
Arga Danuar Sastra, lelaki yang dilahirkan 25 tahun lalu oleh seorang wanita bernama Dewi Nilam. Dan ayahnya Indrawan Sastra. Mama Arga adalah seorang wanita biasa. Ibu rumah tangga yang hidup sederhana dirumah yang megah. Sedangkan ayahnya Arga, Indra, adalah pengusaha industri kelapa sawit yang diwariskan turun temurun dari kakek Arga kepada Ayahnya.
Arga adalah anak semata wayang. Keluarga mereka terkenal dengan kedermawanannya. Sehingga, Arga terbiasa hidup dalam keadaan sederhana dan suka berbagi. Meski begitu, penampilannya tidak bisa menutupi kenyataan bahwa dia dari keluarga berada.
Sejak kelas 11 SMA, Arga sudah ditinggalkan ayahnya untuk selama-lamanya. Ia hidup dengan ibunya. Berdua. Tanpa pernah mengenal sosok lainnya lagi sebagai ayah sambungnya.
Arga sangat menghargai apa yang sudah diwariskan ayahnya kepadanya. Maka dari itu, sedari masih bersekolah, Arga sudah belajar mengenai usaha yang akan diturunkan kepadanya.
Semenjak ayahnya tiada, Arga menjadi pemegang perusahaan ayahnya itu. Sebenarnya Arga ingin membuat usaha baru tapi usaha ayahnya mau tidak mau harus dia yang menanggulangi.
Karena Arga anak semata wayang dan Ayah Arga juga hanya punya satu saudara itupun perempuan. Tante Difa.
Tante Difa tidak mau tahu urusan perusahaan yang awalnya milik ayahnya itu. Tante Difa sudah terlalu nyaman dengan posisinya yang hanya mendapat bagian tanpa bekerja apa-apa. Jadi setiap bulan tante Difa hanya menerima bagiannya saja tanpa ikut turun ke perusahaan.
Keadaan itu membuat Arga belajar banyak dibidang bisnis. Ia tidak mau dicap sebagai orang yang hanya menikmati warisan kakek dan ayahnya. Dia ingin membuktikan bahwa ia juga mampu dibidangnya.
Arga juga tidak mau perusahaan yang telah ada dan susah payah dipertahankan ayahnya jadi hancur lebur karena ia yang tidak kompeten.
Untuk itu, Arga belajar dengan baik dan menyelesaikan sekolahnya. Lalu ia melanjutkan kuliah di Singapore Institute of Management untuk mempelajari ilmu bisnis lebih dalam.
Saat ini masih terlalu dini hari, tapi Arga yang selalu bersemangat bekerja sedang duduk diruang keluarga rumahnya. Ia sedang memantau bisnis keluarganya melalui laptopnya dan sedang melihat-lihat harga saham.
"Ga, kamu anterin mama ke pasar ya!" Ucap mama Dewi dipagi buta.
"Oke ma, Arga tunggu didepan" jawab Arga yang selalu menurut.
Arga terlihat sumringah sambil mengambil kunci mobil diatas buffet. Mama dewi sampai bertanya ada apa dengannya didalam hati.
Tak lama mama Dewi melihat Arga sudah mengeluarkan mobilnya dari carport disamping rumah. Mama Dewi masuk mobil dan Arga pun mengemudikannya.
"Kemarin malam, jadi kamu ketemu Dion di cafe? Bagaimana kabarnya Ga?"
Arga memanyunkan bibirnya dan berfikir mau menjawab.
Arga menggeleng.
"Nggak ketemu ma. Aku suruh dia balik pulang."
"Lho kenapa, Ga?"
"Iya soalnya aku nolongin orang, ma"
Mama Dewi menoleh melihat Arga yang sedang menyetir dengan serius.
"Nolongin siapa? Kamu kok nggak langsung cerita sama mama sih?"
"Gini nih, kalo cerita soal tolong menolong! mama tetep nggak mau ketinggalan!"
"Memang siapa sih yang kamu tolong?"
"Itu, yang ngontrak dijalan pertiwi diseberang Tirtanadi, ma"
Mama Dewi terkejut dan spontan terbit senyuman dibibirnya.
"Kamu ini ya, hafal banget kalo alamat cewek. Itu rumah Gia kan? memangnya Gia kenapa Ga? Kok mesti kamu tolongin?"
Mendadak Arga jadi bingung menjelaskan kepada mamanya. Karena ia tidak mungkin mengatakan Gia keguguran. Arga tau, sedikit banyak mamanya berharap agar Arga bisa dekat dengan Gia.
