Cinta Diatas Hati

Cinta Diatas Hati
- Membereskan -


__ADS_3

Gia mengerjapkan matanya ketika merasa matahari mulai menelisik masuk melalui celah-celah jendela kamar. Terasa silau karena gorden kamarnya baru saja disibakkan oleh Nissa.


"Kak, tumben kakak jam segini baru bangun?" Nissa memandang Gia yang sibuk mengucek matanya sendiri.


Gia menguap sejenak lalu melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 10 pagi. Gia memijat pelipisnya mengingat kejadian malam tadi. Entah jam berapa Arga mengantarkannya pulang, Gia tak sempat melihat waktu sanking lelahnya. Ia langsung masuk ke kamarnya dan terlelap.


"Tadi malam Kak Arga yang nganterin kakak ya?" Tebak Nissa.


"Hmm"


"Dia siapa sih, Kak?"


Gia menggaruk hidungnya sendiri lalu melipat bibirnya menjadi garis lurus. Meninmbang-nimbang jawaban yang pas untuk menjawab sang adik.


"Kamu nggak kuliah?" Gia memilih mengalihkan pembicaraan.


Nissa menggeleng. "Hari ini aku free, Kak!" Nissa melihat gelagat aneh sang Kakak yang senyum-senyum sendiri. "Kita jalan-jalan, yuk!" Ajaknya.


"Maaf ya dek, Kakak hari ini nggak bisa." Gia mengingat hari ini akan ada pertemuan antara dirinya dan Bu Dewi, Mamanya Arga.


Akhirnya Nissa mendesaah pasrah dan memutuskan untuk beranjak dari kamar kakaknya.


"Kak, aku lihat Kakak sama Kak Arga cocok, kenapa nggak nikah aja?" Celetuk Nissa dari ambang pintu, berlagak mengintiip kakaknya dengan menyembunyikan badan dan hanya memunculkan kepalanya agar terlihat.


Gia tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Nissa, ia terbatuk-batuk karena gugup.


"Kamu pikir nikah itu main-main apa?" Ucap Gia setelah batuknya reda.


"Ya kali aja kalian sudah berencana kan.. Kalo aku sih, yes!" Nissa nyengir dan menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Apaan sih kamu!" Gia menutup wajahnya dengan selimut karena malu dengan ucapan sang adik.


----


"Jadi bagaimana, Gi? Kamu dan Arga siap kan menikah bulan depan?" Tanya Bu Dewi to the point. Saat ini Gia sedang berada dirumah Arga di Jakarta. Sesuai ucapan, Bu Dewi ikut kesini saat Arga kembali ke Jakarta. Dan lagi, Ia benar-benar datang untuk membicarakan soal pernikahan Arga. Yang awalnya Gia pikir Arga akan menikah dengan seorang wanita yang sepadan dengan Arga, tapi nyatanya wanita pilihan Arga itu tetaplah Gia dan bukan orang lain.


Gia menggenggam jari jemarinya sendiri. Entah kenapa pertanyaan Bu Dewi kali ini membuatnya gugup. Ini pertemuan pertama mereka setelah beberapa tahun tidak bertemu dan Bu Dewi langsung membicarakan akar persoalannya, membuat Gia sedikit bingung karena takut mengecewakan Bu Dewi.

__ADS_1


"Gia siap kapan aja, kalau mama mau besok kita menikah juga dia siap!" Ucap Arga sambil mengerlingkan mata ke arah Gia, menggodanya.


"Apaan sih?" Gia melotot ke arah Arga yang dibalas kekehan oleh lelaki itu.


"Ya jangan besok juga lah, Ga! Kamu ini nggak sabaran banget!" Sahut sang Mama.


Arga terkekeh lagi dan memilih menyesap minuman yang sudah tersedia di hadapannya.


"Kamu jangan gugup!" Bu Dewi meraih tangan Gia dan menggenggamnya. "Ibu sudah mendengar semuanya dari Arga. Ibu paham kondisi kamu dan kami menerima semuanya." Bu Dewi memandang lekat wanita pilihan anaknya itu.


"Tapi, sebelum kamu menikah dengan Arga.. Ibu juga mau kamu tahu kalau Arga juga memiliki kekurangan!" Ucap Bu Dewi dengan ragu-ragu, bahkan Arga sampai melihat sang Mama dengan tatapan heran. Belum mengerti arah pembicaraan ini.


"Memangnya Arga kenapa, Bu?" Gia beralih menatap Arga seolah meminta penjelasan. Tapi Arga malah mengangkat bahu tanda tak mengerti maksud sang Mama.


"Tak apa, Arga juga pasti memliki kekurangan yang belum kamu ketahui. Ada baiknya kamu tanyakan langsung padanya!" Bu Dewi melirik Arga. Arga makin bingung.


"Ma, maksudnya apa sih?" Tanya Arga.


"Kamu ini, sudah tak pernah bilang sama Mama! Sekarang kamu mau nutupin juga dari calon istrimu?" Senggak sang Mama.


"Soal apa?" Arga menatap sang Mama heran.


"Iya, Ma. Nanti aku jelasin sama Gia." Ucap Arga.


