
"Ia, bentar lagi Ais ke depan" ucapku dengan
nada terpaksa.
"Jangan lama-lama!" ibu kembali
mengingatkan.
"Ia ibuk......" jawabku semakin sebel. Bukan
sebel sama ibuk ya, tapi si Hafiz yang banyak
anginnya itu.
Ibu menutup pintu kamar, dan menghilang
seiring pintu tertutup.
Aku bangkit, dan mendudukkan diri, berniat
akan ke ruang tamu.
🍀🍀🍀
Sudah lima belas menitan setelah ibu
memanggilku, baru aku berniat keluar kamar.
Diruang tamu, ada Ayah, ibu dan tuan Hafiz
seperti sedang bertukar cerita sambil tertawa.
Perlahan ku langkahkan kaki, mendekat ke arah
mereka. Tak disangka semuanya menghentikan tawa dan menyorot ke arahku.
Apalagi..., aku yang merasa diperhatikan, dengan sedikit malu mendudukkan diri disamping ayah.
"Maaf ya nak Hafiz, jika selama di sana anak
pak cik ni banyak menyusahkan, maklumlah
dia memang anaknya manja dan seharusnya
belum saatnya bekerja" tutur ayah sambil
mengelus pucuk kepalaku.
Aku memutar ingatan, merasa heran seperti ada yang sumbang ditelingaku, oh....ternyata
panggilan ayah pada tuan Hafiz. Sejak kapan
ayah memanggil tuan Hafiz menjadi nak
Hafiz?.
Aku memicingkan mata ke arah tuan
Hafiz, ternyata ia juga sedang menatapku.
Secepatnya ku alihkan pandangan.
Dengan tetap menatapku ia berkata, "Pak cik,
malah kami sekeluarge merase sangat senang
dengan kehadiran Ais, die pandai masak, semue pekerjaan rumah beres. Jadi, Pak cik tak perlu khawater, Ais anak yang baek" Ucap tuan Hafiz memujiku di depan ayah dan ibu.
"Ah.... palingan ia hanya sekedar untuk menyenangkan hati Ayah dan ibuk", gumamku
dalam hati, masih dengan membuang muka.
"Ayo nak Hafiz, silakan diminum" Ayah
mempersilakan tuan Hafiz untuk meminum air
__ADS_1
teh yang telah dihidangkan ibu.
"Ais, tolong rapikan kamarmu ya!" Ayah
memerintahkan ku.
"Emang kenapa dengan kamar Ais yah?
Aku merasa heran, rasanya saat aku masuk tadi
kamarku masih ok, dan kurasa tidak masalah
juga bagiku jika sedikit berantakan.
"Untuk sementara, biarkan nak Hafiz yang tidur
di kamarmu! " terang ayah padaku.
Hafiz seolah-olah tak mendengar apa yang ku bicarakan dengan ayah, tapi aku tau ia mengulum senyum. Entah apa..., yang ada di otak laki-laki itu.
"Ha....., Ayah....., kenapa harus di kamar Ais? Aku mendengus kesal sambil menatap tajam si
Hafiz.
"Emangnya mau dikamar mana lagi Ais?
kamu juga tau kita hanya punya dua kamar. Sudah, nak Hafiz, nanti biar di antar Ais ya...
kekamarnya, pak cik mau ke warung sebentar"
Ayah mengakhiri obrolannya dan berlalu
meninggalkan kami diruang tamu.
"Ais, ingat nanti tunjukkan kamar untuk Hafiz,
ibuk juga mau ke dapur dulu menyiapkan
makan malam" Ibu pun bangkit, dan kini
diruang tamu.
Semuanya pergi, seakan sengaja membiarkan
kami berdua.
Aku masih dalam posisi kesal, ingin bangkit
dari duduk, tapi belum sempat aku berdiri, si
Hafiz menahanku, "Ais, awak marah?" tanya
Hafiz padaku.
Hallo...., bisa-bisanya, laki-laki didepan ini
bertanya seperti itu. Ku tatap matanya dengan
nanar, ia juga balas menatapku, lalu ku jawab
pertanyaannya barusan dengan pelan namun penuh penekanan, " Tuan Hafiz, tak cukupkah anda menyusahkan hidup saya? sepertinya saya sudah salah menerima tawaran anda".
Sebenarnya aku juga tak ingin berkata dan
bertindak seperti ini, terlebih dia adalah majikanku, tapi mengingat ucapannya ingin menikahiku siri, aku jadi kesal. Segampang itu ia merenggut kesucianku, dan setelah itu berpura-pura ingin bertanggung jawab agar dengan mudah terlepas dari rasa bersalah.
"Nikah siri" oh....no....., tak pernah terbayang dalam kamus hidupku.
"Ais, kita menikah siri hanye sementara, setelah tenang nanti dan urusan studymu selesai, kite akan mendaftarkan pernikahan secare negare" tuan Hafiz, seakan bisa mengerti apa yang membuat aku kesal padanya.
