Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Gugup -


__ADS_3

Cuaca tampak cerah. Sinar mentari pun masuk kedalam ruangan kamar melalui celah-celah jendela. Kamar lantai dua belas itu tampak senyap, dan seorang wanita sedang menatap pemandangan dibawah sana dari balik kaca jendelanya.


Hari ini adalah jadwal Gia untuk operasi transplantasi ginjal. Ia sedang menunggu suaminya yang sedang diruangan dokter untuk menanyakan waktu akan dimulainya operasi.


Gia sendiri didalam ruang rawatnya sudah mengenakan pakaian pasien.


Tak berapa lama Gia menunggu sambil menatap keluar jendela, pintu kamar itu pun terbuka dari luar. Gia menoleh kearah pintu, tampaklah sang suami yang datang dengan senyumannya yang cerah mengalahkan sinar mentari hari ini.


"Sayang, kata dokter operasi kamu nanti jam sebelas ya!" Erick mendekati istrinya yang berdiri didekat gorden jendela.


Gia mengangguk tanpa mengucapkan kata. Kembali menatap pemandangan didepan sana.


Erick mendekati punggung Gia, mendekapnya dari belakang.


"Kamu gugup?"


"Aku takut!"


"Semuanya pasti terlewati dan akan baik-baik aja. Kita sama-sama berdoa ya!"


Gia mengangguk, pandangannya tetap lurus kedepan.


Suara dering dari ponsel Erick membuyarkan pikiran mereka masing-masing. Erick melepas dekapannya pada tubuh sang istri. Merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya.


Erick melihat layar dan membaca nama yang tertera sedang meneleponnya.


"Ibu" ucap Erick seolah menjelaskan pada Gia yang juga menatapnya.


Erick segera menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan telepon itu.


"Hallo, Bu?"


"Erick, gimana Gia nak?" Nada khawatir terdengar dari seberang sana.


"Jam sebelas nanti Gia akan operasi, Bu!"


"Bisa ibu bicara sama Gia, Nak?"


"Bisa bu, sebentar ya"


Erick menyerahkan ponsel pada sang istri dan Gia pun menjawab kekhawatiran ibunya. Mereka berbincang antara ibu dan anak.


"Ya sudah, jangan lupa berdoa ya, Nak! Ibu, Ayah dan Nissa juga pasti doakan kamu dari sini. Semangat ya, Nak! Salam sama Erick ya."


Suara ibu Ratih terdengar menggebu seolah menyemangati anaknya walau nada parau masih ada disuaranya. Setelah beberapa saat panggilan itu pun terputus.


Gia menatap jauh kedepan, menerawang ke masa-masa yang sudah ia lewati untuk mencari kekuatan dirinya sendiri.


Gia memikirkan ibu dan keluarganya yang sedang mengkhawatirkannya, karena Gia sendiri tak pernah menjalani operasi apapun. Gia benar-benar gugup dan takut saat ini.


Gia bersyukur, ia memiliki suami dan keluarga yang mensupport nya.

__ADS_1


Begitupun keluarga Erick, semenjak Gia sakit justru seperti mendatangkan hikmah tersendiri. Keluarga dari suaminya ikut prihatin dan semakin sering bertukar kabar. Indira yang notabenenya adalah kakak ipar Erick yang paling peduli dan protect terhadap Gia, mungkin karena ia juga seorang dokter jadi banyak hal yang ia sarankan untuk kesembuhan Gia.


Sedangkan Rina, yang memang kakak ipar Gia pun seolah semakin dekat dengannya, entah kenapa Rina menjadi sering menanyakan kabar Gia. Mungkin karena ia kini merasakan berada diposisi Gia setelah beberapa bulan lalu juga divonis mengidap kista di rahimnya dan tak lama juga di operasi. Mereka jadi saling menyemangati satu sama lain.


Gia merasa hidupnya yang kurang beruntung saat ini adalah teguran dan pembalasan atas dosa dan kesalahannya dimasa lalu. Tapi sekali lagi ia masih bisa bersyukur, dengan keadaan sekarang malah membuatnya berhubungan baik dengan orang-orang yang terkait dalam hidupnya.


Semua seakan mendukungnya untuk sembuh. Lyra juga jauh-jauh hari sudah menyemangatinya bak cheer leaders di pinggir lapangan. Lyra mengatakan akan menikah jika Gia sehat dan pulih kembali, membuat Gia terbahak dan tak habis pikir dengan kelakuan Lyra.


Tapi, entah kenapa Gia merasa ada yang kurang. Mendadak ia memikirkan Arga, apa sakitnya juga ada kaitannya dengan Arga. Lelaki yang pernah secara tak sengaja ia sakiti. Apa sakitnya juga hukuman karena sudah melukai Arga. Karena Arga juga pernah terkait dalam hidupnya bahkan sering menolongnya. Gia sadar ia berhutang banyak pada Arga.


Gia mendesah pelan, melirik sekilas suaminya yang berada tak jauh, sedang duduk disofa dan menatap laptop dengan sibuknya sekarang.


"Kenapa terkadang aku memikirkan Arga, padahal suamiku begitu sempurna?" Batin Gia seolah menolak apa yang ia pikirkan.


Gia menggelengkan kepalanya, ia ingin memusnahkan pikirannya yang sudah entah kemana.


"Mungkin karena dia pernah ada juga dalam hidupku, jadi aku terkadang terpikir tentangnya!" Lagi-lagi Gia mencoba mengacuhkan apa yang ada dihati dan pikirannya.


"Dia lelaki baik, semoga dia menemukan yang terbaik!" gumam Gia pada dirinya sendiri.


