
Lyra menjemput kedatangan Gia di bandara. Tidak ada yang berubah dari Gia, sekembalinya ia dari rumah orangtuanya. Tentu saja Gia sedikit terpaksa untuk kembali ke kota impiannya ini. Mengingat rencana hari pernikahannya dengan Erick yang sudah didepan mata.
Mereka sudah masuk kedalam taxi. Tapi Gia tampak diam tanpa ekspresi, perasaannya benar-benar tidak bisa ditebak. Lyra memperhatikan gerak-gerik Gia yang diam seperti tak berniat membuka pembicaraan.
"Gi, apa terjadi sesuatu?" Tanya Lyra.
"Eh, iya? Kenapa Ra?" Gia tersadar dari lamunannya yang entah kemana.
"Kamu nggak kenapa-napa kan? Apa terjadi sesuatu?"
"Enggak apa-apa kok, Ra. Aku hanya memikirkan Erick"
"Hahaha baru juga berpisah sebentar. Bulan depan juga bakalan deket terus!" Lyra terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Gia menyunggingkan senyum mendengar pernyataan Lyra.
"Maaf ya, Ra. Aku belum jujur sama kamu suatu hal!"
"Soal apa?"
"Soal Nico!"
"Kenapa dengan Mas Nico?"
"Ra, aku minta maaf ya sama kamu atas keserakahanku dan aku sudah tidak jujur dari awal."
Lyra menatap Gia bingung. Tidak mengerti arah percakapan ini.
"Kamu mikirin Erick atau mikirin Nico sih sebenernya?"
"Trus kenapa? Apa hubungannya lagi denganku?" Tambah Lyra.
"Em sebenarnya, aku punya hutang sama Nico 25 juta, Ra. Waktu itu dia mentransferku uang sebanyak itu. Dan aku tau, itu tanpa sepengetahuanmu kan? Padahal waktu itu kamu masih istrinya!"
Lyra terperangah mendengar kejujuran dari mulut Gia sampai dia tidak bisa mengucapkan apapun. Lyra terdiam.
"Yang aku pikirkan sekarang, Erick akan menemui Nico untuk membahas mengenai ini, Ra" jelas Gia pada Lyra.
"Ra, kamu marah ya? Kamu kok diem, Ra? Kalau kamu marah kamu maki aja aku, Ra! Aku emang pantas menerima sumpah-serapah kamu! Waktu itu aku hanya bingung mau bagaimana. Kamu tau kan aku nggak punya uang sama sekali!" Gia sedikit mengguncang bahu Lyra.
Lyra menarik nafas perlahan menghembuskannya.
"Aku nggak marah kok sama kamu, Gi!" Akhirnya kata-kata Lyra keluar.
"Aku semakin sadar sekarang, bahwa keputusan aku berpisah darinya adalah benar" lirih Lyra.
Gia mengelus pelan pundak Lyra yang duduk disampingnya.
"Maafkan aku ya, Ra" ucap Gia tulus.
Lyra menggeleng.
"Enggak, Gi. Jauh sebelum kamu juga Mas Nico selalu menghamburkan uang kan untuk wanita lain. Aku seharusnya sudah menebak ini! Apalagi kamu memang wanita yang diinginkan Mas Nico!"
"Ra...." Lirih Gia.
"Tak apa, Gi. Sudah jangan dibahas lagi ya! Emm, jadi apa rencana Erick selanjutnya?" Sekarang Lyra sudah berbicara menatap Gia walau tadinya dia hanya menunduk ketika berkata-kata mengenai mantan suaminya itu.
"Itu yang aku pikirkan juga. Erick nggak mungkin kesini karena dia udah tertalu sering meninggalkan pekerjaannya"
"Yaudah sih Gi, kalau memang uangnya sudah ada, kamu transfer aja uangnya sama Mas Nico!"
"Eh iya, kenapa aku nggak kepikiran ya!" Gia mengangguk-angguk sendiri.
"Itu karna kamu udah kena syndrome pengantin! Hahaha"
"Lho memangnya ada syndrome begitu?"
"Ya adalah, itu kamu buktinya!"