"Benarkah?" selidikku masih sedikit ragu padanya.
"Serahkan semuenye padeku, nanti biar aku yang bicare pade orang tuemu". Ucapnya yakin, dengan tatapan penuh ke pada ku.
Lagi-lagi, kata-kata Hafiz seperti mengandung mantra, seketika emosiku mereda.
__ADS_1
"Sebaiknya tuan Hafiz istirahat! ayo....Ais antar ke kamar!" Ucapku pelan, kemudian bangkit dan melangkah menuju kamar, sedang ia mengekor di belakangku sambil menarik koper ditangannya.
"Ini kamarnya, tuan Hafiz boleh istirahat!" sambil ku buka pintu.
"Makasih Ais" ucap tuan Hafiz sambil tersenyum ke arahku.
Aku tak menjawab dan berlalu meninggalkannya.
Aku berjalan kearah dapur, mencari keberadaan ibu. Di dapur kulihat ibu sedang sibuk menyiapkan masakan.
"Ibuk masak apa?" sapaku pada ibu yang terlihat sibuk memotong bawang.
Ibu menoleh padaku, " Eh...Ais, kenap Hafiz ditinggal?"
"Ibu...., Ais tanya masak apa, malah balik nanya" gerutuku kesal, lagi-lagi Hafiz yang ditanya.
"Nggak boleh gitu dong sayang, dia itu tamu kita, lagian juga dia adalah majikanmu" Ibu seperti tak suka dengan sikapku.
Kupeluk ibu dari belakang, "Ia ibuk....nanti Ais akan perhatian deh sama tuan HAFIZ. Buk selama Ais dimalaysia, apa ada teman Ais yang datang?" Aku merasa bahwa teman-temanku pasti ada yang datang, soalnya aku tiba-tiba menghilang.
"Oh...ya, ada..., itu....yang putih tinggi, ganteng...,ih....siapa namanya ya...? Ibu mencoba mengingat-ingat.
"Raka? tebakku.
"Bukan..., kemaren dia datang pakek mobil" tutur ibu.
"Pakek mobil buk?" tanyaku heran.
"Apa Reza, ya, tapi rasa nggak mungkin, lagian Reza juga tidak ada di Indonesia" gumamku dalam hati.
"Assalamualaikum...." ada suara laki-laki memberi salam.
Aku dan ibu saling berpandangan.
"Ais, coba liat siapa yang datang!" suruh ibu padaku.
"Ais liat dulu ya buk!" ku langkahkan kaki menuju ruang tamu.
Tak lama suara salam kembali terdengar.
"Assalamualaikum..."
"Walaikumsalam..." sahutku.
Aku melihat ada sosok laki-laki muda yang berdiri di depan pintu.
"Kak Reza....!" teriakku girang.
"Ais....!, kapan sampainya? sapanya padaku dengan mata berbinar.
"Baru satu jam yang lalu, ayo kak silakan masuk!" Aku mendekat ke arah kak Reza.
"Kita nyantai di bawah pohon aja Ais" Tunjuk kak Reza pada sebuah pohon di halaman rumah.
Aku pun ikut bersama kak Reza untuk nyantai di bawah pohon.
Ibu yang penasaran dengan siapa yang datang, juga ikut melangkahkan kaki ke arah ruang tamu. Saat melintas kamarku, ia berpapasan dengan tuan Hafiz, "Eh...nak Hafiz...", sapa ibuk melihat Hafiz keluar dari kamar.
"Ais mane buk?" tanyanya pada Ibuk.
"Tu...dibawah pohon, ibuk mengarahkan telunjuknya pada aku dan Reza, terlihat duduk di kursi santai di bawah pohon mangga yang rindang.
"Ais same siape tu buk?" Hafiz kembali melayangkan pertanyaan ke pada ibu.
"Itulah, ibu juga penasaran, makanya ibu pengen liat siapa yang datang" Tutur ibu pada Hafiz.
Ibu dan Hafiz berjalan ke arah teras. Kemudian ibu pura-pura memanggil diriku, " Ais...kenapa tamu nggak diajak masuk?" teriak ibu yang mengagetkan aku dan kak Reza.
Aku dan kak Reza menoleh ke arah ibu, "disini aja buk, dingin banyak anginnya" sahut kak Reza dengan ramah.
"Oh...nak Reza toh, lanjutkan aja...ngobrolnya, ibu mau masak dulu" ibu tersenyum ke arahku dan kak Reza, selanjutnya berlalu ke dapur.
Aku melihat ada tuan Hafiz diteras, tapi aku cuek aja, sambil melanjutkan obrolan bersama kak Reza. Aku tak menghiraukan, tatapan tajam tuan Hafiz pada ku dan kak Reza.
"Siapa? tanya kak Reza sambil melirik ke arah tuan Hafiz.
__ADS_1