
Mama Anna dan Gia sedang menyalurkan hobi mereka yang belakangan ini sering mereka lakukan bersama-sama, yaitu berbelanja kain disebuah store yang cukup besar dikota tempat tinggal mereka.
Selesai belanja, mama Anna dan Gia yang baru keluar dari pusat perbelanjaan itu melihat seseorang yang mereka kenal juga baru saja keluar dari sebuah restoran yang berada diseberang tempat mereka berdiri.
Gia menatap dengan perasaan tak sukanya. Sementara mama Anna seperti merasakan ada hal yang tidak enak akan segera terjadi.
"Ayo, ma!" Ucap Gia sementara melangkah menuju keseberang.
Mama Anna mengikuti langkah cepat Gia. Matanya sesekali melirik orang yang kini sudah berada didepan mereka. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Erick yang sedang bersama seorang wanita. Erick tersenyum melihat kedua wanita yang kini menghampirinya.
"Siapa wanita ini?" Batin mama Anna.
Gia masih diam menunggu Erick saja yang lebih dulu membuka suara tanpa ia berniat menanyakan hal apapun. Erick tampak santai, lalu meraih tangan Gia untuk digenggam.
"Sayang, kamu sama mama abis belanja apa?" Tanya Erick.
Erick menatap Gia dengan senyuman teduhnya karena bahagia melihat istri dan mamanya yang semakin kompak saja.
Sementara, Gia sedari awal sudah menatap jengkel kearah Erick tapi sang suami belum menyadari sikapnya itu.
Gia mengangguk dan tetap diam. Ingin melihat sejauh mana Erick paham maksudnya karena telah sengaja menghampiri suaminya itu kesini.
Melihat arah pandangan mata istrinya yang beralih kearah wanita yang berdiri disamping kanannya, Erick langsung kembali bersuara.
"Em, sayang kenalkan ini Dela. Dela ini rekan kerja aku!"
"Dan Dela, ini istri dan mama saya, Del." Sambung Erick memperkenalkan ketiganya, sembari melihat istrinya, mama Anna dan Dela bergantian.
"Dela" wanita itu mengulurkan tangannya kehadapan Gia sembari tersenyum.
"Gia" Balas Gia dengan menyambut uluran tangan Dela.
Kemudian Dela beralih menyalami tangan mama Anna.
"Kamu berdua aja sama Dela, sayang?" Sindir Gia pada Erick.
Erick merasakan ada nada dan hawa tak enak dari pertanyaan sang istri.
"Kita tadi ada meeting disini sayang, cuma yang lain langsung pada balik ke hotel tempat mereka menginap. Dan ads juga yang sudah punya janji lain." Jawab Erick.
Gia mengangguk paham.
__ADS_1
"Jadi kamu mau kemana lagi?" Tanya Gia kembali menatap Erick dan sesekali melirik wanita yang bernama Dela ini. Dari tatapannya tak bisa dipungkiri bahwa Dela sangat terlihat mendamba suami Gia itu.
"Aku ya mau pulang, sayang." jawab Erick lembut sembari melihat jam yang melingkar dipergelangannya.
"Saya duluan ya Dela" Ujar Erick tersenyum ramah pada Dela, ia sedikit menunduk.
"Iya, Terimakasih ya, Mas Erick sudah membantu dan membimbing saya." Ucap Dela dengan nada sungkan namun suaranya terdengar mendayu-dayu. Manja.
Gia berdecih dalam hati mendengar wanita itu memanggil suaminya dengan sebutan 'Mas'. Erick hanya tersenyum dan mengambil tangan istrinya untuk ia gandeng menuju mobilnya yang terparkir.
Mama Anna ikut menyusul dibelakang mereka tanpa berkata-kata karena ia gagal menyaksikan 'perang' yang ia pikir akan terjadi. Ternyata Gia masih mempunyai etika untuk tidak menjambak wanita itu didepan umum.
Karena jika Mama Anna menjadi Gia yang melihat Dela begitu akrab dan sok manja dengan Erick, mama Anna rasanya mau menjambak wanita itu. (hehehe.. mama Anna sudah di kubu Gia ternyata!!!)
Mengingat Erick bahkan tak pernah akrab dengan wanita, tak punya teman wanita bahkan selalu acuh pada lawan jenis, itu harusnya juga salah satu pemicu untuk Gia marah saat itu juga. Makanya mama Anna tadi langsung bertanya-tanya dalam hati, tentang siapa wanita yang bisa mengakrabkan diri dengan anaknya yang sedingin es batu itu.
