
Jalan raya terasa padat dan hiruk pikuk berbagai macam suara bercampur menjadi satu. Asap-asap kendaraan dan polusi bertebaran. Semua pengendara seakan berlomba-lomba untuk tiba ditujuannya dengan cepat dan selamat. Begitulah kota metropolitan di jam-jam tertentu.
Hari hampir petang. Erick dan Gia saat ini telah berada didalam mobil, ikut bergelung dalam kemacetan. Mencoba menikmati suasana yang sudah ada didepan mata.
Gia tetap diam sedari keluar rumah orangtua Erick tadi.
"Kamu kenapa sih? Kok diem aja?" Tanya Erick.
"Nggak apa-apa kok!"
"Serius? Apa yang kamu pikirkan?"
"Nggak ada"
"Ck! Sayang, aku bukan kenal kamu sehari dua hari! Kamu mikirin pernikahan kita?" Tanya Erick lagi.
"Aku cuma kepikiran, kenapa kamu harus bilang pernikahan itu diawal bulan depan!"
"Loh memangnya kenapa? Kan lebih cepat lebih baik!"
"Persiapan kita aja belum ada sama sekali."
"Persiapan apa? Kamu cuma harus mempersiapkan diri kamu aja, yang akan berubah status menjadi istriku!" Jawab Erick sumringah.
"Bukan itu Erick! Aku sebenarnya hanya terkejut, kenapa harus secepat ini."
Erick menoleh menatap Gia. Karena kemacetan yang parah didepan sana, hanya mesin mobil yang menyala tanpa pergerakan dari mobil.
"Jadi kamu nggak nerima keputusan aku?" Pertanyaan Erick dengan nada kecewa.
"Bukan gitu, sayang. Aku cuma nggak percaya kalau akhirnya kita akan menikah!" Gia tertunduk lesu.
Erick mengemudikan lagi mobilnya karena jalanan sudah mulai bisa dilalui. Ia memutar arah ketika menemukan persimpangan jalan.
"Loh kita mau kemana? Kenapa putar arah?" Gia terheran-heran.
"Aku antar kamu pulang nanti aja. Kita ke suatu tempat dulu biar kamu percaya kalau kita memang akan menikah."
Gia mau membuka mulutnya untuk bertanya lebih lanjut tentang kemana Erick akan membawanya. Tapi Erick langsung mencegah pertanyaan yang akan keluar dari mulut Gia.
"Udah jangan banyak protes, nyonya!" Kata-kata Erick membuat Gia membungkam mulutnya dan memutuskan menurut.
Gia diam sembari melihat pemandangan kota dari jendela mobil. Jalanan yang sudah lenggang tanpa kemacetan di jalan yang kini mereka lalui.
Hari mulai gelap sampai mereka tiba disuatu tempat yang membuat Gia terperangah dan menerka-nerka.
"Ngapain kamu bawa aku kesini?"
Erick hanya tersenyum dan menggandeng tangan Gia untuk masuk.
"Ayo!" Kata Erick.
Gia ikut melangkah masuk ketempat itu.
"Selamat malam Mas, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?" Ucap seorang wanita muda menyambut kedatangan Erick dan Gia.
"Mbak, bisa tolong bantu calon istri saya memilih baju pengantin yang cocok dan sesuai dengan seleranya?" Ucap Erick dengan sopan dan begitu tenang.
"Tentu Mas" jawabnya.
"Mari mbak!" Ujar wanita muda salah satu pekerja di Bridal tersebut.
Gia menatap Erick dengan tatapan berbinar-binar.
"Sekarang kamu percaya kan kalau kita sebentar lagi memang akan menikah?" Tanya Erick.
Gia hanya mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Gia mengikuti wanita yang menyambut mereka diawal kedatangan tadi.
Sedangkan Erick terlihat duduk disalah satu sofa kosong disudut ruangan sambil memainkan ponselnya.
Gia masuk kedalam ruangan yang terdapat banyak pilihan gaun-gaun pengantin yang bahkan tidak pernah terbayangkan oleh Gia bahwa dia akan bisa memakai salah satu dari gaun-gaun itu. Ini seperti mimpi buat Gia.
"Silahkan mbak liat dulu yang mana yang cocok! Atau mbak mau melihat rekomendasi dari toko kami?" Suara wanita muda itu menyadarkan Gia dari pikirannya yang sudah kemana-mana.
"Emm boleh, mbak!"
"Mari mbak!" Ucapnya sambil mengajak melangkah ke sisi ruangan yang lain.
"Ini beberapa koleksi terbaru kami mbak. Mbak boleh pilih yang mana yang cocok dan sesuai!"
Gia mengangguk dan memilih-milih beberapa yang dia suka dan akan dia coba.
Gia sudah mendapatkan 3 model baju pengantin yang akan dia coba.
Dan tiga-tiganya adalah model yang paling simple sesuai dengan selera Gia yang sederhana.
