
Sayup-sayup terdengar suara Azan subuh. Ais menggeliat, perlahan membuka mata yang terasa bengkak, kemudian menegakkan badan. Leher terasa kaku akibat semalaman tidur dengan posisi duduk.
Sekian detik mencerna, barulah kesadaran mulai terkumpul, sekarang ia berada di apartemen Hafiz. Dengan langkah lunglai ia berjalan menuju kamar utama, berharap Hafiz ada di sana.
Kreeekkkkk.....
Suara pintu dibuka. Tatapan Ais menyapu seluruh ruangan kamar, tak ada manusia disana. Kosong. Kondisi kamar juga masih sama, berantakan sisa percintaan mereka.
Ais masih berbaik sangka, dicarinya Hafiz hingga kekamar mandi, mungkin ada disana, hasilnya juga sama, kosong...
Tak mau putus asa, ia melanjutkan langkah ke arah dapur, mungkin saja Hafiz sedang minum atau apa, namun sayang, hanya kecewa yang ia dapatkan. Diseluruh ruangan apartemen, ia tidak menemukan keberadaan Hafiz.
Kembali berjalan menuju meja makan. Ais Manarik kursi, lalu duduk disana, perasaan semakin tak karuan, lemas dan hancur, itu yang ia rasakan.
Perlahan Ais meraih benda persegi panjang yang ada dimeja makan. Berharap semalam Hafiz ada menghubungi atau setidaknya mengirim pesan, lagi-lagi itu hanya sebatas harapan. Ia tak mendapati pesan maupun telpon dari Hafiz.
Ditatapnya makanan semalam yang sudah lengkap terhidang, mau tak mau Ais mendekatkan piring, mencuci tangan lalu memasukkan sedikit nasi kedalam piring, karena bagaimana pun ia tak mau mati dengan cara mengenaskan karena kelaparan.
Ais meminum beberapa teguk air putih. Disuapnya nasi dingin juga goreng ayam yang sudah mengeras.
Susah rasanya menelan nasi, kondisinya benar-benar sesuai dengan sebuah peribahasa "nasiku makan terasa sekam"
***
Ruang ICU
Peralatan medis menancap sempurna ditubuh mungil Adira, tak cuma satu, bahkan hampir seluruh tubuhnya dipasangi alat penopang kehidupan. Ia terbaring lemas disebuah bed khusus yang ada di ruang itu. Layar monitor menampilkan gerak gelombang denyut jantung yang tak beraturan. Terkadang meninggi, sedang, bahkan rendah. Beberapa tim dokter terus berjaga, dibantu perawat untuk mengontrol kondisi pasien.
Hafiz masih setia memantau lewat kaca yang terpasang dipintu ruangan. Tatapannya lurus pada bed yang dipakai Dira. Dari semalam tak sedetik pun matanya terpejam. Jangan tanyakan bagaimana kondisinya, aura ketampanan memudar, raut wajah kusut, belum lagi rambut yang berantakan.
"Sayang.....! duduklah dulu! dari semalam kamu nggak ada istirahat!"
Bujuk Sofia yang berdiri dismping Hafiz. Sekarang ia malah khawatir dengan kondisi Hafiz.
"Bagaimana aku bisa istirahat, sementara nyawaku sedang berjuang disana" tunjuk Hafiz dengan tatapan terarah pada Dira.
"Ia, aku tau"
"Kamu tak akan tau apa yang ku rasa, aku yang mengurusnya dari merah, sampai sebesar ini.
__ADS_1
Sofia terdiam, perkataan Hafiz sedikit mengusik hatinya. Apa yang dikatakan Hafiz benar adanya. Ia salah satu wanita yang pantas mendapat penghargaan didunia pendidikan, tapi tidak untuk menjadi seorang ibu.
"Maaf" hanya itu yang diucapkan Sofia, wajahnya tertunduk menyesali perbuatan dimasa lalu.
"Maaf. Sebaiknya kamu saja yang istirahat!" Hafiz menoleh sekilas pada Sofia yang berdiri disampingnya. Ia sadar ucapannya barusan pasti menyinggung Sofia.
Perlahan Sofia memutar badan, kembali duduk di kursi tunggu yang ada didepan ruang ICU.
Atas saran Adam, Puan Jijah pulang kerumah bersama dirinya setelah Adira dipindahkan keruang ICU. Adam khawatir, jika kurang istirahat akan berdampak buruk bagi kesehatan wanita yang telah melahirkannya. Untungnya setelah diberi pengertian puan Jijah mengikuti saran Adam. Tinggallah Sofia dan Hafiz yang menunggui Adira. Sofia sudah mengabari pihak kampus jika pagi ini dia tidak akan datang ke kampus. Pihak kampus sangat memahami, dan memberikan izin pada Sofia.