******
"Siapa sih Dela itu?" tanya Gia yang sedang bersandar dikepala ranjang. Gia memperhatikan Erick yang sedang fokus membuka lembar-lembar pekerjaannya disofa kamar.
Erick menghentikan kegiatannya dan menatap wajah Gia.
"Kan aku udah bilang, dia rekan kerjaku, sayang!"
"Ck! dia itu baru sebulan ini kerja dikantor, sayang! Aku cuma membimbing dia aja. tadi meeting harusnya dia yang ikut bukan aku. Cuma karena dia masih baru, ya mau nggak mau aku harus ikut sebagai pendamping sekaligus mengawasi cara kerjanya."
"Baru sebulan? udah akrab begitu?" Gia makin merasa aneh dan tak habis pikir.
"Kamu cemburu sayang?" Erick menahan tawa yang hampir meledak melihat istrinya yang cemberut.
"Ya gimana ya. aneh aja liat kamu akrab sama cewek! pake panggil-panggil Mas pula!" Gia sebal mengucapkan kalimatnya itu, teringat nada manja dari suara Dela yang berkata pada Erick tadi.
Gia mengambil guling dan tidur menyamping membalikkan badan. Malas melihat Erick yang sudah terkekeh.
"Sayang, jangan marah dong!" Erick langsung menuju ke arah dimana wajah istrinya berada.
Gia menepis tangan Erick yang mencoba mencubit pipinya.
"Aku sama dia cuma rekan kerja. selebihnya nggak ada hubungan apa-apa. Apalagi akrab seperti yang kamu bilang, itu enggak bener!"
Gia bangkit dan duduk kembali. Erick sedang terjongkok dihadapannya. Gia menatap mata Erick dan mencari kebohongan dimata suaminya itu, namun ia tak menemukannya.
__ADS_1
"Bener?" tanya Gia.
Erick mengangguk-angguk dengan mimik wajah yang dibuat-buat agar menggemaskan orang yang melihatnya.
Gia mencebik dan cemberut. Erick mengacak-acak gemas rambut istrinya itu seraya berdiri.
"Kamu jangan khawatir sayang, aku tau batasan kok!"
"Kamu tau batasan, tapi dia? dia itu jelas-jelas ngeliat kamu kayak kucing liat ikan kakap!"
Erick tak tahan dengan ucapan Gia, ia tertawa dengan perumpamaan yang dibuat istrinya itu.
"Kamu ini sok tau! hahaha.."
"Loh kamu meragukan penglihatan aku?"
"Bukan gitu, emm kalau aku ngeliat Dela kayak apa dipenglihatan kamu?"
Gia menunduk.
"Kamu sepertinya kagum sama dia!" Ucap Gia dengan suara pelan.
Erick meraih dagu Gia, mengangkatnya dengan telunjuk agar Gia mendongak menatap wajah Erick.
"Sayang, aku jujur sama kamu ya. Aku memang kagum sama dia. Dia juga translator seperti aku. tapi Aku cuma bisa tiga bahasa. Inggris, Mandarin sama bahasa kita ini, Indonesia. Tapi dia diusia muda bisa menguasai lima bahasa. Wajar dong kalau aku kagum. Hanya sekedar itu aja kok" Erick mengakui kekagumannya pada Dela.
Tapi tentu saja Gia sebagai wanita mendengar pernyataan Erick menjadi tak terima. Dimatanya, Erick yang mengagumi Dela sama dengan Erick tertarik pada wanita itu. Padahal maksud Erick, ia hanya mengatakan kagum tak lebih, agar istrinya tenang.
"Cih! dia pinter jadi kamu kagum. Sementara sama aku kamu nggak pernah kagum kan?" Ucap Gia insecure.
"Loh kok kamu jadi gitu? sama kamu aku lebih kagum sayang! Kamu itu istimewa. Nggak ada yang bisa menyamai kamu!"
Gia berbaring dan menutup wajahnya dengan guling. Malas mendengar ucapan Erick lagi.
Erick berdecak sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia harus lebih sabar menghadapi istrinya yang sedang cemburu. Pengakuannya membuat runyam semua. "Salah lagi!" Pikir Erick. Erick paham bahwa kesabarannya harus ia stok banyak-banyak untuk menghadapi makhluk yang bernama wanita. Apalagi ini adalah istrinya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...