Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Pembicaraan Konyol -


__ADS_3

Arga membawa Gia duduk disebuah kursi taman kota. Ia masih tak habis pikir dengan apa yang baru saja ia dengar dari penjelasan Gia. Rasa-rasanya semua ini sulit untuk ia yakini, namun kenyataan jika Erick telah tiada memang benar adanya.


Arga menoleh sekilas, melihat Gia yang memandang lurus kedepan. Arga pun melakukan hal yang sama, sambil menyilangkan sebelah kakinya.


"Kadang kita harus melewati ujian yang begitu sulit agar kita tau kadar diri kita sendiri, kuat atau tidaknya!" Ujar Arga tanpa menoleh sedikitpun pada Gia. Gia tertegun dengan ucapan Arga. Sebuah senyuman tipis keluar dari bibirnya yang masih dilingkupi kesedihan.


"Kau sudah melewati banyak ujian hidup, mungkin kau akan lulus dari ujian itu dengan nilai yang sempurna!" Sambung Arga lagi. Ia menatap langit yang cerah dihadapannya.


"Kamu banyak berubah, sepertinya kamu lebih dewasa sekarang!" Gia menoleh kearah Arga yang seketika juga menatap wajah sang wanita.


"Ya, banyak yang mengatakan aku berubah. Tapi sebenarnya hanya sikap dan perilaku saja yang terlihat begitu."


Gia mengangkat bahu, tak ingin bertanya lebih jauh.


"Karena hatiku masih saja sama seperti dulu!" Sambung Arga dalam hatinya sendiri.


Gia mendesah pelan. Mencoba menetralkan perasaan dihatinya. Benar kata Arga bahwa ia telah banyak melewati ujian hidup.


"Aku merasa tak adil, Ga! Kebahagiaan yang ku punya semuanya harus sirna dalam hitungan bulan. Dulu aku juga pernah kehilangan calon bayiku. Semuanya meninggalkan aku." Suara Gia terdengar tegar namun aura yang menyelimutinya sangat pedih untuk diutarakan. Gia seolah memendam rasa yang teramat sakit dan Arga memahami itu.


"Semua yang tak cocok dengan keinginan kita memang sering terasa tak adil. Tapi percayalah, semua yang terjadi adalah yang paling adil sesuai dengan yang kita butuhkan!" Jawab Arga bijak.


"Kau mungkin menginginkan Erick, namun semesta menganggap Erick bukanlah kebutuhanmu untuk memenuhi standart yang paling adil!" Arga menatap Gia yang menatapnya dengan tatapan penuh tanya.


"Maksudnya?" Jelas Gia bingung dengan pernyataan Arga. Alisnya tertaut satu sama lain. Membuat Arga ingin mengusap raut wajah polos wanita itu.


"Mungkin yang adil menurutmu, belum tentu adil untuk orang lain. Ada orang lain yang menuntut keadilan pada dirimu juga!" Arga menatap Gia dengan senyuman miring. Tentu maksud kata-katanya disini adalah dia lah yang menuntut keadilan itu pada Gia.


Jika ini tak terjadi, mungkin Arga takkan menuntut apapun. Tapi kenyataannya sekarang apa? Bisakah Arga bersikap egois sekarang? Ingin memiliki Gia sekarang? Setelah mengalah dimasa lalu? kenyataan seperti inikah jawaban untuk hatinya? Pantas saja ia tak bisa dsn seolah ditakdirkan tak bisa melupakan wanita ini dan harus hidup dalam perasaan yang sama bertahun-tahun.


Gia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ucapan Arga seperti kiasan yang harus ia terjemahkan sendiri. Ibarat kata-kata yang harus Gia artikan dan jabarkan dengan berpikir keras.


"Intinya, jodohmu dan Erick hanya sampai disitu!" jelas Arga pada Gia yang ia lihat seperti tak memahami ucapannya.


Gia mengangguk-angguk seolah mengerti. Padahal Arga yakin otak Gia belum memahami ucapannya tadi, Arga menahan gemas melihat wajah Gia yang masih saja tampak keheranan.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan kau pikirkan. Itu hanya kata-kata saja. Kau pikirkan saja tujuanmu kedepannya seperti apa. Kau tidak mau terus terpuruk kan?" Lagi-lagi kata-kata dan nada bicara Arga layaknya pria dewasa yang intelektual di pendengaran Gia. Sangat jauh berbeda daripada beberapa tahun lalu. Dulu Arga masih terlihat cuek tanpa kata, sekarang ia jelas-jelas berbeda. Perubahan tempat tinggal, lingkungan dan waktu seakan merubah segalanya, bahkan gaya bicaranya yang sekarang terdengar sangat bijak dan dewasa.


"Kamu berubah, Ga!" Gia menepuk-nepuk pundak Arga. Arga terkekeh mendapat perlakuan itu.


"Jadi, apa rencanamu selanjutnya?" Arga mengalihkan topik agar tak mematikan suasana.


"Aku sekarang sibuk dengan butik dan aku sekarang kuliah untuk mengejar ke-tertinggalan-ku." Gia memaksakan untuk tersenyum.