"Kenapa?" Suara Erick mengagetkan Gia.


"Apa Erick dengar ucapanku barusan?" Batin Gia berkata-kata.


"Eh? E-enggak. Enggak apa-apa kok!" Jawab Gia tergagap.


"Kamu melamunkan apa?"


"Yakin?"


"Huum"


"Jangan terlalu dipikirkan! seperti yang aku bilang, semua akan baik-baik aja. Oke?"


"Oke" Gia berujar sambil memejamkan sebelah matanya dan menyatukan jari telunjuk dan jempol agar membentuk huruf O.


💠💠💠💠💠💠


Detik-detik Gia masuk kedalam ruang operasi, Erick tak henti-hentinya menyemangati sang istri. Berkali-kali menghujani Gia dengan kecupan-kecupan kecil di pelipis istrinya.


Gia yang awalnya gugup, menjadi ingin tertawa melihat tingkah suaminya yang abstrak. Kini, bukan Gia yang gugup lagi melainkan suaminya yang bertingkah mengalahi Gia yang akan dioperasi.


"Sayang, kamu jangan takut. Kalau kamu takut kamu ingat aja aku. Ada aku nunggu kamu disini!"


"Sayang, kalau tiba-tiba kamu takut didalam sana, kamu bayangin aja wajah aku lagi ngorok!" Gia menahan gelak akibat ucapan Erick yang konyol namun berbanding terbalim dengan wajahnya yang serius.


"Sayang kamu jangan takut ya, pokoknya jangan takut. Aku pasti nungguin kamu walaupun operasinya seharian atau 2x24 jam!"


Kata-kata Erick bukannya membuat Gia semangat malah membuatnya pusing. Erick mendadak jadi cerewet dan bertingkah gelisah. Gia memutar bola matanya ketika menyadari rasa gugupnya kalah dengan rasa gelisah suaminya.


Pintu ruangan operasi tertutup. Operasi Gia akan segera dimulai. Erick menunggu dengan harap-harap cemas didepan ruang operasi. Tak berapa lama, Mama Anna datang menghampiri Erick. Mama Anna memang sempat menelpon dan mengatakan akan menuju Jakarta, untuk ikut mendampingi Gia dan Erick. Mama Anna menghampiri anak bungsunya itu.

__ADS_1


"Erick?"


"Ma, maaf Erick enggak bisa jemput di Bandara!"


"Nggak apa-apa, gimana istri kamu?"


"Baru aja masuk, ma!" Erick menujuk ruangan operasi didepannya.


Mama Anna duduk diikuti Erick dikursi tunggu. Mama Anna memutuskan untuk datang karena ia tahu pasti anaknya ini akan lemah dalam urusan perasaan. Apalagi itu menyangkut Gia.


Mama Anna ingin mengantisipasi sikap Erick yang sering gegabah jika terjadi sesuatu. Selain itu, tentu mama Anna juga ingin mendukung kesembuhan menantunya.


💠💠💠💠💠💠💠


Setelah hampir empat jam Erick dan mama Anna menunggu, akhirnya pintu ruang operasi terbuka. Erick langsung menghampiri dokter untuk menanyakan hasil operasinya.


"Syukurlah operasi berjalan dengan lancar." Ucap dokter tersebut.


Erick ingin ikut mendorong brankar yang menampung tubuh istrinya itu, ketika sudut matanya menangkap sesosok yang juga terbaring diatas brankar lain yang ikut ditarik keluar sesaat setelah brankar Gia terdorong keluar. Seseorang yang berasal dari ruang operasi yang sama dengan istrinya.


"Erick! Ayo nak!" Suara mama Anna membuyarkan konsentrasi Erick. Padahal Erick sedang mengamati sosok itu.


"Ayo Erick! Gia sudah dibawa menuju ke ruangannya!" Ucap Mama Anna lagi sembari sedikit menarik tangan anaknya agar mengikuti langkahnya.


Erick pun mencoba membuang pikirannya yang sempat berkelana entah kemana. Ia pun mengikuti langkah mama Anna menuju tempat istrinya dirawat.


"Kita tunggu pasien sadar ya!" Ucap dokter.


"Oh iya Pak, boleh ikut saya keruangan. Ada yang ingin saya sampaikan pada suami pasien!" Ucap dokter itu lagi sembari melihat ke arah Erick. Erick pun mengangguk mengiyakan.


Sesampainya diruangan dokter, Erick mendengarkan penjelasan dokter yang mengatakan bahwa kondisi Gia dalam keadaan stabil dan tinggal tunggu respon tubuhnya dengan ginjal baru itu.


Erick pun mengangguk paham.


"Sebelum saya lupa, saya ingin mengingatkan Pak. Saya minta, tolong dijaga dulu kondisi ibu Gia dan kalau bisa tolong tunda dulu jika berniat program kehamilan."


Erick terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan.


"Kontak fisik tidak apa-apa tapi untuk sementara jangan berlebihan dan agak dikurangi ya Pak! Karena kondisi Ibu Gia belum pulih total."


"Baik dokter, saya akan mengingat hal itu!" Jawab Erick lagi.


"Terimakasih dokter!" Erick menyalami tangan dokter itu dan sudah ingin beranjak tapi ia berhenti sebelum menyentuh handle pintu.


"Dok, apa saya boleh tahu siapa orang yang menjadi pendonor ginjal untuk istri saya?" Rupanya Erick ingin memuaskan rasa penasarannya, akibat sekilas melihat orang di brankar yang keluar bersamaan dengan brankar istrinya dari ruangan operasi tadi.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2