Dari gelagat mamanya yang dari pertemuan pertama dengan Gia selalu memuji-muji wanita itu untuk membuat Arga tertarik.
Arga bukannya orang bodoh yang tak bisa mengerti maksud dan tujuan mamanya. Makanya sekarang Ia tidak mau mamanya kecewa kalau tahu bahwa Gia sudah mengandung dan keguguran. Karena itu jualah yang membuat Arga pun harus menelan kekecewaan.
Mengetahui Gia sudah berumah tangga. Itu membuat Arga semakin menelan pil pahit.
Padahal awalnya Arga merasa biasa saja. Cuek dan masa bodoh dengan Gia. Tapi tidak dipungkiri, bahwa Arga mulai menanggapi mamanya yang sering memuji-muji Gia didepannya. Tak jarang Arga jadi memikirkan wanita itu. Terlebih ketika ia keluar kota, ia sering teringat Gia. Entah kenapa Arga pun tidak mengerti. Padahal mereka baru bertemu beberapa kali.
Hingga kejadian tak terduga ketika Arga menolong Gia malam itu, diparkiran cafe. Arga tidak berniat menemuinya, tapi mereka bertemu. Dan anehnya, keadaan membuat posisi mereka begitu dekat malam itu.
Arga akhirnya mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia mulai tertarik dengan Gia.
Mamanya tidak salah, wanita itu memang menarik, baik hati dan juga cantik tentunya. Hehehe
Tapi mengetahui Gia keguguran tentu saja membuat Arga syok. Lenyaplah sudah angan-angannya mau PDKT A.K.A pendekatan dengan Gia.
"Gia hampir pingsan di depan cafe itu juga, Ma. Jadi Arga bawa kerumah sakit" maaf ya ma Arga bohong.
"Jadi Gia nggak kenapa-napa kan Ga?"
"Udah nggak apa kok ma"
"Syukurlah"
Tak berapa lama, Innova silver Arga yang biasa dipakai untuk mengantar-ngantar mamanya sudah masuk ke dalam parkiran pasar. Arga memutuskan menunggu mamanya saja daripada kembali pulang dan menjemput lagi nanti seperti biasanya.
"Ma, Arga tunggu disitu ya."
"Tumben kamu nungguin. Jangan bilang kamu mau ketemu Gia makanya seneng banget kayaknya waktu mama minta anterin ke pasar!"
Arga cuma nyengir kuda melihat mamanya. Ia sudah ketahuan sebelum memutuskan berdalih.
Mama Dewi masuk kedalam dan berbelanja. Arga menunggu dikursi kayu dekat parkiran.
Cukup lama Arga menunggu Gia, eh mamanya maksudnya. Tapi belum selesai juga.
__ADS_1
"Ga, ayo pulang. Udah selesai nih mama belanjanya"
Arga mengangguk lesu.
"Kenapa kamu? Nggak ketemu sama yang mau ditemui?" sindir mama Dewi.
Arga hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mau bicara pun serasa tidak bersemangat.
"Is kamu ini" ucap mama Dewi sambil menepuk tangan Arga.
"Ma...." Ucap Arga dengan manjanya.
"Tuh kan jadi nggak semangat! Bener ini dugaan mama. Yaudah datengin sana kerumahnya. Kalau nunggu disini yang ada bukan Gia. Tukang ikan sama sayur yang ada, Arga!"
"Terus mama gimana?"
"Ya anterin dulu lah!"
"Siap bos!" Ucap Arga sambil berlagak hormat dengan mamanya seolah sedang hormat bendera ketika upacara.
Mama Dewi masuk mobil dengan tawa yang masih ada hingga ke dalam mobil.
"Mama bilang juga apa. Mama udah tau selera kamu itu ya kayak si Gia itu. Awalnya sok nolak. Sok cuek. Eh ujung-ujungnya mal--"
"Iya ma, udah dong ma" ujar Arga tak terima di ledek mama Dewi.
Arga mengemudikan mobilnya dengan fokus, tapi mendadak Arga berfikir dan berkata pada mama Dewi.
"Mama ikut aku aja ya ke kontrakannya Gia!" Ucap Arga mencari ide karena tak mungkin ia datang ketempat Gia sendirian mengingat ada Erick yang dipikir Arga adalah suaminya.
Arga bukan takut pada Erick. Tapi Arga menghargai status mereka yang sudah berumah tangga.
"Mama ngapain ikut kamu. Kan kamu mau pendekatan. Mama pulang aja lah!"