Tiiiiiittttttttttt.........
Bunyi suara monitor perekam detak nadi. Disana ditampilkan garis lurus, yang artinya kondisi pasien sedang tidak baik-baik saja. Beberapa dokter jaga serta perawat dengan sigap mendekat kearah bed yang ditempati Dira.
Dari kaca yang ada dipintu ICU, Hafiz dapat melihat semua tampak menegang. Satu dokter memeriksa nadi pasien, setelahnya menyentar bola mata Dira.
"Dira....!" Hafiz meraung memanggil nama Putri kesayangannya.
Sofia yang hampir masuk ke alam mimpi, kembali berdiri, berlari mendekati Hafiz dengan wajah cewas.
"Sayang?" Apa yang terjadi?
Hafiz tak mampu menjawab, mata dan pikirannya terlalu fokus pada gerak-gerik dokter dan perawat yang menangani Adira. Ingin rasanya ia menerobos masuk kedalam ruangan itu, tapi sayang sebelumnya ia sudah diperingatkan untuk tetap berada diluar, bukan tanpa alasan, ruangan itu harus steril dan tidak boleh ada keributan yang dapat mengganggu pasien lain.
Hafiz pasrah, ia masih setia menunggu kabar baik dari dokter.
Kondisi ruangan ICU tambah mencekam, segala usaha sudah dilakukan. Dokter dan perawat saling pandang, tampak pula wajah keputus asaan, hingga akhirnya salah satu dari perawat menutup pasien dengan kain putih......
Hafiz yang sejak tadi tatapannya terpusat pada Adira. Seketika meraung seperti orang gila.
"Dira.....! jangan tinggalin papa sayang! Please....maafin papa sayang" Hafiz menangis sambil meratap.
"Sayang! sayang!......"
Sofia berusaha menyadarkan Hafiz.
***
Pagi sudah berlalu pergi, Diupuk timur mentari mulai menampakkan wajah. Lalu lalang kendaraan mulai memadati jalanan kota. Mengantar pengendara ketempat tujuan.
__ADS_1
Sebenarnya pagi ini Ais ada jadwal kuliah, namun kondisi yang tak memungkinkan membuat ia berpikir ulang untuk pergi.
Sejak pagi tadi, disaat berusaha mengisi lambungnya dengan nasi Ais merasa tak nyaman, mual juga ingin muntah. Barangkali efek semalaman perut kosong, ditambah nasi dingin yang dimakan.
Ais terkulai lemah di kamar mandi, sudah berkali-kali, ia muntah pagi ini. Tidak ada yang bisa dimintai tolong, untuk saat ini Ais harus berjuang sendiri.
Air matanya meleleh hingga ke pipi, sakit tubuhnya tak seberapa jika dibanding sakit hatinya. Ditatapnya langit-langit kamar mandi, pandangannya buram karna lensa mata tergenang cairan.
Sebegitunyakah takdir hidupnya. Andai bisa, saat ini juga ia ingin lari dari cerita ini.
Jika kondisinya seperti ini, jangankan ke kampus, ke tempat tidur saja ia susah setengah mati. Perlahan Ais bangkit, sisa tenaga digunakan semaksimal mungkin agar sampai ke pembaringan. Tertatih-tatih, menarik kaki dengan kepala serasa habis dihadiahi bogem, kliyengan....
***
Ditempat berbeda, sejak semalam wa nya tak mendapatkan balasan dari Ais, apa yang terjadi? Apa Ais baik-baik saja? Sudah jam 09.00, tapi Ais masih belum menampakkan batang hidungnya. Nia bimbang bukan main. Sempat bertanya pada Rian, tapi Rian juga tidak mengetahui keberadaannya.
Sudah berkali-kali berusaha menelpon, namun tak ada jawaban dari Ais.
Hingga akhirnya ia berkesimpulan, hari ini Ais pasti bolos kuliah, soalnya sampai selesai dosen mengajar tak ada tanda-tanda kemunculan Ais.
Nia tak putus asa sambil duduk dibangku taman, ia kembali melakukan panggilan.
"Halo....." Nia
"Ia halo...."
"Lho kenapa? kok suaranya kayak lagi nggak sehat, kamu sakit?" Nia menyerbu Ais dengan pertanyaan.
"Tolongin aku Nia!"
"Kamu kenapa Ais? sekarang kamu ada di mana?"
"Aku di apartemen Kozi, kamu kesini ya, aku shareloc"
"Ok, aku kesana sekarang"
Nia bangkit dari duduknya, dengan setengah berlari ia menuju lahan parkir. Ada kebimbangan mendengar suara Ais, tak biasanya juga Ais bersikap aneh seperti saat ini.
Bersambung......
__ADS_1