Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Bertemu Mama Anna -


__ADS_3

Suara hentakan sepatu yang beradu dengan lantai terdengar, perlahan-lahan suara langkah kaki itu terasa semakin mendekat. Arga yang sedang menopang dagu dengan sebelah tangannya pun tersadar dari lamunannya, ia lantas mengangkat kepalanya ketika seseorang itu sudah memasuki ruangannya.


"Mama.." Arga membentuk lengkungan di bibirnya. Memang tak sembarang orang yang bisa memasuki ruangannya. Setiap orang yang ingin menemuinya harus membuat janji temu dulu melalui Sekretarisnya, lain halnya jika itu adalah bagian dari keluarganya atau orang-orang terdekatnya, sudah pasti akan langsung menemuinya diruangannya seperti saat ini.


"Coba tebak, Mama kesini sama siapa?" Ucap Bu Dewi semringah.


Arga menggeleng. "Supir?" Tebaknya.


"Ya kalau sama supir ngapain juga Mama suruh kamu tebak." Sang Mama cemberut lalu bergeming ditempatnya.


"Hehe.. mana Arga tau, Ma. Duduk Ma." Arga bangkit dari posisinya dan menghampiri Mamanya.


Tapi, Sang mama malah menghindar dan membuka kembali pintu ruangan Arga. Arga mengernyit heran melihat Mamanya bertingkah seperti mengintip dari dalam ruangannya melalui pintu itu.


"Ada apa sih, Ma?" Arga mencoba mencari tahu apa yang dilakukan Mamanya dan ia celingukan melihat ke luar ruangan dari celah pintu yang dibuka sedikit oleh Sang Mama.


Mama Arga kembali menatap anaknya yang terlihat bingung, seulas senyum ia tampilkam dihadapan Arga.


"Kamu kenapa? Kayak gak semangat gitu?" Ucap Mamanya seraya menutup pintu dan berjalan menuju sofa didalam ruangan seolah mengalihkan perhatian Arga.


Arga mengusap tengkuknya dan mengikuti sang Mama yang lebih dulu mengambil posisi untuk duduk.


"Aku gak apa-apa kok, Ma!"


"Jangan bohong kamu! Mama ini udah kenal kamu seumur hidupmu lho!"


Arga hanya cengegesan sambil nyengir menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi. Benar saja, sebelum kedatangan Mamanya ia tengah melamun dan tak bersemangat.


Tak lama suara pintu ruangan Arga diketuk dari luar dan dengan suara khasnya Arga menyuruh sang pengetuk pintu untuk masuk. Ia menduga itu pasti sekretarisnya yang akan mengantarkan berkas, karena siapa lagi yang akan bisa sampai ke ambang pintu ruangannya di kantor kecuali sang sekretaris. Kalaupun itu bukan sekretarisnya mungkin itu adalah Dion.


Tapi kali ini dugaan Arga salah besar, ia tercengang ketika pintu itu telah terbuka. Disana Gia berdiri tegak sambil tersenyum sungkan.


Gia menggunakan blus lengan panjang berwarna hijau pupus dengan aksen tali yang diikat pita di bagian lehernya, serta bawahan celana kulot putih yang menjadi pelengkap penampilannya yang sederhana. Penampilan yang selalu cantik di mata Arga. Gia sudah cantik meski tak berpenampilan heboh. Auranya selalu membuat orang ingin menatap lama walau ia tidak menggunakan pakaian yang mencolok.

__ADS_1


"Gia?" Arga terkejut dan sontak berdiri dari posisi duduknya yang sudah nyaman.


"Boleh aku masuk?" Gia masih berdiri kaku diambang pintu dan menatap Arga yang tercengang sambil mengangguk untuk menjawab pertanyaan Gia tadi.


"Biasa aja, Ga! Nanti ilernya jatuh!" Celetuk Bu Dewi tiba-tiba, yang membuat Gia tertawa kecil dan Arga pun ikut tertawa karena godaan Mamanya.


Gia melangkah masuk dan duduk di sofa panjang, tepatnya disamping tempat duduk Arga tadi, karena Bu Dewi menduduki single sofa. Arga pun ikut duduk dan pandangannya tetap lekat memandang Gia.


"Jadi Mama datang kesini sama Gia?" Tanya Arga dan sang Mama mengangguk.


"Aku senang kamu mau main ke kantorku." Arga memulai kata-katanya pada Gia. "Tapi, ada apa? Apa ada hal penting yang ingin kamu bicarakan?" Arga menatap Gia lekat dan sang wanita mengangguk dalam.


"Tentang apa?" Tanya Arga lagi.


