
Sebuah Taxi memasuki pekarangan rumah yang tampak asri. Seorang lelaki keluar dari balik pintu pengemudi, membukakan pintu belakang yang ditempati oleh Erick dan Gia. Setelah Erick turun, ia gegas membantu istrinya untuk turun dan masuk kedalam rumah menggunakan kursi roda. Sedangkan sang supir Taxi ikut serta membawa barang-barang mereka yang dikeluarkan dari bagasi.
Sesaat kemudian, Mobil yang biasa dikendarai Erick pun tiba membawa mama Anna didalamnya. Mobil itu dikemudikan oleh Pak Dahlan.
Erick mendorong kursi roda yang sudah diduduki sang istri untuk masuk kedalam kediamannya. Rumah ini masih sama seperti terakhir kali Gia meninggalkannya untuk melakukan operasi ginjal, selalu bersih, kemas dan rapi. Ada Bi Dijah yang memang selalu siap sedia perkara beres-beres. Serta Mama Anna yang beberapa hari ikut tinggal disini membuat suanana semakin hangat karena semakin ramai.
Seusai kepergian supir taxi dan kepulangan Pak Dahlan, Mama Anna menemui Erick dan Gia yang masih berada diruang tengah.
"Erick, karna Gia sudah mulai membaik dan sudah pulang kerumah juga, mama memutuskan pulang besok lusa!" mama Anna berujar sambil tersenyum memandang anak dan menantunya.
"Kenapa cepat sekali ma? Gia juga baru pulang?" Tanya Gia.
"Iya, Mama enggak mau ninggalin rumah terlalu lama sayang, disana mama banyak kerjaan. Hehehe"
"Iya deh yang wanita karir." Erick menggoda mamanya yang sudah mulai aktif lagi di butik miliknya.
Setelah berbincang ala kadarnya, Erick langsung membawa istrinya ke kamar mereka untuk beristirahat. Gia berbaring namun tidak tidur, sementara Erick terdengar beberapa kali menelepon untuk urusan Cafe yang sudah tak pernah ia kunjungi, hanya orang kepercayaannya saja yang sesekali menelepon untuk memberi kabar dan kadang Erick mengecek pemasukan serta pengeluaran melalui email. Jika ada yang tak cocok Erick selalu menelepon orangnya untuk protes seperti yang saat ini ia lakukan melalui sambungan telepon.
Gia mendengarkan suaminya itu berbicara dengan seseorang dari ponselnya, ia menyimpulkan bahwa Erick sedang banyak pikiran saat ini, ditambah lagi sejak Gia sakit, entah seberapa banyak beban yang ditanggungnya.
"Sayang, ada masalah ya?" Gia menanyakan sang suami yang sudah mengakhiri panggilan teleponnya.
"Enggak apa. Kamu jangan ngurusin itu! kamu jangan banyak mikirin yang enggak-enggak ya!" suara Erick seketika melembut untuk menjawab pertanyaan istrinya.
"Sayang, aku udah enggak apa-apa. Kamu jangan banyak memendam masalah, nanti kamu yang sakit!"
Erick menggeleng.
"Udahlah sayang, ini biar jadi urusanku. Aku udah biasa menghadapi hal seperti ini."
"Ada masalah di Cafe ya? kamu cek aja kesana dulu nanti pas weekend, atau sekalian aja kamu ikut pulang bareng mama besok lusa!" Gia memberi saran kepada suaminya.
"Enggak! aku mana mungkin ninggalin kamu disini sayang! kamu masih butuh aku. kamu baru selesai operasi!" Erick menggenggam tangan istrinya.
"Disini ada Bi Dijah, lagian aku kan enggak kenapa-napa!"
"Sayang, terakhir kali kamu bilang enggak kenapa-napa tapi nyatanya kamu sakit kan? aku enggak mau itu terjadi lagi." Erick membelai mesra wajah istrinya.
__ADS_1
"Maafin aku ya sayang!" ucap Erick menatap intens wajah Gia.
"Maaf kenapa?" Gia menggenggam tangan suaminya yang masih berada dipipinya.
"Belum bisa jadi yang terbaik untuk kamu." cetus Erick.
"Justru aku yang mau minta maaf karena banyak kekurangan!"
Erick merengkuh tubuh istrinya, mendekapnya dengan penuh perasaan.
"Bagi aku kamu selalu lebih, aku nggak pernah anggap kamu kurang apapun!"
