
Erick memasukkan koper kedalam bagasi sebuah taxi yang sudah menunggunya dan Gia. Mereka akan menuju Bandara dan terbang ke Jakarta hari ini.
Dengan dibantu sopir taxi, Erick memasukkan barang yang akan ia angkut serta, ketempat ia dan istrinya akan bernaung dikedepan hari.
"Mama sehat-sehat ya disini. Maaf ya kami enggak bisa tinggal disini lagi. Kalau ada apa-apa mama langsung hubungi Erick ya!" Ucap Erick pada mama Anna.
Mama Anna melepas kepergian Erick dan menantunya untuk pergi, karena lagi-lagi ia sadar bahwa anaknya itu bukan sepenuhnya miliknya melainkan sudah berkeluarga dan bekerja, ia harus ikhlas walau berat.
Erick menitipkan mamanya kepada para asisten rumah tangga yang bekerja dirumah itu sebelum akhirnya pamit undur diri.
"Maaf ya ma kalau selama tinggal disini Gia banyak salah." ucap Gia sungkan.
Mama Anna mengangguk, ia memeluk menantunya dan mencium pipi Gia.
"Enggak, Nak. Mama yang banyak salah sama kamu. Maafin mama ya!"
Gia tersenyum dan mengelus punggung tangan mama Anna.
"Semua udah berlalu, Ma" Jawab Gia sopan.
"Kalian tenang-tenang aja disana ya, jangan pikirin mama disini! Anggap aja sekalian bulan madu. Belum jadi-jadi kan?" Goda mama Anna lagi sambil tersenyum.
Gia hanya diam dan tersenyum.
"Tuh sayang dengerin apa kata mama. kata-kata mama itu bener loh!" tiba-tiba suara Erick hadir diantara mereka berdua. Rupanya dia memperhatikan dua orang didepannya ini sedari tadi.
"Kamu ini kalau soal itu cepet banget!" Kata mama Anna disusul suara cekikikan khasnya.
"iya dong ma!" Erick sumringah.
"Kesana kan karena pekerjaan ma, jadi pasti lebih banyak kerjanya dong!" sanggah Gia kemudian.
"Eh? tapi tetap bisa kok sayang! Sekalian! Sambil menyelam minum air! Dua tiga pulau terlampaui. hahahah" Erick merangkai kata-kata perumpamaan yang dibalas Gia hanya dengan memutar bola matanya.
*****
Setelah memakan waktu hampir dua jam, akhirnya mereka tiba di Jakarta. Erick dan Gia menyeret serta koper yang mereka bawa. Erick menuju seseorang yang sudah ditugaskan untuk menjemput mereka.
Setelah mengobrol beberapa saat, mereka keluar dari bandara dengan menaiki mobil orang yang menjemput kedatangan mereka di Bandara tadi. Pak Dahlan, namanya. Bukan seorang supir melainkan asisten yang disediakan dari perusahaan untuk mendampingi dan memberitahu semua yang belum Erick ketahui di kota ini.
Pak Dahlan, belum terlalu tua. Usianya sekitar 37 atau 38 tahun-an. Ia mengemudikan mobilnya menuju kediaman yang telah disediakan perusahaan sebagai rumah dinas untuk Erick selama ia bekerja di Jakarta.
Akhirnya, sampailah mereka pada sebuah rumah Asri, cantik dan bersih. Pekarangan rumah dihiasi banyak tanaman dan ada beberapa pohon buah cangkok-an yang ada didepannya. Rumah yang teduh. Tidak terlalu besar, tapi juga tidak bisa dikatakan kecil. Sederhana dan Gia amat suka kesederhanaan ini.
"Gimana sayang? Kira-kira kamu bakal betah enggak tinggal disini?" Tanya Erick pada sang istri, setelah kepergian Pak Dahlan.
Gia mengangguk dengan mata yang lelah, namun senyumnya terkembang menandakan ia memang menyukai tempat tinggal baru mereka.
Gia memutuskan langsung mandi dikamar mandi yang ada dikamar utama. Sedangkan Erick, ia berinisiatif untuk membereskan barang-barang bawaan mereka dan menyusunnya.
Selesai mandi, Gia menemukan suaminya menyusun baju kedalam lemari yang ada disudut kamar.
__ADS_1
"Eh sayang, biar aku aja nanti yang beresin dan susun ke lemari!" Gia merasa tak enak melihat suaminya harus turun tangan dalam hal seperti itu.
"Enggak apa, jadi selepas mandi kan bisa langsung ambil baju dilemari!" Jawab Erick santai.
"Yaudah, kamu mandi dulu sana! biar segeran!" Pinta Gia.
Erick bangkit dan mendekat kearah istrinya. Mengecup puncak kepala istrinya yang masih terbalut handuk.
"Baju kamu udah aku susun, jangan cari dikoper lagi ya!" Ucap Erick lembut dan membelai pipi Gia.
Gia mengangguk dan sedikit mendorong tubuh sang suami agar sedikit berjarak.
"iya iya... udah sana mandi kamu!" Ujar Gia, sesekali tangannya mendorong pelan tubuh suaminya itu agar segera menuju kamar mandi. Dan lagi, agar ulah Erick tak berkelanjutan.
Gia sudah tau jika Erick sudah mendekat begitu akan terjadi hal diluar kendali, jadi ia berjaga-jaga dan sedikit menghindar. Gia sangat lelah saat ini.
