
"Jadi, jike pak cik merestui, secepatnya kite akan melangsungkan pernikahan ini, soal biaye semue saye yang tanggung" kembali tuan Hafiz memaparkan keinginannya.
Ayah terdiam dalam, ditatapnya wajahku sendu, seperti masih tak rela. Aku hanya diam membalas tatapan ayah.
"Nak Hafiz, bukan pak cik tak merestui, tapi sebagai orang tua, pak cik berkewajiban untuk tau dengan siapa pak cik akan menikahkan Ais.
Jika tak keberatan, apa boleh pak cik bertanya?" Ayah masih terlihat ragu akan tuan Hafiz. Wajar saja, kedatangan tuan Hafiz yang mengejut dan tiba-tiba ingin menikahiku, sudah barang tentu membuat ayah kaget serta ragu.
"Silekan pak cik!" tuan Hafiz dengan penuh keyakinan bersedia mendengar pertanyaan ayah.
"Sebelumnya pak cik mohon maaf jika pertanyaan ini akan menyinggung nak Hafiz" Ayah sangat berhati-hati dalam berbicara, takut tuan Hafiz akan tersinggung dengan kata-kata ayah.
"Apa nak Hafiz tau, umur Ais sekarang?
Tau pak cik, sembilan belas tahun.
"Sembilan belas taun usia yang masih sangat muda, masih kekanak-kanakan, apa kamu yakin ingin memperistrinya?" Tanya ayah menyelidik.
"Terus terang kalau saya sangat tidak mempermasalahkan umur, karena apa yang saya lihat pada Ais, sangat berbanding terbalik dengan usianya. Dia sangat matang juga mandiri" jawab Hafiz tegas.
Ayah hanya mengangguk-angguk, mengiakan apa yang diucapkan Hafiz. Selanjutnya ayah kembali bertanya pada tuan Hafiz.
" Kalau boleh tau, umur nak Hafiz sekarang berapa?
Umur saye tige puloh tahun pak cik
Nah...., pertanyaan pak cik, di umur yang sudah kepala tiga, apa benar nak Hafiz tidak mempunyai calon atau boleh jadi istri?" Pertanyaan ayah, terlihat sangat protektif, membuat tuan Hafiz sedikit terpojok, karena ia tidak mau ada penyesalan di hari esok.
Aku bisa melihat perubahan wajah tuan Hafiz, setelah mendengar pertanyaan ayah mengenai statusnya.
Dengan sedikit ragu ia menjawab, " sebenarnya..., saya...."
"Tuan Hafiz duda yah" jawabku menimpali tuan Hafiz yang terlihat ragu.
Sontak ayah dan ibu sama-sama kaget.
"Astagfirullah...., duda Ais?" Ucap ibu dengan mata membola menatapku seperti tidak percaya.
Ayah tersenyum getir sambil mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
"Ia tuan Hafiz duda anak satu, istrinya telah meninggal" dengan polosnya ku jawab istrinya meninggal, karena aku mengira memang istrinya telah meninggal.
Tuan Hafiz menatap ku tajam penuh makna, ia seakan tak mengerti dengan apa yang kujelaskan.
Ayah kembali bersuara, " Sebenarnya pak cik tidak masalah dengan status perjaka atau pun duda, asal duda memang benar-benar duda. Pak cik tidak ingin di awal hubungan ada kebohongan, karena ditakutkan ada kebohongan-kebohongan selanjutnya" papar ayah dengan tegas.
Tuan Hafiz mengangguk sambil tertunduk seakan tak mampu menatap mata ayah.
"Pak cik hanya ingin yang terbaik untuk Ais"
"Saye paham pak cik"
"Sekarang pak cik sudah mendapatkan jawaban. Jadi sekarang keputusan ada ditangan Ais, apapun yang dipilih Ais, ayah akan dukung" ayah menoleh ke arahku menuntut aku untuk membuat keputusan, menerima ataupun menolak tuan Hafiz.
Ibu juga sama, sambil mengangguk, Ibu menggenggam erat tanganku, memberi kekuatan untuk menentukan keputusan.
Sekarang semua mata sudah tertuju padaku, berarti saatnya aku membuat keputusan terbesar dalam hidupku.
