Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Sebuah Pesan -


__ADS_3

Mama Anna memutar laptop itu ke arah tamu yang ada dihadapannya, seolah ingin menunjukkan apa yang terpampang di layar laptop itu pada keduanya. Gia sedikit heran, begitu juga dengan Arga. Gia menarik laptop yang diletakkan diatas meja itu dan meletakkannya di pangkuannya agar ia bisa melihat dengan jelas apa yang ditampilkan di layar datar itu.


Gia melihat dan membaca sebuah note yang sepertinya berisi pesan yang terketik oleh mendiang suaminya, Erick. Gia membaca dan meresapi satu persatu rangkaian kata yang tertera disana. Ia terkejut dan tak habis pikir. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, untuk mengurangi efek suara yang tercipta dari rasa terkejutnya setelah membaca pesan itu.


"Setelah kalian datang beberapa hari lalu, Mama terus kepikiran tentang Erick. Mama merasa nggak tenang. Akhirnya mama mencari-cari sesuatu di kamar yang dulu ditempati Erick dan mama menemukan Laptop itu." Mata Mama Anna berbinar dan seolah menerawang jauh, terlihat jelas bahwa wanita itu amat merindukan sang anak yang telah tiada.


"Mama iseng buka laptop itu, untuk meredakan rasa rindu mama. Mama buka file foto yang ada didalamnya. Tapi Mama juga menemukan file itu dan sempat kaget karena ternyata Erick menulis sebuah pesan disana." Sambungnya lagi. Kali ini, mata mama Anna sudah berair, dan Gia menatap Mama Anna dengan tatapan tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca.


Arga yang belum tahu apa yang dimaksud mama Anna dengan isi pesan Erick, menjadi semakin bingung. Ia makin heran melihat Gia yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Pesan apa?" Tanya Arga pada Gia dengan suara pelan, seolah ingin menanyakan pada Gia saja, tanpa ingin Mama Anna mendengar kata-katanya.


Gia tak menjawab, ia memandang Arga dengan tatapan tajam dan airmatanya yang menganak sungai ketika mengenang Erick tadi, kini membanjiri wajah mulusnya ketika menatap Arga.


"Ada apa?" Tanya Arga lagi, ia bingung. Arga mendadak menjadi takut, kalau-kalau pesan Erick itu adalah meminta Gia jangan menikah lagi jika Erick meninggal. Entahlah, sekarang benak Arga dipenuhi perasaan tak enak.


"Erick pasti tau yang terbaik untuk kamu, Gia. Menikahlah dengan Arga sesuai pesan Erick." Ucap Mama Anna sambil berderai airmata. Mendengar hal itu sontak membuat Arga makin terperangah.


"Erick memberi pesan agar Gia menikah denganku?" Batin Arga. Arga tak kuasa untuk merebut laptop itu dari pangkuan Gia, ia harus membaca sendiri pesan tertulis dari Erick. Jika memang benar seperti yang dikatakan Mama Anna. Berarti, Arga dan Gia telah mendapat restu dari Erick dan Arga tak akan pusing lagi memikirkan bagaimana mendapat restu dari orang yang sudah meninggal.


Arga membaca dengan seksama pesan itu.


"Gia, sayang..maafkan aku jika aku belum bisa menjadi suami yang sempurna untukmu. Aku merasa tidak beruntung karena tidak bisa memberikan bagian dari tubuhku untuk melengkapimu. Aku berusaha, tapi tetap saja itu tidak bisa sesuai kemauanku, sayang.

__ADS_1


Gia, saat aku tahu jika yang mendonorkan Ginjal untukmu adalah Arga. Aku merasa benci sekaligus berterima kasih padanya. Aku benci karena dia bisa memberikan hal yang tidak bisa aku berikan padamu. Tapi disisi lain, aku amat bersyukur jika melalui dirinya kamu bisa hidup lebih lama lagi.


