
Setelah ditinggal Reza bekerja, Ais kembali dilanda rasa bosan. Untungnya masih ada Aidan dan Aiza yang menjadi kawan, sehingga rumah tiga lantai itu terdengar sedikit ramai. Jika di Indonesia Aidan dan Aiza ada mengikuti kelas khusus. Semenjak disini keduanya kehilangan banyak aktivitasnya, sehingga mereka cepat merasa bosan, karena yang mereka mainkan hanya itu-itu saja. Terlebih opa yang biasa mengajak mereka bermain sekarang sedang terbaring sakit.
Ais sebenarnya tidak mengerti juga dengan pemikiran keluarga suaminya, kenapa orang sakit tidak dirawat saja dirumah sakit? Tentunya disana akan tertangani dengan baik. Apalagi keluarga Reza terbilang sangat kaya. Jangankan sekadar berobat di Malaysia, di negara maju lainnya juga tidak akan membuat uang mereka habis.
"Unda, ocan..." ucap sisulung Aidan sambil berjalan meninggalkan mainan robot-robotan yang sebelumnya dimain bersama Aiza diruang keluarga.
"Kenapa, capek mainnya?" Ais bertanya sambil mengelus pucuk kepala si sulung.
"Ia ocan nda" sibungsu Aiza juga mendekat, dan mendudukkan diri disamping Ais yang sedang terduduk dikursi sofa ruang keluarga.
Ais coba menenangkan keduanya, dengan lembut dia berkata "nanti kita tanya papa ya, boleh apa tidak kita jalan ke mall?"
Karena sesungguhnya Ais lebih merasa bosan dibanding kedua anaknya. Siapa tau Reza mau menemani mereka untuk pergi ke mall. Hitung-hitung untuk menghilangkan rasa jenuh. Semingguan ini mereka memang sama sekali tidak pernah keluar rumah.
Ditempat berbeda, kantor Reza.
"Silakan....!"
Siang ini Reza kedatangan Ahmad yang tak lain adalah Hafiz.
"Terimakasih" jawab Hafiz seraya mendudukkan diri.
Kini keduanya sudah duduk berhadapan, hanya terhalang meja kerja.
"Bagaimana perkembangan kasusnya?" Reza memulai pembahasan.
Hafiz tidak langsung menjawab, ia membuka tas kerja dan mengeluarkan beberapa berkas, setelahnya menyimpan kembali tas di bawah, dekat kakinya.
Dia terlihat menarik nafas panjang. Menatap intens mata lawan bicaranya.
Reza juga sama, sehingga membuat keduanya beradu pandang.
Belum sempat bicara tiba-tiba hape Reza yang tergeletak di atas meja bergetar.
Derttt.....dertt.....
Hape menyala dan memunculkan gambar Ais, seorang bocah laki-laki yang di duga anak kandung Hafiz, juga seorang bocah perempuan yang diperkirakan berumur dua tahunan. Ketiganya tersenyum penuh bahagia. Hafiz dengan sangat jelas bisa melihat gambar itu.
"Maaf, sebentar saya angkat telpon" ucap Reza sopan.
"Ia silakan!" Hafiz masih berusaha ramah, meski saat ini hatinya sedang tidak baik.
Tanpa berpindah, Reza menggeser lencana hijau. Lalu menempelkan benda persegi panjang kesebelah kuping.
"Hallo.....sayang?"
Mendengar kata sayang yang diucapkan Reza, membuat hati Hafiz mendadak nyeri. Namun ditutupi dengan berpura-pura sibuk menggeser asal aplikasi di hapenya.
Meski suara disebrang sana terdengar kecil, Hafiz masih bisa mencuri dengar obrolan mereka.
"Pa..., maaf gangguin kerjaan papa" Ais berkata sopan dengan nada yang lembut.
Ais merasa tak enak hati menelpon disaat suaminya sedang bekerja.
"Untuk unda, nggak ada istilah gangguin, ada apa sayang?" tanya Reza tulus.
__ADS_1
"Anak-anak merasa bosan dirumah, jadi mama pengen membawa mereka jalan ke mall xxx..." Ais terdengar menjeda kalimatnya.
Reza sejenak terdiam, pasalnya saat ini ia benar-benar sibuk.
"Aba boleh pa? Ais kembali melanjutkan tanya.
"Unda sama anak-anak pergi diantar sopir bisa? soalnya papa lagi ada meeting, nanti pulang baru papa jemput.
Ada rasa kecewa, ini kali pertama Reza tidak bisa menemani mereka. Tapi mau bagaimana lagi, Ais tidak ingin egois.
"Kalau papa sibuk, unda bareng anak-anak diantar sopir aja, kalau pun nanti pulangnya papa tetap nggak bisa jemput, unda bisa pulang dengan sopir juga"
"Unda nggak masalah?"
Reza memastikan.
"Ia nggak, papa fokus aja kerjanya, love you...."
Meski diakhiri dengan kata sayang, tapi karena sedikit kecewa, ia langsung mematikan hape.
"Love_" Reza melihat kelayar hape yang sudah mati. Belum sempat menjawab, Ais sudah mematikan hape. Reza tau sebenarnya Ais lagi marah.
Reza menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.
Semua tak lepas dari pindaian Hafiz.
"Biasa, mungkin dia sedikit kecewa" ucap Reza tiba-tiba dengan sedikit tawa dibibirnya.
Hafiz sedikit kaget, tak menyangka Reza sedikit terbuka masalah pribadi.
"Biasa, wanita memang begitu, kadang emosinya nggak ketebak" jawab Hafiz.
