Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
Bab#6


__ADS_3

"Ya Allah....malangnya takdir ku ini, aku yang selama ini ingin berjuang membantu keluarga, malah berahir tragis seperti ini.


Benar-benar aku tidak sanggup lagi ya Allah. Aku tidak tau siapa laki-laki yang telah menodaiku, aku juga tidak mungkin mengadu ke pada puan Jijah, satu yang aku tau, laki-laki itu ada dirumah ini. Yang pasti bukan Adam. Melainkan...., melainkan.... Tuan Hafiz, ya tuan Hafiz".


Aku menangis sejadi-jadinya. Perlahan ku rebahkan tubuh kotor ini. Otakku buntu, tak ada lagi pikiran jernih, semuanya membisikkan kata "mati, mati, dan mati".


Mungkin hanya dengan mati, satu-satunya cara agar aku terbebas dari semua ini. Jangankan berhadapan dengan manusia lain, dengan diriku sendiri aku merasa jijik, sepertinya tidak ada lagi hari esok yang bisa kujalani.


Dadaku semakin sesak, sangat-sangat sesak.


"Hagggg...........!!!


Hargggg.....!!!


Aku berteriak sejadinya. Suaraku semakin serak, aku tak peduli.


Kutatap nanar seluruh tubuhku, rasa semakin jijik yang kudapati.


Ku usap kasar seluruh tubuh ini, seolah-olah ingin menghilangkan noda, tapi percuma.


"Garggggg.......!!" Teriakan ku semakin menjadi sambil melempar bantal kesembarang arah.


Semakin tak peduli dengan siapapun yang akan mendengar teriakan ku.


Kujambaki rambutku, hal yang sangat ditakuti, ternyata terjadi pada tubuh ini.


"Apa salahku ya Allah?


Apa aku tak pantas mendapatkan bahagia?


walau sedikit saja ya Allah, mungkin sekarang saatnya aku mengakhiri semua ini".


Mataku sudah semakin berkabut, pandanganku juga semakin buram, perlahan ku tegakkan badanku.


Kutatap nanar seisi ruangan, seperti mimik wajah orang gila.


🍀🍀🍀


Diruang tunggu bandara, Adam yang duduk dikursi roda, duduk berdekatan disamping puan Jijah, Adira dan satu laki-laki seumuran Adam disana. Laki-laki itu ditugaskan puan Jijah untuk menemani Adam selama pengobatan di Singapura.


Terlihat juga dua koper besar di sampingnya.


Di keadaan hati yang sama-sama terluka, kini Adam siap terbang kenegeri singa, membawa sejuta kecewa.


Dengan tatapan kosong ia memandangi manusia yang hilir mudik di ruang tunggu bandara.


"Jangan khawatir, semuanya akan ok sayang!" suara puan Jijah di samping menyadarkannya.


Adam dengan tatapan lemah menoleh ke arah puan Jijah.

__ADS_1


"Tolong jagekan Ais untuk Adam ma"


Suara lirih Adam.


"Jangan khawatir Dam, mama sudah menganggap Ais seperti keluarge kite" Puan Jijah meyakinkan Adam sambil mengelus tangan Adam.


"Ma,


Emm...


Maafkan Adam, jike selame ini Adam banyak menyusahkan mama.


Jangan cakap macam tu nak, sekarang Adam fokus untuk kesembuhan Adam. Mama doakan Adam cepat pulih seperti sedie kale"


Makasih ma" Adam tersenyum kecil ke arah puan Jijah.


"Dira, sini sayang! peluk pak cik!" Adam mengunjukkan ke dua tangannya.


Dira berjalan mendekat ke arah Adam.


"Hup....., besar dah keponakan pak cik ni, cantek, pintar...." sambil mendudukkan Dira di pangkuannya.


" Pak cik, Dira kalau sudah besar, ingin same canteknye macam aunty Ais" Dira kelihatan bersemangat menyatakan keinginannya pada Adam.


"Aunty Ais cantek ye?


Caaaaannnnntek, sangat" suara lucu penuh penekanan.


Seketika wajah Adam berubah, puan Jijah yang melihat perubahan itu segera mengalihkan pembicaraan.


"Hesss...,ape cakap macam tu kat pak cik"


Dira berubah cemberut, tak suka opah menghentikan ucapannya.


Tak lama kemudian, suara panggilan bagi para penumpang pesawat untuk bersiap-siap memasuki pintu keberangkatan.