"Hahaha apa sih!"
Sekarang mereka sudah seperti biasa lagi tanpa kecanggungan. Mereka tertawa lepas selayaknya teman yang sudah lama tidak bertemu. Bahkan Gia menyandarkan kepalanya dipundak Lyra. Sedekat itu mereka sekarang.
Gia ingin menganggap wanita yang beberapa bulan belakangan tinggal bersamanya ini sebagai kakaknya sendiri.
Gia merasa, dalam kesedihan yang menimpa Lyra ada nama Gia juga yang menjadi penyebabnya. Meski itu tak sepenuhnya salah Gia.
Gia tau Lyra sudah menyimpan banyak luka karena Nico. Andai saja Gia bisa merubah pandangan Nico terhadapnya. Tapi Gia sadar perasaan Nico adalah milik Nico dan Gia tak berhak mengaturnya.
Gia memandangi Lyra sambil masih dalam posisinya yang bersandar dipundak Lyra.
Lyra sedang memandang kejalanan dari kaca jendela taxi, entah apa yang dipikirkannya. Gia tersenyum, berharap suatu saat Lyra juga akan menemukan kebahagiaannya.
Sesampainya dikontrakan, Gia beristirahat sebentar dengan melelapkan diri didunia mimpi.
__ADS_1
"Lelah" batinnya.
Gia menyetel alarm untuk bangun. Ketika Alarm berbunyi, Gia langsung mandi dan bersiap.
Setelah semua dirasa cukup. ia mengambil slingbag nya dan beranjak.
Gia ingin segera menuju butik Mikha. Ia harus menyelesaikan urusan dengan Mikha. Ya selanjutnya itulah schedule nya di kota ini.
"Ra, aku berangkat ya!"
Lyra yang sedang memainkan ponselnya beralih menatap Gia heran.
"Kamu mau kemana? Nggak capek apa?"
"Aku banyak urusan di butik, Ra. Aku udah tidur sebentar tadi. Aku pergi ya. Eh kamu nggak kerja?"
"Masuk malam sih hari ini, yaudah kamu hati-hati ya"
"Oke" jawab Gia sambil menyatukan jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf O.
Gia menaiki ojek online yang sudah dipesannya melalui aplikasi beberapa saat lalu.
Sesampainya dibutik, ia sudah disambut tatapan tajam dari sang empunya.
"Udah balik kamu?" Tanyanya ketus.
"Iya aku udah disini"
"Kenapa pesanku nggak kamu balas?"
Gia menuju sofa yang ada disisi ruangan. Duduk dengan posisi menyandarkan kepalanya. Ia merasa lelah.
"Bisakah kita membahas pekerjaan saja sekarang? Aku ingin segera menyelesaikan target bulan ini"
"Ohh jadi sekarang kau yang mengaturku?" Mikhayla sudah berkecak pinggang menatap tajam wanita yang duduk didepannya ini.
Gia mengangkat kepalanya dari sandaran sofa. Menatap jengah Mikha yang sepertinya berlagak sok arrogant.
"Oke, apa yang mau kau tanyakan? Bicarakan saja! Ayo!" Jawab Gia dengan nada sedikit menantang.
Mikha menarik tangan Gia, ia menyeret Gia agar sedikit berlari untuk mengikuti langkahnya yang cepat. Mereka memasuki ruang pribadi Mikha yang ada dibutik ini.
"Jelaskan padaku! Katakan!"
"Katakan apa hmm?" Gia berlagak bodoh.
Gia terperangah mendengar ucapan Mikha yang dengan angkuh dan tak tahu malu, bahkan mengakui hal yang bukan miliknya.
"Apa ini? bukannya dia yang mau merebut Erick dariku?" gumam Gia dalam hati.
"Jawab!" Mikha sedikit membentak melihat Gia diam.
"Aku hanya akan menjawab jika kau sudah tidak dalam keadaan emosi!"
"Kenapa? Kau takut? Kau takut dengan kemarahanku!" Ucapnya sambil menyeringai.
Gia hampir tergelak mendengar pernyataan Mikha. Ia mengurungkan niatnya untuk tertawa kuat.
