
Ini adalah kesekian kalinya Gia merasa gugup didekat Arga. Apalagi kali ini Arga seakan sungguh-sungguh dengan ucapannya. Arga serius mengajak Gia menikah dan sekarang Arga menunggu jawaban dari mulut Gia. Setelah kemarin memilih diam dan tak menjawab, kali ini Gia harus memberikan satu jawaban untuk Arga.
"Ga, Aku pikir sebaiknya kamu nggak gegabah dalam persoalan ini." Gia mencoba memberi saran pada Arga, yang malah membuat Arga mengerutkan kening, heran dengan ucapan Gia.
"Gegabah apanya?"
"Soal memintaku untuk menikah denganmu."
"Gia, kau--"
"Coba lihat dirimu, Ga!" Gia memandang Arga dari atas sampai bawah seolah ingin menunjukkan pada Arga tentang seorang Arga pada dirinya sendiri.
"Kamu itu..." Gia ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Arga berdecak dan memutuskan memutar arah kemudinya dengan seketika saat melihat persimpangan.
"Loh kita mau kemana? Harusnya rumahku ke simpang kanan, Ga!"
"Aku tahu!" Arga menekan kata-katanya seolah meminta Gia untuk diam karena ia yang akan menentukan tujuan mereka kali ini.
Hening, tak ada yang sanggup bersuara lagi untuk memecah keheningan yang tercipta. Waktu terus bergulir dan Gia bolak-balik melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya untuk melihat waktu. Malam semakin beranjak namun Arga juga tak kunjung menghentikan mobilnya. Entah kemana ia akan membawa Gia. Gia bingung sekaligus enggan bertanya diwaktu bersamaan.
Hingga setelah kurang dari satu jam, mobil Arga terasa melambat dan ia mematikan mesin. Gia terperangah melihat sekitar ketika menyadari Arga membawanya ke tempat yang tidak dia sangka sama sekali.
"Ancol? Ngapain kesini?" Gia melihat Arga yang mulai membuka seatbelt nya.
"Ayo!" Arga menuruni mobil dan walau bingung, Gia tetap mengikuti Arga.
Mereka berdua berjalan beriringan sembari merasakan angin sepoi-sepoi pantai yang mulai merayap masuk ke pori-pori kulit dimalam ini.
"Dingin?" Arga bertanya sembari membuka jas yang masih ia kenakan di tubuh atletisnya, dan dengan sekejap jas itu sudah menutupi tubuh Gia yang hanya dibalut dengan blus yang tidak terlalu tebal. Arga sedikit mengendurkan dasi yang terlihat mengunci lehernya dan kembali berjalan menuju sebuah Restoran yang menghadap langsung ke pantai. Terdapat banyak sunbeds atau cabana yang bentuknya sangat unik dan instagramable. Jika saja Arga dan Gia datang di sore menjelang senja, dapat dipastikan jika mereka akan melihat pemandangan sunset yang indah dari tempat ini.
Arga duduk disalah satu cabana dan Gia mengikutinya. Suasana malam disini amat romantis bagi orang-orang yang datang berpasangan. Tapi tidak bagi Gia dan Arga yang masih dalam hubungan yang belum jelas ini. Tentu saja Arga mengajak Gia kesini dengan tujuan memperjelas hubungan mereka sekaligus memperjelas pembicaraan mereka yang sempat terputus tadi.
"Silahkan.." Ucap seorang pelayan yang datang menghampiri keduanya sambil memberikan buku menu.
Arga memesan makanan dan minuman, sedangkan Gia yang masih bingung hanya menggelengkan kepala pada Arga.
"Berikan makanan yang sama denganku untuknya, jadikan dua porsi." Pinta Arga pada pelayan itu dan diangguki sang pelayan.
"Ga, kenapa kita kesini?" Gia menatap heran pada Arga.
__ADS_1
"Kau tadi mau bilang apa di mobil? Lanjutkanlah!"
"Emm, aku rasa ada baiknya kamu pikir-pikir lagi soal itu."
"Soal Apa?" Arga menatap pemandangan pantai dihadapannya.
"Soal permintaanmu untuk menikah denganku."
"Apa ada yang aneh dengan itu?" Sedikitpun Arga tak menoleh untuk melihat wajah Gia yang sudah menatapinya dengan serius. Ia fokus melihat deburan ombak.
"Ga, kamu tau kan statusku? Aku bukan seorang gadis lagi." Suara Gia melirih.
"Lalu?"
"Aku nggak pantas untukmu, Ga! Carilah yang sesuai dan sepadan denganmu!" Sahut Gia dengan nada naik satu oktaf.
Gia mengira Arga akan marah karena secara tak langsung ia menolak permintaan Arga itu. Tapi, Gia lupa jika Arga bukan seorang yang seperti dulu. Yang menyerah begitu saja setelah penolakannya. Arga telah melewati banyak waktu untuk menantikan Gia. Merelakan masa-masa emasnya hanya untuk mengharapkan saat-saat seperti sekarang ini akan terjadi. Arga terkekeh sambil memegangi perutnya, seolah ucapan Gia adalah kekonyolan yang sangat lucu, padahal Gia serius mengatakannya.
"Kenapa kamu tertawa, Ga?" Gia memegang bahu Arga dan mengguncangnya pelan.
"Kamu lucu!"
"Apanya yang lucu?" Gia turun dari duduknya dan berdiri dihadapan Arga, menghadang Arga dengan tatapan tajam.
