Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Menghilangnya Gia -


__ADS_3

Hari berganti hari, sudah seminggu Gia berada dikontrakannya yang berbeda kota dengan posisi Erick saat ini.


Gia dan Erick menjalani hubungan jarak jauh meski mereka sering bertukar kabar melalui aplikasi pesan dan panggilan video.


Erick tidak bisa mengunjungi Gia karena padatnya pekerjaan. Begitupun Gia belum bisa pulang ke tempat dimana Erick berada.


Mereka sepakat untuk tidak bertemu dulu sampai dihari pernikahan mereka. Meskipun Gia akan pulang setelah urusannya benar-benar selesai dengan Mikha.


Gia sedang menunggu keputusan akhir dari Mikha perihal pembayaran putus kontrak atau pinalty yang akan diberikan pihak butik Mikha kepada Gia.


Tapi entah mengapa, Mikha seolah menunda-nunda menyelesaikan masalah ini. Padahal Gia sudah sangat ingin pulang kerumah orangtuanya mengurus hal pernikahannya dan Erick.


Gia sadar betul, meski tanpa kehadirannya disana pun acara dan segala sesuatunya sudah disiapkan oleh Erick dan keluarga Gia. Tapi, Gia ingin ikut sibuk dan setidaknya merasakan suasana yang ada menjelang hari pernikahannya.


Setelah cukup lama merenung, Gia dikejutkan oleh suara dering ponselnya.


"Hallo"


"...."


"Baiklah, aku akan segera kesana!"


Gia mengakhiri panggilan yang sudah ia jawab itu. Kemudian memutuskan untuk segera bersiap-siap.


Setelah siap, Gia keluar kamar dan mendapati Lyra tengah asyik dengan kegiatannya menyapu rumah.


"Mau ke butik, Gi?"


Gia mengangguk membenarkan.


"Hati-hati lho calon pengantin!" Ucap Lyra yang diselingi senyum kecilnya.


"Ok!" Jawab Gia tanpa suara. Hanya menyatukan telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O.


Gia memakai sneakers nya diteras rumah. Tapi ia merasakan kehadiran seseorang.


"Mau apa?" Jawab Gia cuek sambil memakai sepatunya.


Lelaki itu menyeringai seperti biasanya tanpa tahu malu.


"Aku kaget mendapat pesanmu!" Jawabnya.


"Aku kan sudah bilang, kalau aku akan menghubungimu jika aku mau membayar hutangku!"


Gia sudah mentransfer hutangnya pada Nico. Tentu saja ada campur tangan Erick untuk membantu Gia melunasi hutang itu.


"Tidak usah buru-buru seperti ini, Gi!"


"Ck! Intinya hutangku sudah ku bayar. Dan ku ucapkan terimakasih banyak pada tuan Nico yang terhormat!" Ucap Gia sembari menundukkan sedikit kepalanya.


Nico tersenyum mendengar kata-kata Gia dan gelagat yang Gia lakukan.


"Aku membantumu tanpa berharap kamu mengembalikannya, Gia! Dan jika kamu tidak membayarnya itu sebenarnya jauh lebih baik!" Ucapnya seraya masuk ke teras rumah dan duduk disamping Gia tanpa dipersilahkan.


Gia menatapnya kesal. Kini mereka hanya dibatasi oleh sebuah meja kecil yang berada diantara kursi yang mereka duduki.


"Apapun niatmu, aku akan tetap mengembalikannya. Karna bagiku hutang tetaplah hutang yang harus dibayar!" Ujar Gia tegas menatap serius wajah Nico.


Nico menatap Gia dengan tatapan dalam. Gia membuang muka setelah menyadari tatapan Nico yang aneh dipenglihatannya.


Lyra yang ingin melanjutkan kegiatannya menyapu pada bagian teras pun terheran melihat kedatangan Nico dipagi hari begini.


"Ada kamu mas?" Tanya Lyra berbasa-basi.


Nico menatap Lyra kemudian mengangguk pelan.

__ADS_1


Lyra mencoba mengabaikan Nico dan mengurungkan niatnya menyapu teras.


Gia yang melihat kecanggungan keduanya hanya menanggapi dengan cuek. Gia tahu Lyra merasa tak enak hati dengan adanya Nico disini.


"Aku berangkat ya, Ra! Dan kamu Co, kalau sudah tidak ada kepentingan lagi, bisakah kamu pergi saja?" Ujar Gia terang-terangan mengusir Nico.