"Sepertinya aku sudah terlalu lembek dan bertele-tele padanya" batin Gia.
"Mikha, sebenarnya siapa yang mau merebut siapa?" Gia menjawab santai sambil bingung sendiri dengan pertanyaannya barusan. Hehehe
"Jelas kau yang mau merebut Erick dariku!"
"Ck!" Gia berdecak sebal.
"Dasar tidak tau malu" umpat Gia dalam hati.
"Kalau kau menganggap aku merebut Erick darimu, ya sudah. Ikhlaskan saja Erick untuk bersamaku!" Lagi-lagi Gia masih dengan santainya menjawab Mikha. Jawabannya seolah menantang Mikha.
Mikha menggeram, wajahnya merah menahan emosi. Tangannya terkepal seperti ingin menghancurkan orang yang ada dihadapannya.
"Apa kau senang jika harus hidup dengan hasil merebut milik orang?" Tanya Mikha percaya diri.
Kali ini Gia tak tahan lagi menahan gelak tawanya.
"Hahahaha" Gia tertawa sangat kuat, bahkan sampai memegangi perutnya.
"Apa yang lucu?" Tambah Mikha yang malah membuat Gia makin tertawa.
"Ups, maaf ya" ucap Gia sok elegan dengan menutup mulutnya yang dsri tadi kelepasan tertawa sangat kuat dan lama.
"Aku tidak pernah merebut milik siapapun! Sebaiknya kata-katamu kau koreksi lagi, Ada baiknya itu ditujukan padamu saja! Lagi pula, apa baik kau memaksakan cinta Erick? Sementara Erick memang tidak pernah menjadi milikmu?"
"Berani sekali kau! Baiklah ku rasa kerjasama kita sampai disini saja!" Ucap Mikha dengan angkuhnya.
__ADS_1
"Ini yang aku mau, kau yang memutuskan kontrak. Dengan begitu aku akan lepas darimu!" Batin Gia.
"Apa ini tidak terlalu cepat untukmu mengambil keputusan? Bahkan pembahasan kita tidak ada sangkut pautnya dengan kerja sama kita kan?" Ujar Gia seolah-olah agar Mikha mempertimbangkan.
"Sebenarnya aku bukan ingin kau mempertimbangkan, tapi agar kau sadar bahwa kau sama sekali tidak profesional" gumam Gia dalam hati.
Mikha beranjak dari posisinya, Gia masih mematung menunggu apa yang akan dilakukan Mikha. terlihat Mikha membuka laci entah mengambil apa.
"Ini, ini adalah surat kontrak kerjasama kita." Ujarnya sambil memperlihatkan kertas putih berisi kontrak perjanjian.
Tanpa Gia sadari secepat kilat Mikha merobek kertas itu dihadapan Gia.
"Kau lihat? Kerjasama kita berakhir! Kau sudah tau kan, bahwa aku bisa berbuat semauku!"
Gia tersenyum melihat tingkah kekanakan Mikha. Terutama kebodohannya. "Bagaimana dia bisa bodoh begini?" Batin Gia.
"Sudah sana! Untuk apa kau disini! Pergi! Kau tidak dibutuhkan lagi disini!" Ucap Mikha yang seperti kerasukan. Ia sangat berapi-api.
Gia tersenyum miris. Ia tak bergeming. Malah melontarkan kata-kata pedas sepedas Mie samyang level 10.
"Kau pikir aku bodoh? Hahaha ternyata kau yang bodoh!" Ucap Gia meremehkan.
"Berani sekali kau mengatai aku!" Geram Mikha yang langsung ingin menampar wajah Gia, tangannya sudah melayang untuk mendarat dipipi Gia. Tapi entah kenapa ia masih menahan tangannya itu melihat Gia yang tak gentar.
"Kau tau kenapa kau bodoh? Kau merobek kertas kerjasama yang ada padamu! Kau lupa aku juga memegang surat yang sama?"
Lagi-lagi Mikhayla menggeram tertahan.
