
Gia mengernyit heran melihat tingkah Arga dan Ivan yang masih beradu argumen. Ia memutuskan untuk ke kamar mandi saja.
"Dek, kakak ke toilet dulu ya!" Bisik Gia pada Nissa disampingnya.
Gia beranjak dan pergi menuju toilet Mall yang berada cukup ke pojok bangunan.
Gia mencuci wajahnya dengan air, entah kenapa ia kesal harus lagi-lagi mendengar perihal istri Arga. Bahkan ia sudah mendengar hal itu lebih dari sekali. Dari mulut Arga dua kali dan dari mulut wanita yang bernama Sandra itu satu kali. Gia mencoba menetralkan perasaan kesalnya sekarang.
"Apa begini juga perasaan Arga ketika dia tau aku menikah dulu?" Batin Gia. Ia langsung menggelengkan kepalanya untuk membuyarkan apa yang tengah ia pikirkan.
Gia menarik tissue dari box yang tergantung. Mengelap wajahnya yang basah, lalu sedikit memoles wajah itu dengan bedak padat. Tak lupa ia mengoleskan Lipmate pada bibirnya. Setelah merasa tenang dan sedikit segar, Gia keluar dari dalam toilet.
Baru beberapa langkah, Gia terkejut melihat Arga yang sudah bersandar di dinding ujung lorong, tangannya dimasukkan dalam saku celananya dengan gaya santai dan satu kakinya ia tekuk ke dinding. Banyak wanita yang berlalu lalang melirik dan memandangnya sambil tersenyum malu-malu. Pemandangan yang membuat Gia berdecak malas. Tapi, sangat terlihat bahwa Arga sedang menunggu seseorang. Entahlah.
Gia ingin mengacuhkannya dan melewatinya begitu saja. Tapi bukan Arga namanya jika ia menyerah, ia belum mendapatkan jawaban tentang clue yang sempat ia dengar dari Nico beberapa hari lalu. Arga ingin memastikannya sekarang juga.
"Kenapa kamu nggak bilang bahwa Kimmy adalah anak Lyra dan Ivan?" Suara Arga terdengar dari posisinya yang berada dibelakang Gia yang baru saja melewati posisinya. Gia menghentikan langkah seraya menutup matanya sejenak, ketika mendengar Arga ternyata berbicara padanya. Dia menunggu Gia rupanya.
"Memangnya aku harus bilang?" Gia balik bertanya tanpa menoleh ke arah Arga.
"Ya itu harus, agar aku tidak salah menyangka bahwa bayi itu anakmu!"
"Aku tak pernah bilang Kimmy adalah anakku!"
Arga berjalan menuju Gia, berusaha mensejajarkan posisi mereka.
"Oke, berarti aku yang salah." Jawab Arga pasrah.
Arga melangkah untuk meninggalkan Gia, ia berlagak menghentikan pembicaraan sampai disitu dan bersikap cuek.
"Tunggu!" langkah santai Arga didepannya pun otomatis terhenti. Arga tersenyum miring karena ia berhasil membuat Gia penasaran. Ia tergelak dalam hati dan mengu-lum senyumnya.
"Kenapa?" Tanya Arga.
__ADS_1
"Aku bertemu istrimu di butik beberapa hari lalu."
Arga sedikit terkejut, Sandra tak bercerita tentang ini dengannya.
"Awas kau Sandra, kenapa kau tutup mulut persoalan bertemu Gia? biasanya mulutmu akan bocor setiap hari walau itu hal yang remeh-temeh." Batin Arga ingin memaki Sandra.
"Lalu?" Tanya Arga lagi pada Gia. Lagi-lagi dengan sikap cuek khas-nya.
"Emm, dia mengenaliku. Apa kamu pernah bercerita tentang aku padanya?" Suara Gia pelan dan nyaris terdengar dengan nada sungkan.
Arga mengangguk. "Tentu, aku pernah beberapa kali bercerita tentang kamu!" Arga menjawab dengan enteng dan tanpa beban. "Dia perlu tau siapa wanita yang membuatku jadi begini!" Sambung Arga lagi.