Tiba-tiba Arga yang awalnya terkekeh ikut menatap Gia dengan serius pula Ia berdehem sejenak, lalu mata mereka bertemu dalam satu garis lurus.
"Aku memilihmu Gia! Aku menunggumu bertahun-tahun. Dan kau menolakku dengan alasan klise seperti itu! Apa kau pikir aku peduli jika kau masih gadis atau bukan? Apa kau lupa, pertama kali bertemu denganmu pun aku mengira kau adalah istri dari lelaki lain?" Arga menghujani Gia dengan kata-kata yang menghunus ke lubuk hati wanita itu.
"Ga..." Suara Gia terdengar makin lirih.
"Tolong jangan buat-buat alasan untuk menolakku, Gia! Jawablah sesuai dengan isi hatimu!" Arga ikut berdiri dan memegang kedua pundak Gia dengan kedua tangannya.
Mereka berdua tersadar ketika seorang pelayan datang untuk mengantarkan pesanan makanan mereka.
"Makanlah dulu, kau pasti belum makan malam." Ucap Arga.
Gia menurut dan mereka makan dalam keheningan. Hanya ada suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring, serta suara deburan ombak yang terdengar sayup-sayup untuk memecah keheningan. Suasana restoran tak begitu ramai karena hari semakin larut dan ini bukan weekend.
Setelah selesai dengan makanan mereka masing-masing, Arga merogohh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak berbahan bludru berwarna biru gelap. Ia membuka kotak itu di hadapan Gia.
__ADS_1
"Anggia, Will you marry me?" Tanya Arga. Ini bukan terlalu cepat. Ini sudah terlalu lama tapi bukan berarti ini terlambat. Ini adalah waktu yang tepat untuknya dan Gia.
Gia terkesiap, ia menatap nanar sebuah cincin berkilauan yang dihadapkan Arga padanya. Tapi ia bukan terfokus pada cincin itu, pikirannya mencerna ucapan Arga. Lagi-lagi lelaki ini memintanya untuk menikah. Padahal Gia sudah mencoba menolak dan mengalihkan agar Arga berfikir lagi tentang ini.
"Jawablah, Gia. Aku ingin kita serius kali ini!" Suara Arga melembut. Sudut bibirnya melengkung. Memberikan efek lesung dipipinya disaat yang bersamaan. Manis dan sangat manis, dengan mata yang berbinar-binar seolah enggan menerima penolakan.
Gia menghembuskan nafas perlahan. Meresapi semua yang terjadi. Menoleh sekilas untuk melihat pemandangan ombak yang terhempas-hempas ditepian pantai.
"Aku, aku akan menerimamu jika semua urusanku sudah beres!" Jawab Gia pada akhirnya.
"Aku akan membantumu membereskannya!" Sahut Arga dengan enteng dan santai seolah tahu urusan apa yang Gia bicarakan.
Arga meraih jemari Gia, dan mencoba memasangkan cincin yang ia bawa.
"Tapi, Ga..." Gia mencoba menolak untuk dipasangkan cincin berlian itu.
"Pakailah dulu, ini sebagai tanda bahwa kita akan menikah!"
"Tapi bagaimana--" Arga meletakkan jari telunjukknya didepan bibir Gia agar ia berhenti bicara.
"Sudah ku bilang aku akan membantumu membereskan semuanya. Kau bisa mengandalkan aku!" Ucap Arga dengan senyuman.
"Yang penting kau menerimaku kan?" Tanya Arga lagi sambil menaikkan alisnya.
Gia mengangguk dan seketika itu juga cincin itu didorong Arga agar melekat dan melingkari jari manis milik Gia. Keduanya tersenyum dengan perasaan bahagia. Arga meraih tubuh Gia dan hendak memeluknya.
"Ga.. pastikan semuanya beres, setelah itu kita menikah dan barulah saling memeluk!" Gia menghentikan tubuh Arga dengan tangannya. Ia takut semua kesalahannya dimasa lalu akan terulang lagi dengan Arga. Ia harus menerima restu dulu dari kedua orangtuanya dan keluarga mendiang Erick. Bagaimanapun Mama Anna masih ia anggap sebagai mertuanya.
"Untuk malam ini saja, Gi!" Arga mencoba menawar-nawar.
"Enggak!" Tegas Gia sambil melangkah menuju pinggiran pantai, meninggalkan Arga yang masih terduduk di cabana.
Bersambung...
Novel ini sudah menuju ending....
Maaf ya kemarin-kemarin sempat terbengkalai, karena aku fokus ke Novel aku yang satunya lagi (kalau sempat mampir ya kesana🙏🙏🙏) Jadi untuk dapat feel-nya, novel ini harus terjeda sementara kemarin. Maafkan ya.. Doain ya target aku sebelum akhir bulan ini kedua novel aku akan tamat dan aku mau buat gebrakan baru di novel selanjutnya.
Novel "Cinta diatas Hati" ini novel pertama aku, jadi maklumin ya kalo banyak part yang sedikit stuck dan ngebosenin. Ini adalah pelajaran berharga supaya kedepannya aku bakal buat Novel yang fokus dan gak bertele-tele. Terimakasih atas dukungan kalian para pembaca. Jangan lupa tinggalkan jejak.. Like, vote, komen, favorit dan rate..sertakan hadiah juga yuk❤️❤️❤️❤️
__ADS_1