
Tak ingin orang rumah mengkhawatirkan dirinya juga Ais, Hafiz berinisiatif menelpon puan Jijah. Ide itu sebenarnya dicetus Ais, karena untuk saat ini Hafiz lupa segalanya kecuali tentang Ais. Maklum saat ini ia tengah menikmati indahnya bulan madu ala-ala. Jadi, tak heran bila ia merasa bahwa didunia ini hanya dihuni mereka berdua.
"Assalamualaikum..... ma" Hafiz
"Walaikumsalam....., kok belum pulang?"
"Hafiz tidak pulang malam ini"
"Ais ada sama kamu?"
"Ia, Ais bersama Hafiz, malam ini kita tidur diapartemen"
"Ia, terserah kamu aja"
"Adira sudah tidur ma?"
"Lagi main sama Adam, tadi sempat nyariin kamu sama Ais"
"Mama bilang apa?"
"Mama bilangin aja kalau kamu lagi kerja dan Ais kuliah.
Hafiz mengangguk, padahal puan Jijah tak bisa melihat ekspresinya.
"Kalau ada yang menanyakan keberadaan Ais,bilang saja, dia nginap ditempat temannya"
"Ia"
"Makasih ma"
"Sama-sama, jangan lupa telfon Sofia, mama nggak enak sama dia, kayaknya nungguin kamu tu"
"Ia, nanti biar Hafiz yang telpon, udah dulu ya ma. Assalamualaikum....."
"Walaikumsalam......."
Hafiz menutup panggilan dan kembali mencarger hape yang baru terisi beberapa persen, bahkan sebelumnya sempat mati total. Pandangannya menyapu seisi kamar, mencari keberadaan istrinya, namun nihil. Entah sejak kapan Ais keluar kamar, ia tak menyadarinya.
Dimeja makan Ais sibuk menata makanan yang Hafiz pesan sekitar satu jam yang lalu. Tak ada menu istimewa, hanya nasi lamongan beserta pecel nila juga ayam. Menu sederhana pilihan Ais, padahal sebelumnya Hafiz menawari dengan menu restoran, entah kenapa lidahnya menginginkan menu sederhana itu, mungkin efek rindu tanah kelahiran. Untungnya meski tak berada di Indonesia, menu yang diinginkan terbilang mudah ditemukan. Karena Indonesia Malaysia masih termasuk negara serumpun, jadi menu yang dijual di negara ini pun banyak kesamaan dengan yang ada di Indonesia.
Hafiz terpaku, tatapannya lurus tertuju pada sosok cantik yang sibuk menata makanan dimeja makan.
Menyandarkan tubuh pada daun pintu kamar, bibirnya tertarik ke atas, menandakan ada senyum disana.
Puas menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang ada di depan mata, Hafiz menyeret kaki menuju meja makan.
"I love you"
Bisiknya merdu menyapu tengkuk lalu masuk kerungu Ais. Membuat Ais seketika kembali meremang. Bulu kuduk seketika berdiri. Padahal tak ada setan disana. Sungguh mantra yang luar biasa.
Dari belakang, Hafiz memeluknya erat, kedua tangan membelit perut Ais, wajahnya menyandar di ceruk leher. Mencipta suara erotis.
__ADS_1
Mesra. Sangat mesra, seperti pasangan romantis pada umumnya.
Ais menghentikan gerak tangan, lalu menoleh kesamping. Tak disangka, secepat kilat Hafiz menyambar bibir ranumnya, ******* rakus membuat mata Ais terbelalak tak percaya. Satu tangan menahan kepala Ais, sedang tangan satunya memeluk posesif tubuh ramping itu. Terbelenggu, Ais tak bisa bergerak.
Seakan tak ada puasnya, padahal belum dua jam berlalu. Kegiatan itu ingin diulangnya lagi.
Kini Hafiz lebih memilih menyantap bibir Ais dibanding makanan yang sudah siap terhidang. Padahal perutnya sempat bernyanyi keroncong dikarenakan, hanya di isi saat sarapan pagi.
Tak taukah dia, jika tenaga Ais telah habis terkuras, berdiri pun rasanya susah. Hanya karena sudah tak tahan makanya dipaksakan berdiri untuk menyiapkan makanan.
Menolak Ais tak bisa, kenikmatan sudah mencuci otaknya. Semua terasa meremang. Ada ion positif yang bertebaran, memicu denyut dibagian terlarang, teransang, mencipta gerak tak karuan. Menuntut ingin lebih dan lebih. Akhirnya Ais kembali membalas ciuman si kadal jantan.