Gia hanya terdiam dan mencoba menerka apa yang dirahasiakan Arga tentang kondisinya. Gia akan menunggu sampai Arga menjelaskan sendiri nanti, Gia tak ingin memaksa Arga untuk berbicara jika memang Arga memilih tetap bungkam.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Rumah besar itu terasa sepi, penghuninya satu persatu meninggalkan rumah yang telah menjadi saksi tumbuh kembang mereka. Semua sudah memiliki rumah sendiri dan tinggal bersama keluarga masing-masing yang sudah dibina. Sementara seorang Wanita tua itu sedang menikmati masa tuanya sendirian di dalam rumah peninggalan Almarhum suaminya. Ia merasa kesepian, hanya beberapa asisten rumah tangga yang menjadi kawannya didalam rumah. Terkadang cucu-cucunya datang untuk berkunjung, tapi ia harus menunggu akhir pekan untuk merasai kebersamaan itu.


Hari ini ia kedatangan tamu, menantunya. Menantunya yang sudah menjanda karena ditinggal pergi selama-lamanya oleh anak bungsunya, Erick. Gia datang berkunjung seperti biasanya.


Gia termasuk sering datang untuk menemui Mama Anna dirumah besar ini. Walau ia harus melewati jalur udara untuk kesana-kemari. Gia adalah wanita yang sempat ia ragukan untuk menjadi pendamping Erick dulu, dan sempat ia hina. Tapi ternyata Gia-lah yang menjadi menantunya dan membersamai Erick hingga ajal menjemput sang anak. Ah, menantu yang sempat ia tolak restu dulu.


Gia memeluk mama Anna sejenak, lalu mama Anna menatap seseorang disamping menantunya itu. Tak seperti biasanya, Gia hari ini datang berkunjung bersama seorang lelaki. Mata Mama Anna memicing, mencoba menelusuri sosok yang tengah berdiri dan tersenyum ke arahnya itu.


"Siapa dia, Gia?" Tanya Mama Anna.

__ADS_1


Arga mencium tangan mama Anna dengan takzim seraya memperkenalkan diri.


"Saya Arga, Tante."


Arga dan Gia baru saja mendapat restu dari kedua orangtua Gia. Dan memutuskan langsung menuju kerumah orangtua Erick untuk mendapat restu yang sama. Inilah yang Gia katakan harus dibereskan dulu sebelum memutuskan untuk menerima pinangan Arga. Mertuanya yang tinggal sendiri, dan Gia tahu sangat sulit untuk ditaklukkan. Pasti Mama Anna akan menentang keras pernikahan Gia dan Arga karena ia masih menganggap Gia adalah istri dari anaknya.


"Ma, boleh kita masuk dulu?" Gia mencoba mencairkan suasana agar mereka sama-sama nyaman untuk saling berbicara.


Akhirnya Mama Anna mempersilahkan keduanya masuk dan duduk. Gia mulai menanyakan kabar Mama Anna, bukan sebagai bentuk basa-basi tapi ia memang terbiasa melakukan itu.


"Begini tante, saya ingin melamar Gia menjadi istri saya." Ucap Arga memulai pembicaraan.


Mama Anna bergeming, ia sudah menerka-nerka hal ini sedari awal. Matanya berkaca-kaca.


"Gia tidak mau menerima saya jika saya belum mendapat restu dari Tante. Karena Gia sudah menganggap Tante adalah orangtuanya juga." Sambung Arga lagi dengan tenang.


Gia menunduk dan enggan mengangkat wajah. Ia sibuk menerka-nerka apa yang tengah dipikirkan Mama mertuanya ini tentangnya. Apa mertuanya akan menganggapnya buruk karena memutuskan untuk menikah lagi?


"Baiklah, saya sudah mengerti maksud dan tujuan kalian datang kesini." Mama Anna menjawab dengan ekspresi datar yang terkesan dingin.


"Saya tidak memiliki hak untuk melarang-larang pernikahan kalian." Ucapnya dengan nada sama dinginnya dengan di awal tadi.


"Ma..." Gia menatap mata wanita itu yang sepertinya akan mengeluarkan cairan bening.


"Gia, Mama tau Erick udah nggak ada. Tapi bagi Mama, Erick tetap hidup dan selalu berada di hati Mama. Kenapa kamu tidak bisa menganggap begitu juga, Nak? Kamu mau menggantikan posisi Erick dengan orang lain?" Tangis itu pecah dan Gia pun meneteskan airmata mendengar ucapan sang mertua.


"Bukan begitu Ma! Erick, Erick punya tempat tersendiri di hati Gia." Gia tercekat karena tiba-tiba bayangan Erick terlintas dikepalanya. "Jika Mama tidak merestui kami. Gia akan menolak pernikahan ini, Ma!" Sambung Gia lagi sambil tersedu-sedu. Ia mencoba meraih tangan mertuanya itu.


Arga memejamkan mata sejenak karena mendengar pernyataan Gia. Haruskah ia menerima penolakan lagi setelah ini? Ia salah besar jika menganggap ini semua sangat mudah.


"Mama akan merestui kalian jika Erick juga merestui!" Ucap Mama Anna.


"Apa?" Arga terperangah dengan ucapan Mama Anna itu. Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal akan memberi pernyataan restu? itu mustahil.


"Ga, sudahlah!" Ucap Gia seolah ingin menghentikan pembicaraan ini dan secara tak langsung seperti menyudahi perjuangan Arga.


Gia sibuk menenangkan mertuanya. Sementara Arga sibuk menata perasaannya yang mendadak kacau balau.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2