucap Mang kardi si penjual nasi uduk.
"Yahhh" aku langsung pergi sambil memanyunkan bibirku seperti anak kecil.
Aku mutuskan naik angkutan umum menuju pasar yang jaraknya tidak begitu jauh dari kontrakanku.
Aku berbelanja bahan-bahan masakan untuk ku masak beberapa hari. Tapi aku merasa lelah sekali ketika aku mau pulang. Aku memutuskan untuk memesan ojek online saja.
Tapi tiba-tiba karena tidak hati-hati ponselku disenggol oleh seseorang dan dapat dipastikan ponsel itu jatuh ke jalanan pasar yang becek didepanku.
"Astaga ponselku!" Ucapku setengah berteriak karena terkejut. Sembari ku ambil ponselku itu dari jalanan.
"Ma, maaf nak." Ucap seorang ibu-ibu paruh baya yang terlihat masih cantik di usianya yang tidak muda lagi. penampilannya pun begitu modis tapi tidak berlebihan.
Aku menatap ibu itu sambil tersenyum.
"Nggak apa-apa bu, ibu nggak kenapa-kenapa kan?" ucapku turut prihatin melihat ibu itu juga terkejut pucat saat tadi tidak sengaja menyenggolku. Dia sepertinya kelelahan.
"Saya tidak apa-apa, nak. Maaf ya ponselmu pasti rusak."
"Udah bu, nggak apa-apa kok. Mungkin umur ponselnya cuma sampai segini aja di saya nya" ucapku sambil memegang ponsel yang benar saja tidak mau hidup lagi alias mati total. Ponselku sepertinya tidak terima terkena becek dijalanan.
"Alamat kamu dimana? Nanti saya suruh anak saya kesana antarkan ganti buat ponsel kamu"
"Kamu naik apa nak? Sekalian saja sama ibu dianterin ya."
Aku sebenarnya mau menolak. Tapi entah kenapa aku tidak enak menolak tawaran ibu didepanku ini.
Mungkin ini adalah caranya meminta maaf kepadaku atas hal yang sebenarnya tidak ku permasalahkan. Toh ponsel ku juga tidak pernah ku gunakan untuk menghubungi siapapun. Aku kan sudah tidak mau berhubungan sama masa laluku.
Paling aku cuma buka sosmed untuk promosi kan baju-baju hasil kreasiku. Itupun bisa login dari ponsel lain. Tentu saja aku harus membeli ponsel lain itu nantinya.
Tapi aku benar-benar tidak mempermasalahkannya. Ku anggap belum rezekiku.
"Memangnya tidak merepotkan ibu?" Tanyaku sopan.
"Tidak kok. Ibu dijemput sama anak ibu, tapi dia sepertinya belum sampai. Makanya tadi ibu bingung disini nungguin dia, eh malah nabrak kamu. Maaf sekali lagi ya nak."
"Iya bu, yaudah kita tunggu aja anak ibu jemput" kataku menerima tawaran ibu ini sambil kamipun akhirnya duduk dibangku kayu panjang dekat orang-orang biasa memarkirkan motor dan mobil di pasar.
"Ma..." Teriak seorang lelaki yang baru keluar dari dalam mobil dan berjalan menghampiri kami.
"Eh itu anak saya jemput, ayo sekalian nak" ucap ibu itu sembari menarik tanganku untuk ikut dengannya, melewati anaknya yang menghampiri. Aku yang lelah sedari tadi hanya pasrah mengikutinya.
Ku lihat lelaki yang katanya adalah anaknya sedang mengangkati barang-barang belanjaan si ibu yang ditinggalnya begitu saja didekat kursi kami duduk tadi.
lalu berjalan juga mengikuti dibelakang kami dengan barang-barang ditangannya.
"Kamu didepan saja ya, biar ibu dibelakang" ucap si ibu dan langsung masuk ke kursi penumpang yang di belakang.
Aku ragu untuk masuk. Karena aku segan tiba-tiba menaiki mobil yang aku sadari cukup mewah dan aku tidak mengenal si empunya.
Kaca jendela belakang mobil diturunkan.
"Ayo nak, masuk. Tidak apa-apa. Anak ibu tidak makan orang" ibu itu menahan tawa mengucapkan kalimatnya barusan.
Aku menarik handle pintu mobil dengan gugup, lalu akupun duduk memasang seat belt. Ku lihat dari spion lelaki itu membuka dan memasukkan barang belanjaan ibunya kedalam bagasi mobil dibelakang.
Lelaki itupun masuk mobil dan duduk dibelakang kemudi, disampingku.
Ku lihat dia sedikit terkejut dengan keberadaanku yang duduk disampingnya. Aku memutuskan diam dan melihat keluar jendela.
Suasana hening. Mobil pun mulai berjalan meninggalkan area pasar. Tapi tiba-tiba ibu yang duduk dibelakang memecah keheningan diantara kami.
"Nama kamu siapa nak? Nama ibu, Dewi."
__ADS_1
"Saya Gia, bu" ucapku segan karena melihat anak bu Dewi yang menyetir seperti memasang wajah tak suka.
