
Hari beranjak petang saat Erick berjalan gontai memasuki kamar rawat istrinya. Dia baru saja selesai melakukan panggilan telepon, mengabari mama Anna dan keluarga Gia perihal kondisi Gia saat ini.
Erick akan menanyakan kepada dokter, perihal usul orangtua Gia yang ingin menjadi donor ginjal untuk Gia. Namun, itu adalah pilihan kedua yang akan Erick usung, pilihan pertama tentu ia akan mengajukan diri lebih dulu agar bisa mendonorkan satu ginjalnya untuk sang istri.
Erick menatap istrinya yang terbaring lemah. Erick mencoba mengulas senyum ketika istrinya yang ternyata sudah dalam keadaan menatapnya juga sudah tersenyum simpul.
"Darimana?" Suara Gia pelan menayai sang suami.
Erick mendekat dan duduk dikursi, disamping tempat tidur Gia.
"Tadi abis nelpon!" jawab Erick singkat. Ia sebenarnya sedang menata hatinya dan menata ketegarannya agar tidak meledakkan tangis didepan wajah Gia. Bukankah seharusnya Erick lebih kuat dari Gia sekarang? Gia sedang sakit dan Erick tak mungkin menambahi beban pada istrinya itu. Jika Gia tahu Erick sedang risau, pastilah ia tak akan tenang sekarang.
"Nelpon siapa? oh iya, kata dokter aku enggak apa-apa kan?" Gia menyentuh jemari Erick dan menggenggamnya.
Gia merasakan getaran pada tubuh suaminya, seolah Erick sedang menangis dalam diam dan tanpa air mata. Gia menunggu reaksi dan jawaban Erick selanjutnya, karena kini ia penasaran ketika mendapat respon seperti itu dari tubuh Erick saat ia menggenggam tangan sang suami.
Erick tak mampu berkata. Ia menengadah ke langit-langit. Menahan air mata agar tak tumpah didepan istrinya. Ia benar-benar lemah sekarang. Tak mampu kuat melihat pasangannya harus menderita melawan penyakit.
"Hey..sayang, Kenapa sih? Aku sakit apa?" Gia menuntut jawaban pada sang suami yang dari tadi lebih banyak diam menurutnya.
Erick menggeleng lemah.
"Enggak sayang, kamu sehat kok!" suara Erick bergetar dan itu tertangkap diindera pendengaran Gia.
Gia menggenggam kuat jemari Erick. Ia tahu suaminya ini sedang berbohong.
"Apa penyakitku parah?"
"Enggak sayang, semuanya akan baik-baik aja!"
"Lalu? aku sakit apa?"
"Ka-kata dokter kamu--" Erick tak mampu meneruskan kalimatnya, karena setetes air matanya jatuh namun dengan cepat ia langsung menyekanya.
Gia menatap heran melihat Erick, ia berusaha untuk duduk namun usahanya itu dihalangi oleh suaminya.
"Kamu mau apa?" Tanya Erick.
"Aku mau duduk, aku mau denger penjelasan kamu!"
Erick menarik nafas dalam-dalam sembari menghembuskannya. Setelah ia menetralkan perasaannya akhirnya ia ber-ujar juga.
"Kamu mengalami gangguan ginjal kronis" ucapnya lemah.
Mata Gia tampak berkaca-kaca mendengar kenyataan itu. Entah apa yang ada dalam benaknya ketika ia mengetahui bahwa ia bukan hanya sekedar sakit biasa. Tapi, ia memilih tetap bungkam seolah menunggu kalimat Erick yang selanjutnya.
"Kata dokter, kamu bisa cuci darah tapi itu bukan berarti menyembuhkan! Lebih baiknya kamu harus melakukan transplantasi ginjal. Rumah sakit sedang mencari pendonor yang paling cocok. Kalau terlalu lama, aku akan mengajukan diri sebagai pendonor nya!" Erick menatap intens wajah istrinya yang pucat tanpa rona.
__ADS_1
Hening.
Gia mencerna kalimat demi kalimat yang dilontarkan Erick. Gia tidak mau Erick berkorban sejauh itu dan akhirnya harus hidup dengan satu ginjal. Walaupun ia bisa hidup normal layaknya orang yang memiliki dua ginjal, tapi tetap saja Gia ingin mencegah hal itu.
"Sayang, kamu enggak perlu jadi pendonor buat aku! Kita bisa tunggu pihak rumah sakit mengabari jika sudah ada pendonornya!" Gia berkata dengan ucapan yang sangat lembut.
Erick menggeleng cepat dan berulang.
"Enggak!" tegasnya.
"Kita hadapi ini sama-sama ya sayang!" sambung Erick sambil membelai lembut pipi istrinya yang sudah basah akibat airmata.
💠💠💠💠💠💠
1 Minggu kemudian..
"Golongan darah Bapak tidak cocok dengan Ibu Anggia, Pak. Sangat disayangkan Bapak tidak bisa menjadi pendonornya. Selain itu, riwayat Bapak pernah mengkonsumsi minuman beralkohol juga mempengaruhi kondisi ginjal, jadi tidak layak menjadi pendonor!" Ucapan dokter menjadi tamparan keras untuk Erick. Seketika ia menyesali semua kebodohannya dimasa lalu.
"Kalau orangtua istri saya kira-kira bisa untuk menjadi pendonor?" Dengan berwt hati, akhirnya Erick mengusung langkah kedua yang memang dipinta oleh Bu Ratih dan Ayah Anton agar mereka menjadi pendonor untuk Gia.
