
Terimakasih yang sudah baca sampai di bab ini. Semoga nggak bosan ya dengan konfliknya.
oiya, Author memang sengaja nggak kasih visual dulu sampai saat ini. supaya nggak merusak imajinasi pembaca. Jadi, kalian berimajinasi aja sepuasnya ya kira-kira seperti apa visual mereka di pikiran kamu. terimakasih. selamat membaca.
.
.
.
..._________________________________...
Matahari yang biasanya menyinari, hari ini sepertinya enggan menampakkan diri. Mendung beserta awan gelap menyelimuti bumi yang sebentar lagi akan beranjak menuju tengah hari.
Gia dan Lyra tampak sedang bersiap-siap untuk menemui seseorang, yang akan membicarakan tentang desain Gia dan merundingkan rencana bisnis mereka.
Lyra masih mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer kepunyaan Gia. Sedangkan Gia tampak sedang mengumpulkan desain-desainnya untuk nanti dia tunjukkan kepada pemilik butik yang akan ditemuinya hari ini.
"Rencananya, kamu mau jual gambar-gambar itu, Gi?" Tanya Lyra seraya tetap sibuk dengan rambutnya.
"Aku emang mau jual sih, Ra. Cuma aku maunya brand-nya tetap dari aku"
"Maksudnya gimana?"
"Iya, jadi nanti mereka boleh buat gaun atau baju dengan desain dari aku, sebagai ide untuk mereka. tapi nanti brand atau label nya itu berdasarkan kemauanku."
"Jadi yang kamu jual ide desain nya aja gitu? Semacam ide untuk mereka membuat baju?"
"Huum"
"Trus, kalau mereka buat atas nama mereka gimana?"
"Ya nggak bisa, Ra. kami akan buat kesepakatan. Mereka nanti akan buat kontrak kerjasama denganku sesuai kesepakatan bersama dan nggak bisa menyalahi kontraknya."
"Aku juga gitu, nggak boleh jual desainnya ke orang lain dan nggak bisa produksi sendiri desain yang sudah mereka beli. Jadi desain itu mutlak untuk mereka. Hanya mereka yang akan memproduksinya."
Lyra terlihat memikirkan penjelasan Gia.
"Berarti butik itu nggak bisa nge-klaim merk-nya dong? Dengan kata lain mereka hanya memproduksinya aja. Gitu?"
"Yups!" Gia mengangguk-angguk setuju.
"Mereka hanya mengambil keuntungan dari penjualannya aja tanpa boleh mengklaim nama untuk produk itu." tambah Gia.
"Kenapa kamu nggak sekalian jual biar mereka yang kasi merk? Pasti untungnya lebih banyak, Gi!"
"Ini namanya strategi Lyra. Memang kalau aku jual semuanya sama mereka, aku bisa jual lebih mahal. Tapi, itu cuma keuntungan di awal aja. sama seperti mereka sekarang yang cuma dapat keuntungan dari penjualan produknya."
"Memangnya ada keuntungan di awal dan akhir, gitu?"
"huum, kalau aku jual semua di awal, aku memang untung tapi desain aku akan dinamai dengan brand mereka, dan akhirnya aku tetap nggak punya nama di dunia fashion. ibarat dibalik layar aja. tanpa pernah muncul dan orang lain nggak pernah tau siapa yang mendesain itu, mereka akan menganggap butik itulah yang merancang desainnya."
"Salah satu tujuan aku mau menyetujui kerjasama ini, ya supaya merk aku nanti juga dikenal orang. Jadi, kalau aku sudah punya butik sendiri, merk aku udah banyak yang tau. itulah keuntungan akhirnya."
"Benar-benar deh kamu, Gi !"
"Loh kenapa?"
"Ya itu lah, pikiranmu itu selalu susah ditebak. Kamu selalu memikirkan jauh kedepan. Sampai keuntunganmu didepan hari sudah kamu ancang-ancang! Salut aku!"
Gia hanya tersenyum melihat Lyra yang terang-terangan memujinya.
"Kamu doain aku ya. Semenjak buka usaha ini, aku punya impian punya butik sendiri. Hehehe"
"Aku dukung kamu 100%. Semoga kamu terus dapat inspirasi membuat desain yang bagus-bagus." ucap Lyra sembari mengacungkan jempolnya ke arah Gia.
Tapi suara ketukan pintu membuat mereka menyudahi aktifitas masing-masing. Gia mengancing tas nya yang sudah diisi dengan kertas desain dan Lyra mencabut kabel hairdryer yang terpasang.
