Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
69. Menjadi Tuli


__ADS_3

"Astagfirullah........!" suara terkejut dari seseorang yang memunguti kepingan hape dilorong rumah sakit.


Deg.......


Hafiz tersadar, suara yang barusan, milik......


"Ais.....!" Suara bergetar Hafiz memanggil nama yang barusan bermain dikepala.


Deg......


Tangan yang tadinya ingin meraih benda persegi yang tidak lagi berbentuk, akhirnya terhenti. Ada yang menyebut namanya. Suara bass khusus dari orang yang baru semalam sempat singgah dikepala.


Bagai gerakan slow motion, Ais menyorot dari hujung kaki, hingga berhenti di wajah yang sedang menatapnya dalam.


Ais membatalkan niat untuk menyentuh benda persegi yang tidak lagi berbentuk. Perlahan ia berdiri, dengan sekuat tenaga, agar tidak kembali terjatuh. Karena saat ini, raga terasa tidak menginjak bumi.


"Ais....!" suara mengiba kembali menyapa rungu.


Plakkkk......


Bukan belas kasihan yang Ais berikan melainkan sebuah tamparan. Hingga mampu membuat wajah Hafiz menoleh paksa kesamping.


Plakkkk.........


Kembali satu tamparan kilat Ais balaskan untuk membayarkan rasa sakit yang telah Hafiz berikan.


Tidak ada perlawanan dari Hafiz, sedikit pun ia tidak membalas, bukan tidak mampu, lebih kepada ia memang berhak mendapatkan tamparan itu. Mungkin seharusnya lebih.


"Apa maumu ha....!" Ais kembali membentak Hafiz nyaring. Untungnya saat ini mereka berada dilorong penghubung antara kamar VIP dengan lorong utama, sehingga jikalau pun ada yang melihat hanya orang tertentu saja. Karena disana hanya dilalui oleh keluarga penghuni kamar VIP juga para petugas kesehatan. Kebetulan ruang laboratorium berada di jalur yang sama, sehingga mereka dipertemukan disana.


"Ais....!" hanya itu yang kembali Hafiz ucapkan.


Ais kembali nyalang, berani mengalahkan seekor beruang. Benci juga sakit hati yang lama ia pendam seakan ingin disalurkan saat ini, pada orang telah mengukirkan nama kebencian.


"Apa tujuanmu menyamar sebagai Ahmad? apa kau ingin menghancurkan hidupku juga suamiku?" ada penekanan pada kata suami. Ingin memperkenalkan bahwa Reza adalah suami Ais, miliknya.


Tatapan Ais menghunus bak pedang dimedan perang, melukai hingga ke jantung lawan.


Berbanding terbalik dengan Hafiz yang terlihat rapuh, penuh ketidak berdayaan. Penuh penyesalan, sehingga air mata Hafiz lolos dengan mudahnya, setelah empat tahun, hari ini kembali Ais banyak bicara padanya.


Melihat tidak ada jawaban dari Hafiz, Ais kembali memungut hape yang berserakan. Walaupun hape itu mati, setidaknya ia bisa menggunakan memori kardnya nanti.


Begitu sudah berjalan membelakangi Hafiz. Mulut laki-laki lak*at itu bersuara.

__ADS_1


"Ais......, apa benar dia anak kandung kita?" Hafiz tidak mampu menyebut nama "Aidan", rasanya terlalu berat bagi ayah pendosa seperti dirinya. Apalagi anak itu pernah tidak diakuinya. Kini ia bertanya, yang sebenarnya sudah ia tau jawabannya. Hanya saja ia ingin mendengar jawaban langsung dari Ais.


Langkah Ais terhenti, tanpa menoleh kebelakang ia kembali bicara.


"Anakmu sudah lama mati!" ucap Ais dengan air mata yang juga sudah membasahi pipi. Sebenarnya rasa berat mengatakan kata "mati", tapi mau bagaimana lagi, Hafiz memang sudah membuang mereka dulu, lalu untuk apa sekarang ia menanyakannya?


Mendengar jawaban Ais, seketika membangunkan jiwa arogan Hafiz.


"Dia anakku, anak biologisku!" ucap Hafiz yang tidak rela anaknya dibilang telah mati.


Ais memutar badan, diturutkan hati ingin sekali dia mengoyak mulut laki-laki ini. Beraninya ia mengakui milik Ais. Gigi Ais bergemertukan menahan amarah. Ia kembali mendekat pada Hafiz yang masih tak selangkahpun berpindah dari tempatnya.


"Anak yang mana yang kau sebut anakmu? Jika kau maksud Aidan, itu hanya anakku. Karena anakmu sudah lama mati. Apa perlu ku ingatkan bagaimana kejamnya kau membunuhnya?" Ais tertawa sinis.


"Kau ludah muka ini" Ais menunjuk wajahnya.


"Kau tampar pipi ini" kini pipinya yang iya tunjuk.


"Kau gigit ini" Ais menunjuk leher. Nafas Ais terasa semakin sesak.