"Kamu tinggal dimana, nak? Biar Arga tau mengantarkanmu"
"Arga?" Kataku bertanya bingung.
"Iya, Arga anak ibu ini yang disamping kamu" jawab bu Dewi sembari menepuk pelan bahu lelaki yang baru ku ketahui bernama Arga.
"Saya ngontrak di jalan Pertiwi, bu. Diseberang Tirtanadi" ucapku lagi.
Aku benar-benar kikuk berada diposisi ini. Aku tidak tahu harus seperti apa. Bisa dibayangkan posisiku yang didepan bu Dewi harus berbicara padanya yang duduk dibelakangku. Mau tidak mau aku harus sedikit melihat kebelakang saat bicara. Dan posisi itu membuatku harus melihat orang disampingku yang sedang menyetir dengan wajah yang susah dijelaskan.
"Mama kenapa suka banget sih bawa orang yang tidak jelas, ma?" Ucap Arga bersuara. Nadanya sedikit kesal dan Tajam menyindir.
kata-katanya itu seperti memang ditujukan kepadaku. Ya dia menyindirku secara tidak langsung. Dan dia bilang apa tadi? orang yang tidak jelas?
'Berarti maksudnya aku adalah orang yang tidak jelas, gitu? '
Aku diam saja sembari melihat-lihat keluar jendela. berusaha Acuh. Padahal ucapannya sangat tidak enak ditelingaku.
"Kamu itu ya, Gia ini bukan orang yang tidak jelas!" Jawab bu Dewi membela diri dan menurutku mewakili kata-kataku yang ingin sekali berkata kalau aku bukan orang tidak jelas seperti yang dia kira.
"Mama saja baru tau namanya dan alamatnya. Berarti itu tidak jelas ma!" Kata Arga lagi dengan nada datar.
"Ya sudah, tapi kan sudah tahu nama dan alamatnya sekarang. Bukan cuma mama yang tahu. Tapi kamu juga dengar kan? Berarti sudah bukan tidak jelas lagi dong!" Jawab bu Dewi dengan puasnya.
Lelaki bernama Arga itu menggelengkan kepalanya.
"Serah mama deh"
"Maaf ya Gia, Arga memang kurang bergaul. Kalah sama mamanya" kata-kata bu Dewi mengabaikan Arga.
Ku lirik Arga yang hanya berdecak kesal tapi tetap fokus mengemudikan mobilnya. Aku hanya mengangguk mendengar kata-kata bu Dewi.
"Kamu sudah lama ngontrak disitu?"
"Belum lama sih bu, kurang lebih 2 bulan ini"
"Sama siapa ngontrak disitu?"
"Sendiri saja bu"
"Loh loh anak gadis kok tinggal sendirian? Orangtua kamu dimana? Kamu kerja dikota ini atau gimana?"
Tanpa sengaja ku lihat gelagat Arga yang melirik ke arahku dan seperti tertarik mendengarkan pembicaraan kami.
"Orangtua saya diluar kota bu, saya disini buka usaha sendiri, usaha kecil-kecilan"
"Wah, mandiri kamu ya! Jauh dari orangtua dan buka usaha sendiri. Hebat banget kamu, Gia!"
Sekilas kulihat Arga tersenyum menampakkan lesung dipipinya. Dia tersenyum entah karena mendengar ucapan mamanya atau karena ikut memujiku seperti mamanya didalam hatinya.
"Ini sudah dijalan pertiwi, kemana lagi?" Tiba-tiba Arga menanyakan Jalan menuju kontrakanku. Apa dia bertanya padaku? Ya sudah jelas lelaki ini bertanys padaku, kenapa aku jadi bodoh setelah memandang senyumnya tadi.
"E, eh iya. Itu gang nya didepan" kataku yang tiba-tiba gugup harus berbicara padanya.
Setelah mengantarku pulang. Bu Dewi langsung pamit undur diri. Aku menawarinya untuk mampir. Bu Dewi menatap anaknya. Tapi lagi-lagi anaknya yang bernama Arga itu seperti melayangkan protes dari tatapan matanya.
***
Hari ini aku memutuskan untuk melanjutkan sisa-sisa pesanan seragaman bu Nila untuk saudara-saudaranya. Jahitanku baru ada beberapa saja yang sudah selesai. Sisanya masih banyak.
"Aku harus kerja lebih giat. Kalau perlu borongan supaya siap tepat waktu" kataku menyemangati diri sendiri.
Saat aku lagi menjahit salah satu baju, ku dengar pintu kontrakanku diketuk dari luar.
...Tok..tok..tok.....
"Iya, sebentar" ucapku dari dalam rumah berjalan menuju pintu depan membukakan pintu.
"Ka, kamu?" Ucapku sedikit terperangah.
-
.
.
bersambung...
.
.
Hayoooo siapa yang datang ke kontrakan Gia? apa Erick udah tau keberadaan Gia?
.
.
berikan Like dan Coment di novel aku ya.
__ADS_1
yang punya poin lebih boleh dong kasi vote nya. biar aku makin semangat up nya.
terimakasihππππ