"Tentang pernikahan kalian." Celetuk sang Mama tak mau kalah.


Arga menatap Gia penuh tanda tanya. Benarkah Gia akan membicarakan hal itu, bukankah Gia sudah menyerah ketika Mama Erick menolak pernikahan mereka tempo hari.


Arga bergeming, ia seolah memikirkan sesuatu.


"Apa ada kaitannya dengan hubungan kita? Apa mama Erick akan memberi kita restu?"


Gia menggeleng. "Aku kurang tau, tapi ku rasa ini adalah hal penting. Jika bukan hal penting mungkin dia nggak akan meminta untuk bertemu. Jika kamu berkenan aku--"


"Baiklah, kita akan kesana." Ucap Arga memotong ucapan Gia.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Arga dan Gia baru saja tiba di kediaman orangtua Erick. Mereka duduk diruang tamu dan menunggu seorang asisten rumah tangga yang sedang memanggilkan sang pemilik rumah untuk segera menemui mereka.


Ketika Mama Anna berjalan mendekat, Arga menundukkan kepalanya. Entah kenapa ia merasa lebih gugup kali ini daripada pertemuan yang pertama kali dengan Mama Anna.


"Kalian repot-repot untuk kembali kesini, Mama jadi tidak enak." Ucap Wanita setengah baya itu, memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Ma. Kalau boleh tahu, hal penting apa yang ingin mama bicarakan pada kami?" Tanya Gia dengan sopan.


"Mama ingin menanyakan hubungan kalian." Ucapnya dengan nada datar.


Arga yang hanya diam tak tahu akan menjawab apa, ia memutuskan untuk menjadi pendengar saja kali ini dan akan menjawab jika memang ditanya.


"Sejauh apa hubungan kalian hingga kalian memutuskan untuk menikah?"


"Aku dan Arga tidak memiliki hubungan apapun sebelumnya, Ma. Kami hanya berteman." Ucap Gia jujur.


"Ah, Mama pikir dia mantan pacarmu sebelum dengan Erick." Mama Anna menunjuk Arga dengan dagunya.


Gia menggeleng. "Kami tak pernah menjalin hubungan, Ma."


"Benarkah? Atau kalian pernah punya hubungan dibelakang Erick ketika Erick masih menjadi suamimu?" Suara wanita itu berubah dingin.


Gia yang mendengar itu sontak merasa terkejut, ia merasa sikap Mama Anna kembali seperti saat dulu, saat Mama Anna belum merestui hubungannya dengan Erick, sebelum mereka menikah. Terkesan Angkuh dan menjadi orang lain, tidak ada kehangatan seperti biasa dalam kata-katanya.


"Tante, saya perjelas saja ya. Saya memang mencintai Gia sudah sejak lama. Bahkan sebelum Gia dan Erick menikah. Tapi, Gia tidak pernah menerima cinta saya karena dia lebih memilih Erick pada masa lalu. Dan saya tegaskan jika kami tidak pernah menjalin hubungan apapun dimasa lalu, apalagi menjalin hubungan diam-diam dibelakang Erick!" Arga yang tadi diam menjadi emosi dengan ucapan Mama Anna yang terkesan menuduh Gia dan Arga seperti menghianati Erick selama ini.


"Baiklah.." Ucapnya. Lalu, Mama Anna memanggil seorang ART-nya dan membisikkan sesuatu. Setelah beberapa saat, ART itu kembali dengan membawa sebuah laptop. Itu adalah Laptop milik Erick, yang sempat Gia kembalikan pada Mama Anna sesaat setelah Erick meninggal.


Barang-barang Erick yang tertinggal dirumah dinas, kebanyakan Gia kembalikan pada Mama Anna, karena Gia akan pindah dari rumah dinas itu ke rumahnya yang sekarang ia tempati bersama Nissa. Ia hanya membawa barang-barang Erick yang ia anggap sebagai kenangan manis untuk di kenang.


Mama Anna menyalakan Laptop itu dan entah mencari apa didalam sana. Ia seperti tak mempedulikan dua orang dihadapannya ini dan asik sendiri. Ia sibuk dengan kegiatannya bersama laptop itu beberapa saat.


"Jika memang begitu, maka menikahlah!" Tiba-tiba Ucapan Mama Anna mengejutkan Gia dan Arga. Tapi Mama Anna terus saja memainkan jemarinya di Laptop milik Erick.


Arga terkejut begitu juga dengan Gia. Mereka berdua tak mengerti dengan jalan pikiran wanita setengah baya itu. Entah apa yang ada di benaknya.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2