Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Bersikap Baik-baik Saja -


__ADS_3

Gia memasuki rumah dengan perasaan entah. Dia bersandar dibalik pintu untuk menetralkan debaran jantungnya akibat ulahnya dan Arga beberapa saat lalu.


"Kakak udah pulang?" Nissa menghampiri Gia yang masih terdiam.


Gia hanya mengangguk dan berlalu untuk masuk ke kamarnya sendiri. Nissa memandang aneh sikap kakaknya itu, namun ia urung untuk bertanya lebih jauh jadi Nissa pun masuk kedalam kamarnya yang berada disebelah kamar Gia.


Setelah masuk kamar, Gia memutuskan untuk membersihkan diri. Lalu, ia berbaring di tempat tidurnya. Memejamkan mata sejenak dan memandang ke langit-langit kamar. Air matanya luruh setetes demi setetes, entah apa yang ada dibenak wanita itu.


"Semuanya akan baik-baik saja!" Gia menguatkan dirinya sendiri seraya menyeka airmatanya dan mencoba untuk tersenyum.


"Maafkan aku, maafkan aku, Erick! huhuhu..." Gia menyembunyikan wajahnya dibalik tangannya sendiri sambil menangis sesenggukan.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Hujan menemani awal hari di kota Jakarta pagi ini. Hari ini adalah weekend, Gia baru saja selesai memasak sarapan dan menghidangkannya diatas meja makan.


"Mau kemana dek pagi-pagi banget?" Gia melirik Nissa yang tengah bersiap-siap.


"Rencana-nya hari ini mau jalan-jalan ke puncak sama temen-temen kampus, kak."


"Oh, yaudah sih. Hati-hati ya kamu. Oh iya sarapan dulu dek!"


Gia dan Nissa sarapan berdua di meja makan dengan suasana tenang.


"Kamu naik apa dek? kan masih hujan?"


"Dijemput temen kak, naik mobilnya."


"Temen apa temen?" Gia menaik turunkan alisnya menggoda Nissa.


"Idihh kakak apaan sih! Aku disini buat kuliah kak, dan nemenin kakak! Bukan buat pacaran atau hal lainnya!"


"Yaudah sih, gitu aja kok sewot!" Gia tergelak diakhir kalimatnya.


"Lagian, kalau kamu mau pacaran juga nggak apa-apa dek, tapi sama yang jelas-jelas aja dan pacaran yang sehat!" Sambung Gia. Ia memperingatkan adiknya agar jangan sampai salah melangkah seperti dirinya di masalalu.


Nissa hanya manggut-manggut sambil terus menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Kak, tadi malam--"


"Kenapa dek? Ada apa tadi malam?"

__ADS_1


"Emm itu, aku tidak sengaja melihat keluar waktu kakak pulang." Nissa mengucapkan kata dengan teramat pelan seolah sungkan.


Gia melirik Nissa dan mulai berpikir kalau Nissa pasti melihatnya dan Arga malam tadi.


"Apa yang kamu lihat dek?" Sergah Gia.


"A-aku enggak liat apa-apa kok kak. Aku cuma liat kakak dianterin sama laki-laki terus laki-laki itu dijemput menggunakan mobil lain!" Nissa sudah selesai makan dan menyatukan kedua jari telunjuknya dan mengetukkannya satu sama lain.


Dari gelagat Nissa, Gia dapat menyimpulkan bahwa Nissa melihat semuanya malam tadi, apalagi dia juga tahu kalau Arga kemudian dijemput. Gia memastikan Nissa melihat apa yang terjadi karena Nissa sudah melihat dari awal kepulangan Gia sampai akhirnya Arga pun pulang dengan mobil lain.


Melihat Gia diam, Nissa kembali mengutarakan niat awalnya.


"Siapa dia kak?" Nissa penasaran.


"Dia, dia teman kakak!"


"Kak, aku enggak pernah melarang kakak berhubungan dengan lelaki lain. Terlebih sekarang kakak juga sudah sendiri, itu sih sah-sah aja menurutku!"


