
Jangan lupa mampir para reader kesayangan🥰Aku punya novel baru yang tidak kalah seru, judul "FORGIVE ME"
Bug..... bug.... bug...
Pukulan bertubi-tubi dari gagang sapu tepat mengenai punggung seorang gadis remaja bernama Elma Authafunnisa, atau sering dipanggil El. Umurnya baru tujuh belas tahun. Dia masih menyandang status pelajar, disalah satu SMKN Bandung jurusan sekretaris. El baru saja menyelesaikan ujian akhir sekolahnya. Hanya saja surat kelulusan belum ia kantongi.
"Ampun mak, ampun, ampun mak, sakittt....hik.... hik....sakit mak...." tangisnya terdengar pilu dan menyayat hati. Dia memohon ampun seraya mengiba. Bersujud di kaki perempuan tua yang tak lain adalah ibu kandungnya. Leha namanya, biasa orang dikampung memanggilnya dengan sebutan Mak Leha.
"Makanya jadi perempuan jangan gampangan, dirayu dikit langsung buka selangk*ngan!" Teriak Mak Leha dengan cacian. Dadanya kembang kempis, menahan amarah yang semakin meledak-ledak.
Untung saja rumah mereka berada jauh dari rumah warga lainnya. Jika tidak, bisa dipastikan ucapan Mak Leha barusan jadi sorotan, tersebar luas sebagai bahan gosipan hangat para emak-emak berdaster diwarung sembako juga tukang sayuran.
"Sekarang apa yang kau sesalkan? Menangis darah sekalipun keperawananmu tidak akan kembali. Susah payah kau Mak besarkan, dari kecil kau mak kasih baju, supaya apa? supaya menutup kemal*anmu. Tapi sekarang...." ucapan Mak Leha terjeda, diusapnya air mata yang menganak sungai dengan lengan panjang dasternya.
Detik berikutnya, kembali tatapan nyalang ia layangkan pada El yang masih bersujut memegang kedua kakinya. "Dengan gampangnya kau telan**ng di depan laki-laki bajingan itu. Kalau tau begini, ku pijak kau waktu bayi, biar mati sekalian, dari pada hidup memberi malu" lanjut Mak Leha masih dengan cacian juga teriakan.
Bug.... bug.... buk...
Tangkai sapu kembali menghantam tubuh Elma. Entah bagian mana yang kena, pasalnya pukulan Mak Leha membabi buta tanpa jeda melampiaskan geram juga kecewa.
"Sakit mak.........sakit...... ampunnn..... mak.... ampun "
Suara Elma semakin lirih dan pelan. Sakit fisik yang El rasakan, tidak sebanding dengan sakitnya hati Mak Leha yang telah dia hancur berkeping-keping tanpa sisa.
Elma tidak kuat lagi menahan tubuhnya, sakit yang mendera membuat ia hambruk, meringkuk, terbaring dilantai.
Membuat siapapun yang melihatnya ikut meringis merasakan sakit.
Mak Leha kalap, akal sehatnya benar-benar hilang dikuasai amarah yang membakar raga.
__ADS_1
Rambut yang tadinya disanggul rapi, sekarang ikut berantakan, tergerai terlihat ngeri.
"Sudah Mak!" seorang laki-laki tampan datang menahan. Diambilnya sapu dari tangan Mak Leha yang sudah terangkat ingin kembali menyerbu tubuh El. Sejak tadi dia berdiri dibingkai pintu jendela, ikut menyaksikan adegan kekerasan. Dia pun sama kecewanya, menyayangkan apa yang terjadi pada saudara kembarnya. Ikut mengumpat kebodohan El. Tapi melihat penyiksaan yang Mak Leha lakukan, timbul pula rasa kasihan pada Elma yang terlihat sudah tersengal-sengal mau pingsan, akibat hebatnya pukulan yang diberikan Mak Leha.
Mak Leha bukan seorang yang garang, apalagi suka main tangan. Ini kali pertama dalam hidupnya, Mak Leha melakukan penyiksaan, terlebih pada putrinya sendiri. Selama hidupnya, dimata anak-anak, maupun tetangga, Mak Leha terkenal sebagai seorang ibu yang penyayang juga baik hatinya.
"Inikah balasanmu pada Mak yang sudah mati-matian berjuang demi kalian? Mak iklas selama ini kita hidup susah, tidak berharta. Setidaknya kita masih punya harga diri untuk dibanggakan. Orang masih akan berpikir untuk menghina. Kalau sekarang apa yang bisa Mak banggakan, hik...hik....." kekecewaan Mak Leha terlalu dalam, ia terduduk lemas jatuh kelantai, tepat disisi El. Beruntung Althaf Altharun yang tak lain saudara kembar Elma masih sigap menahan dan menjadikan tubuhnya sebagai sandaran Mak Leha, jika tidak, bisa dipastikan tubuh wanita berbobot 70 kg itu akan telentang jatuh ke lantai.
Badan Mak Leha terasa melemas, namun menegang seperti ingin keram. Mungkin pasokan oksigen mulai tidak lancar, sehingga peredaran darah menjadi terganggu.
Meski badannya sudah melemah, namun kakinya kembali menerajang tubuh Elma.
Bug.......
"Akkkkkkkhhh......." teriak Elma.
"Sudah Mak! bisa-bisa El akan mati" Al coba menyabarkan. Ia semakin tak tega melihat kondisi El yang semakin mengenaskan.
"Biarkan saja dia mati, hidup pun hanya jadi sampah masyarakat apa gunanya?".
