
Malam hari.
Kediaman Reza.
Jam mengarah ke angka sembilan malam, anak-anak sudah tertidur dikamar sebelah. Sebelumnya, seperti biasa Ais selalu membacakan dongeng penghantar tidur untuk kedua anaknya. Setelah keduanya tidur, barulah Ais masuk kekamar pribadi miliknya juga Reza.
Ais berbaring nyaman dalam pelukan Reza. Berbantalkan lengan kokoh, dengan menghirup dalam aroma tubuh suaminya. Kebiasaan semasa hamil yang dijadikan terapi ampuh disaat mual, ternyata terbawa dan menjadi kebiasaan Ais sampai saat ini. Karena jika tidak melakukan ritual itu, Ais dilanda gelisah saat ingin memasuki alam mimpi.
Reza sudah terbiasa akan hal itu, malah dirinya juga merasa candu dengan sikap manja Ais padanya. Merasa ketagihan, juga tak bisa tidur apabila Ais tak dipeluknya.
"Sayang?" suara itu menyapu rungu Ais.
"Emmm"
Reza sedikit ragu.
Berat rasanya untuk membicarakan masalah ini. Ia takut akan membuat luka lama berdarah kembali.
Hening sesaat. Ais masih menunggu kelanjutan ucapan Reza.
Sekian detik berlalu ternyata Reza masih betah membisu.
Ais menoleh, ditatapnya mata Reza.
"Kenapa?" Ais akhirnya bersuara, ia tau ada sesuatu yang mengganjal dihati suaminya.
Tangan kiri Reza mengelus lembut pipi istrinya. Sedang tangan satunya masih setia menjadi bantal Ais. Reza menatap dalam mata Ais, memastikan apakah luka itu masih ada disana.
Ais tersenyum, meyakinkan jika ia baik-baik saja, siap mendengar cerita suaminya.
"Sayang?"
"Emmm"
"Selama kita menikah, seharipun tak pernah kita berpisah"
Reza menjeda ucapan. Masih setia menatap sayu mata istrinya. Memang itulah adanya, walau kemana kaki melangkah, mereka selalu bersama. Tak peduli ditempat kerja, di mall, restoran, bahkan mengurus perkebunan pun Ais setia disamping Reza.
Ais tersenyum. Membenarkan ucapan Reza, memang itulah adanya.
"Kemaren papa telpon, katanya usaha yang di Malaysia ada sedikit masalah"
Deg......
Hati Ais mulai tak nyaman. Senyumnya memudar. Ia tau arah pembicaraan Reza. Pantas saja suaminya terlihat gelisah. Tapi, itu tak berlangsung lama, detik berikutnya Ais kembali tersenyum. Sebagai ungkapan jika dia baik-baik saja. Ais tak ingin menghalangi dan terlihat lemah dimata Reza.
"Untuk sementara, papa meminta kita untuk tinggal disana" Reza kembali melanjutkan ucapannya.
Deg.........
Jantung Ais lagi-lagi berdegup takut. Ia diam, senyumnya tiba-tiba kembali meredup.
Semua memori kelam kembali berputar bagai kaset yang diputar ulang. Hanya saja, kini dia tak secemas dulu.
Reza melihat istrinya diam. Reza tau, Ais mulai tak nyaman dengan obrolannya.
__ADS_1
"Kalau sayang keberatan, biar nanti kita bicarakan ulang sama papa"
"Ja...jangan!" Ais yang baru tersadar dari putaran kaset lama, berusaha bersikap tenang.
Reza mengerutkan kening, merasa tak yakin dengan apa yang diucapkan istrinya. Diselaminya mata Ais dalam. Dia tak ingin istrinya merasa tertekan. Bagaimanapun keadaan istrinya itu yang nomor satu.
"Kita akan tinggal disana, sampai usaha papa kembali stabil, lagian itukan hanya sementara"
Ais berusaha menjadi istri yang bijaksana, tidak ingin mementingkan diri sendiri.
"Sayang yakin?"
Ais mengangguk dan tersenyum manis pada suaminya.
"Makasih sayang" Reza mengecup lama kening sang istri. Tak sampai disitu, rasanya tak sah bila tidur sebelum olah raga malam.
Reza melepas lengannya dari kepala Ais, sembari menarik bantal sebagai pengganti.
Kini tatapannya berubah sendu, seolah sedang memohon restu.
Ais yang sudah sangat hafal dengan kode itu, langsung mengangguk tanda setuju.
Reza melabuhkan ci*man dibibir ranum Ais, diawali dengan mengecup berlanjut sampai kerongga mulut. Berbelit, saling lilit, serta gigit, kini keduanya mulai merasakan nikmatnya dunia.
Tangan yang sudah terlatih, bergerak lembut menyingkap pembalut tubuh. Tanpa terasa, keduanya sudah polos seperti bayi yang baru lahir.
Decapan demi decapan, erangan juga tak ketinggalan, terdengar nyaring digendang telinga, untungnya kamar sudah dipasang peredam suara. Jika tidak pasti terdengar ketelinga tetangga.
Semakin lama, semakin nikmat. Kaki ranjang turut bergoyang. Diiringi lagu deritan ranjang. Merem melek, tak dapat dielakkan.
***
Bumi yang sama, namun dikamar yang berbeda.
Lampu temaram menjadi temannya. Disinilah Hafiz berada, apartemen. Apabila rindu sudah tak tertahankan, maka disinilah sebagai tempat pelarian. Karena hanya disini yang pernah menyisakan kenangan indah antara dirinya juga Ais.
