Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
58. Rindu Itu Berat.


__ADS_3

"Abang?, sini sayang, papa lagi ada kerjaan!"


"Suara itu, ya Allah......aku kenal suara itu. Apa dia ada disini?


Ya Allah, apa aku sedang berhalusinasi?" suara hati Hafiz.


Dia, mendadak seperti patung. Berdiri dan terdiam kaku. Jangan tanyakan detak jantungnya, menggila hampir memecahkan rongga dada. Dibalik kaca mata hitam, buliran kristal sudah mulai menggenang, disudut mata.


Empat tahun. Empat tahun dia menantikannya. Bukan waktu yang singkat. Sudah banyak waktu, tenaga, juga biaya yang ia korbankan, hanya demi menemukan sosok Ais.


Dengan waktu selama itu juga, bisa menjadikan sosok Hafiz yang tidak lagi dikenal, bahkan terlupakan. Sikapnya, berubah sedingin salju. Tak tersentuh bahkan cenderung membunuh.


Mendamba siang malam seperti orang gila. Jangankan makan, tidur saja setengah tak bisa. Yang selalu bermain dikepala tentang dosa masa lalu, juga rindu.Dosanya terlalu besar.


Antara malu juga bahagia. Kini...., bagaimana dia harus bersikap.


Rasanya, ini lebih menakutkan dari ajang adu nyali. Ia takut untuk menerima kenyataan seandainya Ais akan menolak, atau bahkan membencinya.


Tapi mau bagaimana, kata Dilan "rindu itu berat".


Juga sama seperti kentut, dikeluarkan malu, ditahan sakit. 🤭


"Abang, ayo.....sini, sama unda dulu"


suara itu kembali menyapu rungu, membuat kalbu tambah bergetar.


"Abang?" kata itu hanya milik Hafiz. Itu panggilan untuk dirinya, dari seseorang yang belum mampu ia lihat wajahnya.


Terbesit memori masa lalu, disaat pertama kali ia meminta Ais memanggilnya mesra. Masih jelas terbayang dikala itu, wajah merona berwarna merah jambu, mencoba mengubah panggilan dari "tuan" menjadi "Abang". Sungguh menggemaskan.


Sekarang, panggilan itu bukan lagi miliknya. Bukan untuknya. Karena jelas batasnya, jika dia dan Ais telah lama berpisah.


Bukannya menurut, Aidan malah menelungkupkan wajah diceruk leher Reza. Memeluk erat, seperti takut akan dipisahkan.


Satu tangan menyanggah ****** Aidan, sedang tangan satunya mengelus sayang kepala Aidan.


Jelas terlihat, kasih sayang diantara keduanya.


"Tunggu....., apa bocah itu anak mereka berdua? aku harus mencari tau" suara hati Hafiz.


"Biarin aja sayang, mungkin Aidan lagi kangen sama papa" Reza tau, saat ini Aidan benar-benar merindukan dirinya.


"Cuihhhhhh........sayang? hello.......sayang itu, hanya milikku. Hanya aku yang boleh memanggil Ais sayang" Namun sayang, kalimat itu hanya terangkai di dalam hati.


Hafiz, mengepalkan kedua tangannya, menahan geram yang sudah diubun-ubun.

__ADS_1


Tlak....tlak....tlak.....


Bunyi langkah kaki semakin mendekat.


Rasanya, saat ini malaikat maut yang datang menjemput. Wajah Hafiz yang biasa sangar, berubah pucat seperti mayat. Bukan takut karena nyawa yang akan direnggut. Karena sebagian jiwanya memang telah lama mati, bersama kepergian Ais.


Yang ia takutkan saat ini adalah bagaimana dia dan Ais saat bertentang mata.


Aroma tubuh itu, merasuk hingga ke paru-paru, menghentikan pasokan oksigen, membuat dada Hafiz terasa ditekan kuat dengan batu yang tak kasat mata.


Ais masih dengan santainya melintas disamping Hafiz. Tak tau kah dia, jika saat ini Hafiz hampir saja meregang nyawa.


Cup......


satu kecupan mendarat sempurna dikening Ais.


Cup.....cup.....


Dua kecupan kembali mendarat di pipi kiri dan kanan.


Cupppppp........


Kecupan penutup dilabuhkan sempurna dibibir kenyal Ais, jika tidak ada tamu saat ini mungkin bukan sekedar kecupan, dan ******n, melainkan santapan persi dewasa. Karena rindu diantara keduanya menggebu, membakar jiwa terus menuntut untuk disalurkan.


Mulut menganga, mata membola, mungkin inilah saatnya malaikat pencabut nyawa datang menyapa.


Terlebih sekilas terlihat kecantikan Ais, naik seratus derajat. Membuat jiwa serasa menggelegak. Itu hanya dari samping juga belakang. Bagaimana jadinya jika mereka sampai bertentang mata.