Mulut Mak Leha masih tak mau diam, mengoceh, melampiaskan rasa marah, kecewa yang tiada habisnya.
"Mak rela jadi babu ditempat orang, asal anak-anak Mak bisa sekolah. Bisa jadi orang, agar tidak selamanya hidup susah, hik....hik....." tangis Mak Leha semakin pecah, disela-sela ucapannya. Terdengar semakin menyayat hati. Tangisan seorang ibu yang merasa telah gagal, gagal menjadikan anaknya manusia.
Jelas tergambar diwajah yang mulai dikuasai keriput rasa kecewa yang begitu mendalam. Elma yang selalu dibanggakan dengan segudang prestasi, karena kepintarannya, kini hanya menjadi wanita bodoh. Demi cinta rela menyerahkan keperawanan pada laki-laki bajingan. Padahal selama ini Mak Leha tau, El tidak pernah dekat dengan laki-laki, apalagi pacaran. Karena baik Mak Leha maupun Al, selalu berpesan padanya untuk menyelesaikan sekolah dulu dan bekerja, barulah boleh mengenal laki-laki. Rupanya, baik Mak Leha maupun Althaf telah kecolongan.
Akibat perbuatan El, seumur hidup Mak Leha harus menanggung malu. Kini Elma hanya bisa melempar kotoran diwajah Mak Leha. Kotoran bernajis yang tidak bisa dibersihkan meski dengan tujuh tanah sekaligus.
Nafas Mak Leha sampai tersengal-sengal. Rasanya, ia ingin mati saja menyusul almarhum suaminya. Ia malu.
__ADS_1
Sepuluh tahun lalu, semenjak kepergian sang suami mak Leha berjuang seorang diri. Berjuang membesarkan ke dua anak kembarnya. Elma dan Altaf. Tidak peduli bagaimana kerasnya kehidupan. Saat itu usia anak-anaknya baru tujuh tahun. Mak Leha lebih memilih menjadi janda abadi dari pada menikah lagi. Bukan tidak ada yang meminta dirinya, hanya saja cintanya pada almarhum suaminya terlalu sulit untuk diganti. Mak Leha juga tidak ingin kedua anaknya menderita, karena baginya tidak semua ayah tiri, tulus sayang pada anak-anak sambungnya. Mak Leha tidak ingin egois, baginya, kebahagiannya adalah melihat anak-anaknya bahagia. Tapi sekarang, semua sudah dihancurkan Elma.
Kemana kini Mak Leha menghadapkan muka, rasanya semua orang sedang mengumpatnya. Dia tak sanggup, malu.......
Buk......
Mak Leha jatuh pingsan dipangkuan Althaf.
"Mak..! mak.....!" panggil Althaf yang mulai panik.
El yang masih meringkuk dilantai, ingin mendekat melihat dan menolong Mak Leha. Tapi kondisinya yang parah, jangankan menolong, bergerak sedikit saja tubuhnya tak bisa.
"Mak..! bangun Mak...!" Altaf mengguncang pelan tubuh Mak Leha. Tidak mendapatkan respon, Al dengan kekuatan yang ada, mencoba mengangkat tubuh Mak Leha untuk dibaringkan ke kamar. Namun karena berat Mak Leha diatas rata-rata membuat Al mengurungkan niatnya. Kalau dilanjutkan bisa patah pinggangnya. Al memutuskan untuk mengambil bantal, dan membiarkan Mak Leha berbaring di sana, diruang tamu yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Karena rumah yang mereka tempati, merupakan warisan satu-satunya dari almarhum suaminya, ayah dari Al juga El.
Setengah jam berlalu. Mak Leha mulai mengerjapkan mata, kesadarannya mulai kembali.
"Mak....!" panggil Al lembut disamping Mak Leha. Dari tadi ia belum beranjak, tak henti-henti mengoleskan minyak kayu putih di hidung juga di kaki dan tangan wanita yang sangat dicintainya.
Mak Leha tidak menyahut, tatapannya lurus menatap kosong pada atap rumah yang sudah mulai sedikit bolong. Nampak sinar mentari masuk tak ubah seperti lampu sorot dipanggung pertunjukan. Hanya air mata yang mengalir di kedua sudut matanya.
"Cari laki-laki yang sudah merusak masa depan El, bawa kesini, nikahkan mereka!" ucap Mak Leha pelan tidak terbantahkan. Pandangannya masih enggan berpindah.
"Tapi....., kita dan mereka berbeda Mak" Al sedikit ragu, pasalnya dia tau betul siapa orang yang sudah merenggut kesucian El. Orang yang tidak akan mungkin bisa tersentuh, meski hukum ikut bermain.
"Mak tidak peduli, jika El sampai tidak menikah dengan laki-laki yang telah mengambil kesuciannya, selamanya dia tidak akan menikah, karena mana ada laki-laki yang mau dengan sisa orang, hikkk......hik......" tangisan Mak Leha kembali pecah. Sebenarnya jauh dilubuk hatinya Mak Leha merasa kasihan dengan El, bagaimana pun juga, El tetap anak kandung, darah daging yang sangat disayangi. Mana ada orang tua yang tega melihat anak gadisnya di lecehkan dan dihancurkan masa depannya. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.
Mendengar ucapan Mak Leha barusan, membuat penyesalan di hati El yang masih duduk di ujung kaki Mak Leha. El tertunduk, malu dan rasa penyesalan bergabung jadi satu. Entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah. Jika bisa memutar waktu, ia ingin memperbaiki semuanya.
Jangan lupa mampir ya 🙏🥰🥰
__ADS_1