Duduk bersandar di kepala ranjang, sambil menerawang kejadian empat tahun silam. Dimana, dia dengan gagahnya menjadi seorang petarung diatas ranjang. Beronde-ronde pertarungan ia lakukan. Masih juga kurang, kini berubah posisi menjadi penunggang kuda liar asli sumbawa, menghentak bumi hingga kedasarnya, mencipta getar seluruh raga. Memacu kencang tak terkalahkan, Membuat sang lawan terlentang tak berdaya. Bersimbah keringat, mengerang, hingga menjerit panjang dengan tubuh mengejang.
Ah.....haredang.......ðŸ¤
Semuanya masih jelas terbayang di pelupuk mata, bagaimana wajah itu terlihat menggoda dengan bulir keringat diseluruh tubuh indahnya, serta deru nafas serasa terjengah....
Semakin diingat, semakin menyiksa. Hormon testosteron menanjak gila. Tanpa diminta, Monas dibawah sana tegak berdiri. Kini Hafiz bisa apa? Meski separuh jiwa telah mati, namun dia tetap laki-laki normal.
Tidak ada cara lain, selain mencari Tante Lux dikamar sebelah, sebagai teman kencan di pagi buta.
***
Hanya butuh tiga puluh menit, waktu yang digunakan untuk penerbangan dari kota P ke negara Malaysia.
Jika melewati jalur darat, bisa memakan waktu enam sampai delapan jam.
Setelah ikut jadwal penerbangan jam 07.00 pagi, kini keluarga kecil Reza sudah menginjakkan kaki di negara Malaysia.
Ais tampak cantik dengan dalaman baju kaos berwarna putih. Sedang untuk luaran ia memakai jaket lepis berwarna kebiruan dan bawahan celana jeans berwarna biru tua diatas mata kaki. Tak lupa kaca mata hitam, bertengger manis dihidung kecilnya. Meski tidak terlalu mancung, namun untuk ukuran orang Indonesia terbilang lumayan. Sepatu ket putih melekat manis dikakinya. Tak lupa dikepala ia sengaja memakai topi putih, dengan menyelipkan rambut kelubang yang ada dibagian belakang kepala.
__ADS_1
Jika tidak Aidan dan Aiza memanggilnya unda, mungkin tak ada yang menyangka jika dia ibu beranak dua.
Penampilan tak kalah berbeda Reza tampilkan. Rambut model undercut, kacamata hitam model Sukarno bertengger gagah di hidung mancungnya. Ia mengenakan kaos berwarna hitam, sehingga nampak kontras antara dirinya dan juga Ais. Terahir ia mengenakan tas hitam yang di slempangkan di dada, menambah kesan modis juga berkelas.
Sedang untuk bawahan, ia memakai celana jeans yang sama warna dengan Ais. Warna sepatu serta merek, mereka samakan. Sehingga menampilkan pasangan serasi. Yang perempuan cantik dan yang laki ganteng.
Aidan dan Aiza tak kalah stylish. Keduanya memakai baju kaos putih dengan model yang sama. Bedanya Aidan memakai celana chinos dibawah lutut, Aiza memakai rok Levis di atas lutut. Keduanya juga sama-sama menggunakan sepatu ket berwarna putih, satu merek dengan kedua orang tuanya.
Untuk rambut, Aidan dengan ciri khasnya selalu model belah disamping. Aiza sendiri dibiarkan terurai, sehingga tampak semakin menggemaskan.
Ada debaran yang Ais rasakan. Wajahnya memucat terlihat tak karuan. Saat ini, mereka berada diruang tunggu untuk menunggu jemputan.
"Sayang ok?"
Melihat perubahan raut wajah Ais, Reza kembali khawatir, ia takut troma masa lalu hadir kembali.
Ais tersenyum, meski tampak dipaksakan.
"Jangan khawatir, semuanya baik-baik saja" ucap Reza.
"Ia, papa nggak usah terlalu mengkhawatirkan unda. Unda insyaallah baik"
Ucap Ais meyakinkan dirinya juga Reza, jika ia mampu berhadapan dengan ini semua.
Kedua bocah hanya menjadi pendengar setia. Si tampan Aidan betah duduk dipangkuan Ais, sementara si cantik Aiza duduk dipangkuan Reza.
Lima belas menit menunggu, belum ada tanda-tanda kehadiran orang yang menjemput. Mungkin macet, karena ini jam orang pergi bekerja juga sekolah.
"Pa, mama ke toilet dulu ya?"
Ais yang merasa kebelit pipis, segera menurunkan Aidan dari pangkuan.
"Mau ditemenin?" tawar Reza, ia takut bila sendirian istrinya merasa tak nyaman.
"Nggak usah, papa disini aja, sama anak-anak juga barang-barang kita"
Tak mungkin rasanya jika mereka berempat harus ke toilet, sementara barang bawaan tidak ada yang menjaga.
"Ya sudah, unda hati-hati"
Ais melangkahkan kaki, membaca plang penunjuk tempat, yang tergantung manis disetiap ruangan.
Setelah membaca salah satu plang, ia menemukan keberadaan toilet. Tak disangka, karena posisinya mendongak, membuat tubuhnya tiba-tiba terjungkal kebelakang.
Bug.......
"Astagfirullah......."
"Ma...maaf"
Ais memutar badan melihat ke arah suara.
"Mama?"
Bersambung......
__ADS_1