
Hafiz berlarian kearah keduanya, dengan sigap menangkap tubuh Aidan juga Aiza. Telat sedikit saja, mungkin Aidan dan Aiza akan celaka. Tanpa pendampingan orang dewasa, tangga eskalator akan sangat berbahaya untuk anak usia keduanya.
Rasa tak sabar ingin menikmati es krim, membuat keduanya nekat mencari stand es krim yang tadi dilihat, tanpa Ais. Kini malah keduanya nyasar dan terpisah dari Ais.
Baik Aidan maupun Aiza keduanya masih menangis ketakutan, karena keduanya mengira yang menggendong mereka adalah seorang penculik anak.
"Tenang sayang, ada om" Hafiz mencoba menenangkan tangisan kedua bocah yang ada digendongan. Jika tidak, bisa-bisa ia dituduh sebagai penculik anak. Belum lagi penampilannya yang terlihat sangat mendukung, tidak perlu berpikir dua atau tiga kali, orang akan menilai dia seorang penjahat.
Aidan yang masih mengingat suara itu, berusaha melihat wajah orang yang sedang menggendongnya.
"Om, temalen?" ucapnya setelah melihat wajah Hafiz.
"Ia sayang, om yang kemaren" entah kenapa lagi-lagi Hafiz merasa ada ikatan batin dengan bocah laki-laki berpipi gembul yang mengenalinya dengan "om temalen". Panggilan sayang lolos begitu saja dari bibirnya, seakan memperlihatkan ada rasa sayang yang tulus.
Setelah mendengar suara dan melihat wajah Hafiz, seketika menghilangkan tangis Aidan, meski tampang Hafiz terlihat seram, entah kenapa lagi-lagi si bocah Aidan merasa nyaman digendong Hafiz. Aidan meletakkan kepalanya tepat dibahu Hafiz. Pemandangan yang begitu nyaman seperti seorang anak dan ayah.
Berbeda dengan Aidan, Aiza masih tetap menangis ketakutan.
"Unda!... unda...!" tangisnya masih menggema. Ini pertama kalinya ia digendong seseorang yang menyerupai gorila. Sebelumnya juga dia tidak pernah melihat Hafiz. Wajar saja anak itu sawan, jauh berbeda dengan Reza sang papa. Saat ketakutan seperti ini, ia memanggil-manggil bundanya.
Hafiz menggendong keduanya berjalan meninggalkan eskalator tempat orang berlalu lalang, Hafiz mencari tempat duduk yang dirasa nyaman untuk menurunkan dua bocah yang digendongnya. Pandangan Hafiz langsung tertuju pada kursi yang ada di stand es krim.
Dibawanya kedua bocah kesana, lalu mendudukkannya pada kursi yang kosong. Dalam hati Hafiz bertanya-tanya kenapa bisa dua bocah ini terpisah dari orang tuanya. Tapi biarlah.....
Hafiz ingin memanfaatkan moment ini untuk melihat secara dekat bocah laki-laki yang diduga anak kandungnya. Seperti kemudahan sedang menghampiri Hafiz, tanpa bersusah payah, dengan mudah dia bisa mengambil sesuatu dari Aidan. Lagian nanti Hafiz akan dengan mudah mengabari Reza kalau bocah itu ada bersamanya.
"Dek, uda......nangisna.....kita beli es tim, iya kan om?" lucu, Aidan menenangkan Aiza terdengar lucu ditelinga dan mata Hafiz. Bocah laki-laki itu benar-benar menjadi sosok yang mengayomi, berkata lembut, sambil menenangkan dan mengelus-elus sayang kepala Aiza. Tanpa sadar Hafiz tersenyum lebar dan mengangguk mengiyakan ucapan Aidan. Ada rasa yang entah, melihat tingkah Aidan, secara tidak sadar ia mengagumi orang yang sudah mendidik Aidan hingga bisa seperti sekarang ini.
Pandangan Aiza menyorot gambar Es krim yang terpasang menghiasi dinding stand. Seketika tangisnya terhenti. Karena inilah yang dicarinya sejak tadi, hingga berani meninggalkan Ais, yang sekarang setengah mati dilanda cemas juga khawatir.
"Ganteng mau rasa apa?" Hafiz mencoba memberi pilihan rasa es krim pada Aidan.
"Butan ganten om........, Aidan" Aidan merasa keberatan dipanggil ganteng oleh Hafiz, karena selama ini Aidan seringnya dipanggil abang, atau Aidan saja.
"Oh iya..., om salah"
"Kalau ini siapa namanya? Hafiz beralih pada Aiza.
"Aiza" jawab Aiza malu-malu. Masih terlihat air mata bekas tangisannya. Meski terlihat agak takut-takut, kini anak itu mulai tenang dan mencoba menerima orang baru.
"Kenalan dulu dong sama om, nama om Ha_" hampir saja Hafiz keceplosan.
"Nama om, om temalen" Hafiz meniru nama yang di buat Aidan, sambil mengulurkan tangan pada Aiza.
__ADS_1
"Om temannya papa tan?" Aidan memastikan, karena kemaren ia melihat Hafiz ada dikantor Reza.