"Iya sebentar" ucap Lyra sembari berjalan kedepan membukakan pintu.
Lyra terperangah melihat siapa orang yang berada didepannya. Lelaki itu menyeringai melihat Lyra.
"Mas Nico?"
"Mau apa kamu kesini mas?"
"Mana Gia?" Ucap Nico mengabaikan Lyra.
"Ck! Bisa-bisanya kamu bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa, mas!"
"Aku tidak menyangka kamu disini. Melihatmu dirumah Gia, aku jadi punya penawaran untuk kalian!" Ucap Nico tersenyum licik.
"Penawaran apa maksudmu?" sambar Gia sambil berjalan dari dalam dan berdiri tepat disamping Lyra.
"Apa kau tidak mengizinkan aku masuk dulu?"
"Masuklah!" Suruh Gia.
"Tapi, Gi?" Cegah Lyra melihat Gia dengan mudahnya menyuruh Nico masuk.
Gia menepuk-nepuk pelan bahu Lyra. Memberi kode untuk Lyra agar tenang.
Mereka bertiga sudah duduk dikursi berbahan plastik diruang depan. Kursi yang dibeli Gia menggunakan uang Nico.
Gia tersenyum miris, melihat Nico akhirnya menduduki dan melihat-lihat isi rumah yang barang-barang didalamnya tak lain dan tak bukan adalah dari hasil uang yang diberi Nico dulu pada Gia.
"Apa penawaranmu?" Tanya Gia to the point.
"Kau tahu aku akan segera bercerai darinya kan?" ucap Nico menunjuk Lyra dengan dagunya.
"Langsung pada pointnya saja, Co!" Ucap Gia ketus seperti biasa kepada Nico.
"Aku pernah bilang kepadamu kalau aku akan meninggalkan Lyra, bukan?"
"Ya sudah, tinggalkan aku segera! Kalau kau pernah berkata seperti itu pada Gia, kenapa sekarang kau mempersulit semuanya, mas?" Pungkas Lyra marah sekaligus heran melihat tingkah Nico.
"Aku bertanya pada Gia, bukan padamu!" ujar Nico tanpa rasa bersalah.
"Apa yang sedang kau rencanakan, mas?"
"Aku ingat, kau memang pernah mengatakannya. Lalu?" Jawab Gia.
"Waktu itu, aku mengatakannya karena aku menginginkanmu, Gia!"
Gia menatap dalam mata Nico, sepertinya kali ini ia tahu menjurus kemana pembicaraan ini.
"Lalu? Apa maumu? Kau pernah mengatakan itu! Ya sudah tinggalkan Lyra, apa susahnya buatmu? Lyra juga sudah menginginkannya? lalu apa lagi?" ketus Gia.
"Aku akan melepaskan Lyra, aku akan memberikan semua hak nya. Termasuk harta gono-gini. Aku akan mengurus semuanya agar selesai dengan cepat!"
"Kalau itu yang kau mau, Lyra. Aku akan mengabulkannya!" Sambung Nico lagi.
"Ya sudah, lakukan. Mas! Jangan menahanku tanpa alasan sedangkan kau tidak mencintai aku!" Jawab Lyra
"Hahahaha" suara Nico menggema di ruang depan.
Seperti biasa, Gia selalu bergidik ngeri setiap Nico berada didekatnya apalagi jika tawanya mulai keluar. Gia menebak pasti pikiran Nico saat ini mulai menggila.
"Tapi ada syaratnya, sayang!" ucap Nico menyeringai.
__ADS_1
"Aku mau, Gia yang memintaku melepaskanmu! Seperti tujuanku. Aku mau, dan aku menginginkannya" sambung Nico seraya menunjuk Gia dengan jarinya.
Lyra dan Gia berpandangan satu sama lain. Mencerna ucapan Nico dipikiran masing-masing.
"Jadi maksudmu, kau akan melepaskan aku jika Gia mau menerimamu?" Tebak Lyra.
"Kamu memang pintar!" Nico menjentikkan jari.
Gia memutar bola matanya. Ia benar-benar jengah dengan sikap Nico.
Gia pikir, setelah tempo hari ia memberikan Nico penjelasan tentang kehidupan mereka yang sudah tidak bisa bersama lagi, Nico akan mengerti dan menyerah.
Nyatanya, Nico tetaplah Nico. Yang tidak bisa dengan mudahnya melepaskan apa yang dia mau.
Sampai melakukan hal seperti ini. Membuat pernikahannya dan Lyra seolah-olah hanya untuk dibuat sebuah penawaran.
