Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
60. Asam Pedas


__ADS_3

"Maaf pak, sepertinya itu pesanan saya"


Ais yang merasa diserobot tak tinggal diam, dengan berani ia menepuk halus bahu laki-laki yang mengambil pesanannya.


Deg........


"Ya Allah kenapa kau siksa aku dengan siksaan seberat ini? Dimana-mana suaranya menggema" suara hati Hafiz.


Tidak mendapatkan respon, Ais kembali menepuk-nepuk bahu laki-laki itu.


"Tapi, ini rasanya nyata, benarkah dia ada disini? suara hati semakin bertanya-tanya. Karena sentuhan itu, semakin nyata adanya.


Pelan Hafiz memutar badan....


Hingga kini posisinya tepat berhadapan.


Deg.......


"Masyaallah, mata itu?"


Tubuh Hafiz bergetar hebat. Pasokan oksigen terasa kosong.


"Maaf pak, sepertinya itu pesanan saya. Karena saya duluan yang datang memesan, mungkin punya bapak lagi disiapkan"


Kembali Ais mempertegas ucapan. Masih dengan tutur kata yang sopan. Mencoba menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Agar tidak memunculkan kesalah pahaman.


Bag.....buk....bak....buk....


Jantung Hafiz berdetak tak semestinya. Dibalik kaca mata hitam, tatapan tak berkedip ia layangkan. Ada sosok cantik yang sedang berdiri dihadapannya. Sosok yang diinginkan dalam waktu cukup lama.


Ini kali pertama Hafiz melihat dengan jelas dan dari jarak yang sangat dekat, sosok yang digilainya siang dan malam. Dinanti dengan sejuta harapan. Berdiri manis dan memberikan senyuman padanya.


Wangi tubuhnya, menyebar terbawa angin, kembali menusuk masuk lewat rongga pernafasan. Meresap keseluruh syaraf, membuat seluruh raga seketika menegang.


Sungguh, jika bisa ingin sekali memeluk, mencium, dan menggenggam erat wanita yang ada di depannya.


"Pak?"


Ais melambai-lambaikan kelima jarinya, merasa sedikit aneh dengan orang yang berdiri mematung tanpa suara, tanpa respon apapun. Sepertinya usaha menjelaskan hanya sia-sia, mungkin orang yang dihadapi mengidap tunarungu atau tunawicara.


Hening......


Seketika semua terasa hening, padahal sejak tadi Ais berbicara padanya. Belum lagi keriuhan orang-orang yang ada di sana.


Hafiz masih merasa tak percaya, mimpikan dia? Atau halusinasinya kembali datang?


Apa ini efek menahan rindu dalam waktu yang cukup lama? Sehingga mampu menggetarkan kalbu, semakin membuat Hafiz diam terpaku. Atau obsesi yang tidak kesampaian. Karena tadi ia hanya mampu melihat Ais sekilas, itupun cuma dari samping dan belakang. Boleh jadi orang yang ada dihadapan hanyalah bayangan.


Tak ingin di cap gila, Hafiz coba ingin menyentuh bayangan yang ada di depan mata.


Lupa dengan tangan yang masih memegang bungkusan asam pedas, diangkat seperti ingin memberikan ke pada orang yang ada di hadapannya.


Dilain sisi, tak ingin membuang-buang waktu, Ais secepatnya menyambar bungkusan tersebut, setelahnya langsung membayar ke kasir.


Ia tak ingin berlama-lama. Pasalnya laki-laki yang ada dihadapannya seperti sedikit kurang waras. Ditatap seperti itu, membuat Ais bergidik ngeri. Belum lagi penampilan bak seorang penjahat kelas kakap. Makin membuat Ais takut dan ingin segera pergi.


Tes.......


Satu tetes air mata jatuh menetes.


Dia tidak sedang bermimpi, ini benar adanya. Yang tadi itu bukan bayangan, apalagi halusinasi.


Kesadaran itu berkumpul kembali, setelah Ais berlalu pergi. Berjalan melenggang tanpa menoleh dirinya lagi.


Tangan Hafiz masih menggantung, mencoba menangkap sosok yang telah pergi. Menghilang seiring pintu restoran tertutup kembali.


Akhirnya, Hafiz menggenggam hampa. Diturunkannya tangan yang masih menggantung.


"Pak!"


Masih hening.


"Pak!, ini pesanan bapak" suara itu naik satu oktap. Mengira orang yang dihadapi kurang pendengaran.


"Oh....ia"


Hafiz yang tersadar, langsung membayar sesuai harga. Setelah transaksi dirasa beres, ia segera pergi. Mencari sosok Ais yang tadi sempat bicara padanya.


Berdiri diantara beberapa mobil yang terparkir rapi, memindai seluruh lokasi, namun ternyata sosok itu benar-benar sudah pergi.

__ADS_1


Hafiz mematung, tatapannya terarah pada sebuah mobil yang baru akan meninggalkan parkiran. Entah mengapa, ia merasa Ais ada di dalam sana.


Semua tingkah Ais tadi, masih terekam jelas olehnya.


Ternyata Ais benar-benar tidak mengenali dirinya. Bahkan mungkin sudah melupakan. Padahal ini kedua kalinya mereka bertemu.


Benarkah Ais sudah membuang jauh dirinya?


Jika benar, apa yang sekarang diharapkan dari seorang Ais?


Dia sudah berkeluarga, bahkan mempunya anak.


Deg.......


"Apa, anak itu yang dikandungnya dulu?


