
"Jangan panggil aku sayang!!!" Ucap Gia sedikit berteriak.
Erick dan Arga sampai terkejut melihat ekspresi kemarahan Gia. Tapi setelah itu Arga malah tersenyum lagi sekilas karena kata-kata Gia barusan mewakili isi hatinya.
Erick menghembuskan nafasnya, ia berusaha menyabarkan diri karena ia sadar sikap Gia yang begini tidak lepas dari kesalahan Erick sendiri karena telah membuka pintu untuk seseorang masuk dalam hidupnya yaitu Mikhayla.
Erick paham kemarahan Gia, karena selama ini Gia sangat tahu Erick enggan bahkan tidak pernah sedekat itu dengan seorang wanita. Bahkan sampai makan malam berdua.
Tapi sejatinya, Gia tidak tahu alasan Erick melalukan itu. Itu semua agar ia menemukan Gia.
Tapi setelah ia bertemu dengan Gia didepan matanya seperti ini. Erick sadar bahwa dengan adanya Mikha malah memperkeruh keadaan diantara mereka berdua.
"Baiklah, sekarang aku yang akan bertanya padamu!"
Gia mengangguk. Tanpa memandang wajah Erick. Ia masih marah atas tingkah Erick.
"Siapa dia?" Tanya Erick sembari menunjuk tepat ke arah Arga.
Arga yang dari tadi berdiri bersandar di dinding sambil bersedekap, hanya mengeluarkan smirk dari ujung bibirnya karena ditunjuk oleh Erick. Ia berlagak meremehkan Erick.
"Di, dia Arga" jawab Gia gugup.
"Aku tidak bertanya siapa namanya. Kamu pasti tahu apa maksudku, Gia!"
Gia memandang wajah Arga yang terlihat cuek. Ia seperti meminta persetujuan Arga untuk menyetujui jawaban yang akan keluar dari mulutnya.
Arga hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu mau menjawab apa pada Gia. Semua terserah Gia. Begitulah ekspresi Arga yang dibaca Gia.
"Arga adalah.. dia adalah orang yang berharga untukku saat ini" jawab Gia yang awalnya ragu tapi mendadak percaya diri.
Erick tidak habis pikir atas jawaban Gia yang masuk kependengarannya saat ini. Ia mencoba memfilter lagi kata-kata itu agar tak menyakiti hatinya.
Sementara Arga lebih syok lagi mendengar ucapan Gia. Tapi entah kenapa hatinya merasa sangat bahagia jika benar Gia menganggapnya seperti itu. Ia kembali teesenyum menatap Gia yang kini juga menatapnya.
Pemandangan itu makin membuat hati Erick panas bak disiram bensin dan senyum Arga pada Gia didepan matanya adalah pemantik api yang makin membuat hati Erick terbakar.
"Sabar Erick, Sabar! Tindakan ini hanya balasan Gia atas tindakanmu yang gegabah" batin Erick menguatkan diri.
"Baiklah, aku tidak mau membahas yang tidak penting." Ucap Erick setelah hening beberapa saat tadi. Erick memandang Arga sekilas sebagai penjelasan bahwa yang dimaksudnya tidak penting itu adalah Arga.
Arga membalas Erick dengan tersenyum cuek sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. ia pun beranjak dari posisinya.
"Aku pulang dulu, aku mau mandi. Sudah semalaman aku tidak pulang" kata Arga sengaja memanas-manasi Erick.
Erick diam tapi ia butuh penjelasan lagi nanti dari Gia tentang keberadaan Gia dan Arga semalam. karena dari kata-kata Arga berarti mereka berdua sama-sama tidak pulang kerumah masing-masing semalaman.
"Baiklah. Terimakasih banyak. Ucapkan juga salamku pada mamamu!"
Arga mengangguk pelan dan pergi meninggalkan Erick dan Gia.
Selepas kepergian Arga, Erick mendekat ke tempat duduk Gia. Mencoba membujuk dan menenangkan wanitanya.
"Aku, aku.." Erick memulai berkata-kata.
"Tanyakan apa yang ada dipikiranmu!" Jawab Gia masih dengan acuhnya.
"Aku udah tau soal keadaanmu, kenapa kamu ninggalin aku, Gia? padahal kamu sedang mengandung anakku." Ujar Erick lembut sudah tidak penuh emosi seperti tadi. Ia sekarang berkata seperti sangat hati-hati takut menyakiti Gia.
