
Saat ini, Erick sedang berada didalam ruangan sebuah rumah sakit. Ia dan Frans sedang duduk di sofa. sedangkan Indira, istri Frans sedang memerankan perannya sebagai dokter dengan meletakkan sembari menekan stetoskop di dada pasien yang adalah papa mertuanya. Ayah Frans dan Erick.
"Papa udah nggak apa-apa kok. Makan nya tetap dijaga ya, pa. Karena Gula darah papa masih tinggi"
Papa Erick, Johan. Hanya mengangguk dengan posisinya yang berbaring.
"Ndi, tapi bener kan papa udah nggak apa-apa?" Tanya seorang ibu yang adalah mama Frans dan Erick. Anna. Mama Anna terlihat duduk disamping ranjang suaminya.
"Iya ma, papa istirahat yang cukup aja sekalian kalau bisa papa jangan banyak pikiran dulu ya." Ucap Indira sopan.
Mama Anna menatap wajah putra bungsunya yang terduduk. Merasa dipandangi Erick mengurungkan niat untuk membalas tatapan mamanya. Ia memilih menunduk.
"Yaudah ma, aku lanjut periksa pasien yang lain ya. Papa semoga lekas sembuh ya. Aku permisi dulu." Pamit indira.
Kemudian indira menatap Frans, suaminya.
"Sayang, aku periksa pasien lain dulu ya"
"Oke sayang, selamat bertugas!" ucap Frans kepada istrinya yang tersenyum dan langsung meninggalkan ruangan itu.
Mama Anna berdiri dan beranjak dari posisinya. Sebelum mencapai pintu untuk keluar, ia kembali menatap Erick.
"Rick, temani mama beli makan siang yuk"
Erick sudah tahu maksud mamanya mengajaknya keluar dari ruangan itu. Karena Erick yakin ada hal yang ingin mama nya sampaikan kepadanya dari tatapan mata mama Anna.
Erick bangkit dan beranjak tanpa sepatah kata pun.
"Frans, mama titip papa ya. Kalau perlu apa-apa telpon saja mama ya!" Ucap mama Anna kepada Frans.
Frans mengangguk. "Oke ma" sahutnya.
Erick dan Mama Anna keluar bergantian dari ruangan tempat papanya dirawat.
"Ma, Erick mau bicara." Kata Erick memulai percakapan dengan Mama nya yang baru ia temui hari ini sepulangnya dari luar kota kemarin.
"Mama juga mau bicara sama kamu!" Ucap mamanya cepat sambil melangkah menuju kantin rumah sakit.
Sesampainya dikantin. Mama Anna dan Erick duduk dan memesan minuman untuk menyegarkan tenggorokan mereka sebelum berkata-kata yang pasti akan adanya perdebatan diantara mereka.
"Kalau kamu mau bicara soal wanita itu, jawaban mama tetap sama." ucap mama Anna memulai percakapan.
"Ma, tolonglah. Erick cinta sama Gia, ma. Dan kami sudah terlalu lama bersama. Erick mau hubungan kami ada statusnya."
"Status apa maksud kamu? Pernikahan? Kamu nggak perlu menanyakan hal itu sama mama, Rick. Mama tetap nggak setuju!"
"Apa alasannya masih sama, ma? Apa hanya karena Gia orang biasa?"
Mama Anna terlihat diam dan Erick tau artinya adalah mamanya membenarkan kata-kata Erick.
"Ma, tapi Gia sempat mengandung anak Erick ma! Walaupun sekarang kami sudah kehilang--"
"Apa?" Kata mama Anna terkejut.
Erick menatap mata mamanya yang terkejut itu.
"Iya ma, itu kekhilafan Erick. Erick minta maaf ma, maka dari itu bisakah sekarang mama merestui kami ma?"
Mama Anna terdengar menghembuskan nafasnya berkali-kali.
"Kamu benar-benar keterlaluan Erick! Bisa-bisanya kamu mengecewakan kami!" Ucap mama Anna marah.
"Apa kamu tidak liat kondisi papamu, nak? Papa mengharapkan dapat melihatmu menikah! Papa dan mama sudah tua. Kami ingin melihatmu menikah sebelum kami berpulang untuk selama-lamanya meninggalkan kalian semua!" Ucap mama Anna yang kini malah lirih dan mengiba hati.