"Bagaimana? Kamu mau kan, Gia? Ku pikir kalian sudah berteman dekat sekarang. Ck! Ayolah, Gia. Tolonglah temanmu ini agar terlepas dari belenggu pernikahannya!" Ucap Nico mengompori sembari menunjuk Lyra.
Gia tersenyum sarkas, bisa-bisanya Nico memanfaatkan keadaan ini dan menyudutkan Gia. Membuatnya seolah tak punya pilihan lain.
"Kalau aku mau, artinya apa?" Tanya Gia berpura-pura bodoh.
"Ya artinya Lyra dan aku akan segera berpisah. Dan kamu akan menggantikannya jadi istriku!" jawab Nico dengan tenangnya.
"Tidak bisa!" Ucap seorang lelaki dari depan pintu.
Gia dan Lyra menoleh ke sumber suara itu, dan menemukan Arga yang sudah berdiri diambang pintu sambil berjalan masuk kedalam rumah.
"Arga?" Ucap Gia terperangah diikuti Lyra yang juga terkejut.
"Siapa kau?" Tanya Nico.
"Kau tidak bisa masuk dan mencampuri urusan kami!" Sentak Nico seraya bangkit dari kursinya.
"Kau juga tidak bisa memaksakan kemauanmu! Kau membuatku sebagai lelaki malu melihat tingkahmu itu! Jawab Arga seraya berdecih.
"Bangs*t kau!" Nico berdiri dan ingin memberikan tinjunya tepat ke wajah Arga.
Namun, Arga dengan sigap mencengkram tangan Nico, memitingnya dan melumpuhkannya.
"Mas Nico!" Pekik Lyra, melihat Nico yang sudah hampir tergeletak menahan sakit di ulu hatinya karena pukulan Arga yang sigap tanpa bisa dicegah.
Tangan Nico tampak memegangi perut atasnya itu.
Melihat itu, Lyra berlari kearah Nico yang sudah terduduk. Sementara Gia syok dengan apa yang terjadi dirumahnya dan didepan matanya.
"Astaga!" Gia terduduk lemas dikursinya sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Tanpa sengaja, Gia melihat jam di dinding. Mengingatkannya tentang janji temu nya dengan seorang rekan bisnisnya. Gia menjadi bingung lagi setelah melihat apa yang terjadi.
Gia ingin pergi mengabaikan, tapi kondisi dirumahnya sekarang seperti ini.
Gia ingin peduli terhadap kondisi Nico. Tapi itu tidak mungkin, hati kecilnya mengatakan Nico pantas mendapatkan hal itu karena Nico memang sudah keterlaluan.
Gia bangkit dan melihat sekelilingnya.
Arga masih berdiri bersandar sambil memasukkan tangannya ke saku celana. Ia tampak santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Mata Arga terus menatap tajam kearah Nico. Sementara Lyra berusaha membawa Nico untuk duduk dikursi tepat diseberang Gia berdiri.
Lyra melirik Gia. Gia juga menatap Lyra. Seolah mereka berbicara walau tanpa suara.
"Aku pergi dulu ya, Ra. Kamu uruslah dia!" Ucap Gia.
Gia mengambil tas yang sudah ia sediakan, lalu beranjak pergi meninggalkan rumah. Ia berjalan lurus menuju depan Gang. Ia akan menyetop taxi saja pikirnya.
Tapi diujung Gang, ia melihat mobil yang dikenalinya terparkir. Mendadak ia mengingat Arga yang tadi juga berada dirumahnya.
Gia mencebik dan mendengus melihat tingkah Arga yang seolah tidak terjadi apa-apa padahal Arga baru saja memukul Nico tanpa bisa dicegah.
"Kamu mau kemana? Ayo masuk ke mobil!" Ujar Arga pada Gia didepannya yang sudah berjalan melewati mobilnya.
Gia tak bergeming. Ia tetap diposisinya. Ia menunggu ada taxi lewat dan akan menyetop taxi itu.
Gia mau menghindari Arga. Karena Gia ingat kata-kata dan ultimatum Lyra malam tadi.
Apalagi Gia mengingat pesan yang dikirim Arga semalam, membuat ia urung untuk ikut dengan Arga.
"Ayo! Kamu mau kemana? Biar ku antarkan!" Tawar Arga kepada Gia.
Melihat Gia diam dan tak bergeming, Arga beranjak dari sisi mobil dan menghampiri Gia.
"Ini sudah mau hujan. Kamu mau basah disini?" Tanyanya.