"Tergantung Pak, usia juga menjadi pengaruh besar jika ingin menjadi pendonor!"
Erick tertunduk dihadapan dokter wanita itu. Kedua tangannya mencengkram kepala yang mendadak terasa pening. Tentu saja orangtua Gia tidak mungkin berkorban, mereka sudah berumur dan lebih baik hidup dengan sehat. Mana mungkin Erick membebani kedua mertuanya itu lagi. Biarlah mereka hidup dengan sehat dan Gia memang harusnya adalah tanggung jawab Erick sekarang, pikir Erick.
Erick menyugar rambutnya dengan sedikit kasar. Mengacak-acak puncak kepalanya sendiri. Ia terlihat gusar. Sepertinya jalannya sudah buntu. Siapa lagi yang mau mengorbankan satu ginjal untuk istrinya.
Ruangan empat kali empat itu mendadak terasa panas dan gerah, Erick menjadi gelisah membayangkan istrinya harus hidup dengan penyakit yang dideritanya berlama-lama. Erick ingin agar sang istri lekas sembuh.
"Itu, harus ikut prosedur Pak! Ada antriannya. Bisa seminggu, sebulan bahkan sampai setahun atau lebih!" Ucap dokter dengan wajah yang mengiba.
"Kecuali--"
"Kecuali apa dokter?"
"kecuali ada yang dengan sukarela memang memberi donor terkhusus untuk Ibu Anggia, maka antrian itu tidak berarti. Kita bisa lakukan operasi sesegera mungkin."
Erick memijat pelipisnya dan menghembuskan nafas kasar. Jika begitu, sama saja ia harus mencari orang yang mau mendonorkan ginjal agar bisa segera operasi. Mana ada orang yang sukarela dan khusus memberikan ginjalnya untuk Gia. Kecuali ada Black Market yang khusus menjual organ dalam manusia, Erick akan segera mengunjunginya jika perlu. Pikiran Erick mulai kemana-mana.
°
Gia menatap wajah suaminya yang gusar dan tanpa gairah. Ia memicingkan mata melihat perubahan drastis suaminya selama seminggu ini. Gia mengingat suaminya yang pernah mengalami depresi saat dulu mereka masih berpacaran. Seketika Gia menghawatirkan sang suami. Gia takut Erick kumat jika pikirannya terlalu banyak menampung beban seperti ini.
"Gimana sayang?" Tanya Gia pada suaminya yang duduk di sofa, kepalanya ia sandarkan dan menengadah melihat kelangit-langit kamar rawat inap.
Erick mendesah pelan. Gia semakin bingung, apalagi biasanya ketika Erick masuk ke kamar rawat, Erick duduk disamping Gia. Menghampirinya. Tapi ini tidak, Erick memilih duduk di sofa. Gia mulai menerka-nerka pasti terjadi sesuatu.
Erick menggeleng. Kemudian bangkit mendekati ranjang yang diatasnya ada sang istri sedang terbaring.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang!" Ucap Erick sembari mengelus pelan punggung tangan Kinan.
"Aku tidak bisa menjadi pendonor untuk kamu!" sambungnya lagi.
Gia menepuk-nepuk punggung tangan Erick dengan tangan satunya sembari memasang senyum.
"Nggak apa-apa, Yang! Jangan terlalu kamu pikirkan. Kamu juga harus jaga kesehatan ya. Aku enggak mau kita jadi sakit dua-duanya!" Gia mencoba menenangkan suaminya itu.
"Aku ngerasa enggak berguna!" suara Erick terdengar lirih dan putus asa.
Gia menggeleng.
"Dengan kamu menemani aku disaat-saat terburukku seperti saat ini, kamu udah sangat berguna, sayang!" Gia menatap intens manik mata suaminya, menyakinkan pemilik mata itu bahwa ia juga sangat berharga untuk Gia dan Gia sangat berterima-kasih untuk hal itu.
Erick tersenyum miring sambil mengusak rambut yang ada dipucuk kepala Gia.
"Aku akan usahain apapun untuk kamu. Kamu harus sehat, aku mau kamu sehat seperti dulu lagi!" Erick mengecup kening istrinya itu dengan penuh perasaan.
💠💠💠💠💠💠
1 Bulan kemudian..
Hari beranjak tengah hari, suasana sangat mendung hari ini. Sepertinya hujan akan segera mengguyur kota Jakarta. Erick sedang berada dikantor seperti biasanya dijam-jam sibuk seperti ini.
Tak berapa lama, ponselnya berdering. Ia segera mengangkat sebelum panggilan itu tak terjawab.
"Benarkah? Ada pendonor untuk istri saya, dokter?" Erick sumringah menerima panggilan teleponnya kali ini. Rasanya ia ingin berlonjak kegirangan.
Erick memutuskan panggilan ketika dirasa sudah selesai bicara pada poin penting.
"Siapa pendonor itu? Kenapa kesannya ini seperti khusus mendonorkan untuk Gia?" Batin Erick menerka-nerka. Karena ia tahu pasti, antrian untuk penerimaan ginjal ini masih sangat banyak. Dan berdasarkan urutannya, harusnya ini belum saatnya Gia yang mendapatkan donor itu.
.
.
.
Bersambung...
Mohon dukungannya, tinggalkan Like, Vote, komen dan jangan lupa hadiah ya. 😂
Rating bintang 5 Cyinnnn ⭐⭐⭐⭐
Thanks....
IG : @cintiarizky
__ADS_1
°