"Kau ingin lari dari tanggung jawab untuk membayar karyaku yang sudah ada ditangan para pekerjamu? Dengan cara merobek itu? Kau pikir kertas itu hanya ada padamu? Dan setelah kau robek semuanya selesai?" Tambah Gia lagi dengan cepat.
Gia berbalik menuju pintu, untuk keluar meninggalkan Mikha yang geram sendiri.
Tapi sebelum memutar handle pintu, Gia menoleh kearah Mikha.
"Ya sudah, aku pulang! Kerjasama kita berakhir! Tapi aku ingatkan, kertas bukti kerjasama kita yang telah robek itu masih ada duplikatnya padaku! Kau tahu kan maksudku?" Gia nyengir seperti mengejek sembari menutup pintu ruangan.
Mikha marah teramat sangat sampai semua yang ada dimeja ruang pribadinya ia hancurkan. Bahkan melempar pintu yang sudah tertutup dengan map besar. Meluapkan kekesalannya pada Gia.
Diluar ruangan, Gia tampak menyeringai mendengar amukan Mikha.
"Dia pasti mengamuk mengingat kebodohannya" gumam Gia dalam hati lalu pergi meninggalkan butik.
Sedangkan Mikha, duduk bertumpu dengan tangannya yang mencengkram kepalanya.
"Sial! Dia memancingku untuk marah dan membuat aku jadi memutuskan kerja sama itu secara sepihak!" Mengumpat dalam hati.
Mikha sadar dengan kebodohannya sekarang. Bahwa kertas kerjasama yang dirobeknya itu tiada artinya jika Gia punya kertas yang sama yang masih utuh.
Dikertas itu tertera kontrak kerjasama. Bahwa siapapun tidak bisa seenaknya memutuskan kerjasama sebelah pihak.
Jika ada yang akan memutuskan itu secara sepihak, maka pihak yang dirugikan harus membayar finalty sesuai yang disepakati.
Mikha awalnya sengaja merobek kertas itu, agar semua yang mereka sepakati di atas kertas itu bisa ia hindari setelah ia memutuskan semuanya secara sepihak. Dengan tujuan agar Gia menyesal telah bermain-main padanya.
Tapi Mikha lupa satu hal, bahwa Gia juga memiliki kertas yang sama yang masih utuh.
"Sial! Bisa-bisanya aku lupa!"
Mikha terus saja marah-marah didalam ruangannya. Bahkan para pekerja dibutiknya pun tak luput terkena imbas dari kemarahannya.
*****
Sepulangnya Gia dari butik, ia membaringkan tubuhnya diatas ranjang kontrakannya.
"Huh! Harus ekstra sabar aku menghadapi wanita itu!" Gumam Gia dalam hati.
Lyra sudah tak nampak batang hidungnya dikarenakan ia sudah pergi bekerja malam ini.
Gia berbalas pesan dengan Erick membahas perihal kerjasamanya dengan Mikha yang sudah berakhir.
Sambil membalas pesan Erick, Gia sejenak berpikir tentang masa depan usahanya yang harus terhenti tiba-tiba hanya karena persoalan pribadinya dengan Mikha.
Sangat disayangkan, padahal omset yang didapatkan dari produk yang sudah diproduksi atas desain dari Gia jumlahnya sudah lumayan banyak dan terutama brand atas kepemilikannya juga sudah mulai dikenal banyak orang.
Sebenarnya Gia tak ingin ada hal seperti ini, Gia ingin terus mengembangkan bakatnya merancang desain di butik Mikha. Tapi mau bagaimana lagi kenyataan kadang berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita.
Gia juga kecewa dengan sikap Mikha yang ternyata benar-benar menunjukkan belangnya sekarang, setelah dia tau bahwa Gia dan Erick akan menikah.
Padahal Gia sangat mengingat bagaimana waktu itu Mikha berlagak manis dengan meminta maaf pada Gia saat dia seolah-olah tidak mengetahui perihal hubungan Gia dan Erick.
"Benar-benar bisa diprediksi, setelah aku tau, dia dengan sengaja mencari-cari latar belakangku" batin Gia mengingat Mikha.
.
.
__ADS_1
Bersambung...