Berarti yang tadi anak.......ku?


Aku harus mencari tau kebenarannya. Jika itu memang anakku, aku berhak atasnya" Hafiz bermonolog.


Tettttt.....tet......


Bunyi klakson mobil terdengar nyaring. Mengagetkan Hafiz yang berdiri mematung.


"Pak, berdirinya jangan disitu dong, mobil nggak bisa lewat" protes salah seorang pengguna mobil. Sudah berkali-kali meraungkan klakson, tapi nyatanya orang yang menghalang jalan mobilnya masih tegak berdiri, terdiam seperti patung.


"Oh....maaf pak"


Hafiz menggeser badan, seraya membungkuk memohon maaf.


Hari mulai beranjak gelap, Hafiz teringat akan Dira. Dira pasti sedang menunggu dirinya, lebih tepatnya, menunggu pesanannya.


Sedikit berlarian dengan dua bungkusan ditangan, Hafiz masuk kedalam mobil. Setelahnya berlalu pergi menuju tempat tinggalnya.


***


"Kenapa diam?"


Semenjak keluar restoran, Reza melihat perubahan sikap Ais. Diam tak berkicau seperti biasanya. Apa mungkin istrinya masih marah soal gurawan tadi. Reza masih menerka-nerka.


"Emmm...." Ais menoleh pada lawan bicara, yang tak lain adalah suaminya.


"Kenapa diam?"


Kedua mata penuh cinta sesaat saling tatap. Tak berlangsung lama, karena Reza harus fokus kedepan.


"Kesal.....!"


Ucap Ais manja.


"Masih marah soal tadi?"


"Bukan"


"Jadi, kesalnya sama siapa?"


Sekali-kali Reza tetap menoleh pada Ais, membuktikan bahwa dia sedang menghargai lawan bicaranya.


"Sama orang bisu"


Jawab Ais masih dalam mode kesal.


Mendengar jawaban Ais, tawa Reza seketika pecah, hingga membangunkan si sulung Aidan yang sedang tertidur.


Ia merasa lucu, bagaimana bisa seorang bisu membuat istrinya kesal.


"Kok jadi ketawak?"


Ais makin kesal, pasalnya sekarang Reza ikut menertawainya.


"Habisnya sayang lucu sih"


"Lucu apanya? tu lihatkan ulah papa, Aidan sampai kebangun"


Ais melirik pada Aidan yang sedang menggeliatkan badan dibangku belakang.


"Sorry......sorry....., ia maksud papa, kok bisa orang bisu membuat mama kesal?"


"Ya bisalah"

__ADS_1


"Kan...dia nggak bisa ngomong?"


Reza masih tetap penasaran.


"Nggak bisa ngomong, tapikan bisa liat paaaaaaa....."


Makin kesal, Ais mencubit perut suaminya"


"Aduh.....duh...."


Reza menggeliatkan badan berpura-pura kesakitan.


"Makanya tadi sebelumnya papa udah pesan. Tapi nggak papalah, itu artinya istri papa benar-benar cantik"


Reza mencubit gemes hidung Ais.


"papa tok tubit hidung unda? nanti unda nangis"


Aidan ikut protes, pasalnya ia tidak terima Reza menyakiti Ais.


Ais dan Reza saling pandang. Ucapan Aidan barusan sontak membuat Ais dan Reza tertawa lucu.


****


"Assalamualaikum......" Salam menggema memasuki rumah.


"Walaikum salam....."


Dira berlari tak sabaran, lama menunggu membuat perut keroncongan.


"Papa kok lama?" Didepan Hafiz, Dira melayangkan protes, pasalnya sekarang hampir menjelang shalat isya.


"Maaf, tadi jalan macet"


Untuk mencari aman, kembali membuat alasan.


Hafiz menyodorkan dua bungkus makanan.


Dengan sigap Dira menerima.


"Minta tolong bibik buat nyiapin! Papa ke atas dulu mau mandi dan shalat. Kalau Dira udah laper, makan aja duluan!"


Hafiz mengelus lembut pucuk kepala Dira.


Dira mengangguk patuh, setelahnya membawa dua bungkusan ke meja makan.


Hafiz sendiri langsung naik ke atas untuk segera mandi.


****


Siang hari.


Kantor Reza.


Kring.....kring.......


Telpon ruangan Reza berdering nyaring.


"Hallo"


"Dengan bapak Hartanto?"


"Bukan, saya anaknya"


"Begini, kita dari pihak kepolisian, mendapatkan aduan, jika sebenarnya perusahaan yang bapak Hartanto pimpin melakukan pemalsuan izin usaha"


Deg....


Penjelasan orang dibalik telpon mengagetkan Reza. Pasalnya, yang ia tau, perusahaan hanya mengalami permasalahan untuk perpanjangan izin usaha, tapi kenapa sekarang kasusnya beda.


"Maaf, pak maksudnya gimana ya?"


"Kami mendapatkan laporan dari seseorang, katanya perusahaan yang telah lama bapak Hartanto dirikan telah memalsukan surat izin usaha. Setelah kami selidiki ternyata benar adanya. Jadi kami mohon kerja sama pihak pak Hartanto untuk memberikan keterangan ke pada pihak kepolisian"


Reza terduduk lemas. Pasalnya ia sangat tau, jika berkaitan dengan pemalsuan sanksinya sangat berat. Tapi anehnya kok bisa itu terjadi?


Bukankah selama ini semua baik-baik saja?


Siapa dalang dibalik ini semua?

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2