Jika ada orang yang layak menggantikan aku dihatimu, maka Arga adalah orangnya. Jika posisinya bisa ku gantikan, aku ingin menggantikannya menjadi pendonor itu. Tapi jika suatu saat dia ingin menggantikan posisiku, maka aku harus rela mengikhlaskanmu, walau itu sulit. Bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi, sayang. Tapi kenyataannya, bagian dari dirinya kini ada bersamamu." -E-


Arga mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menatap Gia yang duduk disampingnya, sekarang ia mengerti mengapa Gia menatapnya seperti itu. Gia pasti ingin mendengar penjelasan dari mulut Arga saat ini perihal donor ginjal itu.


"Jadi, ini yang dimaksud oleh Bu Dewi. Kondisimu? Kondisimu sekarang yang hanya punya satu ginjal?" Gia menatap tajam pada Arga.


Arga mengangguk lesu. Entah kenapa ia tak tahu harus memulai darimana untuk menjelaskan pada Gia.


"Apa bu Dewi tahu jika penerima ginjal itu adalah aku?" Tanya Gia lagi dan Arga menggeleng lemah.


Gia menarik nafas seraya menghembuskannya perlahan. Ulah Arga ini benar-benar diluar pemikirannya. Arga? ah, kenapa kau melakukan ini semua untukku?-Batin Gia.


Mama Anna tersenyum simpul. Semesta punya cara tersendiri untuk menyatukan kedua insan dihadapannya ini. Hingga, ia tergerak untuk membuka laptop itu dan menemukan jawaban atas restu sang anak untuk menyertai pernikahan Gia dan Arga.


"Kalian selesaikan ini secara baik-baik ya, Mama yakin ini adalah pertanda jika kalian memang ditakdirkan untuk bersama. Mama merestui kalian selayaknya Erick juga telah memberi restu." Wanita setengah baya yang sudah tak lagi muda itu tersenyum pada keduanya.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


"Kenapa kamu nggak bilang, Ga?" Gia menginterogasi Arga. Saat ini keduanya tengah duduk di kursi taman.


Arga tertunduk lesu, ia memangku kedua tangannya sendiri yang tertaut menjadi satu. Entah kenapa ia tak bisa berkata-kata lagi sekarang.

__ADS_1


"Jawab, Ga!" Desak Gia. Ia tak henti-hentinya menangis sedari tadi.


"Aku, aku memang nggak berniat untuk bilang dan memberitahumu!" Ucap Qrga ragu-ragu.


"Kenapa?" Gia mengusap air matanya sendiri. Ia sekarang berusaha agar bisa menatap mata lelaki disampingnya ini.


"Karena aku nggak mau kamu menerima aku hanya karena balas budi!" Arga menegakkan kepalanya. Ia berbicara dengan nada terendah.


"Ga.." Suara Gia tercekat. "Tapi aku berhak tahu!" Sambung Gia lagi dengan nada lesu.


Arga mengangguk. "Ya, Maafkan aku. Sekarang kamu sudah tau semuanya. Lalu apa?" Arga menatap mata cokelat itu yang mulai membengkak akibat tangis.


"Kamu cuma punya satu ginjal sekarang. Apa kamu nggak menyesal, Ga?" Tanpa Gia sadari ia menyentuh tubuh Arga seolah ingin menyentuh Ginjal itu dari sisi luar.


Arga menggenggam jemari Gia. Ia menatap Gia lekat dan seolah mengunci pandangan itu. "Aku nggak peduli. Aku nggak menyesal. Aku bahagia bisa melihat kamu hidup dengan baik sampai sekarang." Ucap Arga yakin.


Gia kembali menangis, tak biasanya ia cengeng seperti ini. Ia tak tahu lagi harus berkata apa pada Arga.


"Jangan nangis lagi. Cukup untuk hari ini. Kamu harus simpan air mata kamu untuk menangis bahagia di hari pernikahan kita." Arga mengusap airmata Gia dengan jemarinya lalu mengelus pelan pipi Gia yang memerah akibat ucapannya barusan.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2