"Ini kali pertamanya dia bersikap seperti itu, selama hampir empat tahun pernikahan, dia wanita hebat, wanita luar biasa, penyayang juga pengertian" Reza melanjutkan ucapannya.
Deg...
Mendengar jawaban Reza, membuat hati Hafiz rasa teriris. Hafiz lah laki-laki bodoh yang telah membuang Ais. Apa yang diucapkan Reza, benar adanya. Ais wanita baik, penyayang juga perhatian. Meski mereka tak lama bersama.
Reza membuang pandangan ke arah kaca, entah kenapa rasanya beban yang ada, ingin dia bagi saat ini.
"Saya yang salah, seminggu ini memang waktu saya habis untuk bekerja"
Ada sesal disetiap kata yang Reza ucapkan.
"Terkadang kita laki-laki memang suka egois, ingin menang sendiri, tak bisa menghargai, baru terasa jika orang yang kita cintai benar-benar telah pergi"
Tadinya, Hafiz yang berniat memancing Reza agar bercerita, tapi kenyataannya sekarang dialah yang mencurahkan isi hatinya.
Melihat Reza sedikit menyesal mengabaikan istrinya, seolah menyindir dirinya sendiri, yang malah telah membuang cintanya.
"Hah....ternyata kita sedikit punya kesamaan" Reza menertawakan diri mereka, ternyata orang yang didepannya juga tak kalah beda dengan dia. Malah sepertinya lebih parah, lewat nada bicara juga matanya, Reza menangkap ada kesedihan yang mendalam.
Kalau dilihat tampangnya sangat seram, tapi hatinya hello kitty.
Hafiz ikut tertawa kecil. Tak lama setelahnya mereka kembali memulai obrolan yang sempat terputus.
__ADS_1
"Saya selaku kuasa hukum, tidak ingin memberi harapan menang yang tinggi, soalnya kasus bapak terbilang tindak pidana berat. Ada peluang menang itupun sangat kecil. Hanya disini saya mencium banyak kejanggalan"
"Kejanggalan?" Reza yang serius mendengar penjelasan Hafiz menjadi tak sabaran apa yang dimaksud kejanggalan oleh Hafiz.
"Perusahan Pak Reza bukanlah perusahaan baru, sudah berdiri lama dan cukup besar pula, jadi rasanya sangat mustahil ada perusahaan besar mau memalsukan izin usaha, apa untungnya?"
"Saya pribadi juga merasa aneh dalam hal ini, karena sudah lebih dari sepuluh tahun, dan kami selalu mengurus izin dengan cara yang semestinya kepihak kerajaan"
"Siapa yang mengurus masalah izin ini? Hafiz penasaran dengan orang yang mengurusi masalah perizinan.
"Ada orang kantor ini juga, dan saya sangat yakin dia memang benar-benar mengurusnya"
Reza sama sekali tidak mau mencurigai orang yang dimaksud, pasalnya ia sangat kenal dengan orang tersebut.
"Kita tidak bisa terlalu percaya, meski kepada orang terdekat kita" ucap Hafiz dengan tatapan serius.
Hening....
Reza mencerna ucapan Hafiz.
***
Sesuai dengan ijin yang diminta, Ais dan kedua anaknya sekarang tengah berada di keramaian mall xxx.
Entah faktor kesengajaan atau tidak Hafiz juga berada di mall yang sama. Semenjak memasuki kawasan mall, matanya mulai memindai satu persatu orang yang ada disana. Ia seperti sedang menjadi inteligen yang bertugas memata-matai seseorang.
Sepulang dari pertemuan di kantor Reza, tanpa membuang waktu ia langsung memutuskan untuk pergi ke mall xxx. Harapannya cuma satu, meski tidak bisa bersama, cukup dengan melihat sudah anugrah yang luar biasa.
"Unda pengen es cim?" tunjuk Aiza pada salah satu stand eskrim.
"Sebentar ya sayang, bunda angkat telpon dulu" disaat bersamaan Reza menelpon.
Ais berjalan mencari tempat yang sedikit sepi, agar bisa lebih jelas mendengar suara Reza.
Mereka bertiga duduk disalah satu kursi santai yang ada di dalam mall itu.
Aidan dan Aiza yang tidak sabaran menginginkan eskrim, tanpa sepengetahuan Ais berjalan mencari stand eskrim yang tadi dilihatnya.
Siang menjelang sore ini, kondisi mall terbilang ramai. Bukannya menuju ke arah stand es krim, keduanya malah tersasar.
Telpon ditutup, Ais baru menyadari, jika kedua buah hatinya sudah tidak lagi disisi.
Ais panik. Kemana Aidan dan Aiza menghilang?Masih dengan menggenggam hape, ia melihat kesana kemari, berharap ada Aidan dan Aiza diantara orang-orang.
"Aidan! Aiza!" panggilnya dengan wajah penuh kebimbangan.
"Abang? kalian dimana sih nak....?"
"Aidan! Aiza!" nama itu yang Ais panggil berulang-ulang.
Berlari kesana kemari, juga bertanya dengan orang-orang yang ada di sana, tapi tidak satu pun dari mereka memberikan jawaban yang Ais inginkan.
Sementara ditempat lain, memori Hafiz yang sudah merekam wajah Aidan, seketika dibuat panik saat melihat Aidan juga adiknya seperti akan menuruni tangga eskalator. Hafiz memperhatikan apakah ada orang yang menjaga kedua bocah itu. Tapi nyatanya hanya mereka berdua. Hafiz berlarian kearah keduanya, dengan sigap menangkap tubuh Aidan juga Aiza. Keduanya menangis ketakutan.....
Bersambung......
__ADS_1