
Dengan PD nya, Ais menduga kehadiran Hafiz di kamar untuk menuntuk hak atas dirinya. Sehingga ada debaran yang tak bisa diungkapkan. Tapi kenyataannya Ais harus kembali menelan pil pahit. Hafiz datang hanya untuk memberikan selembar surat.
"Surat ?" Saat kesadaran Ais mulai kembali.
"Surat???"
Ais melihat kearah pintu yang sudah tertutup rapat. Artinya Hafiz benar-benar telah pergi dengan meninggalkan sebuah jejak berupa selembar surat yang ia simpan di atas tempat tidur Ais.
Belum kelar satu senaman jantung, kini Ais kembali merasakan detakan kuat di dada kirinya.
Takut membayangkan isi dari kertas putih yang seakan sedang melambai pada dirinya untuk minta segera di baca.
Perlahan tapi pasti Ais mendekat, dengan tangan sedikit gemetar meraih secarik kertas yang ia belum tau apa isinya.
Kedua netranya membulat, saat menyorot ke arah tulisan di bagian atas, "SURAT PERJANJIAN"
Sontak debaran semakin menguat, menatap nanar setiap kata demi kata. Ingin rasanya ia menyelesaikan semua bacaan kurang dari satu detik, biar ia tau apa isi makhluk tak bernyawa yang mampu membuat mulut menganga tak percaya.
Tatapan mata Ais menelusuri tiap kata demi kata, satu tangan memegang kertas, sementara tangan yang lain menutup mulut yang ingin bersuara, atau bahkan mungkin berteriak.
SURAT PERJANJIAN
Kami yang bertanda tangan di bawah ini:
1. Nama : Muh. Hafiz
Pekerjaan : lawyer
Alamat :................
Dalam hal ini di sebut sebagai pihak pertama (1)
2. Nama : Ais
Pekerjaan : Maid
Alamat :................
Dalam hal ini di sebut sebagai pihak kedua (2)
Kedua belah pihak menyatakan kesepakatan sebagai berikut:
1. Pihak kesatu berkewajiban memberikan nafkah kepada pihak ke dua (2), selama pihak ke dua (2), dalam masa pendidikan (kuliah) hingga menyelesaikan pendidikan.
__ADS_1
Adapun nafkah berupa: Tempat tinggal, makan, pakai, serta biaya pendidikan,( tidak termasuk nafkah batin).
2. Pihak ke dua (2) tidak akan pernah menuntuk untuk diakui sebagai istri.
3. Pihak ke dua (2) tidak boleh mengatakan ke pada siapapun tanpa terkecuali jika pihak ke satu dan pihak ke dua adalah suami istri.
4. Pihak ke dua (2) tidak boleh ikut campur dengan urusan yang menyangkut pihak ke satu (1)
5. Pihak ke dua bebas ingin berhubungan dengan laki-laki mana saja
6. Pihak ke dua tetap bekerja sebagai maid, di luar jam kuliah.
7. Tidak akan ada hubungan suami istri selama pernikahan.
8. Hubungan suami istri akan berakhir dengan sendirinya apabila pihak ke satu telah menyelesaikan pendidikan.
9. Saat terjadi perpisahan, pihak ke dua (2) tidak akan menuntut apapun dari pihak ke satu (1).
Demikian surat perjanjian ini dibuat dengan sebenar-benarnya dalam keadaan sadar tanpa ada unsur paksaan dari pihak manapun.
Sarawak,................2022
Pihak ke satu (1) Pihak ke dua (2)
Muh. Hafiz. Ais
"Astagfirullah...., huaaaaaaa......," Ais mencurahkan semua isi hatinya hanya lewat deraian air mata. Rasa sesak yang teramat, membuat tangisan yang sedikit tercekat, kedua pundak ikut terguncang hebat.
"Astagfirullah....., maafkan Ais, ibuk, Ayah, ternyata pernikahan ini hanya pura-pura, huaaaaaa.....".
Ais dalam kondisi terpuruk, seakan dibuang seperti sampah.
"Ibu....., ayah....., Ais ingin pulang.....huaaaaa...." suara tangisan yang sedikit ditahan. Tak ingin orang yang ada di sebalik dinding kamar mendengar tangisannya.