"Dek--"


"Jangan menahan perasaan kakak, kita sama-sama tau apa yang udah terjadi sama kakak dan apa yang udah kakak lewati!" Ucap Nissa dengan bijak."


"Kakak menghargai Erick dan keluarganya dek!"


Gia menunduk mendengar kata-kata adiknya yang memilukan. ia meremas jari jemarinya sendiri.


"Aku berangkat kak! Satu lagi, kalau kakak memang suka dengan laki-laki yang datang malam tadi. Tolong lanjutkan hidup kakak dengannya! Aku muak kak dengan kedatangan Kak Nico kerumah ini!" Nissa menyalami tangan Gia seraya beranjak dan pergi menuju teras untuk menunggu jemputannya.


Gia menarik nafas dalam seraya menghembuskannya, ia menahan airmatanya agar tidak tumpah untuk kesekian kalinya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Apa lagi jadwal saya hari ini?" Suara bariton lelaki itu bertanya kepada seorang wanita muda yang berada didepannya.


"Hari ini Bapak ada pertemuan dengan klien di Pasola Resto, Pak!"


Lelaki itu mengangguk mengerti.


"Lalu? jam berapa jadwal saya kosong?" Tanyanya to the point.


"Setelah itu Bapak harus bertemu dengan perwakilan kontraktor dari PT. Waskita Karya untuk membicarakan pembangunan proyek baru. Jadwal kosong Bapak setelah pertemuan itu berakhir!"

__ADS_1


"Baiklah. Siapkan semua yang perlu kita bahas dengan klien kita hari ini, saya akan makan siang dulu."


"Baik Pak Arga, Permisi!" Ujar Wanita muda yang adalah sekretaris Arga itu.


Arga menyandarkan kepalanya disandaran kursi kebesarannya. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk menepis rasa lelahnya. Belum setengah hari dia bekerja hari ini, namun rasanya ia begitu lelah dan ingin segera tidur pulas di Senin siang.


Entah kenapa, semenjak pertemuannya sabtu kemarin dengan Gia, ia bukannya makin semangat tapi semakin buyar dan serasa tak bergairah untuk bekerja. Apalagi mengingat Gia yang memintanya untuk bersikap tidak mengenal satu sama lain jika bertemu. Membuat Arga frustasi saja.


Pintu ruangan itu dimasuki oleh seorang wanita cantik, wanita itu masuk seenakmya tanpa mengetuk dan permisi dulu. Arga mendongak dan melihat kedatangan wanita itu.


"Ada apa?" Suara datar Arga bertanya, nyaris tanpa adanya aura ramah dari dirinya.


Wanita itu tersenyum lalu menghampiri Arga ke mejanya.


"Aku bawakan kamu makan siang, pasti kamu belum makan kan!" Ucap wanita itu dan langsung mengeluarkan isi dari paperbag yang ia bawa.


"Sandra, bisakah kita akhiri semua ini? Aku lelah berpura-pura!"


Wanita itu menatap Arga tak suka, ia memanyunkan bibirnya.


"Sayang, makanlah dulu baru protes kalau makanannya tidak enak!"


"Ck! Kau sangat pandai ber-akting!" Arga menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh geli.


Wanita itu ikut tertawa seraya menyuapi Arga sesendok makanan yang sudah ia keluarkan tadi.


"Buka mulutmu!"


"Sandra! Kita ber-akting didepan orang-orang saja, ini ruanganku kau tak perlu seperti ini!"


"Huh! Memang aku sudah salah pilih orang, sedari awal seharusnya bukan kau yang ku pilih!" Sandra berdecak dan menghempaskan sendok yang ada ditangannya. Arga tertawa melihat kelakuan absurd wanita didepannya ini.


"Aku makan ya!" Arga mulai melahap makanannya, ia makan dengan lahap dan menyunggingkan senyum melihat Sandra yang menurut.


Sandra mengepalkan tangannya ke udara. Sebagai bentuk kekesalannya terhadap lelaki yang duduk di seberangnya.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2