Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
30. Hancur


__ADS_3

Hanya tiga puluh menit jarak yang ditempuh dari bandara menuju kediaman Hafiz. Kini mereka sudah sampai dipekarangan rumah. Tanpa terkecuali semua sudah keluar dari dalam mobil, yang tertinggal hanya koper dan beberapa barang bawaan.


Adam masuk dengan menggendong Adira yang masih tertidur pulas, dengan puan Jijah mengekor dibelakangnya dengan menenteng hand bag kesayangan, untuk urusan barang bawaan dan lainnya ia serahkan ke pada Hafiz dan Ais.


Sedangkan Miss misteri yang diyakini Ais sebagai istri Hafiz juga sudah melenggang masuk dengan hanya membawa tas jinjingnya, sebelum masuk ia sempat berpesan pada Ais, untuk mengangkat koper dan semua barangnya. Karena ia meyakini bahwa Ais hanya pembantu di keluarga itu.


"Ais! tolong bawakan koper sama barang-barang saya ke kamar Hafiz ya!" pesannya sebelum memutar badan ikut masuk ke dalam rumah.


Ais hanya membalas dengan anggukan, ia lukiskan sedikit senyum keterpaksaan, karena saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ada gemuruh hebat saat mendapat perintah untuk membawa barang miss misteri kekamar Hafiz.


Hafiz pasti melihat interaksi itu, karna posisinya berada di belakang mobil sambil mengeluarkan barang dari bagasi.


Ais cukup tau diri, tanpa diminta pun pasti akan melakukan hal serupa. Tak berniat langsung masuk kerumah, melainkan menyiapkan posisi menunggu dibelakang bagasi untuk membawa salah satu koper mertua sekaligus majikannya yang sedang diturunkan Hafiz.


Hafiz yang melihat situasi aman, saat semua orang sudah berada di dalam, langsung menarik tangan Ais agar sedikit berlindung di belakang mobil biar tak ada yang melihat gerak-gerik, serta mendengar obrolan mereka.


Ais terkesiap dengan perlakuan Hafiz yang tiba-tiba dan sedikit kasar, entah setan apa yang merasuki kadal didepannya.


"Maaf tuan, tolong lepaskan tangan saya!, nanti ISTRI tuan curiga" ucap Ais dengan penuh penekanan. Sambil melihat ke arah tangannya yang dicekal Hafiz dengan sedikit kuat. Tak ada Ais yang lemah lembut, saat ini tataannya nyalang, seperti tatapan singa pada mangsanya, karena sudah dari tadi menahan sesak didada. Jika ia punya daya, pasti dicakarnya wajah laki-laki kadal yang sekarang berada didepannya.


Satu kata saat ini "Gerammmmm......!!!"


"Kamu sengaja ingin membuat aku cemburu, dengan bermesraan bersama Adam di depanku? Kamu lupa statusmu apa?"


Ucap Hafiz tak kalah sengitnya, berapi-api, tataannya juga tak kalah tajam, melampiaskan kecemburuan yang ia rasakan sejak dibandara hingga berlanjut di dalam mobil.


Ais membuang pandangan, bisa-bisanya Hafiz berkata seolah ia adalah korban, bukankah seharusnya kata-kata itu keluar dari lisan Ais. Disini Aislah korban, diperkosa tanpa belas kasihan, dinikahi secara siri, sungguh pembodohan yang luar biasa. Fakta yang sangat memukul Ais adalah laki-laki itu masih beristri. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula, itulah peribahasa yang pantas Ais dapatkan hari ini.

__ADS_1


"Perlu anda tau, TUAN HAFIZ yang terhormat, hingga detik ini, aku tak pernah lupa statusku apa, bagi tuan dan keluarga ini, aku tak lebih hanya seorang PEMBANTU, jadi tak perlu tuan ingatkan pun, aku sangat tau batasan antara pembantu dan majikan. Disini rasanya tuan yang lupa batasan, apa boleh laki-laki beristri memegang tangan pembantu seperti ini?" Suara Ais bergetar penuh emosi, dadanya kembang kempis, rasanya saat ini oksigen tak lagi nyaman untuk ia bernafas. Ais menunjuk tangan yang dipegang Hafiz dengan gerakan dagunya. Di detik kemudian, ia melayangkan tataan permusuhan pada Hafiz.


Mendengar ucapan Ais yang memukul telak dirinya, ditambah tataan Ais yang setajam silet, membuat nyali Hafiz menciut. Api kemarahan yang tadi ia kobarkan perlahan mulai padam.