"Pendekatan apa sih ma? Ayolah ma!" Bujuk Arga.
"Kamu memang ya. Ngedeketin cewek aja mesti diikutin mamanya. Manjanya kelewatan Arga. Udah dewasa lho kamu!"
Arga menggeleng pelan mendengar jawaban mamanya. Ia tidak mau membantah lagi. Ia hanya melanjutkan perjalanan menuju kontrakan Gia.
****
...Tok tok tok !...
"Iya sebentar" ucap seseorang dari dalam rumah. Tak lama pintu pun terbuka.
"Arga?" Kata Gia.
Arga tersenyum kaku melihat pemandangan didepannya. Wanita itu, maksudnya Gia, sepertinya baru selesai mandi pagi. Aroma sabunnya menguar di indera penciuman Arga.
"Ibu? Ayo masuk bu!" Ucap Gia sambil menarik pelan tangan mama Dewi.
Arga yang tadi mematung dengan pikirannya, ikut masuk mengikuti mamanya yang sudah duduk duluan.
"Ada apa bu? Ibu sehat kan?"
"Ibu sehat kok, Gi. Kamu gimana? Udah sehat? Ibu denger dari Arga katanya kamu hampir pingsan kemarin pas ketemu di cafe"
Gia menatap Arga. Mencoba menanyakan apakah Arga memberitahu mama Dewi perihal keguguran Gia. Arga menggeleng pelan sebagai kode bahwa ia tidak mengatakan apapun.
Mereka seperti berbicara memakai telepati. Sudah bisa saling mengerti tanpa adanya pembicaraan.
Gia kembali menatap mama Dewi.
"Nggak apa bu, Gia udah sehat. Kemarin mungkin kecape'an aja"
Mama Dewi manggut-manggut.
Tak lama, Lyra datang menyuguhkan minuman untuk dua orang tamu yang datang kerumah Gia.
"Permisi, silahkan diminum!" Kata Lyra menawarkan.
"Ya ampun, Ra. Harusnya aku aja yang buat" ucap Gia segan pada Lyra.
"Nggak apa Gi, sama aja kok"
Mama Dewi dan Arga terlihat memperhatikan wanita yang kini hadir ditengah-tengah mereka.
"Perkenalkan, ini Lyra teman aku" kata Gia memperkenalkan Lyra pada dua orang didepannya.
Lyra menyalami mama Dewi, kemudian Arga.
"Saya Lyra, bu" ucap Lyra sopan.
"Saya Dewi dan ini anak saya Arga" jawab mama Dewi seraya memegang bahu Arga disebelahnya.
Arga hanya tersenyum sekilas seperti biasa, ia melihat Lyra lalu memperhatikan sekitar rumah yang tampak sepi.
Arga penasaran, kemana lelaki yang kemarin memukulnya itu. Arga mendadak kesal mengingatnya.
"Duduk disini aja, Ra. Ngobrol sama-sama" ucap mama Dewi yang mulai mengakrabkan diri dengan Lyra.
mama dewi memang humble dan mudah untuk menghangatkan suasana.
__ADS_1
Lyra pun ikut duduk bersama-sama.
"Aku boleh pinjam toiletnya nggak?" Kata Arga tiba-tiba.
Arga mau mencari lelaki yang memukulnya kemarin. Ia sekarang mau membuat perhitungan. Karena Gia sudah terlihat sehat. Arga tidak segan lagi memberi tinjunya pada lelaki itu.
"Boleh, itu dibelakang. Kamu lurus aja disebelah kiri" ucap Gia.
Arga melangkahkan kaki kebelakang rumah.
Sekarang mama Dewi, Gia dan Lyra mengobrol ala wanita. Apalagi yang dibahas kalau bukan fashion.
Ternyata mama Dewi sangat tertarik dengan usaha Gia. Bahkan mama Dewi ingin memesan baju yang didesain khusus oleh Gia. Tapi tak lama suara ponsel terdengar berdering dari kamar.
Gia merasa aneh, sepertinya suara ponselnya berbeda. Bukan nada dering Gia yang biasanya. Tapi Gia yakin suara itu berasal dari kamarnya.
"Maaf ya bu, Gia angkat telpon dulu. Ponselnya dikamar." Ucap Gia sembari berdiri meninggalkan Mama Dewi dan Lyra diruang depan menuju ke kamarnya.
Gia menarik handle pintu kamar lalu membukanya. Alangkah terkejutnya ia melihat Arga sudah berdiri disana sambil memainkan ponselnya.