Yang pertama adalah gaun panjang menutupi kaki jenjang Gia. Dengan model leher terbuka. Dari bagian dada sampai pinggang terdapat bunga-bunga kecil berenda. Dan bagian belakang terdapat tali-tali menyilang untuk menambah kesan ramping.
Gia mencobanya, tapi Gia merasa gaun ini masih terlalu 'heboh' untuk dia gunakan.
Ketika Gia memperlihatkan diri yang sudah mengenakan baju itu pada Erick, Erick menatap takjub dan berkata "bagus" sambil mengacungkan jempol.
Gia mencoba gaun yang kedua, Gaun putih yang panjangnya hanya sampai betis Gia. Dengan model leher shanghai dan berlengan kain brukat.
Reaksi Erick masih sama seperti tadi.
Gia menatap Erick dengan perasaan kesal karena tidak ada kata lain yang keluar dari mulutnya untuk sekedar mengomentari penampilan Gia.
__ADS_1
Gia berharap Erick memberikan ide, misalnya lebih baik begini atau begitu dengan berbagai komentar agar memudahkan Gia mengikuti keinginan Erick juga.
Yang ketiga Gia mencoba model nusantara yaitu kebaya putih dengan bertabur Swarovski dan mutiara yang tidak berlebihan. Tidak terlalu terbuka, dan dipadukan dengan kain songket batik yang serasi untuk bawahannya. Sangat pas ditubuh Gia.
Gia menatap cermin dan tersenyum menatap dirinya sendiri.
Kali ini respon Erick berbeda menatap calon istrinya itu. Kalau yang pertama dan kedua ia berkata bagus, tapi dipilihan ketiga ini dia hanya tersenyum dan menunduk lalu mengangguk-angguk menatap Gia tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Melihat respon Erick, Gia jadi tersenyum dan hilang kesal. Gia menyimpulkan bahwa Erick sama dengannya. Lebih setuju dengan pilihan ketiga.
"Yaudah yang ini aja ya?" Tanyanya pada Erick.
Lagi-lagi Erick hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.15 malam ketika mobil Erick sampai didepan rumah orangtua Gia.
"Kamu hati-hati ya pulangnya. Aku masuk dulu." Ucap Gia pada Erick.
"Iya, kamu juga hati-hati ya!"
"Apaan? Orang udah sampek didepan rumah juga!"
"Iya aku takut calon istriku lecet. Hehehe"
"hahaha. Makasih ya. Besok kamu udah masuk kerja kan?"
"Iya, udah 3 hari libur sedari aku jemput kamu. Numpuk kerjaan aku. Hahaha"
Gia menatap Erick heran.
"Kamu nggak dipecat, Yang? Kebanyakan libur gitu?"
"Hampir. Tapi masih bisa dicegah!" Jawab Erick sambil nyengir menunjukkam sederet giginya.
"Besok pulang kerja aku jemput lagi ya!" tambahnya.
"Mau ngapain lagi? Kamu memangnya gak capek?"
"Udah ikut aja! Aku nggak capek kalo ketemu kamu. Atau kamu yang capek ya ketemu aku terus?"
Gia menggelengkan pelan kepalanya. Lalu menarik hidung Erick.
"Aku memang capek ketemu kamu apalagi kalau kamu resek kayak gini!" Jawab Gia yang disambut dengan suara minta ampun dari Erick untuk melepaskan hidungnya.
"Udah udah, Yang. Kamu kan tau hidung aku nggak bisa dipencet nanti aku jadi flu" protes Erick sambil mengelus-elus hidungnya yang sudah lepas dari tangan Gia.
"Huuu...Makanya jangan resek" jawab Gia sambil mencebikkan mulutnya.
"Yaudah aku masuk dulu ya!" tambah Gia seraya ingin membuka pintu mobil.
"Yang?"
"Hmm?" Gia menoleh.
Tanpa berkata apa-apa Erick mencakup kedua pipi Gia dengan tangannya lalu Erick mendaratkan kecupan beberapa detik di kening Gia.
Gia terpana beberapa saat, sampai akhirnya ia sadar ketika Erick berdehem.
"Yaudah masuk sana!" Ujar Erick kemudian.
Gia tersenyum dan mengangguk. Lalu memutuskan masuk kedalam rumah dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan sangking bahagianya.
Setelah selesai membersihkan diri, Gia berniat menanyakan keberadaan Erick apakah sudah tiba di Apartment nya atau belum.
Gia membuka ponselnya, ternyata disana sudah terdapat beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan. Gia baru sadar tadi ponselnya dalam silent mode. Karena takut ada yang menelpon dikala ia dirumah orangtua Erick siang tadi.
Gia mengabaikan panggilan yang rata-rata dari Mikha dan beberapa nomor tidak dikenal. Mungkin karyawan butik yang akan menanyakan hal desain pada Gia.