Saat keduanya asyik terbuai tanpa sadar Hafiz kembali menggendongnya keperaduan, membiarkan makanan hanya jadi pajangan.
Derrrrrttttt...........
Derrrrtttt........
Derrrrrttttt.....
Suara getar hp tak dihiraukan, sengaja memekakkan telinga. Membuat si penelpon disebrang sana berprasangka yang tidak-tidak. Lama tak dipedulikan, pada akhirnya hp itu kembali gelap.
Si penelpon merasa tak putus asa, kembali memencet tombol panggilan, alhasil hp Hafiz kembali menyala. Menjerit meminta diangkat, namun sayang lagi-lagi Hafiz menulikan rungu.
Derrrrrttttt...........
Derrrrtttt........
Derrrrrttttt.....
Nafas keduanya terseral, Hafiz bertahan dengan kedua tangan agar tak menindih tubuh Ais.
"Angkat dulu! mungkin penting"
Ais memeringatkan.
Hafiz terdiam, mengatur detak jantung yang mulai tak beraturan. Tataannya dalam pada Ais yang terbaring pasrah dibawah kungkungannya.
"Sebentar, jangan kabur!"
Ancaman ia layangkan. Sebelum ia benar-benar bangkit.
"Halo" Hafiz
"Sayang kamu dimana sih? kok aku nelpon nggak diangkat, wa nggak dibalas, kamu tau nggak kalau aku seperti orang gila"
Suara Sofia terdengar parau, seperti habis menangis.
Deg...
Entah kenapa mendengar suara wanita disebrang sana, sakit yang Ais rasakan. Bolehkah dia sedikit egois, mengklaim laki-laki ini hanya miliknya seorang?
__ADS_1
Namun sayang, fakta tak terbantahkan. Sofia lah istri sah Hafiz baik secara agama maupun negara, sedang dirinya......?
Ais menarik nafas dalam, menyeka cairan yang tiba-tiba luruh disudut mata.
Gelora yang sempat membara seketika padam meninggalkan derita.
Perlahan merapikan rambut juga pakaian, Ais tak lagi tahan mendengar obrolan menggunakan kata sayang.
Ais turun dari ranjang, perlahan berjalan menuju pintu.
Hafiz hanya menoleh, kemudian kembali fokus pada obrolan.
"Aku ada sedikit kerjaan, sepertinya malam ini tak bisa pulang"
Hafiz mulai berbohong demi menutupi kesalahan dan tak ingin membuat Sofia murka.
"Sayang kamu harus pulang, Dira terjatuh dari tangga, hik....hik...."
"Apa? kok bisa?"
Terkejut bukan kepalang. Bukankah baru beberapa menit yang lalu kondisi Dira baik-baik saja.
Raut wajah Hafiz berubah cemas.
"Dira terjatuh saat menuruni tangga, tadi dia sempat naik keatas mencari kamu, tapi saat turun...."
Sofia tak sanggup melanjutkan ucapannya. Rasanya terlalu menyakitkan saat mengingat kejadian tadi.
"Sekarang kondisinya gimana?"
"Adam dan mama dalam perjalanan kerumah sakit xxxx"
"Baik, aku segera kesana"
Hafiz menutup panggilan, berjalan tergesa-gesa kearah meja rias, mengambil kunci mobil lalu keluar kamar.
"Abang mau kemana?"
Ais yang sedang berdiri disisi meja makan melantunkan pertanyaan, karena melihat Hafiz dengan wajah cemasnya berlari menuju pintu utama.
Pikiran hanya tertuju pada kondisi Dira, membuat ia tak menghiraukan panggilan Ais. Membuka pintu, lalu menutupnya lagi dengan sedikit keras.
Ais terlonjak kaget, ada apa sebenarnya? Kenapa Hafiz yang tadinya memperlakukannya tak ubah seorang ratu, kini tak lagi menganggap keberadaannya. Secepat itu kah ia berubah?
Memang benar kata orang, menjadi istri kedua hanya dijadikan pelampiasan dan tak ubahnya hanya barang pajangan.
Saat butuh dia di sayang, sudah kenyang lalu dibuang.
Tatapan Ais lurus pada pintu yang sudah tertutup rapat. Seketika tubuhnya luruh kelantai, menangis, meraung sekuatnya, meratapi nasib yang begitu malang.
"Bodoh kamu Ais, dirimu tak ada bedanya dengan wanita simpanan" racau Ais sambil memukul-mukul dada yang terasa sesak.
__ADS_1