"Ya ampun. Kamu ngapain disini?" Ucap Gia pelan tapi dengan nada terkejut.
Arga dengan santainya malah mengabaikan pertanyaan Gia dan balik bertanya.
"Mana suamimu?"
"Su-suami?"
"Iya, yang memukulku kemarin?"
"Di--dia bukan suamiku. Tapi kamu mau apa disini? Keluar sana!" Ucap Gia dengan nada jutek khasnya.
"Jadi dia bukan suamimu? Lalu kenapa dia berani memukulku? Kurang ajar!"
"Udah kamu keluar sana!!" Usir Gia pada Arga setengah mendorong-dorong tubuh Arga.
"Lalu, suamimu yang mana? Apa lelaki pertama yang ku lihat ketika aku mengantarkan ponsel?"
Gia tidak tahu mau menjawab apa pada Arga. Sekarang Gia tahu Arga juga pernah melihat Nico waktu itu. Arga pasti menanyakan perihal suami Gia yang mana karena kondisi Gia yang Arga tahu sudah keguguran. Astaga! Arga memang pasti beranggapan bahwa Gia harusnya punya suami kan?
Gia menggeleng cepat.
"Sudahlah. Kamu keluar dari sini. Aku takut mamamu nanti melihat kita disini. Aku tidak enak!"
Arga malah tersenyum sinis.
"Memangnya kenapa kamu harus tidak enak? Memangnya kita ngapain?" Ucap Arga yang sekarang malah mengeluarkan senyum mengejek.
Gia rasanya mau marah. Tapi kalau dia marah yang ada orang yang berada diluar sana akan mendengar suaranya.
Arga yang melihat Gia kebingungan malah menarik tangan Gia dan menyandarkan punggung Gia ke dinding. Lalu mengurung Gia dalam posisi itu dengan kedua tangannya.
Gia terkejut dengan perbuatan Arga. Gia hendak protes.
"A--apa yang kamu lakukan?" ucap Gia sedikit gugup.
Arga menatap dalam-dalam mata Gia. Ia ingin memastikan dalam posisi ini lagi apa perasaannya akan sama seperti ketika di parkiran cafe malam itu.
Arga kembali merasakan desir darahnya yang bagaikan dipompa, jantungnya berdebar-debar menatap dua bola mata Gia yang juga menatapnya. Dan tidak lupa Aroma sabun Gia yang tercium diawal kedatangannya tadi seperti memabukkannya. "Shit!" Umpatnya dalam hati.
Arga melihat Gia sudah membuang mukanya kesamping seperti menghindari tatapan Arga. Tapi posisi tubuh mereka masih sama.
"Katakan! Katakan yang mana suamimu? Kata Arga setengah berteriak. Sampai Gia membungkam mulut Arga menggunakan tangannya.
Arga yang mendapat perlakuan itu malah terpejam menghirup aroma tangan Gia yang membungkamnya seraya menundukkan kepalanya.
Gia menghembuskan nafas, menetralkan Aliran darahnya yang entah mengapa terasa mengalir deras. Ia menguasai diri menghadapi lelaki didepannya ini.
"Apa sekarang kamu mau tau? Sekarang kamu mau tau apa urusanku yang bukan urusanmu? Ucap Gia pelan tapi tegas dsn itu berhasil menyadarkan Arga.
Arga tersenyum kecut lalu melepaskan kungkungan tangannya pada tubuh Gia.
Arga diam tertunduk sambil menekan pelipisnya. Gia pun tidak berusaha pergi dari sana. Gia terdiam diposisinya, menunggu jawaban Arga.
Tapi tak lama, Arga pergi meninggalkan kamar dan berjalan keluar tanpa menjawab Gia.
Gia kembali menghembuskan nafasnya kasar. Lalu tak lama ia melihat ponselnya yang tadi ia anggap berdering.
Tidak ada notifikasi panggilan masuk dan tak terjawab. Gia membuka daftar panggilan. Ia menemukan satu nomor asing dipanggilannya beberapa menit lalu.
"Sepertinya, aku tidak pernah menelpon nomor ini? Ini nomor siapa?" Batin Gia.
Gia kembali keluar kamar dan melanjutkan percakapan diantara mereka ysng tertunda tanpa melihat wajah Arga sama sekali. Gia merasa marah pada Arga yang dengan seenaknya masuk kedalam kamar Gia.
Sampai akhirnya mama Dewi dan Arga pun berpamitan untuk pulang.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...