"Kamu mau apa kerumahku? Aku sibuk!"
"Aku tidak minta waktumu. Aku hanya akan mengantarmu!"
Gia seperti memikirkan sesuatu. Ia tak ingin memberi harapan pada Arga karena sekarang ia tahu Arga mulai mendekatinya.
Gia bukan orang bodoh yang tak mengerti arti pesan Arga malam tadi kepadanya.
"Kelamaan mikirnya, keburu huj--"
Kalimat Arga terpotong oleh hujan yang tiba-tiba mengguyur bumi.
Ia menarik tangan Gia menuju mobil. Dan Gia tidak punya pilihan lain untuk ikut bersama Arga.
Berdebat dengan Arga pun percuma, hanya akan membuat mereka berdua basah kuyup dan alhasil Gia tak akan menjumpai rekan bisnisnya. Membuang waktu saja.
Gia duduk dimobil Arga. Bajunya sedikit basah. Begitu pula dengan Arga, ia terlihat menyugar rambutnya yang basah secara asal.
Arga menatap Gia dan menampilkan senyum khasnya dengan pipi yang berlesung.
"Kamu bandel sih. Jadi basah kan? Aku bilang juga apa"
Gia hanya diam mendengar omelan Arga barusan.
Mobil Arga mulai melaju memasuki jalanan yang besar dan terlihat tidak terlalu padat kendaraan.
Hening.
"Kenapa kamu memukulnya?" Ucap Gia memecah keheningan diantara mereka.
"Terus? Kamu mau dia yang memukulku?" Tanya Arga.
"Bukan begitu. Aku tidak suka ada keributan lagi dirumahku."
"Maaf. Aku hanya bertindak supaya aku tidak dipukul lagi dengan orang yang berbeda didepanmu!"
Gia refleks menyunggingkan senyum disudut bibirnya mengingat Arga yang pernah dipukul Erick. Pantas saja kali ini Arga berjaga-jaga agar jangan sampai kena pukulan lagi.
"Kenapa?"
"Nggak, nggak apa-apa"
"Ada yang lucu? Kenapa kamu jadi senyum-senyum?"
"Bukan gitu, aku ingat kamu yang dipukul kemarin tanpa niat membalasnya" ucap Gia membuat Arga terbengong.
__ADS_1
"Aku akan membalasnya nanti, jika lelaki itu menyakitimu." jawab Arga santai dan membuat Gia lebih terbengong daripada Arga tadi.
Gia membuang pandangannya kearah luar jendela mobil. Ia memilih menatap arah lain. Asal jangan menatap Arga yang baru saja mengucapkan kalimat aneh. Ya aneh menurut Gia.
Perjalanan berlanjut, tanpa ada kata-kata manis lagi dari mulut Arga. Karena percakapan selanjutnya adalah Gia yang menunjukkan alamat tujuannya kepada Arga yang tertera diponselnya.
Mobil Arga terparkir sempurna setelah sampai di cafe yang cukup terkenal di kota ini.
Hujan masih turun dengan derasnya. Membuat yang berada didalam mobil serasa enggan untuk turun.
"Makasih ya kamu udah anter kesini. Kamu langsung balik aja!" Ucap Gia pada Arga.
"Enggak mau, aku tungguin kamu aja disini!"
"Tapi ini hujan, nanti aku bisa balik sendiri."
"Justru karna hujan, nanti kamu susah dapat taxi. Lagian kamu berani ketemu orang sendirian?"
Gia baru sadar, ia seharusnya ditemani Lyra. Tapi karena Nico, Gia harus sendirian hari ini.
Melihat Gia yang diam, Arga mengambil payung di kursi belakang.
"Ayo, ku temani saja kedalam!" Ucap Arga.
Gia sempat ingin menolak, tapi rasanya dia ragu menjumpai seseorang didalam jika sendirian. Akhirnya ia pun mengizinkan Arga untuk ikut bersamanya.
****
Suasana Cafe tampak tenang dan elegan. Terlihat lumayan banyak orang didalam cafe sedang menghabiskan waktu weekend nya.
Cafe yang didesain dengan kayu-kayu mengkilap dan pancaran lampu temaram yang membuat kesan comfortable didalamnya.
Gia mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang akan ditemuinya di cafe ini.
Orang itu sudah berkirim pesan pada Gia bahwa dia telah sampai di cafe dan mengirimkan nomor meja nya kepada Gia.
Gia mendekati meja yang ditempati oleh seorang wanita.
"Hai.." sapa Gia pada wanita yang sepertinya terlihat tidak asing.