Tapi Gia tidak menjawab, pertanyaan Erick membuatnya malah menunduk dan menangis terisak-isak.
Erick heran melihat Gia, padahal Erick sudah berusaha bertanya dengan sangat hati-hati agar Gia tidak seperti ini. Tapi tampaknya Erick salah pertanyaan.
"Kenapa? Kenapa kamu jadi menangis? Aku minta penjelasanmu Gia. Bagaimana kondisimu? Anak kita? udah berapa bulan usia kandunganmu?' tanya Erick bertubi-tubi.
"Maafin aku, aku nggak terus terang sama kamu. Aku, aku menutupi ini dan malah pergi menghindarimu. Aku takut Erick!" Jawab Gia yang sekarang sudah tidak kaku lagi kepada Erick.
Gia terus sesenggukan dan kini Gia menatap wajah Erick yang juga menatapnya.
Erick menangkap binar kesedihan teramat dalam dimata Gia. Ia ragu-ragu tapi akhirnya ia merangkul Gia yang berada disampingnya. Gia yang membuatnya seperti orang gila hampir dua bulan ini. Gia yang sangat ia rindukan.
Erick menghirup dalam-dalam Aroma khas Gia yang sangat melegakan dan menenangkan di indera penciumannya.
"Apa yang kamu takutkan? Ada aku!"
"Justru aku takut sama kamu!"
"Aku?" Tanya Erick heran sambil menunjuk dirinya sendiri.
Gia mengangguk sembari melepaskan rangkulan tangan Erick dari pundaknya.
"Aku takut kamu nggak mau nerima kenyataan. Aku takut kamu nolak anak aku!"
"Tunggu, tunggu! Maksud kamu, kamu pergi karna kamu takut aku nggak mengakui anak itu? Kamu takut aku lari dari tanggung jawab aku. Gitu? itu bukan cuma anak kamu. tapi itu anak kita, Gia!" tegas Erick.
__ADS_1
Erick memandang Gia yang terdiam. Erick bisa menyimpulkan bahwa Gia mengiyakan kata-kata Erick.
"Sayang, aku nggak mungkin nggak mengakui darah dagingku sendiri. Ini semua salahku. Aku yang harus bertanggung jawab atas kamu dan anak yang kamu kandung"
"Nggak seharusnya kamu pergi menanggung beban itu sendiri sayang, ini adalah kesalahan kita berdua. Kita harus menanggungnya sama-sama. Bukan dengan cara berpisah. Kamu kenal aku dengan baik Gia, aku nggak mungkin kayak gitu!" Tegas Erick.
"Tapi aku ragu"
"Ragu? Apa kamu pikir dengan meragukanku bisa buat kamu bahagia? Karna rasa ragu itulah kamu malah kehilangan semuanya. Dan aku juga jadi kehilanganmu!" Tegas Erick.
Gia bangkit dari duduknya, ia bersedekap, sembari memandang arah lain. Menatap langit-langit atau apapun asal jangan menatap mata Erick. Itu adalah kelemahannya.
"Ya udahlah, nggak perlu dibahas dan dipertanyakan lagi, lagi pula--"
"Apa? Apanya yang tidak perlu dibahas? Ini semua harus dibahas Gia. Sampai tuntas!"
"Ayo! Kalau kamu nggak mau membahasnya, biar aku yang cari tau sendiri"
"Mmm, mau kemana? Kamu mau cari tau soal apa?"
"Aku nggak suka kamu seperti ini Gia. Aku udah bilang aku tau soal kehamilanmu. Dan kalau kamu nggak mau ngasi penjelasan, kamu ikut aku periksa ke dokter sekarang. Aku mau tau keadaan anakku! Aku mau tau berapa usia kandungan kamu!"
Lagi-lagi Gia terdiam. Ia bingung mau berkata apa pada Erick. Sementara hatinya sendiri masih perlu dikuatkan. Bagaimana bisa ia memberitahu Erick saat ini
Gia menghembuskan nafasnya pelan.
"Baiklah, kamu dengarkan baik-baik! Aku sudah kehilangannya. anakku, mmm maksudku anak kita. Aku nggak bisa menyelamatkan hidupnya dan membiarkan dia tumbuh dalam kandunganku lagi" ucap Gia pelan sambil menegarkan hatinya sendiri dan mengelus perutnya yang kini sudah tidak adanya kehidupan didialamnya.
Erick terkejut, ia mendekati Gia yang mulai meneteskan air mata penyesalan.