Puas menangis, tiba-tiba Ais mendengar bisikan di kedua telinganya, "come on....Ais!
come on....!
Jangan menangis lagi Ais!
Air matamu terlalu berharga untuk menangisi orang yang telah menghancurkan dan menyia-nyiakan hidupmu.
Kau harus bangkit, buktikan bahwa kau bisa menjadi wanita yang diinginkan setiap pria!
__ADS_1
Gunakan kesempatan ini untuk menggapai cita-cita mu dan membahagiakan orang-orang yang tulus mencintaimu.
Semakin ia tak mencintaimu, itu semakin bagus untukmu.!
Ganbatte....!
Ganbatte....!
Ganbatte....! " suara hati menyemangati diri yang hampir rapuh.
Entah dari mana, semangat tiba-tiba muncul.
Dengan sedikit senyuman Ais meraih sebuah balpoin yang ada di atas tempat tidur dan tanpa a i u e o langsung menandatangani surat perjanjian.
"Bismillah" itulah satu kata untuk memulai hidup baru, sambil membubuhkan tanda tangan di surat perjanjian.
Setelah itu, Ais langsung berpakaian, ada semangat baru dari dalam dirinya.
"Aku bersumpah, tidak akan lagi ada Air mata untuk laki-laki itu" ucapnya pelan dengan penuh keyakinan sambil menatap pantulan dirinya pada sebuah kaca hias.
Tak butuh waktu lama, hanya sekitar lima belas menit setelah penandatanganan surat perjanjian, Ais keluar kamar, berniat mencari tuan Hafiz dengan tujuan ingin mengembalikan surat perjanjian itu kepada yang empunya.
Perlahan Ais memutar knop pintu, ternyata kamar tuan Hafiz kosong. Kembali Ais menutup pintu, dan sekarang tujuannya ada di lantai bawah.
Benar .... saja, baru menapaki setengah anak tangga, Ais dapat melihat sosok laki-laki dengan tatapan kosong sambil memutar-mutar gelas yang ada ditangannya.
Ais mempercepat langkah, dan langsung mendekat ke arah Hafiz.
Hafiz yang melihat Ais tiba-tiba ada di depannya terlihat sedikit kaget.
"Maaf tidak ingin berniat apapun, hanya ingin mengembalikan ini" Ais menyerahkan kertas perjanjian pada Hafiz yang terduduk bingung di meja makan"
Hafiz menerima uluran surat perjanjian, dan langsung menyambutnya dari tangan Ais.
Ais kembali memutar badan, untuk meninggalkan laki-laki yang sempat ia harapkan untuk menjadi suami sungguhan, tapi maaf, tidak lagi untuk sekarang.
Hafiz terlihat ingin menahan Ais, mulutnya terlihat sudah mengambil ancang-ancang untuk menyampaikan sesuatu.
Namun belum sempat sepatah kata keluar dari mututnya, Ais kembali berbicara dengan posisi membelakangi tuan Hafiz.
"Oya...., soal surat perjanjian itu, tuan Hafiz tak perlu bimbang, dengan senang hati telah saya tanda tangani, dalam keadaan hati yang sadar tanpa ada pihak manapun yang memaksa. Tuan Hafiz juga tak perlu berlebihan, saya tidak akan pernah datang untuk menggoda tuan Hafiz, maksud saya tak akan menuntut nafkah batin. Dan satu lagi, saya sangatttt....mengucap ribuan terima kasih pada tuan Hafiz yang baik hati....yang akan menceraikan saya seiring berakhirnya pendidikan saya. Saya akan sangat menunggu saat itu tiba"
Ais tersenyum getir saat mengakhiri ucapannya. Secara naluri ada sedih yang tak akan pernah ia perlihatkan lagi pada laki-laki yang ada di belakangnya.
__ADS_1
Setelah itu dengan mantap tanpa melihat ke belakang, Ais terus berlalu pergi kembali naik ke lantai dua.
Hafiz mematung, rasa tak percaya atas keberanian wanita yang biasa terlihat lemah di depannya, tiba-tiba berubah menjadi wanita yang kuat.