"Ma, Adam bertolak dulu ye, doakan Adam!" sambil menciumi tangan dan wajah puan Jijah.


Ada air mata yang menetes dipinggir mata Adam.


Puan Jijah memeluk erat sambil menciumi anak lelaki kesayangannya, " mama senantiase mendoekan Adam, Adam jage diri e.


Pelukan mereka semakin merenggang, dan akhirnya terlepas, tinggal air mata yang tersisa di pipi ke duanya.


Adam menciumi, gadis kecil disampingnya, sementara Faruq, laki-laki yang menemani Adam juga bersalaman dengan puan Jijah.


Lambaian tangan tanda perpisahan, kini Adam dan Faruq sudah memasuki pintu keberangkatan, sementara puan Jijah masih mematung ditempat yang sama sambil melambai-lambaikan tangan menatap kepergian Adam.


Semakin jauh, jarak diantara keduanya, dan lama-kelaman akhirnya mereka berpisah.

__ADS_1


"Jom kite balek!" ajak puan Jijah pada gadis kecil disampingnya.


🍀🍀🍀


poV author


Di tempat yang berbeda, Hafiz melajukan kendaraannya bukan untuk berangkat kerja melainkan kembali pulang kerumah.


Semua yang ia kerjakan berantakan, tidak bisa fokus. Pikirannya selalu pada pembantu yang ia nodai semalam. Terlebih saat ia berangkat kerja, ia tak melihat wajah Ais.


Sekian menit mengendarai mobil, kini Hafiz telah sampai di pekarangan rumah. Dengan tergesa-gesa ia masuk ke dalam rumah.


Huargghh........!


Terdengar teriakan Ais dikamar atas.


Tanpa aba-aba Hafiz melangkah selebar-lebarnya, berlari menuju kamar atas.


Begitu membuka pintu, "Astagfirullah!"


Mata Hafiz membulat melihat Ais memegang sebuah pisau dan siap untuk mengiris pergelangan tangannya.


Secepat kilat, Hafiz memeluk Ais dari belakang, dan menyingkirkan pisau yang ada ditangannya.


Ais seperti orang tak sadarkan diri, rambut yang acak-acakan, seluruh badan bergetar, mata bengkak dengan garis hitam dibawah kelopak mata. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia tumpahkan.


Hafiz memutar badan Ais menghadap kearah dada bidangnya, membenamkan kedalam pelukan berusaha menenangkan sambil mengusap-usap pucuk ke pala gadis lugu itu.


Ais tak mampu lagi untuk merespon. Otaknya sudah terlalu berat.


"Aku akan bertanggung jawab!" kata-kata yang membuat kesadaran perlahan-lahan sadar, reflek tubuh Ais mulai merenggang dari pelukan Hafiz. Rasa tak percaya akan apa yang barusan ia dengar.


Hafiz mengangkat dagu Ais, sehingga tercipta dua pasang mata yang saling tatap.


Hafiz melihat lelehan air mata yang tiada henti dari mata bulat itu. Perlahan ia menyeka dengan ibu jarinya, sambil memegang kedua belah pipi Ais.


"Aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku semalam!". Hafiz mengulang kalimatnya untuk meyakinkan Ais.


Ais mulai berpikir, bahwa benar laki-laki jahat yang telah menghancurkan hidupnya dalam satu malam adalah "Hafiz".


Dalam hitungan detik, kesadaran Ais sudah terkumpul kembali, dengan sekuat tenaga ia menepis tangan Hafiz yang memegangi pipinya.


Rasa benci, amarah dan jijik kembali muncul di hatinya melihat sosok laki-laki jaha*am sekarang berdiri tepat dihadapannya.


Tapi, secepat kilat juga Hafiz kembali memeluk erat Ais.


"Shuttttt.......maafkan aku Ais, ini semua salahku. Aku tak akan membiarkan hidupmu menderita.


Aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku dengan menikahimu". Hafiz meyakinkan Ais yang masih terlihat memberontak dipelukannya.

__ADS_1


Perlahan-lahan, Ais mulai tenang, entah apa yang menghipnotis dirinya.Padahal beberapa detik yang lalu hatinya seperti terbakar.


Mungkin pelukan Hafiz yang memberi ketenangan, mungkin juga kata-kata Hafiz si lelaki dingin yang tak pernah bicara padanya.


__ADS_2