"Kenapa Gia? Kenapa bisa gini?" Erick meminta penjelasan lagi pada Gia sambil histeris mengguncang kedua bahu Gia.
Gia diam menatap Erick. Lelaki yang sebenarnya sangat ia rindukan kini ada didepan matanya. Ia ingin menguatkan diri dalam pelukan Erick tapi ia urungkan niatnya karena melihat Erick yang justru lebih butuh dikuatkan.
Tak berapa lama, Erick tiba-tiba terduduk dibawah kaki Gia. Erick menangis, Gia tidak salah lihat. Erick menangis sambil mengacak rambutnya. Mukanya merah sembari mengeluarkan kata-kata yang menguras dan mengaduk-aduk hati Gia.
"Nggak mungkin! Nggak" kata Erick menggeleng sambil terus menangis seperti meratapi sesuatu.
"Kamu sedang membohongi aku Gia. Jangan sembunyikan anakku, darah dagingku dariku!" Kata Erick marah.
Akhirnya Gia mengalah, ia tidak bisa lagi memasang Ego nya disini. Bukan cuma ia yang sedih atas kehilangan anak dalam rahimnya tapi Erick pun histeris seperti orang Gila karena merasa itu adalah darah dagingnya pula.
Gia berjongkok memegang kedua pipi Erick, menatap matanya dalam-dalam.
Erick makin menangis terisak-isak. Gia bahkan tidak pernah melihat Erick seperti ini.
"Kenapa? Aku bahkan belum pernah mengelus perutmu sekalipun! Aku juga belum pernah tau tumbuh kembangnya didalam sini!" Ujar Erick bertanya sambil menunjuk perut Gia.
"Kenapa Gia? Apa dia memang tidak mau punya ayah sepertiku? Atau aku memang nggak pantas punya anak dari kamu? Aku mencintaimu Gia. Kenapa kamu nggak memberiku izin untuk tau tentang anakku sendiri. Sekarang dia sudah tiada bahkan sebelum aku pernah melihatnya!"
"Aku memang menyesali perbuatan dan dosaku. Tapi aku antusias dengan adanya anak itu. Itu akan mengikat hubungan kita! Dan terlepas dari kesalahanku, Aku sangat bahagia Gia. Karna kamu yang mengandung darah dagingku!
Gia memutuskan memeluk Erick menguatkan Erick dan menguatkan dirinya sendiri.
"Aku tau, aku minta maaf. Aku nggak sadar sikapku yang tergesa-gesa malam tadi ketika melihatmu malah menimbulkan bencana untuk janin yang ada dalam kandunganku."
"Ini semua salahku!" Ucap Gia lagi.
Setetes demi setetes air mata Gia mengalir. Ia kembali lagi menyesali perbuatannya yang ceroboh.
Tak berapa lama ponsel Erick berdering menandakan ada panggilan masuk.
Posisi Erick dan Gia masih sama. Dengan Erick yang terduduk lemas dan Gia memeluknya dari samping.
Gia ingin melepas pelukannya pada Erick, tapi Erick menahan tangan Gia. Erick merogoh saku celananya dengan tangan satunya untuk meraih ponselnya.
Erick menatap nama Mikha yang ada dilayar ponsel. Dan berdecak kesal. Sembari menolak panggilan itu. Dia memasukkan lagi ponselnya kedalam saku celana.
Hening. Mereka berdua hanya merasakan deru nafas masing-masing. Sampai dering di ponsel Erick terdengar untuk kedua kalinya.
Erick melakukan hal yang sama. Menolak panggilan dari Mikha yang entah kenapa terus menerus mengganggu.
"Angkat aja. Siapa tau penting!" Kata Gia sembari pergi dari sisi Erick.
Gia hendak berjalan menuju dapur, mengambilkan Erick minum untuk membantu menenangkan Erick.
Tapi, baru dua langkah kakinya beranjak. Erick ikut berdiri dan mendekapnya dari belakang.
"Nggak ada yang lebih penting sekarang, dibanding kamu!" Ucapnya sangat lembut di telinga Gia.
****
Erick sedang duduk diteras rumah Gia karena Gia mengusirnya keluar. Gia hendak mandi. Dan Gia risih Erick masih berada didalam.
__ADS_1
Gia tidak ingin melakukan kesalahan lagi dengan Erick. Cukuplah itu dimasa lalu. Karena hidupnya yang sekarang telah dia anggap lembaran yang baru.