"Karena kamu mau pergi, ya sudah aku antarkan saja ya!" Tawar Nico.


"Terimakasih tawarannya, tapi itu driver ojek aku udah datang!" Ujar Gia sembari menunjuk drivel ojol yang hampir sampai didepan rumah.


"Baiklah, kalau begitu bolehkan aku berbicara dengan Lyra?"


"Apa lagi ini?" Batin Lyra.


Lyra menatapnya bingung. Begitupun dengan Gia.


Gia terdiam, lalu menatap Lyra meminta persetujuan. Lyra mengangguk pelan.


"Oke! Tapi tolong jangan buat keributan disini dan jangan sakiti Lyra!" Jawab Gia sembari menaiki ojol nya.


Gia pergi meninggalkan kediamannya. Sedangkan Lyra dan Nico tampak berbicara serius.


******


Gia sampai dibutik Mikha cukup awal pagi ini. Terakhir Gia kesini adalah ketika pertengkarannya dengan Mikha hampir seminggu yang lalu.


Ini kali pertama Gia menginjakkan kaki dibutik ini lagi dengan status berbeda yaitu tanpa adanya kerjasama diantara ia dan Mikha.


Gia tadinya menerima panggilan dari Mikha untuk datang kebutik pagi ini.


Entah karena kedatangan Gia yang terlalu cepat atau butik Mikha yang terlalu lama untuk buka, Gia hanya berdiri mematung didepan butik yang kelihatannya belum ada tanda-tanda kedatangan para pekerjanya.


Gia melihat sebuah mobil menghampiri kearahnya dan berhenti tanpa mematikan mesinnya lalu membuka kaca jendela mobil tepat dihadapan Gia.


Saat Gia masih fokus memperhatikan siapa yang ada didalam mobil itu, tiba-tiba dari belakang Gia ada seseorang, yang tanpa Gia sadari sudah membekapnya dengan sapu tangan.


Tampaknya Gia pingsan dan tak sadarkan diri. Efek dari obat bius yang ada disapu tangan yang telah membekapnya tadi.


Orang yang membekapnya pun masuk ke mobil setelah urusannya memasukan Gia kedalam mobil selesai. Dia duduk disamping pengemudi.


Mobil itu pun melaju dengan cepat dan membawa Gia yang tak sadarkan diri entah menuju kemana.


💠💠💠💠💠


Lyra sibuk menunggu kepulangan Gia. Hari ini Lyra akan bekerja dijadwal sore hari. Ia ingin memastikan Gia pulang dulu kerumah baru Lyra akan berangkat bekerja.


Setelah hampir di waktu yang mengharuskannya berangkat bekerja, Lyra belum mendapati Gia pulang kekontrakannya.


Lyra beranjak pergi meninggalkan rumah dalam keadaan kosong. Mungkin Gia akan pulang sebentar lagi. Lyra takut terlambat bekerja jadi ia memutuskan buru-buru untuk berangkat saja.


Sepulangnya Lyra kerumah kontrakannya dimalam hari sehabis bekerja tadi, rumah tampak sepi dan nyaris gelap tanpa ada pencahayaan.


Bisa Lyra pastikan Gia belum pulang juga kerumah, dan tak ada siapapun dalam rumah. Lyra mencoba menghubungi Gia berulang kali tapi tak ada jawaban.


Hari mulai larut, Gia belum juga pulang kerumah. Mendadak Lyra terpikir percakapannya tadi pagi dengan Nico yang membahas soal Gia.


Nico mengatakan, ia tidak akan menyerah mengejar Gia. Dengan tidak tahu malunya Nico bercerita panjang lebar pada Lyra tentang perasaannya pada Gia, tanpa memikirkan perasaan Lyra yang notabene nya adalah mantan istrinya.


Lyra menelan kekecewaan besar pada sikap Nico, tapi ia sudah mulai terbiasa jadi seharusnya ia senang karena keputusannya lepas dari Nico adalah benar.


Lyra memberitahu Nico bahwa Gia akan segera menikah. Dan itu cukup berhasil membungkam mulut Nico dan akhirnya ia pergi meninggalkan kontrakan.


Setelah mengingat obrolannya dengan Nico pagi tadi, seketika Lyra membayangkan bahwa saat ini Gia sedang bersama Nico.


