Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Selanjutnya -


__ADS_3

Selanjutnya, acara berlanjut pada sesi makan malam. Aku dan Erick duduk berhadapan dengan makanan yang sudah tersaji dimeja bundar. Kami bukan hanya duduk berdua, tapi dikelilingi beberapa orang yang adalah keluarga.


Dimeja yang sama tentunya ada Mama-Papa Erick, Kedua kakaknya beserta pasangan masing-masing. Tak lupa ada anak semata wayang Rina diantara mereka, Reisha yang amat manis dengan balutan gaun ditubuh kecilnya.


Ayah, Ibu dan Nissa ada dimeja yang tepat berada disamping meja yang ku tempati. Mereka juga duduk beserta saudara-saudaraku. Ada tante, Om dan sepupu ku juga. Mereka terlihat sangat bahagia melihatku melepas masa lajangku.


Kami mulai makan dengan Khidmat. Suasana cukup tegang buatku berada satu meja dengan mertua dan ipar-iparku ini. Sesekali percakapan mereka yang ringan memecah kecanggunganku dan mulai merasa suasana menghangat.


Alunan lagu yang dilantunkan seorang penyanyi wanita menemani suasana hangat kami ini.


ðŸŽķI'd climb every mountain...


And swim every ocean...


Just to be with you...


And fix what I've broken...


Oh, 'cause I need you to see


That you are the reason...ðŸŽķ


Lagu milik Calum Scott dan Leona Lewis itu terdengar cukup apik dan mendayu-dayu ditelinga, sangat menghibur indera pendengaran.


Seusai acara makan malam, kami melakukan sesi pemotretan. Mulai dari pose berdua sampai dengan keluarga dan teman-teman dekat.


...💠💠💠💠💠💠...


Erick tampak masih menemani beberapa kolega dan rekan bisnisnya dimeja bundar. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku ingin segera membaringkan tubuhku yang sudah sangat lelah ini.

__ADS_1


Ku lirik Erick yang ternyata juga sedang melihat ke arahku. Tatapannya nampak segan terhadapku. terlihat ia berbisik pada rekan yang duduk disampingnya. Kemudian Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiriku.


"Sayang, kamu duluan aja. nanti aku nyusul sebentar lagi ya. Nggak enak nyuruh mereka pulang." Ucapnya dengan segan padaku.


Aku mengangguk karena memaklumi posisi Erick yang tak mungkin mengusir tamu-tamu yang tak tahu kapan akan pulang itu.


"Apa mereka membayar mahal Ballroom hotel ini untuk sekedar nongkrong-nongkrong sampai pagi? atau mungkin salah satunya yang punya hotel ini?" Segera ku tepis pikiran-pikiran aneh yang bermunculan diotakku.


Ku raih kunci kamar yang disodorkan Erick padaku. Bukan kamar yang sama dengan yang kemarin malam ku tempati bersama Ibu dan Nissa. Ini adalah kamar pengantin kami.


"Lantai 11 nomor 251" ucap Erick Kemudian.


Aku mengangguk dan berjalan beriringam dengam Nisa yang membantu mengangkat gaunku yang lebar. Aku dan Nissa pun meninggalkan Ballroom dan menuju Lift untuk mencapai kamar yang dibilang Erick.


Setelah sampai didepan pintu kamar, Nissa pamit dan meninggalkan aku.


Aku masuk dan mendapati kamar pengantin yang sepertinya juga sudah didekorasi dengan nuansa romantis.


Lagi-lagi aku tersenyum mendapati kamar tidurku malam ini. Rasanya mau menghambur kedalam ranjang itu dan nyenyak diatasnya.


Aku memutuskan untuk membersihkan diri. Sebelum mandi, aku duduk di depan meja rias dulu untuk membersihkan sisa-sisa make-up yang masih menempel di wajahku. Perlahan-lahan ku usap dengan kapas wajah yang sudah ku beri Cleansing Water. Semua seakan sudah tersedia diatas meja rias.


Setelah selesai, aku mulai membuka sendiri hiasan rambutku. Untungnya ini tidak terlalu sulit. Ku sisir beberapa kali agar tidak kusut dan mudah ketika aku keramas nanti.


Kini aku menatap gaun indah yang masih melekat ditubuhku. Gaun ini akan lebih mudah dibuka jika ada yang membantuku melepaskan ritsleting yang berada dibagian belakang punggungku.


"Ini gimana bukanya yah?" Aku mulai bergumam sendiri.


Aku berusaha membukanya sendiri tapi sulit dan sia-sia. Tak berhasil. Aku menidurkan kepalaku diatas meja rias.

__ADS_1


"Ah rasanya aku mengantuk dan lelah sekali" Batinku lirih.


Badanku seketika meremang kala kurasakan ada seseorang yang perlahan-lahan menurunkan ritsleting gaunku. Aku refleks mengangkat kepalaku dan melihat pantulan cermin.


"Maaf, Kaget ya?" ucap Erick pelan, yang sudah selesai dengan aktifitasnya membuka ritsleting gaunku. Kini ia ikut menatap cermin yang menampilkan bayangan kami berdua. Ia memegang pundakku dari belakang.


Aku yang merasa gaunku sudah terbuka dibagian belakangnya, kini ingin segera beranjak menuju kamar mandi. Karena aku gugup berada bersama Erick diposisi ini.


Walau ini bukan pertama kalinya untuk aku dan Erick, tetap saja aku canggung. Karena jika kalian pikir aku dan Erick sering melakukan itu dulu, jawabannya adalah salah!


Aku bangkit dari duduk tanpa menjawab Erick sama sekali. Pipiku rasanya memanas dan sebentar lagi pasti akan merah padam jika ditatap Erick seperti saat ini.


"Mau kemana?" Tanya Erick sembari tangannya menangkap pergelangan tanganku.


Aku menoleh melihatnya sambil tersenyum kikuk.


"A-aku mau mandi. iya mandi!" Jawabanku jelas gugup tapi berlagak mempertegasnya.


Erick tersenyum miring. Jika sudah begitu, aku sudah menduga pikiran jail Erick pasti akan kumat.


Erick mendekat, dan membisikkan sesuatu ke telingaku membuat aku risih dan spontan mencubit pinggangnya. Erick memekik kesakitan.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2