Jika boleh jujur, sejak lama aku sudah memendam rasa pada kak Reza. Kak Reza laki-laki idaman bagiku. Aku sangat yakin kak Reza juga sebenarnya suka ke padaku, tapi entahlah..., sampai hari ini ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya.
Sebenarnya aku sudah berencana, jika uang sudah terkumpul, maka aku akan kuliah agar bisa memantaskan diri untuknya. Tapi takdirku berkata lain, dalam kondisi tubuhku seperti ini, sangat tak pantas untuk dirinya.
Namun, lagi-lagi aku tak bisa mengingkari takdir, dia adalah laki-laki yang telah merenggut kesucianku, maka dialah yang akan menikahiku, meski aku membencinya.
☘️☘️☘️
"Ais....Ais...., mau menikah dengan tuan Hafiz" Jawabku ragu.
"Kamu yakin Ais? jangan membuat keputusan terburu-buru, terlebih ini menyangkut masa depanmu nak" tutur ayah lembut sambil menasehatiku.
"Karena ini menyangkut masa depanku yah, makanya aku mau menerima tawarannya, jika tidak...." ucap batinku.
"Ia Ais jangan terburu-buru membuat keputusan nak, kami tidak ingin kamu menyesal dikemudian hari" Ibu turut menasehati.
"Ais, yakin buk, yah" ucapku tegas, menatap ke ibuk, kemudian ayah.
Tuan Hafiz menatapku penuh makna.
Ayah dan Ibu hanya bisa mendoakan dan mengaminkan keputusan yang ku buat.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Empat hari sudah aku di kampung halaman, semua administrasi dan surat ijin belajar keluar negeri telah ku dapatkan.
Dan pada akhirnya, hari ini aku akan dinikahi siri oleh duda beranak satu.
Keluarga dekat semua sudah berdatangan, beberapa jam lagi akad akan dilaksanakan.
Tidak ada acara besar-besaran, karena semua disiapkan dalam waktu yang singkat, sehingga banyak isu miring beredar di kampungku, yang menyatakan aku hamil duluan, aku mau dinikahi siri karena terpincut harta, dan masih banyak gosip lainnya. Tapi biarlah...., aku sudah memantapkan hati, kedua orang tuaku juga tidak mempermasalahkan gosip yang sedang bermekaran. Ibarat bunga, nantinya juga akan layu, begitu juga dengan gosip ini, lama kelamaan akan hilang dengan sendirinya.
Pelaminan sederhana terpajang diruang tamu, dan kamarku, tidak ada hiasan yang menurutku berkesan di pandang mata, semuanya biasa saja.
Malah terkesan sangat biasa, aku juga tidak mempermasalahkan itu semua, yang terpenting bagiku sekarang adalah aku bisa menutupi aibku.
Kebaya putih tulang di padankan dengan jelbab berwarna senada, sudah melekat sempurna ditubuhku. Dipadankan dengan make-up natural membuat kesan cantik pada diriku.
Kutatap pantulan diriku dicermin meja hias yang ada di kamar, cantikkkkk....diriku sangat cantik, " andai aku menjadi pengantinnya kak Reza, betapa bahagianya aku hari ini" suara hatiku.
Tapi kenyataannya, tak seindah yang orang tau.
Tak lama Fia datang menghampiri diriku.
"Kak, acara ijab qabulnya akan dimulai" serunya padaku.
Fia menjadi heran, karena tak ada balasan dariku. Ia pun mendekat "Kak, kenapa sedih?" Fia memegang kedua pipiku, dan menatap dalam dua bola mata hitamku.
"Kenapa?" tanyanya lembut dengan tatapan sendu.
"Nggak kenapa-napa sayang" kini aku yang balik memegang ke dua pipinya. "Jangan khawatir, semua baik-baik saja" ucapku lagi sambil tersenyum untuk mengalihkan perhatiannya.
" Kalaupun kakak sedih, itu bukan karena pernikahan ini, tapi sedih untuk berpisah dengan kalian" aku sudah tak kuat menahan air mata, kupeluk Fia erat dengan air mata bercucuran.
"Kakak jangan nangis! nanti bedaknya luntur!" balas via yang ikut menangis sambil tertawa dipelukanku.
"Ayo, kita keluar! calon suami kakak sudah nggak sabar tu"
Kucubit pinggangnya gemes, sehingga ia melonjak kesakitan.
"Ih....kakak..." suara manjanya.
__ADS_1