"Ya Tuhan? Apa aku salah sudah menceritakan perihal pernikahan Gia pada Mas Nico? Apakah mas Nico akan berbuat nekat?" Batin Lyra bertanya-tanya.

__ADS_1


Lyra gelisah karena tak kunjung mendapat kabar tentang Gia. Ia mencoba menelepon Nico tapi juga tak tersambung.


"Apa benar sekarang Gia ada pada Mas Nico?'' Lyra bertanya-tanya dalam hati.


Lyra ingin meminta bantuan Erick, tapi mengingat Erick berada dikota lain itu sangat mustahil untuknya membantu Lyra menemukan Gia. Yang ada tambah runyam jika Erick tahu keadaan saat ini yang belum pasti Gia ada dimana.


Lyra terpikir tadi pagi Gia yang akan ke butik untuk menemui Mikha.


"Iya, aku harus menanyakannya pada yang bernama Mikha !" Batin Lyra.


Lyra mulai gelisah dan khawatir.


Lyra mondar mandir dikamarnya, karena ia bahkan tidak tahu nomor handphone Mikha untuk menanyakan perihal Gia padanya.


Lyra bingung harus bertanya pada siapa lagi. Dan harus meminta tolong pada siapa lagi.


Bayangan Nico yang seolah seorang psikop*t seperti yang pernah Gia bilang, tiba-tiba muncul dibenak Lyra. Ia berulang kali menepis bayangan tentang hal itu dipikirannya. tapi lagi-lagi ia juga teringat Nico yang selalu bersemangat menceritakan soal Gia.


Lyra mencoba terus menepis bahwa Nico adalah dalang dibalik hilangnya Gia saat ini. Tapi entah kenapa semua kebenaran yang ada seolah-olah memang hanya bisa tertuju pada Nico.


Lyra memijat pelipisnya. Tiba-tiba dalam kebingungannya, Lyra mengingat Arga. Arga pasti akan membantunya mencari Gia.


"Ya, Arga pasti mau membantuku mencari Gia. Gia pasti benar entah kemana. Karena ini sudah sangat larut! Dia tak pernah pulang dijam segini. Ini sangat aneh!" Lyra berkata-kata dalam hatinya.


Lyra mencari cara bagaimana ia bisa menemui Arga, dan meminta bantuan Arga karena ia tak tahu nomor telepon Arga. Lyra sangat khwatir pada Gia.


Lyra mencoba berpikir dan terus berpikir.


Tiba-tiba ia mengingat perihal Gia yang pernah keguguran dan dibawa kerumah sakit. Ya rumah sakit itu juga adalah tempat Lyra bekerja sebagai perawat.


Lyra menelepon ke nomor rumah sakit, minta agar disambungkan ke pihak administrasi.


"Kak, aku mau tanya info seseorang. Sedikit privasi memang tapi ini penting, kak! menyangkut teman dekatku! Tolong dibantu ya kak!"


Lyra menanyakan perihal Gia yang pernah keguguran dan siapa wali yang menjaminnya saat itu. Lyra jelas tahu walinya saat itu adalah Arga. Karena Gia pernah bercerita Arga lah yang menolongnya saat itu.


Tapi bukan itu yang Lyra ingin tahu, Lyra ingin mengetahui nomor kontak wali Gia pada saat itu yakni adalah nomor handphone Arga.


Orang diseberang sana sebenarnya adalah teman Lyra yang bekerja dibagian administrasi rumah sakit.


Dengan berat hati dan sedikit paksaan serta rayuan Lyra, akhirnya ia mau memberikan info yang Lyra inginkan.


Ia segera memberi nomor telepon yang tercantum.


Lyra berulang kali mengucapkan rasa terima kasih pada temannya itu.


"Oh otakku... Ternyata kau berfungsi juga disaat genting seperti ini!" batin Lyra.


Lyra memutuskan langsung menelepon nomor Arga.


Setelah beberapa kali nada tersambung, akhirnya Lyra mendengar suara serak dari seberang teleponnya.


"Hallo?" Jawab seorang diseberang sana dengan nada cuek khas nya.


"Arga?"


.


.


.


Bersambung..


.

__ADS_1


maaf ya nggak bisa terlalu panjang. aku usahain up nya tiap hari tapi nggak janji ya. kalau like dan votenya dibanyakin aku janji deh semangat lagi. hehehehe


tapi makasih ya buat yang udah like, vote dan udah ninggalin komentar. jujur aja aku senang kalau banyak yang apresiasi. hihihi.. 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2