"Ma, tolonglah ma. Mengertilah kondisi Erick dan Gia. Untuk itulah Erick mau menikah ma, salah satunya agar papa dan mama juga bisa melihat Erick menikah. Dan tentunya Erick hanya akan menikah dengan Gia"
Mama Erick menaikkan tangannya sebagai kode untuk Erick berhenti bicara dan memohon.
"Cukup Erick! Saat ini papamu tidak boleh banyak pikiran. Jangan tambahi beban pikiran orangtuamu, nak! Ini adalah permintaan terakhir mama kepadamu."
"Tinggalkan wanita itu, pulanglah kerumah dan menikahlah dengan wanita lain yang lebih pantas!" tambah mama Anna dengan tegas.
Erick menatap mata mamanya dengan mengiba. Meminta agar mamanya membuka hati dan memberi restu untuknya.
Tapi nyatanya, wanita yang masih cantik dan fashionable diumurnya yang setengah baya itu tetap tidak mau tahu apapun pernyataan anaknya.
Mama Erick berdiri ingin beranjak dari posisinya. Erick masih duduk dan memandang kosong ke jalanan dari balik kaca pembatas.
"Mama juga seorang wanita kan? Bisakah mama menganggap diri mama adalah Gia. Yang sudah ternodai oleh lelaki brengs*k seperti Erick? Apa mama tau rasanya hidup seperti itu? Dengan kami berpisah, haruskah Gia menikah dengan lelaki lain nantinya? Gia pasti merasa tak layak untuk siapapun ma!" Ucap Erick lemah.
"Itu semua kesalahannya sendiri yang tidak bisa menjaga harga diri!"
"Ma!" Ucap Erick setengah berteriak seraya ikut berdiri.
"Bukankah anakmu ini yang brengs*k telah merusaknya ma? Tidakkah mama mau Erick mempertanggung jawabkan perbuatan Erick, ma?"
Mama Anna hanya mendengus kemudian pergi meninggalkan Erick sendiri. Erick terduduk lemas dikursinya. Ia merasa telah gagal meminta restu yang ia dan Gia harapkan.
****
Senja telah menggantikan sore yang terang. Kini langit jingga menyapa dunia dengan kilaunya. Membuat dua orang yang sedang duduk didepan rumah beranjak masuk kedalam.
"Oh iya, Ra. Besok bisa nggak temani aku ketemu seseorang." pinta Gia pada Lyra sambil melangkah masuk duluan kedalam rumah.
Mereka sekarang semakin akrab saja sebagai teman baru. Padahal dulu Lyra menganggap Gia adalah rival sejatinya. Tak disangka Gia malah menolongnya dan memberinya tempat tinggal hingga sidang putusan cerainya dengan Nico selesai. Dan hak hak Lyra dapat diambilnya kembali.
"Mau kemana, Gi?" Tanya Lyra sembari menutup pintu rumah dan masuk juga.
"Itu, usaha aku kan ada yang mau maharin. Hihihi"
"Oh itu, jadi orangnya serius ngajak ketemuan, Gi?"
"Huum. Doakan ya, Ra biar berhasil"
"Pasti dong. Kalau berhasil traktir ya"
"Beres itu mah gampang. Nanti aku traktir nasi uduk didepan Gang itu."
__ADS_1
"Hahaha, boleh lah. Tapi kalau cair nya banyak. Bisa dong kita nongkrong dicafe, masa' cuma makan nasi uduk"
Gia menatap Lyra heran tapi ia tertawa juga dengan ucapan Lyra.
"Kan kalau cairnya banyak kamu berarti sukses jadi pengusaha muda, Gi" tambah Lyra membela ucapannya yang tadi.
"Iya deh iya. semoga ya"
Tiba-tiba ponsel Gia bergetar menandakan ada pesan masuk. Dari nomor tidak dikenal.
From: +62 853-XXXX-XXXX
kamu belum jawab yang mana suamimu!!!!!
Gia terbengong membaca pesan itu yang dikirim melalui aplikasi bergambar telepon berwarna hijau.
Gia meng-klik nomor yang tertera dan melihat info dan nama yang tertera dikolom ujung. 'Arga Danu'
"Astaga" ucap Gia bersuara. Yang membuat Lyra yang juga sedang memainkan ponsel ikut menoleh kearahnya.