"Juga ini" tunjuknya lagi pada kedua dadanya.


"Dan setelah itu, setelah kami berdarah-darah tidak berdaya........, kau buang kami yang tak lebihkau anggap ******, dipinggir jalan dalam keadaan hujan. Tidak sedikit pun kau memberi belas kasihan" suara merdu namun penuh kebencian.


Hafiz jatuh berlutut tepat di depan Ais. Mendengar kata-kata Ais barusan, kembali membuat ia merasakan kesakitan yang selama ini ia sembunyikan. Ia tertunduk mengentuh telapak kaki Ais, persis seperti seorang anak yang memohon maaf dari ibunya.


Tanpa dibuat-buat, dia menangis terisak.


"Maafkan Abang....Ais!. Abang memang kejam! Ais boleh menghukum Abang dengan cara apa pun, tapi tidak dengan memisahkan dari darah daging Abang. Berikan kesempatan untuk Abang menjadi seorang ayah" mohon Hafiz dengan bahu berguncang.


Ais mengusap kedua sudut matanya, tanpa banyak bicara ia kembali melangkah. Meski agak susah, karena Hafiz memegang kedua telapak kakinya.


Ais tidak perduli, dan ia ingin menjadi tuli juga buta. Tidak mau lagi dibodohi laki-laki seperti Hafiz, yang tidak bisa memegang janji.


"Maaf! ucap Hafiz.


"Maaf" ulangnya lagi.


Ais tidak lagi peduli, ia tetap melangkah pergi.


Hafiz menatap hampa kepergian Ais, ia tidak lagi menahannya. Karena ia tau saat ini Ais pasti sedang sakit, sakit atas ucapannya yang tidak tau malu.


Perlahan Ais mendorong ruangan Reza, ternyata sudah ada perawat juga dokter di sana.

__ADS_1


"Maaf" ucap Ais sopan, saat semua mata tertuju padanya.


"Apa mbak istrinya? tanya seorang yang berjubah putih.Bisa dipastikan ia seorang dokter.


"Ia saya sendiri dok" ucap Ais sopan dan berjalan kesisi ranjang suaminya.


"Perkenalkan, saya dokter Raihan, dokter yang menangani suami mbak. Ada hal yang ingin saya bicarakan, boleh ikut keruangan saya!"


"Baik dok" Ais mengikuti langkah dokter berjalan keluar ruangan, disisi lain Hafiz mengikuti Ais dari belakang. Ia ingin tau, siapa yang sedang sakit, sehingga membuat Ais ada di sini.


"Begini, sekitar dua Minggu yang lalu, pak Reza suaminya mbak ......" dokter menjeda ucapan, belum tau dengan nama orang yang duduk di depannya.


"Ais, nama saya Ais dok"


"Ia mbak Ais. Begini dua Minggu yang lalu, sebenarnya pak Reza sudah datang kesini untuk melakukan cek. Dan sayalah dokter yang menangani beliau."


"Cek?" Ais sedikit terkejut dengan ucapan dokter, karena selama ini dia tidak pernah tau. Kenapa Reza tidak pernah bicara padanya. Kenapa sekarang Reza banyak berubah, tidak lagi terbuka seperti dulu.


"Ia pak Reza melakukan cek kesehatan, karena dia mengeluhkan sakit tenggorokan" tutur dokter.


Ais masih serius menyimak ucapan dokter. Ia tidak ingin kembali terlewat tentang informasi berkaitan Reza.


"Namun sebelumnya mbak Ais harus kuat, apapun yang terjadi dalam hidup ini semua sudah menjadi takdir Allah, kita wajib iklas"dokter menjeda ucapannya, dan menatap dalam pada Ais.


Ais hanya mengangguk, meski di dalam hati sudah tidak karuan. Kedua jari tangan ia tautkan, meremas mengurangi ketegangan.


"Dan setalah melakukan beberapa tes, hasilnya menunjukkan jika pak Reza saat ini menderita kanker kelenjar getah bening stadium empat"


Jdwaarrrr.........


Ais terasa dihantam gelombang tsunami, seketika menenggelamkan, membuat Ais lemas tersandar disandaran kursi.


Senyap......ia tidak mampu berkata-kata.


Dokter yang sudah biasa dihadapkan dengan situasi seperti ini, langsung memberi semangat.


Sedang dari celah pintu Hafiz juga sama terkejutnya. Ia tidak menyangka, penyakit seberat itu yang sedang dihadapi client sekaligus ayah sambung anaknya.


Ais menangis tak bersuara, dokter mendekat menepuk-nepuk bahu Ais untuk memberi kekuatan.


"Kenapa harus suami saya dok? dia suami dan ayah yang baik. Kenapa harus dia? tangis Ais kembali pecah.


Sakit......itulah rasa, saat kembali mendapati orang yang dicintai merasakan sakit. Hafiz tau saat ini Ais sedang rapuh. Jika bisa ingin sekali rasanya ia menjadi penguat juga sandarannya. Tapi apakan daya, mereka bukan lagi siapa-siapa.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2