Erick memaklumi dan ia juga bertekad pada dirinya sendiri tidak akan melakukan hal yang salah seperti dulu. Ia akan melakukan hubungan itu jika Gia memang sudah sah menjadi istrinya.
Cukuplah itu kesalahan dimasa lalu. Meskipun setiap Erick melihat Gia, entah kenapa ia mendadak merasa br*ngsek. Erick tidak mau munafik, Gia-nya memang sangat menggoda jiwa kelelakiannya.
Gia sudah selesai mandi. Ia memakai baju kaos hitam polos dan celana jogger. Rambutnya basah dengan aroma shampo. Wajahnya tidak dipoles make-up dan harum sabunnya menyeruak dari tubuhnya yang tercium di hidung Erick.
Erick mendongak seketika menyadari aroma tubuh Gia. Ia melihat Gia sudah berdiri disamping tempatnya duduk.
"Kamu nggak mandi? Mandi aja didalam noh!" Kata Gia pada Erick yang hanya senyum-senyum.
"Kamu hidup disini sendiri. Apa kamu bahagia?" Tanya Erick pada Gia.
Gia berjalan dan duduk disebelah Erick. Ia menatap Erick yang juga menatapnya. Gia merasa pertanyaan Erick cukup berat untuk dijawabnya.
Gia tersenyum.
"Kamu sendiri? Apa kamu bahagia tanpa aku? Tanya Gia balik pada Erick.
Erick menggeleng lemah.
"Aku bahkan sampai kayak orang gila tanpa kamu" jawab Erick pelan sambil tersenyum.
"Aku bener-bener nggak bisa tanpa kamu, Anggia!" Tambah Erick lagi.
Gia sudah menebak jawaban Erick. Gia menggenggam jemarinya sendiri.
"Kamu, kamu tau darimana aku hamil? Pertanyaan yang sedari tadi ada dibenak Gia.
"Dari ibu kamu"
Gia terbelalak menatap Erick tidak percaya.
"Serius, aku tau dari ibu kamu. Aku nungguin kamu tiap hari di depan Gang rumah orangtuamu, sampai aku nggak tahan lagi, jadi ku putuskan datang kerumah orangtuamu"
"Terus, ibu kasi liat aku testpack. Katanya itu pasti punya kamu!"
Lagi-lagi Gia tercengang mendengar jawaban Erick. Bagaimana bisa Gia lupa telah meninggalkan Testpack itu dirumah.
"Berarti keluargaku tau aku hamil?"
"Huum, Aku bahkan dituduh bawa lari dan sembunyikan kamu sama ibu dan ayah kamu!" Kata Erick lagi.
Gia tersenyum lagi.
"Kamu ketemu sama ayah? Aku rindu banget sama Ayah. Meskipun sama ibu dan Nissa aku juga rindu. Tapi sama ayah tuh beda. Karena ayah kan jarang-jarang dirumah" kata Gia berbinar-binar.
Erick melihat binar itu, dan Erick merasa Gia-nya sudah kembali. Nada bicara dan tata bahasa Gia pada Erick pun sudah sama seperti dulu. Tidak kaku. Serta Gia dengan mudah menceritakan apa isi hatinya. Seperti saat ini.
"Aku rindu kamu, Gia" kata Erick jujur.
"Aku nggak mau bahas itu!"
"Bahkan aku sangat rindu sama kamu! Kata Erick lagi menekankan kata sangat di kalimatnya.
"Kamu mau makan siang? Biar aku belikan ya!" Gia mencoba mengalihkan pembicaraan,
Erick tersenyum melihat tingkah Gia yang kikuk dengan pembahasannya.
"Aku nggak mau dibeliin makanan. Kamu masakin aku ya?"
"Hmmm, oke. Kayaknya masih ada bahan-bahan untuk aku masak"
Gia pun meninggalkan Erick untuk menuju dapur. Erick masih duduk diteras menatap keadaan sekeliling rumah kontrakan Gia yang terbilang nyaman. Banyak anak-anak bermain lari-larian.
Erick memperhatikan anak-anak itu sambil sesekali tersenyum mengenang masa kecilnya yang jarang mendapat kebebasan. Masa kecilnya yang hanya harus memuaskan tuntutan orang lain.
Dering diponsel Erick kembali terdengar, ia melihat nama "Frans" tertera dilayar.
"Kau dimana rick? Kapan kau mau pulang?" suara Frans dari seberang sana.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1