"Makasih ya suamiku." Gia tersenyum lebar sambil mencubit hidung suaminya yang dibalas Erick dengan wajah cemberut.
Gia menahan tawa melihat wajah Erick yang sebal karena tingkahnya, Gia paling suka melakukan itu sementara Erick tak bisa jika hidungnya dicubit.
"Yaudah, kamu puas-puasin deh cubit hidung aku sebelum enggak bisa lagi!"
"Kenapa enggak bisa? pasti bisa lah"
"Abis aku mandi, aku bakalan bantu kamu mandi ya!" ucapnya sebelum masuk kedalam kamar mandi.
💠💠💠💠💠💠ðŸ’
Erick dan Gia makan malam bersama, tentunya ditemani juga oleh mama Anna yang datang sebagai tamu di tempat mereka.
"Maaf ya ma, banyak merepotkan mama sampai jauh-jauh datang kesini" Gia sungkan terhadap mertuanya yang sampai rela datang ke Jakarta.
"Kan mama udah pernah bilang, sejak kamu jadi istri Erick berarti kamu jadi anak mama juga. Dan, kamu jangan sungkan begitu sama mama sendiri!" Mama Anna melanjutkan makan malamnya, sesekali bercerita tentang kebiasaan anak-anaknya.
"Erick waktu kecil sering ikut mama ngajar loh di kampus!"
"Emang boleh ma?" Gia penasaran.
"Ya waktu mama ada kelas, dia mama titipin di kantin atau di kantor dosen lain yang teman mama juga. semua pada sayang sama dia. Anak mama kan pinter dan ganteng" Mama Anna berujar dengan bangganya menceritakan sosok Erick kecil.
Gia menanggapi celotehan mama Anna dengan antusias sementara Erick hanya diam dan geleng-geleng kepala mendengarkan dua orang wanita sedang meng-ghibah-i-nya didepan matanya sendiri.
__ADS_1
"Maklumlah Gi, Erick itu anak bungsu jadi dia lah yang sering mama ajak kesana-kemari. Kalau sekarang sih tinggal nunggu cucu aja dari kalian biar bisa mama ajak jalan-jalan juga."
Gia terdiam mendengar kata "cucu" dari mulut mama Anna, Erick menepuk pelan punggung tangan istrinya.
"Memangnya mama mau punya cucu lagi? kan kak Rina juga sudah punya anak yang adalah cucu mama juga?"
"Ya mau lah Gi, Kalau Raisa-anaknya Rina- udah sering mama ajak kemana-mana. Udah pinter gaya dia ngikutin omanya yang fashionable. hahahha.." Mama Anna tertawa dengan ucapannya sendiri. Gia hanya memasang senyum tipis karena ia belum bisa memberikan cucu dulu untuk mertuanya saat ini.
Erick dan Gia sudah diwanti-wanti oleh dokter untuk menunda dulu hal itu.
"Ma, Gia kan baru aja operasi. Lagi pula mama minta cucu kayak minta beliin jajanan pasar aja. Mama suruh aja Frans sama Kak Indira duluan yang kasi mama Cucu!" Suara Erick akhirnya terdengar diantara mereka bertiga.
"iya-iya, mama juga tau Gia belum pulih total. Mama kan cuma berandai-andai. Andai juga Papa masih hidup, pasti dia bakalan senang dikelilingi banyak cucu." Mama Anna tiba-tiba terdiam dengan ucapannya sendiri, matanya menerawang jauh seolah mengenang sosok mendiang suaminya.
Erick mencoba mencairkan suasana dengan mengajak mama Anna berbicara hal lain dan mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh iya sayang, besok sahabat aku, Reza akan berkunjung kesini sekaligus menjenguk kamu. Boleh kan?"
"Ya tentu aja boleh sayang. Reza juga belum pernah kesini kan? sekalinya mau ketemu kamu aku juga langsung sakit" Gia merengut dengan ucapannya sendiri.
"Hehehe.. yaudah besok dia kesini, katanya tuh anak mau ajak gebetannya, Yang!"
"Wah bagus dong, Rick. Udah cocok juga dia menikah!" Mama Anna ikut menimpali pembicaraan Erick dan Gia.
"Iya ma, Kita liat aja besok. Mumpung mama juga ada disini jadi mama juga bisa liat gimana orangnya kan!" Ujar Erick.
Mama Anna mengenal Reza cukup dekat semasa Erick dan Reza masih berkuliah, karena Reza sering menginap dirumah orangtua Erick pada masa itu.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1