"Kenapa Gi?" Ucap Lyra heran mendengar kata-kata Gia tadi.
"Nggak, nggak apa kok!"
Gia kembali mengotak-atik ponselnya, sekarang ia tahu bahwa nomor ini juga yang tadi pagi ada dipanggilan keluar di ponselnya.
"Berarti dia tadi yang menelpon nomornya sendiri menggunakan ponselku!" Geram Gia didalam hati.
Semakin Geram saja Gia kepada Arga. Sudah masuk kamarnya tanpa izin. Sekarang ia malah mencuri nomor ponsel Gia. Ya itu sama saja dengan mencuri.
Anggia Eldira:
Kamu nggak sopan ya, curi nomor aku! Jangan mentang-mentang kamu udah pernah tolongin aku kamu jadi seenaknya!😈😈😈
Arga Danu:
Aku nggak curi nomor kamu kok. Liat aja buktinya nomor kamu masih kamu pakai kan! 😇😇😇
Anggia Eldira:
Arga Danu:
Yah.. kok udah? baru juga mulai, udah capek aja! 😞😞
Gia mengabaikan pesan terakhir Arga, ia merasa kesal dan malas berdebat dengan Arga.
Gia memutuskan bertukar pesan dengan orang yang akan melihat-lihat desainnya besok. Mereka sudah saling tukar nomor pribadi dari akun sosmed. Dan mereka besok akan bertemu. Gia mengirim pesan tanda setuju dan menentukan waktu mereka akan bertemu. Gia akan bertemu besok di jam makan siang dengan orang itu. Gia akan pergi dengan Lyra, karena Lyra pun sudah setuju.
Tapi lagi-lagi pesan dari Arga masuk ke ponselnya. Kali ini lebih membuat Gia emosi.
Arga Danu:
A
K
.
T
N
G
G
.
J
A
W
A
B
A
N
.
K
A
M
😄
Gia membatin membaca pesan Arga. Ternyata Arga memang sangat penasaran dengan status Gia.
"Nih anak ya, kemarin aku lemah dirumah sakit dia nggak se-ngeselin ini. Sekarang kok balik kayak di awal ketemu ya. Nyebelin abis!!!" Gerutu Gia dalam hati sambil mengetik pesan di ponselnya.
Anggia Eldira:
Oh, jadi kamu nunggu jawaban aku? Soal status aku? Siapa suami aku? Katanya nggak mau ikut campur urusan yang bukan urusanmu? Sekarang kok mau tau ya. Mau tau aja apa mau tau banget?
Terlihat dilayar ponsel 'sedang mengetik...' Menandakan bahwa yang sedang dikirimi Gia pesan pun akan segera membalas pesannya.
...Drtt..drrtt......
1 pesan baru masuk ke ponsel dan Gia segera membacanya.
Arga Danu:
__ADS_1
MAU TAU BANGET!!!!! SERIUSAN!
"Ya ampun, orang kayak gini sekali-sekali memang perlu dikerjain ini. Biar tau rasanya ditinju kenyataan" batin Gia lagi dengan mode jail nya yang ON seketika.
Anggia Eldira:
Diantara kedua lelaki itu nggak ada yang suami aku! Puas kamu?
'bingung bingung deh lu!' batin Gia. Gia terkekeh miris dengan pesannya sendiri. Bisa-bisanya ia memberitahu Arga tentang aibnya sendiri. Tapi ia sudah tak perduli. Toh Arga juga sudah tahu kenyataan bahwa Gia pernah keguguran.
Gia menunggu dengan harap-harap cemas, apa reaksi Arga ketika tahu kenyataan yang ia beritakan.
Diponsel terlihat beberapa kali tulisan 'sedang mengetik...' lalu tulisan itu hilang. Dan tiba-tiba ada lagi. Tapi lumayan lama, belum juga masuk pesan baru ke ponsel Gia. Tampak sekali bahwa orang diseberang sana sedang berpikir untuk membalas pesannya.
Tak lama ponselnya bergetar lagi. 1 pesan baru.
Arga Danu:
"Berarti kamu hebat dong, direbutin sama 4 orang lelaki!"