"Maksud kamu?"
Arga menggeleng dan tersenyum miring. Kini tatapannya setajam elang menatap mangsa. Ia menatap kedua manik hitam milik Gia dengan serius. Mereka kini berdiri berhadapan. Gia menunduk takut melihat tatapan Arga yang teramat tajam itu. Perasaannya mulai tidak enak.
"Em, A-aku akan kembali kesana, Nissa dan yang lain pasti sudah menunggu!" Gia berusaha menghindar seraya ingin melangkah. Tapi Arga dengan gerak cepatnya menahan kedua bahu Gia dengan kedua tangannya.
"Gia, kita punya peraturan dari dulu. Jika kau lupa akan aku ingatkan!" Arga masih dengan tatapan tajamnya. Kini Gia tak bisa bergerak, ia akan pasrah dengan ucapan dan pertanyaan Arga selanjutnya. Gia menyesal tadi telah mencegah kepergian Arga. Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati sekarang. Karena rasa penasarannya pada istri Arga membuatnya ingin tahu banyak hal. Akibatnya sekarang ia sendiri yang terjebak dengan keadaan bersama Arga.
"Apa?"
"Kemana suamimu? Aku bahkan tidak melihatnya sekalipun!"
"Bukan urusanmu!"
"Ck, dulu aku punya kesepakatan dengan Erick, jika dia menyakitimu maka dia akan berurusan denganku!"
"Tidak seperti itu!" Mata Gia mulai berkaca-kaca, genggaman tangan Arga terasa kuat mencengkram bahu kiri dan kanannya.
"Lalu? Jelaskan!" Tuntut Arga.
Gia menunduk tak berani menatap mata Arga. Apalagi sekarang jantungnya serasa dipompa dengan cepat. Rasanya ia mau pingsan saja agar terhindar dari penghakiman Arga ini.
__ADS_1
Beberapa orang yang berlalu-lalang pun sesekali mencuri pandang melihat Arga dan Gia yang beradu tanya satu sama lain, layaknya sepasang kekasih yang tengah ribut minta penjelasan.
"Erick, Erick dia..." Gia tak melanjutkan kalimatnya karena sedetik kemudian air matanya jatuh menetes dihadapan Arga. Tentu saja Arga menatap heran sekaligus penuh tanya dalam pikirannya.
"Kenapa Gia? Kenapa aku mendengar Nico mengatakan bahwa statusmu sekarang sama dengan statusnya?" Akhirnya Arga meluapkan apa yang sebenarnya ingin ia ketahui.
Gia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menyembunyikan wajahnya yang sudah terisak. Bendungan airmatanya luruh seketika, di saat yang sama Arga melepas pegangannya pada bahu Gia. Beralih memeluk wanita itu untuk menenangkannya.
"Tenanglah, ada aku!" Ucap Arga sambil mengusap rambut Gia yang terurai kebelakang.
Beberapa detik dalam posisi itu, Gia tersadar dan refleks melepas pelukan Arga.
"Jangan bahas ini lagi. Ku mohon!" Gia menyatukan kedua tangannya membentuk kepalan permohonan dihadapan Arga.
Arga terenyuh melihat pemandangan itu. "Tapi aku butuh jawaban atas pertanyaanku, Gi!" suara Aega melembut.
"Buat apa?" tanya Gia sambil menyeka air matanya.
"Untuk memastikan semua yang ada dipikiranku!"
"Udahlah Ga, hapus semua yang ada dipikiranmu! tolong jangan tanyakan atau bahas hal ini lagi" Gia langsung berjalan cepat meninggalkan Arga dengan sejuta tanya dikepalanya.
Arga menendang udara untuk meluapkan rasa kesal dan sesak karena pertanyaannya bahkan tak dapat jawaban pasti dari Gia.
"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan Gia!" Batin Arga marah dan tak terima melihat Gia menangis dihadapannya seperti tadi.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....