"Itu kemajuan dan itu bagus untukmu!" Suara Arga terdengar antusias.


"Kamu sendiri? Apa kamu udah puas dengan pencapaianmu sekarang?"


Arga menggeleng. Tentu bukan permasalahan materi atau jabatan yang kini membuatnya tak puas diri, tapi tentu saja karena kisah cintanya masih sama seperti dulu. Kelabu. Itu membuatnya sedikit insecure atas semua yang telah ia capai.


"Berusahalah mencapai yang belum kamu gapai." Gia mengepalkan tangan dihadapan Arga, seolah memberinya kekuatan. Lagi-lagi Arga tersenyum dan menampakkan lesung pipinya. Entah kenapa senyuman itu sempat Gia rindukan beberapa waktu lalu dan kini ia bagai terhipnotis dengan senyuman Arga itu. Ia ikut tersenyum, kali ini benar-benar tersenyum dengan binar bahagia bukan keterpaksaan lagi seperti sebelumnya.


"Bagaimana kabar bu Dewi, emm maksudku mama mu?"


"Mama baik, dia menyuruhku untuk segera memberinya cucu." Arga tergelak diakhir kalimatnya sambil menggeleng pelan.


"Tentu saja tidak, aku akan memberikan mama banyak cucu saat masanya tiba."


"Kamu jangan membuang banyak waktu, Ga! Pikirkan juga perasaan mamamu!"


Arga menatap lekat wajah Gia, ia mengunci pandangannya pada wanita didepannya. Gia menjadi kikuk dipandangi Arga seperti itu. Ia meremas jemarinya sendiri. Namun siapa sangka malah Arga beralih meraih jemari itu untuk di genggam.


"A-apa?" Tanya Gia gugup ketika merasakan hangat genggaman Arga ditangannya.


"Aku tidak akan membuang banyak waktu seperti saranmu, ku pikir waktu kurang lebih dua tahun sudah cukup membuatmu untuk mengikhlaskan Erick!"


"Hah?" Gia terperangah, lagi-lagi tak mengerti kemana arah ucapan Arga.


"Gia, maukah kamu menikah denganku dan membantuku mewujudkan keinginan mama?" Genggaman tangan Arga semakin terasa erat, ia sedikit memutar posisi duduknya yang berada disamping Gia. Kini ia menghadap Gia dengan begitu dekat. Entah kenapa jantung Gia terasa terpompa amat kencang saat ini. Namun, kewarasannya harus lebih mendominasinya saat ini.


"Hahaha, kamu mau akting melamar wanita mana, Ga?" Gia terkekeh. Tapi Arga tahu jelas jika itu tawa yang dipaksakan.

__ADS_1


Arga menggeleng. Ia serius dan bisa-bisanya Gia menertawainya.


"Jadi kamu serius? Serius mau aku jadi istri keduamu?" Kini wajah Gia tampak pias.


Arga berdecak sambil melepas genggaman tangannya, ia kembali memandang kedepan. Berfikir sejenak, kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran kursi taman itu. Arga mengingat Sandra, ya.. pasti karena Sandra lah Gia berujar demikian.


"Kau pasti memikirkan Sandra ya?"


Gia mengangguk. Arga makin gemas saja melihat tingkah wanita ini yang tak berubah. Dibalik sifatnya yang tegas tapi terkadang Gia sangat polos seperti tak mengerti keadaan. Arga jadi terpancing untuk mengerjainya.


"Aku ingin mengerjaimu, tapi kau bilang jangan banyak membuang waktu. Aku jadi malas untuk bermain-main lagi."


"Kamu? mengerjaiku?" Gia mengernyit. Wajahnya memerah. Entah marah entah malu.


"Humm, sebenarnya aku tidak berniat mengerjaimu. Sandra itu memang istriku tapi istri dalam kata-kata saja." ucap Arga enteng.


"Apa?"


"Sandra menghindari mantan pacarnya yang terobsesi padanya, dia mengenalkan aku sebagai suaminya. Dan akupun sebaliknya supaya lelaki itu tidak mengejar-ngejarnya terus!"


"Apa?" Suara Gia naik satu oktaf dari biasanya.


"Ya, awalnya hanya mengerjai lelaki itu saja. Tapi untuk menutupi rasa sakit hatiku padamu ya aku juga ikut mengerjaimu!" Arga terkekeh di akhir kalimatnya.


"Tapi kenapa kamu yang diminta Sandra untuk hal itu? Apa diam-diam dia menyukaimu?"


"Dia menyukaiku. Tentu saja. Sepupunya ini kan tampan dan baik hati" Gia menatap lelaki yang begitu percaya diri itu. Gia bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Arga sendirian. Tak peduli Arga meneriaki namanya ia berjalan terus, merasa kesal selama ini telah dibohongi oleh Arga dan Sandra. Pembicaraan konyol antara dia dan Arga harus diakhiri sampai disini, dan Gia memilih untuk pergi dari taman itu.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2