Gia menjadi bingung menatap pesan dari Arga barusan, siapa 4 orang lelaki yang dimaksud Arga. Dan apa katanya? Hebat? Direbutin kok hebat. 'Yang ada direbutin tuh pusing' batin Gia.
Anggia Eldira:
4 orang siapa? Mana pernah aku direbutin 4 orang. Aneh aja kamu!
Arga Danu:
1. Suamimu.
2. Lelaki yang bersimpuh dikakimu.
3. Lelaki yang memukulku.
4. Aku.
Gia makin terperangah membaca pesan Arga barusan. Gia menggeleng-gelengkan kepalanya tapi ia merasa lucu dengan pesan terakhir Arga. Bisa-bisanya Arga menyelipkan 'Aku' diantara ke empat orang yang dia bilang memperebutkan Gia.
"Kenapa?" Suara Lyra mengalihkan mata Gia yang awalnya menatap ponsel jadi menatap Lyra.
Lyra melihat ekspresi Gia yang bertukar pesan, tadinya seperti marah tapi sekarang Gia senyum-senyum sendiri seperti anak remaja habis digombalin.
"Nggak apa, Ra. Ini si Arga rese' banget"
"Arga?"
"Huum"
"Ah iya, aku lupa. Arga itu siapa mu, Gi? Kok aku perhatiin dia menatapmu beda gitu!"
Gia meletakkan ponselnya dan melihat Lyra yang sepertinya tengah memikirkan sesuatu.
"Beda gimana sih?" Tanya Gia
"Iya, aku liat sih tatapan dia itu... Emmm tatapan penuh cinta sama kamu"
Gia terkekeh mendengar kata-kata Lyra yang padahal serius itu.
"Aku serius tau!"
"Hahahaha yayaya"
"Iya Gi, eh tapi kamu nggak punya hubungan kan sama dia? Kamu masih punya Erick loh!" Kata Lyra memperingatkan.
Tiba-tiba ponsel Gia bergetar lagi. Gia diam sesaat dari tanya jawab yang diajukan Lyra. Ia membuka pesan di ponselnya.
Arga Danu:
Kenapa cuma di baca pesannya? Kamu pikir aku ngetiknya nggak bimbang apa? Dan nge-send nya juga aku ragu-ragu, tau!
"Hahahahaa" tawa Gia meledak ditengah-tengah keheningan dirumah itu. Lagi-lagi Lyra menatap Gia tidak percaya.
"Gi, kamu kenapa sih? Jangan bilang kamu sama Arga ada apa-apa ya!" Ucap Lyra seperti mengancam.
Gia kembali meletakkan ponselnya tanpa berniat membalas pesan Arga. Sebodo amat lah! Batin Gia.
Gia malah memperhatikan Lyra yang sewot.
"Kamu ini, Ra. Aku mana berani ada apa-apa sama Arga. Aku ada Erick! Aku juga tau diri, Ra. Lagian mana mau si Arga sama aku yang punya aib ini. Sudah nggak suci. Pernah keguguran lagi."
Lyra menatap Gia tidak percaya dengan kata-kata Gia barusan.
"Kamu nggak boleh bilang gitu lho, Gi. Jodoh itu nggak ada yang tau. Bisa aja kamu sama Erick sekarang. Tapi dimasa depan? Kita kan nggak tau! Dan soal Aib, semua orang juga punya Aib, Gi. Termasuk Aku tentunya. Hanya saja Tuhan masih menutup Aib itu dari orang lain."
"Ibarat kata, kartu As masing-masing orang udah ada yang memegangnya, yaitu Tuhan. Kapan aja mau dibuka sama Tuhan ya itu terserah Tuhan kan?" tambah Lyra.
Woaaaa, Gia speechless dengan kata-kata Lyra barusan. Gia lalu refleks bertepuk tangan. Lyra malah terkekeh dengan reaksi Gia.
"Kamu itu cocoknya kasi ultimatum atau buka konseling aja deh, Ra" ucap Gia sambil melongo.
"Ngacok kamu! Jangan ngejek ah! Itu kata-kata spontan aja" jawab Lyra.
"Tapi bener kan kata-kataku?" Tambah Lyra lagi.
Gia mengangguk-angguk seperti orang terhipnotis kepada Lyra.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1