"Hai, kamu pemilik Eldira's boutique ya? Ayo ayo silahkan duduk" ucap wanita itu ramah.
Gia tersenyum dan duduk didepan wanita itu.
"Kenalkan, aku Mikhayla. Panggil saja Mikha." Ucapnya sembari mengulurkan tangan kanannya.
Gia melihat wanita yang ada didepannya ini begitu humble dan fashionable. Tapi bukan penampilannya yang mengusik pikiran Gia.
Gia seperti merasa pernah bertemu dengannya. Tapi ia tidak ingat dimana ia pernah melihat Mikhayla.
Gia menyambut uluran tangan wanita didepannya.
"Aku, Anggia. Gia" ucap Gia memperkenalkan diri.
"Gia?" Ucap Mikha mengulangi nama Gia.
"Huum" ucap Gia sambil mengangguk.
Mikha nampak seperti berpikir sebentar, lalu mengabaikan apa yang ada dipikirannya.
Tak lama, Arga yang tadi permisi pada Gia ingin ke toilet lebih dulu pun hadir diantara Gia dan Mikha.
"Maaf aku lama ya?" Ucap Arga pada Gia.
Gia hanya mengangguk dan menyuruh Arga ikut duduk disampingnya.
Arga melihat wanita yang duduk didepannya, tepatnya didepan kursi Gia. Arga mengenali wanita yang masih mengutak-atik ponselnya itu. Tapi Arga bukanlah Arga jika tak bersikap acuh. Dia diam saja tanpa niat untuk menyapa.
Tak lama, Mikha menyadari keberadaan seorang lain. Ia mengalihkan pandangannya, yang tadinya melihat ke ponselnya kini melihat kedepannya.
"Maaf ya, ada pes--" Mikha memotong kalimatnya sendiri.
"Arga?" Kata Mikha terkejut mendapati Arga yang duduk disamping Gia.
Arga hanya tersenyum tipis dan mengabaikannya.
"Kamu kenal Arga?" tanya Gia pada Mikha..
"Iya, Arga ini dulunya satu kampus denganku di Singapore!"
"Oh" kata Gia manggut-manggut.
"Apa kabarmu, Ga?" Tanya Mikha pada Arga.
"Aku? Aku baik." Jawab Arga cuek seperti biasanya.
Gia merasa ada sesuatu diantara Arga dan Mikha. Tapi ia mengabaikannya.
Mereka memesan minuman dan cemilan, lalu Gia dan Mikha membicarakan soal bisnis mereka. Sedangkan Arga memainkan ponselnya sembari memantau pekerjaannya seperti biasa.
"Terima kasih banyak Mikha" ucap Gia.
"Sama-sama, aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik. Kalau desain-desain ini sudah menjadi bentuk gaun atau sudah bisa digunakan dan diperjual-belikan, ku harap kau mau main ke butik ku ya." Ucap Mikha sembari memberikan kartu namanya.
"Oke, pasti aku akan datang." Jawab Gia.
Mikha melirik Arga yang duduk diseberangnya. Arga tampak sibuk didepan ponselnya. Mikha mengulas senyum dibibirnya melihat tingkah Arga.
"Apa kau mengenalnya cukup dekat?" Bisik Mikha pada Gia.
"Apa kalian berpacaran?" Tanya Mikha lagi.
Gia hanya tersenyum kikuk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak!" Kata Gia pelan sembari tangannya ikut dikibas-kibaskan.
Akhirnya perbincangan mereka selesai. Arga dan Gia memutuskan beranjak. Tapi Mikha mencegah kepergian mereka.
"Apa aku bisa tau alamatmu?" Tanya Mikha pada Gia.
"Boleh. Nanti aku kirim alamatnya ke nomormu!" Kata Gia sambil tersenyum ramah.
"Baiklah"
Mereka pun berpisah dengan tujuan masing-masing.
Tapi Gia tetap memikirkan pernah bertemu dengan Mikha dimana sebelumnya. ia belum mendapatkan juga jawabannya.
.
.
.
Bersambung...
*Kali ini aku mau liat viewers dulu ya... kalau mulai nambah ntar aku baru mau up lagi. hihihi
*hayoooo siapa yang geregetan sama Nico?
__ADS_1
jangan lupa dukung aku ya. vote, like, komen dan berikan bintangnya😬😬
yang masih penasaran gimana kelanjutan novel ini segera dibuat jadi favorite ya. tekan Love nya dilayar awal jadi bisa tau pas aku update. makasih semuanyaaaaaa❤️❤️❤️