Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
74. Anak Saya


__ADS_3

Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan, Ais dengan kedua anaknya beserta sopir, tiba di halaman parkir rumah sakit.


Setelah mobil terparkir sempurna, pak sopir langsung keluar dan membantu Ais menurunkan Aidan juga Aiza.


"Pak..., bisa minta tolong bawain koper ke dalam?" Ais berkata, sesaat setelah menutup pintu mobil.


"Tentu saja boleh non, dua duanya nanti saya bawain kedalam" sahut sopir dengan sikap hormatnya.


"Makasih pak!" Ais merasa lega, setidaknya mereka untuk saat ini aman dari ibu mertuanya. Ais takut kalau-kalau ibu mertuanya berbuat nekat.


"Ia sama-sama non" ucap pak sopir dan langsung membuka bagasi untuk menurunkan dua koper Ais.


Ais menggendong Aiza, Aidan berjalan sendiri dengan satu tangannya berpegangan dengan Ais.


"Abang masih kuat jalannya?" Ais melihat ke arah Aidan yang sudah berkeringat. Saat ini mereka masih berjalan dilorong rumah sakit untuk mencari lift.


Ada rasa tidak tega, bagaimana pun juga, Aidan masihlah kecil. Minta tolong pak sopir untuk menggendong rasanya juga tidak mungkin, karena dua tangannya digunakan untuk menarik koper.


"Abang tapek unda" wajah cabi itu sudah penuh dengan keringat, belum lagi kerutan wajah lelah.


"Biar om gendong ya?" tiba-tiba saja tubuh Aidan sudah melayang. Aidan sudah berada digendongan seseorang.


Reflek Ais menghentikan langkah. Menatap kaget juga rasa tidak percaya. Otak yang tadinya bisa bekerja, seketika terasa mati kehabisan daya.


Persekian detik berikutnya barulah Ais bisa mencerna apa yang barusan terjadi. Dengan sedikit terseok-seok sambil menggendong Aiza, Ais mengejar orang yang sudah seenaknya menggendong Aidan, siapa lagi kalau bukan si Hafiz gila.


"Berhenti......!" teriakan Ais lepas begitu saja. Membuat kaget orang yang kebetulan berlalu lalang disana, termasuk Hafiz yang sedang menggendong Aidan.


Hafiz menyetop langkah, berputar arah, dan berhadapan dengan Ais juga Aiza. Tidak ketinggalan pak sopir yang mengantar Ais.


"Turunkan anakku!" kata-kata kepemilikan Ais lafaskan dengan intonasi penuh penekanan.


"Abang hanya ingin menolong menggendong Aidan itu saja tidak lebih" ucap Hafiz tulus.


"Aku masih mampu mengurus anakku sendiri!" ucap Ais tak mau dibantah.


Hafiz tertawa sumbang, entah menertawakan dirinya atau pun menertawakan Ais yang terlihat sombong. Mengaku mampu mengurus kedua anaknya, bukankah tadi sudah jelas Ais cukup kepayahan membawa keduanya?. Sampai-sampai Aidan hampir menangis karena kecapean berjalan.


"Untuk saat ini, tolong jangan berdebat tahan emosimu! Apa kamu tidak liat Aidan hampir saja menangis? ucap Hafiz yang kini seolah tidak mau dibantah.


Ais terdiam, dilihatnya wajah Aidan yang benar-benar terlihat kecapean sedang terbaring nyaman dipundak Hafiz.


Ais dilanda kebingungan, ia tidak mau Aidan sampai mengenal apa lagi dekat dengan Hafiz, orang yang sudah menghancurkan hidupnya. Disisi lain, untuk saat ini bocah itu benar-benar tampak kelelahan.


Melihat Ais terdiam, Hafiz kembali memutar badan dan melanjutkan langkah menuju pintu lift, sedang sopir yang dari tadi mengamati perdebatan dua orang dewasa yang ia tidak tau akar masalah, hanya menjadi penonton, bengong juga mau apa.

__ADS_1


Penuh kekesalan, akhirnya Ais mengekor di belakang Hafiz. Sampailah mereka di depan pintu lift, Hafiz langsung menekan tombol yang menempel di samping pintu lift.


