
Saat ini Gia sedang duduk dilantai ruang tamu apartment, tangannya tak berhenti mengarsir kertas yang ada dimeja. Ya, Gia sedang memulai aktifitasnya lagi. Menggambar desain beberapa rancangan baju yang ada diimajinasinya.
Gia merasa bosan hanya berdiam diri di Apartment menunggu kepulangan suaminya. Perlu diketahui, bahwa Apartment ini sudah ada seseorang yang dibayar Erick untuk bersih-bersih serta mencuci pakaian. Jadi kegiatan Gia hanya memasak makanan untuknya dan Erick makan, setelah itu ia hanya bisa bersantai dan berdiam diri.
Tidak tahu ingin melakukan apalagi, dan sudah beberapa kali menonton drama korea kesukaannya, Gia memutuskan untuk menggambar desain baju saja.
Ponsel Gia berdering, menunjukkan nama Lyra yang sedang memanggilnya. Gia tersenyum mendapati panggilan telepon itu.
"Iya, Ra?"
"...."
"Hah? Oke oke aku bukain pintu sekarang!" Ucapnya pada Lyra.
Ternyata Lyra datang berkunjung ke kediaman Gia yang baru. Tentu saja sebelumnya Lyra sudah menanyakan alamat Apartment ini.
Gia membuka pintu dan mendapati tubuh semampai Lyra yang sudah berdiri didepan pintu.
Gia berlonjak kegirangan seperti anak kecil yang diberi ice-cream. Lyra menyelamatkannya dari rasa bosan dan jenuh karena sendirian di Apartment.
Lyra masuk dan duduk diruang tamu yang nyaman itu, setelah Gia mempersilahkannya.
"Enak bener udah jadi Nyonya Erick bisa santai-santai yah!" Ejek Lyra sambil tertawa cengengesan.
Gia mendengus mendengar ucapan Lyra yang jelas saja menyindirnya.
"Enak sih enak tapi bosen. Kan kamu tau sendiri aku biasa kesana kemari nggak bisa diem. Hahaha"
"Iya juga sih! Jadi rencana kamu selanjutnya apa?"
"Aku udah bilang Erick sih mau lanjutin usaha dan bisnis. Rencananya mau joint sama mamanya Erick, tapi belum taulah gimana nanti" Gia masih dengan nada pesimis.
"Kalau kamu? Apa rencana selanjutnya? Mau jadi Nyonya juga?" Lanjut Gia bertanya pada Lyra sambil menaik-naikkan alisnya menggoda Lyra.
__ADS_1
Lyra yang tahu maksud dari tingkah aneh Gia itu pun menjadi salah tingkah.
"Apa-an sih!" Lyra tampak malu-malu kucing. Blush wajahnya memerah begitu saja.
"Tuh kan, coba sini cerita sama kakak!" Ucap Gia sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri.
"Cih kakak pula itu!" Lyra berlagak ogah-ogahan melihat Gia. Lalu tertawa ngakak.
"Kamu nggak ada niat balik kesana. Emm ke kontrakan?" Tanya Gia mulai serius.
Lyra menggeleng lemah.
"Orangtua aku nggak ngizinin aku untuk tinggal disana lagi, Gi! Status aku sekarang udah janda dan lebih baik tinggal bersama orangtuaku daripada disana sendirian, begitulah kata mereka." jelas Lyra lemah.
Gia mengangguk mengerti.
"Terus kerjaan kamu disana gimana?"
"Aku lagi kirim email sih minta persetujuan pindah ke cabang rumah sakit yang ada dikota ini. Tapi kalau ditolak ya mau nggak mau cari kerjaan lain lah!"
"Suami darimana, Neng? Punya pun enggak!"
"Calonnya kan udah ada, tinggal di sah kan aja jadi suami. Hehehe" Gia nyengir kuda memperlihatkan deretan giginya yang berjejer rapi.
"Hush! kamu ini!" Lyra menepuk lengan Gia pelan.
"Ya kan emang bener, cocok tau!"
"Aku belum kepikiran buat berumah tangga lagi sekarang, mungkin hati aku masih tertutup, Gi!"
"Ya mencoba kan nggak salah. Tapi kalau menurut aku sih, dia udah nunggu kamu terlalu lama. Dan moment ini adalah jawaban untuk penantian Ivan."
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Yah Ivan kan udah nungguin kamu cukup lama! Mungkin dulu dia merasa menunggu kamu yang sudah jadi milik orang hanya akan sia-sia. Tapi ternyata kamu berpisah sama Nico. Ya jelas dong dia ambil sikap setelah tau status kamu sekarang!" Gia berucap dengan rasa salut dihatinya terhadap kesetiaan Ivan pada Lyra.
"Kenyataannya sekarang kan beda. Kamu sama Nico berpisah dan keadaan itu seolah jadi berpihak sama perasaan Ivan." Tambah Gia lagi.
Lyra mengangguk setuju dengan pernyataan Gia.
"Apa aku masih pantas sama Ivan, Gi? Aku kan--"
"Kan kamu pernah bilang, semua punya aib dan masalalu. Mungkin masalalu kamu pernah ninggalin dan terkesan nyakitin dia. Tapi ingat, dari awal juga dia tau kan kalau kamu sama Nico pacaran, dengan dia dekatin kamu tandanya dia udah nerima semua resiko dan konsekuensinya."
"Jadi menurut aku, sakit hatinya Ivan dimasa lalu terhadap kamu itu nggak sepenuhnya salah kamu. Tapi ada andil Ivan sendiri yang memang sudah salah karena dia yang memulai bermain api."
"Aaaaa Gia" Lyra berkaca-kaca setelah mendengar ucapan Gia yang panjang kali lebar itu. Benar, itu tak sepenuhnya salah Lyra meskipun di masa lalu Lyra menjadikan Ivan sebagai cadangannya tapi Ivan memang tau status Lyra yang memiliki pasangan kala itu.
"Kamu doain aku ya!" ujar Lyra.
"Pasti dong, Neng geulis" Gia mengelus punggung tangan Lyra.
Kemudian Gia tersadar belum menyajikan minuman untuk tamunya itu, ia beranjak membuatkan minum dan menyajikannya dihadapan Lyra, lengkap dengan cemilannya.
Mereka berbincang-bincang banyak hal serta memikirkan apa yang akan mereka lakukan lagi setelah ini karena sekarang mereka bersyukur karena kondisi yang membuat mereka bisa bersama-sama dan ditempat yang sama lagi.
.
.
.
Bersambung...
Terimakasih ya buat para readers yang udah setia baca novel ini. aku usahain up tiap hari ya. saling support yuk! semoga kita semua sehat selalu ya๐
khusus part 'iya-iya' agak dikurangi ya mengingat masih Bulan Ramadhan. Lagian sejujurnya aku rada risih sih untuk nulis cerita yang mengandung unsur dewasa๐ฌ๐ฌ tapi karena emak2 21+ pasti menantikan bacaan itu aku masukinlah ya dikit-dikit kemarin๐๐๐ semoga tetap stay tune baca karya ini sampai selesai.
__ADS_1
Tinggalkan like, komen dan vote nya yah๐๐๐๐