Jangan ditanya bagaimana Ais saat ini? Hatinya hancur, sehancur-hancurnya. Susah payah ia kumpulkan kekuatan untuk menapakkan kaki, agar tidak hambruk kedasar bumi. Sedikit saja ia berkedip, dapat dipastikan air matanya akan kembali tumpah dan itu akan menjadi hal yang memalukan baginya. Menangisi laki-laki biad*p seperti Hafiz bukanlah hal yang pantas. Tapi entah kenapa mendapatkan fakta yang mengejukkan membuat ia merasakan sakit yang teramat berat. Ais sakit....sesakit....sakitnya....


Lagi, dan lagi, Hafiz terdiam, mencerna semua ucapan Ais. Ia tau saat ini Ais terluka, tanpa ia bicara, Ais pasti sudah mengetahui bahwa ia adalah lelaki beristri. Tapi disadari atau tidak, dihatinya kini sudah terukir dua nama wanita istimewa yaitu SOFIA dan AIS. Hafiz sadar ia laki-laki yang tamak, bisa-bisanya mencintai dua wanita dalam waktu yang sama. Tapi mau bagaimana lagi, Sofia istri pertama yang dinikahinya memang karena keduanya saling mencintai, cintanya masih sama hingga saat ini, sedang bersama Ais, cinta itu tumbuh seiring waktu karna selalu bersama.


Dengan sekali sintakan, Ais membebaskan tangannya dari cengkraman Hafiz, menarik sebuah koper dan langsung berjalan ingin masuk kedalam rumah, tak disangka baru beberapa langkah berjalan, ia merasakan nyeri yang hebat di bawah pusar, tatapannya menghitam, ia menghentikan langkah. Ais memeluk perutnya dengan satu tangan, sedang tangan yang lain, masih setia memegang koper. Ais tertunduk, wajahnya memucat, keringat dingin bercucuran. Disaat bersamaan Adam datang menghampiri, tadinya ia akan mengambil koper miliknya yang masih tertinggal di dalam mobil. Tak disangka, belum sempat menyapa, ia melihat Ais tertunduk meringis.


"Ais! kenapa?"


Ais menoleh kearah pemilik suara, namun pandang sudah memburam.


"Ya ampun wajahmu pucat banget" Kecemasan sedang menyelimuti Adam, menyaksikan wanita yang beberapa bulan dikagumi pucat seperti tak bernyawa, lebih pucat dari yang dimobil tadi.


"Ais....!" Secepat kilat Adam menangkap tubuh mungil Ais yang hampir tersungkur mencium lantai.


"Ais!" Hafiz turut berteriak sambil berlari ke arah Ais, namun sayang, ia kalah cepat dari Adam. Kini tubuh Ais sudah berada fosesif di dalam gendongan Adam.


Hafiz menghentikan langkah, terpaku...., lagi-lagi ada hantaman benda yang tak kasat mata di dadanya. Sakit.......itu yang ia rasakan melihat Ais digendong lelaki lain, meski laki-laki itu adalah Adam.


Disaat yang hampir bersamaan, mendengar suara teriakan, puan Jijah dan Sofia yang dipanggil Ais dengan sebutan Miss misteri, langsung berlari keluar rumah. Mencari tau, apa yang sebenarnya terjadi.


"Ya...Allah...., Ais kenapa Dam" tanya puan Jijah dengan wajah penuh kecemasan. Ia melirik pada Adam kemudian Hafiz. Bagaimana tidak, ia melihat Ais tergolek lemah di gendongan Adam.


"Adam juga tidak tau, tiba-tiba saja Ais pingsan" jawab Adam apa adanya.

__ADS_1


Sofia tak bersuara, ia hanya jadi penonton saat ini, perlahan ia dekatkan tubuhnya pada Hafiz.


"Bawa masuk dulu ke kamarnya!" perintah Hafiz.


Deg....


Sekarang puan Jijah yang merasa bimbang, dalam hatinya berkata"kamar Ais kan pasti kamarnya Hafiz, ya Allah jangan sampai"


Tanpa menunggu lama, Adam langsung berjalan kedalam menggendong Ais menuju kamar miliknya. Sedang yang lain setia mengekor dibelakang.


Melihat Adam bukannya naik tangga melainkan berbelok ke kamarnya, Hafiz tak terima, karena yang ia tau kamar Ais ada dilantai dua.


"Mau dibawa kemana Ais?" Hafiz menghentikan langkah Adam.


"Kekamar"


"Kenapa jadi dibawa ke kamarmu? Hafiz melayangkan protes.


"Abang lupa, mana mungkin Adam menggendong Ais menaiki tangga, sementara kaki Adam belum sehat sepenuhnya"


"Kalau begitu, sini! Ais biar Abang yang gendong!"


Hafiz mendekat bersiap ingin mengambil alih Ais dari gendongan Adam.


"Sayang!!!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2