Karena lebih tepatnya Ais hanya melintas dan sekarang posisinya menghadap Reza, dengan membelakangi Hafiz.


Berapa lama lagi malaikat pencabut nyawa mempermainkan dirinya? kenapa tidak sekarang saja pencabutannya. Bukankah ini lebih sakit dari dikuliti hidup-hidup, membuat ubun-ubun terasa dicabut.


Ehhhhmmmm.....


Hafiz yang sudah tak tahan melihat l*matan Reza dibibir mantan istrinya, akhirnya secara halus menghentikan kegitan panas itu.


"Oh....maaf, seperti saya bilang tadi, kalau sudah ketemu istri yang lain saya tak peduli, ha.....ha...." canda Reza diakhiri tawa. Mengusir malu dengan sikap binalnya yang tak tau tempat.


Ais masih setia dipeluknya.


Hafiz memaksakan senyum, sungguh jika bisa, ingin dirinya yang begitu dengan Ais.


Aidan sudah tertidur nyaman digendongan Reza. Entah sejak bila mimpi menghampiri dirinya.


"Pa sepertinya Aidan tidur" ucap Ais penuh kelembutan.

__ADS_1


"Unda bawa kekamar papa dulu, nanti papa nyusul, itu kamarnya!" Reza menunjuk pada sebuah pintu yang masih tertutup dipojok ruangan.


Ais mengambil Alih Aidan, meski terbilang berat, namun, karena terbiasa Ais masih mampu menggendongnya.


Ais berjalan membawa Aidan kedalam kamar, tak sekalipun di tatapnya laki-laki yang ada didepan suaminya. Entah karena apa, mungkin malu tertangkap basah berciuman, atau memang sikapnya yang seperti itu.


Hafiz merasa terhina, sebegitu buruknyakah dia? jangankan menyapa, melirik saja tidak. Ais yang kini sungguh luar biasa, cantiknya tak bisa diungkap dengan kata, belum lagi kulit putih seputih mutiara. Ah....membayangkannya saja, Hafiz terasa gila.


"Sekali lagi, maaf pak Ahmad, seperti saya bilang tadi, saya akan melupakan segalanya jika berhubungan dengan orang-orang yang saya cinta, terutama istri saya AIS"


Jedarrrrr............


Hafiz terkejut, hingga mendongakkan kepala, menatap tajam pada lawan bicara. Jika tidak sedang memakai kaca mata, mungkin Reza bisa melihat mata tajam juga membola sedang menatap tajam dirinya.


Hati Hafiz terasa ditusuk ribuan panah beracun, bisanya hingga membekukan darah. Saat kata "Istri" dikumandangkan. Dari tadi dia berdoa, semoga itu semua adalah mimpi. Tapi ternyata, ini fakta. Fakta yang tak terbantahkan. Ais sudah dimiliki.


"Nggak masalah pak Reza"


Hafiz tetap memaksakan senyum. Ia tidak ingin Reza mencurigai dirinya.


"Pertemuan hari ini saya rasa cukup dulu, nanti jika ada data yang diperlukan, kita bisa mengatur jadwal ulang"


Merasa tak lagi tahan, takut emosinya tak bisa dikendalikan, akhirnya Hafiz mengakhiri pertemuan.


Keduanya bersalaman, setelah itu, Hafiz ijin pamit undur diri, dengan diantar Reza hingga kedepan pintu.


Brakkkk..........


Pintu mobil dibanting kuat oleh pemiliknya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan HAFIZ.


Aaaarrrrrrhhhh............


Hafiz berteriak kencang, melepaskan emosi yang sejak tadi berusaha dikendalikan. Untungnya mobil kedap suara, jika tidak, bisa dipastikan jadi bahan tontonan karena dikira gila.


Bug....bug....bug....bug....


Berkali-kali stir mobil yang tak berdosa dijadikan pelampiasan. Jika benda bernyawa sudah dipastikan sudah babak belur.


Sekali lagi, untung mobil sudah dipasang kaca film, jika tidak, orang pasti berkata " dia pasti sedang stres berat".


Tapi memang itulah kenyataannya, dia stres juga gila. Mendapati kenyataan yang sungguh luar biasa.


Akhirnya Hafiz menangis menumpahkan semua kekecewaan.


Kepala memberat, penuh dengan beban. Beban tak kasat mata, yang tak bisa dibuang dengan begitu saja. Berkali-kali menghentakkan kepala disetir mobil, berharap agar, bisa sedikit mengurangi beban yang menggerogot isi kepala.

__ADS_1


Hari ini, Hafiz kembali rapuh. Hidupnya benar-benar telah hancur. Dulu ia menguatkan hati, tetap bertahan demi Adira dan Ais. Tapi kini..........


Bersambung......


__ADS_2