"Ia sayang, om....temannya papa kalian, jadi sekarang jangan takut lagi. Karena om sama seperti papa kalian"
"Dan mungkin memang papa kandungmu sayang" suara hati Hafiz. Mata Hafiz terlihat berkaca-kaca, ada rasa penyesalan yang sampai hari ini tidak bisa ia hilangkan.
"Sekarang tos dulu dong! " ajak Hafiz pada dua Aidan juga Aiza. Mereka bertiga tos sebagai bukti persahabatan.
"Sekarang Aiza, jangan nangis lagi ya, om mau beli es krim dulu, oh ya....hampir kelupaan, Aidan mau rasa apa?" Aidan menawari pilihan rasa es krim pada Aidan.
"Aidan mau lasa coklat, Aiza biasana vanilla om" Aidan yang tau kebiasaan Aiza langsung menyebutkan rasa es krim kesukaan Aiza.
Saat melihat Aiza, Hafiz benar-benar melihat Ais persi kecilnya, sifatnya juga sama. Dalam keras tapi lembut.
"Tunggu sebentar ya, om pesan dulu, Aidan jaga adek ya?"
Keduanya mengangguk patuh.
Di mall yang sama, namun lantai yang berbeda.
Puas mencari dilantai dua tempat mereka tadi berada, akhirnya Ais mencoba mencari dilantai satu. Wajahnya semakin kalut, ia takut membayangkan hal yang tidak-tidak terjadi pada ke dua anaknya. Sementara menunggu Reza datang, ia memutuskan untuk mencari dulu seorang diri. Nanti setelah Reza datang barulah mereka akan membuat keputusan.
Tadi Ais sudah menelpon Reza, tapi belum memberitahu kalau anak-anak mereka hilang. Tidak ingin membuat Reza panik, terlebih saat mengendarai mobil, Ais hanya meminta Reza untuk segera datang ke mall, karena ada sesuatu. Tanpa memberi tahu hal yang sebenarnya. Dan sekarang Reza dalam perjalanan menuju mall tempat Ais berada.
Air mata sudah bercucuran dipipi mulusnya, Ais terduduk lemas disalah satu kursi yang ada di mall itu. Ada beberapa pengunjung yang duduk disamping ikut menyabarkan, karena sebelumnya sudah sempat bertanya pada Ais, permasalahan apa yang dihadapi sehingga membuat wanita 23 tahun itu menangis dan terlihat panik.
"Sayang!" Reza datang mendekat kearah Ais yang menangis sambil menutup muka dengan kedua telapak tangannya.
Ais menoleh, wajahnya terlihat kusut.
Bug......
Ais memeluk erat suaminya. Reza sudah mulai berfikir yang tidak-tidak, terlebih disana ia tidak melihat keberadaan Aidan dan Aiza.
Tangis Ais pecah dipelukan Reza. Dengan terbata ia bicara, " Aidan dan Aiza hilang"
Deg.....
Bagai disengat listrik bertegangan tinggi, seketika membuat tubuh Reza kaku.
"Aidan dan Aiza hilang?" tanyanya memastikan.
Ais hanya mampu mengangguk lemas.
__ADS_1
"Lapor dulu aja pak kebagian informasi" saran salah satu pengunjung yang dari tadi menemani Ais. Kini pengunjung itu juga terlihat sudah berdiri di dekat keduanya.
Dert......dert.......
Belum sempat menjawab, hape dikantong celana Reza bergetar. Masih memeluk Ais, ia mencoba mengangkat telpon.
"Hallo"
"Hallo, pak Reza"
"Ada apa ya pak?" Reza mengira pak Ahmad menelpon atas urusan kantor.
"Ini, saya mau bilang, anak-anak pak Reza ada sama saya"
Ais yang berada dipelukan Reza, bisa mendengar dengan jelas suara itu. Sepertinya ia mengenali suara itu. Tapi setelah mendengar kabar Aidan dan Aiza, ia melupakan soal suara siapa yang rasanya tidak asing.
Seketika Ais menghentikan tangisnya.
"Alhamdulillah, makasih banyak pak Ahmad" wajah Reza berubah cerah. Merasa sangat bersyukur, ternyata orang yang menemukan Aidan dan Aiza, pak Ahmad.
"Ia sama-sama, sekarang kita ada di stand es krim lantai dua pak" Hafiz mengabarkan posisi mereka saat ini.
"Stand es krim? jadi Aidan juga Aiza pergi ke stand es krim?" Ais bertanya dalam hati.
"Ok, saya kesana sekarang pak" ucap Reza.
Tut....tut.......
Hape dimatikan, Reza kembali mengantongi hape kesaku celananya.
Reza dan Ais melerai pelukan.
"Aidan dan Aiza sudah ditemukan, sekarang kita susul mereka" ajak Reza pada Ais.
Ais hanya mengangguk, ia masih belum habis pikir dengan apa yang terjadi hari ini. Pertama kali pergi ke mall tanpa Reza dan keluarga, memberi kenangan buruk dalam hidupnya.
"Ayo....dihabisin es krimnya, sebentar lagi papa sama mama Aidan dan Aiza mau kesini" Hafiz mengusap sayang kepala Aidan, tanpa ada yang curiga ia telah mengambil beberapa helai rambut Aidan.
"Abang.....!
Deg....
"Suara itu....."
__ADS_1
Bersambung.......