Gia membuka pesan, ada beberapa pesan.
Pertama dari Mikha.
Mikhayla :
Susah banget ya ngehubungi kamu!
Mikhayla :
Aku tunggu kamu balik! Segera! Ada yang mau aku tanyakan!
Mikhayla :
Gia, apa benar kamu akan menikah dengan Erick? Kami akan bertunangan Gia! Jangan gila kamu!
Gia memijit pelipisnya sehabis membaca pesan Mikha. Ia beralih kepesan berikutnya. Lyra.
Lyra Widia :
Gimana hasilnya, Gi? Aku doain semoga kamu cepat kasi kabar baik ya ke aku!
Gia tersenyum membaca pesan Lyra. Ia jadi teringat kejadian dirumah Erick sore tadi.
Terakhir dari Arga.
Arga Danu :
__ADS_1
Serius kamu mau menikah?
Arga Danu :
Kenapa secepat itu?
Arga Danu :
Apa itu artinya kita tidak bisa bertemu lagi?
Mendadak Gia merasa pusing. Ia menatap kosong langit-langit kamar. Entah apa yang ada didalam benaknya.
Gia melihat ponselnya yang berdering, telepon dari Erick.
"Astaga aku jadi lupa menanyakan posisinya!" Batin Gia.
Gia langsung menggeser tombol hijau.
"Iya?"
"Aku udah sampek, kamu istirahat ya. Mimpi yang indah!"
"Syukur deh. Aku baru mau nanya-in kamu tadi udah dimana. Yaudah aku tidur ya. Bye!"
"Bye sayang"
Panggilan berakhir, dan Gia pun memutuskan untuk tidur.
Baru beberapa saat Gia memejamkan mata, ponsel Gia berdering lagi. Tanpa melihat siapa yang menelpon, Gia mengangkat panggilan itu masih dengan mata terpejam.
"Kenapa lagi, Rick?" Jawab Gia dengan suara lesu.
"Aku bukan Erick! Aku Arga!" Jawab Arga dengan suara yang datar.
Mendengar itu seketika Gia terduduk dan membaca nama yang tertera dilayar ponselnya. Benar saja Arga yang menelpon.
Gia memukul-mukul keningnya pelan.
Setelah hening beberapa saat. Gia mencoba bersuara.
"Ada apa, Ga?"
"Kenapa pesanku kamu baca tapi nggak kamu jawab!'
"Emm itu--"
"Gia, apa memang aku nggak ada artinya buat kamu?"
Deg..
Mendengar penyataan Arga membuat Gia memejamkan mata untuk berpikir harus menjawab apa.
"Ga, aku..."
"Aku pikir setelah kamu terbuka tentang masalah kamu sama aku itu berarti aku ada artinya buat kamu, Gi! Tapi nyatanya membalas pesanku pun terasa sulit ya buat kamu!" Kata-kata dari mulut Arga terasa pedas ditelinga Gia.
"Ga, bukan gitu maksud aku. Kamu berarti buat aku. Kamu sudah menolongku beberapa kali. Dan kamu memahami masalahku. Ku pikir kita berteman setelah semua itu!"
"Teman? Hahahaha"
Gia tidak percaya mendengar suara kekeh-an Arga dari seberang sana. Beberapa kali ia mengerjap-ngerjapkan mata untuk mencerna apa maksud Arga.
"Gia, sejujurnya aku berharap lebih dari sekedar teman buat kamu. Tapi melihat kenyataan yang ada, nampaknya ini memang sudah terlalu terlambat."
"Maksud kamu apa, Ga? Maaf Ga, sepertinya aku tidak pernah memberi kamu harapan atau janji-janji untuk hubungan kita agar lebih dari sekedar teman!"
"Iya, aku mengerti! Aku yang salah. Maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu! Selamat malam!"
Panggilan diakhiri oleh Arga seperti enggan mendengar pernyataan apa lagi yang akan Gia utarakan.
Gia menghembuskan nafas kasar. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Kenapa Arga begini? Apa benar kata Erick kalau aku dekat dengannya dan aku memberinya harapan?" Batin Gia.
Gia memutuskan untuk melanjutkan tidurnya yang tadi tertunda.
.
.
.
Bersambung...
Makasih ya buat yang udah baca Novel ini sampai di bab ini.
maaf ya, up nya gak bisa ditetapin waktunya. soalnya aku lagi sibuk ngitung butiran detergent. hehehe.
tapi......aku tetap lanjutin kok meski tertatih akibat kesibukanku itu..
sekali lagi makasih ya buat yang udah baca, like, komen.. oiya vote nya dikencengin dong biar makin semangat.
jangan lupa baca novelku yang satunya lagi ya.
dijamin beda dengan yang ini.
-How Will You Say Goodbye?-
__ADS_1
Selamat berpuasa bagi yang menjalankan ibadah puasa!!! semoga puasa kita lancar.😍😍😍😍😍😍