Tidak lama menunggu, pintu lift terbuka, ada beberapa orang yang keluar dari sana. Ais sedikit menggeser tubuhnya agar tidak menghalangi jalan orang yang akan keluar dari lift. Setelah semua orang keluar, Hafiz masuk. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir tertutup kumis yang menyerupai hutan belantara. Hanya tatapannya yang bermain, seakan memanggil Ais agar cepat masuk ke dalam lift. Soalnya Ais masih berdiri di depan lift terlihat ragu untuk ikut bergabung dengan Hafiz. Bahkan pak sopir pun sudah masuk ikut bergabung bersama Hafiz. Lagi dan lagi Ais mengalah, dengan langkah berat ia menjejakkan kaki kedalam kotak berbentuk persegi panjang.


Setelah tubuh Ais masuk sempurna, Hafiz kembali menekan angka 3, yang artinya mereka akan dibawa ke lantai tiga. Karena memang di sana kamar Reza berada.


Cukup tiga puluh detik, pintu lift berdenting. Setelahnya pintu langsung terbuka. Ais memilih keluar lebih duluan, kemudian barulah Hafiz, dan yang terakhir pak sopir.


Jarak dari lift keruangan Reza hanya sekitar lima belas meter. Keluar dari dalam lift, Ais hanya berjalan beberapa langkah, selanjutnya berhenti langsung memasang wajah garang.


"Turunkan!" Ais berkata dengan wajah tidak bersahabat dan nada yang ketus. Tatapannya tajam ke arah Hafiz yang baru keluar dari pintu lift, masih dengan menggendong Aidan yang terlihat sedikit lemas.


Meski Ais berkata ambigu, namun Hafiz sangat tau apa maksudnya. Perlahan Hafiz ingin menurunkan Aidan, lagian dia berpikir, kamar Reza tidaklah terlalu jauh.


"Pusing.......hoek......" Aidan memuntahkan isi perutnya tepat di dada Hafiz.


"Sayang!!"panggilan bersamaan, reflek Ais dan Hafiz terkejut melihat Aidan yang tiba-tiba muntah.


Hafiz menurunkan badan, kini posisinya menjadi jongkok. Tidak memperdulikan muntahan Aidan yang memenuhi baju bagian depan, hingga mengalir mengenai celana. Aidan Hafiz jongkokkan di depannya. Kedua tangan Hafiz menyelip sempurna di ketiak Aidan, masih menahan bobot Aidan. Disaat bersamaan, Aidan kembali memuntahkan isi perutnya.


Cepat menurunkan Aiza agar berdiri sendiri. Setelahnya Ais ikut berjongkok, mengelus-elus belakang Aidan. Ais sendiri tidak peduli, bagaimana dekatnya posisinya dengan Hafiz yang masih menahan tubuh Aidan.


"Sayang, sayang kenapa sih?" tanya Ais cemas sambil terus mengelus belakang Aidan.


"Kita bawa ke UGD saja biar bisa langsung ditangani" Hafiz kembali berdiri. Dan diangguki Ais. Saat ini semua dendam dan marah menghilang seketika, yang ada dikepala bagaimana agar Aidan cepat ditangani.


Hafiz membungkuk, setelahnya langsung kembali menggendong Aidan. Tidak ada rasa jijik akibat muntahan, Hafiz benar-benar berperan sebagai sosok ayah yang siaga dan bertanggung jawab.


"Pak, tolong koper ......" belum selesai Ais bicara sudah dipotong Hafiz.


"Masukkan saja di kamar nomor satu pak, bilang sama wanita tua yang ada di sana itu koper Hafiz" potong Hafiz cepat. Entah apa maksudnya, hanya dia yang tau.


Sedang Ais tidak bisa berpikir banyak, otaknya kembali blank, terlalu bimbang pada Aidan, sehingga apapun yang diucapkan Hafiz ia manut saja. Padahal jika otak warasnya sudah bekerja, pasti akan terjadi perdebatan seperti biasanya.


"Siap tuan" sopir mengikuti apa yang diperintahkan Hafiz.