Selepas berpakaian, Gia segera menghamburkan diri menuju dapur. Perutnya terasa lapar, pasti suaminya pun sama. Ia membuka kulkas yang ternyata isinya diluar dugaan Gia. Kulkas itu sudah lengkap bahkan lebih dari lengkap, semua tersedia dari makanan siap saji, sayur, telur, daging-dagingan, ikan, buah bahkan cemilan. Membuat kulkas dua pintu itu penuh dan Gia pun bingung mau masak apa sangking banyaknya pilihan.
Pasti ini semua disediakan dari Kantor Erick sebagai fasilitas disini, sebelum Erick menerima gaji dibulan depan. Lagi pula, Gia belum tahu hendak berbelanja dimana. Letak pasar dan Supermarket belum ia ketahui, ini adalah rezeki nomplok buat Gia. Tak perlu bersusah payah kemana-mana mencari makanan. Mungkin bulan depan baru ia berbelanja keperluan dapur, tentunya setelah tahu kesana-kemari.
Gia mulai memilah-milih bahan yang akan dimasaknya. Tak lama, Erick sudah turun dengan setelan kaos putih dan celana kain khas rumahan. Ia duduk di mini bar yang tak jauh dari tempat Gia memasak.
"Masak apa, Yang?" Tanya Erick seraya menuangkan segelas air putih kedalan gelas lalu meneguknya perlahan.
"Masak enak dong!" Jawab Gia dengan percaya diri dan lanjut memotong-motong sayuran.
"Kalau masakan kamu selalu enak, sayang!" Ujar Erick. Ia mulai mendekat kearah Gia yang mulai menumis bahan masakannya.
Gia sedikit terkejut ketika tangan kokoh Erick melingkar diperutnya, kaget ternyata suamianya sudah memeluknya dari belakang.
"Yaudah masak aja sih!"
"Mana bisa aku masak kalau kamu kayak gini"
"Habisnya dirumah mama tuh enggak bisa gini, kamu selalu segan sama mama!"
"Yaudah, kalau kamu mau begini terus aku enggak lanjut masaknya! biar aja kita kelaperan dua-duanya!" ancam Gia.
Erick mundur dan berdecak mendengar ancaman istrinya. Ia mengusap wajahnya dengan tangan.
"Iya deh Nyonya...Saya mundur teratur, saya enggak mau Nyonya kelaperan dan lagi...." Erick menggantung ucapannya.
"Dan lagi apa?" Tanya Gia sambil memasukkan potongan Ayam kedalam wajan.
"Dan lagi saya juga takut kelaperan, nanti bisa-bisa saya memakan Nyonya!" Tatapan Erick langsung berubah menjadi 'Jail mode On'. Erick menaik-naikkan alisnya menggoda sang istri.
Gia mencebik dan memelototi Erick. Bibirnya maju beberapa senti dan memasang wajah juteknya.
"Hahaha.. kamu enggak mau kan aku makan?" Tanya Erick masih dengan tawa renyahnya.
"Kalau kamu makn aku, mati dong aku!" Jawab Gia sambil berlagak bergidik.
__ADS_1
"Hahahaaa" Erick mencubit pipi istrinya dengan gemas. Ia meninggalkan dapur entah menuju kemana. Mungkin ia akan mengecek situasi dan kondisi tempat tinggal baru mereka.
Setelah beberapa saat, Gia sudah menyiapkan masakannya diatas meja bundar tempat makan mereka yang disertai empat kursi makan.
"Udah siap?" Tanya Erick sumringah melihat menu yang disajikan istrinya diatas meja makan itu.
"huum. kamu dari mana?"
"Liat-liat kedepan, ternyata disini ramai, Yang. Aku enggak khawatir ninggalin kamu dirumah ini kalau kerja!" Ungkap Erick.
"Ramai gimana?" tanya Gia penasaran sambil menyendokkan nasi kepiring makan suaminya dan lanjut mengisi piring itu dengan lauk dan sayur yang sudah ia masak.
"Iya, rumah yang di kiri-kanan ada yang nempatin kok, bukan rumah kosong. Dan lagi didepan sana ada taman dan kolam renang anak-anak!" Jelas Erick.
Mereka mulai memakan makanan dengan sesekali berbincang perihal tempat tinggal mereka.
"Sayang, nanti pas libur aku ajakin kamu jalan-jalan ya!" Ucap Erick.
"Makasih ya sayang."
💠💠💠💠💠ðŸ’
Erick sedang menyelesaikan pekerjaan ditempat barunya. Ia tak terlalu kesulitan karena memang sedari dulu punya otak yang cemerlang dan lagi ini tugas biasa yang ia lakukan. Perihal tempat baru, Erick tak terlalu mempermasalahkan persoalan betah atau tidak. Erick selalu acuh dan terkesan tak peduli dengan hal itu. Yang terpenting, hal yang ia dapat disini tidak boleh lebih parah dari tempat lamanya.
Ponsel Erick berdering menandakan panggilan masuk. Ia melihat sebentar nama pemanggil yang muncul, tersenyum kemudian mengangkat panggilan itu.
"....."
"Iya, gue di Jakarta sekarang!"
"...."
"Oke, Weekend gue ke tempat lo!" Ucap Erick dengan sumringah.
"....."
"Ya iyalah, gue tinggal disini sekarang! Puas deh lo kalo mau liatin gue!" Ucapnya dibarengi dengan tawa yang keluar dari mulutnya.
"....."
"Iya, sekarang lebih dekat kan lo sama gue! bisa ketemu kapan aja!"
"...."
Panggilan berakhir. Erick menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus tersenyum.
.
.
.
__ADS_1
.
Beraambung...