Hafiz menggendong Aidan, Ais menggendong Aiza, ke empatnya kembali memasuki lift untuk menuju lantai satu, tempat ruangan UGD berada.


Hanya lima menitan, mereka sudah berada di depan ruang UGD.


"dokter! suster...!, tolongin anak saya!" teriakan Hafiz menggema di sana.


Kata-kata Hafiz barusan, membuat Ais melirik ke arah Hafiz. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena setelahnya dokter jaga dan para perawat yang stand by di sana, langsung bergegas mendekat, ada yang membuka pintu UGD sedikit lebar agar Hafiz leluasa masuk. Dan ada perawat yang lain, mengarahkan Hafiz membaringkan Aidan di salah satu brangkar kosong.


Ais ingin ikut masuk, namun ditahan oleh perawat.

__ADS_1


"Ibu tunggu di luar saja, kesian adek kecil ini kalau ikut masuk" tutur perawat dengan sopan. Kebetulan Ais juga sedang menggendong Aiza. Jika ikut masuk, dikhawatirkan mengganggu dan menularkan penyakit lain pada Aiza.


"Ibuk jangan khawatir, di dalam sudah ada suami ibuk yang menemani" lanjut perawat lagi. Kebetulan hari ini UGD sedikit sepi, jadi Hafiz masih diperbolehkan untuk masuk, jika dalam kondisi ramai, dapat dipastikan, Hafiz pun akan disuruh menunggu di luar.


Akhirnya Ais mengalah, ia pun duduk dikursi tunggu. Berdiri terlalu lama dengan menggendong Aiza membuat Ais merasa cepat lelah dan sengal.


"Pak Hafiz! anak ini?" dokter menunjuk dengan wajahnya ke arah Aidan yang sudah terbaring di atas brangkar. Dokter yang jaga kebetulan sangat mengenal Hafiz, karena selama ini turut menangani Dira.


"Anak saya" potong Hafiz cepat.


Meski banyak pertanyaan yang ada di kepala, untuk saat ini menanyakan keluhan pasien itu lebih utama.


"Kenapa anaknya pak?" tanya dokter ramah, memulai sesi pemeriksaan.


Salah satu perawat berusaha membuka baju Aidan yang basah akibat terkena muntahan.


"Tiba-tiba saja dia muntah dok" jawab Hafiz, memang itu yang tadi ia lihat.


Kening Aidan masih terlihat berkeringat, mulutnya mengerang kesakitan dengan terus memanggil Ais.


Dokter kemudian meraba kening Aidan. "Wah.....panas, sus tolong ambil termometer!" perintah dokter pada perawat yang berdiri di sampingnya.


"Panas dok?" tanya Hafiz penuh kebimbangan.


"Ia, sepertinya anak bapak juga demam, namun untuk memastikan berapa suhu tubuhnya kita akan ukur dulu" terang dokter pada Hafiz.


Perawat langsung menempelkan termometer ada ketiak Aidan, sedang baju yang basah sudah disingkirkan dari tubuhnya.


"Kapan gejala awal muncul pak?" dokter ingin kembali memastikan.


"Setau saya tadi tiba-tiba saja muntah saat saya gendong" karena hanya itu yang diketahui Hafiz.


"Untuk lebih lengkapnya nanti dokter bisa tanya langsung dengan ibunya" sambung Hafiz lagi.


Dokter hanya mengangguk, anggap saja bapak dari anak ini sibuk bekerja, jadi yang mengurus anak-anak memang biasnya istri. Tapi setau dokter, Dira selalu mencari ibunya. Tidak ingin berspekulasi berlebihan dokter kembali fokus pada pasien.


"Delapan puluh lima° dok" papar perawat yang baru selesai memeriksa panas Aidan.


"Berarti anak bapak juga demam ya pak, untuk mencari tau pasti apa penyebab sakit anak bapak, kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan" informasi dokter pada Hafiz, Hafiz hanya mengangguk.


"Jadi anak bapak kita rawat dulu ya? bapak bisa langsung urus administrasinya biar kita bisa langsung memindahkan anak bapak" sambung dokter lagi.


Lagi-lagi Hafiz mengangguk patuh.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2