
Hafiz mendekat ke arah Ais. Tiba-tiba ada rasa takut yang Ais rasakan melihat tatapan tajam Hafiz padanya. Ais memundurkan langkah, dan ternyata Hafiz membuka pintu dengan kasar.
Begitu pintu terbuka, Ais menerobos masuk, enggan berlama-lama di dekat singa yang siap menerkam.
Baru beberapa langkah masuk ke dalam rumah, auman singa terdengar sempurna di kedua kuping Ais.
"Darimana kamu!" suara penuh emosi.
Ais menghentikan langkah, tanpa berniat mengubah posisi. Jantungnya berdebar kencang, menunggu apa selanjutnya yang akan terjadi antara ia dan Hafiz.
Hafiz memutari Ais dengan tatapan semakin menajam.
"Habis dari mana kamu hah..? pacaran? huuummm...." tanya Hafiz.
Ais tak bergeming enggan untuk menjawab pertanyaan Hafiz.
"Seharusnya kau bercermin puas-puas! dan kau harus ingat! dirumah ini kau tak lebih dari seorang pembantu, PEMBANTU" Hafiz mengulang kata pembantu dengan penuh penekanan.
Hafiz berjalan mendekat ke arah sofa ruang tamu, kemudian menarik kasar dasi yang ada di leher dan membuangnya sembarangan.
"Kau tau, aku seperti orang gila mencarimu kesana kemari, kekampus, tapi kau tidak ada di sana, dijalan tadi aku hampir kecelakaan karena buru-buru ingin memastikan keberadaan mu dirumah, tapi setibanya aku dirumah, kau belum pulang. Saat aku prustasi memikirkan keberadaanmu, tau-tau kau datang sambil bermesraan dengan laki-laki itu" Hafiz memukul sofa melampiaskan amarah yang ia tahan sejak tadi. Wajahnya tampak kusut.
Ais mengangkat wajahnya, menatap tajam ke arah Hafiz. Tepatnya punggung Hafiz, karena saat ini posisi Hafiz membelakangi Ais. Dituduh yang bukan-bukan membuat bahu Ais naik turun menahan sesak.
"Kenapa kau tak menjawab hah....?" Suara Hafiz kembali melengking.
"Mencariku....???"tanya Ais sinis. Berpura-pura menanyakan.
"Kau tau tuan Hafiz yang terhormat, aku menunggumu selama tiga jam disana" kata-kata Ais terhenti, berusaha tenang, karena dadanya terasa ingin pecah.
"Aku mematung sendiri di bawah pohon, sambil tak henti-henti melihat pesan yang tak kunjung di baca, ingin sekali aku menangis, dan bahkan tadi aku sudah sempat menangis" kembali air mata Ais jatuh tak terbendung.
"Bisa dibayangkan, ditempat asing tak tau jalan pulang, aku menunggu seperti orang gila. Dan jika tuan Hafiz mengatakan aku harus sadar diri, aku ...., sangat-sangat sadar, aku memang hanya seorang pembantu dan selamanya akan menjadi pembantu di mata tuan Hafiz" suara Ais terdengar gemetar seiring luapan kesedihan yang ia rasakan. Direndahkan serendah-rendahnya, istri tapi dianggap orang gaji.
__ADS_1
Deg.....jantung Hafiz terasa sakit mendengar ucapan Ais.
Ais kembali melanjutkan kata-kata sambil terisak "Dan aku pun tidak berharap diposisi saat ini, menjadi istri, tapi istri yang tak diakui" ucapnya lagi.
Seketika Hafiz memutar badan menatap dalam wajah Ais yang terlihat menyedihkan. Seolah ada rasa kasihan melihat gadis itu menangis terisak.
" Tapi itu semua aku masih bisa terima. Tapi aku sangat tidak terima jika dikata-katai asyik pacaran. Kalau bukan karna kak Reza, mungkin aku sudah membusuk di sana. Dan satu hal yang tuan Hafiz harus tau, karna kebusukanmu, aku mengubur semua mimpi termasuk cintaku" ucap Ais kemudian terus berlari menaiki anak tangga, membuka pintu kamar dan kembali menguncinya.
Deg........
Hafiz terdiam, berusah mencerna setiap kata yang dilontarkan Ais untuknya.
Lagi-lagi rasa bersalah yang Hafiz rasakan. Sebenarnya apa yang dikatakan Ais adalah benar semua. Jika ia tidak telat menjemput Ais, semua itu tak mungkin terjadi. Hafiz kembali memukul kasar sofa yang ada di depannya.
Kata-kata paling menyakitkan baginya adalah saat Ais mengucapkan kalimat "Dan satu hal yang tuan Hafiz harus tau, karna kebusukanmu, aku mengubur semua mimpi termasuk cintaku"
"Aaaagggghhhhh..." Hafiz memukul angin.
Dikamar..., Ais meringkuk dibawah spring bed memeluk kedua lututnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Masih dengan pakaian yang sama. Seharusnya dihari pertama kuliah ia mendapatkan kesan yang menyenangkan, tapi tidak untuk dirinya. Ternyata untuk meraih mimpi tak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih ia sangat bergantung pada manusia es yang tak punya hati.
"Aku benci kau Hafiz...! benci....!" teriak Ais sambil menangis.
Tak lama Hafiz datang mengetuk pintu.
Tokkkk.....tokkkk...
"Maafkan aku Ais!" ucap Hafiz lirih di balik pintu.
Ais tak bergeming, ia terus menangis.
"Ais....! Hafiz kembali mengetuk pintu, dan mencoba membuka knop pintu, tapi pintu terkunci.
"Maafin aku ..." akhirnya Hafiz menyerah dan kembali ke kamarnya sendiri.
__ADS_1
☘️☘️☘️
poV Reza
*
*
*
Saat melihat status Ais di media sosialnya, aku sangat bahagia. Aku yakin setelah berpisah hampir dua minggu, hari ini aku akan bertemu dengannya.
Karena aku diundang sebagai salah satu alumni, sekaligus motivator untuk acara penyambutan mahasiswa baru.
Hari ini, aku ingin tampak sempurna dimata Ais, si gadis yang dalam beberapa tahun belakangan telah mengisi hatiku.
Singkat cerita, begitu namaku dipanggil untuk naik ke atas podium, jujur aku sedikit grogi, bukan karna berpasang mata yang menatapku, tapi grogiku itu lebih tertuju pada Ais. Aku tak ingin membuat kesalahan di mata Ais. Aku ingin jadi lelaki sempurna dimatanya.
Suara suitan dan tepuk tangan sangat bergema saat aku berjalan menuju podium. Saat aku mulai bicara mataku menyorot pada semua peserta yang hadir, sayangnya aku tak menemukan Ais di sana.
Sampai kalimat ku akhiri, aku bisa melihat ada seorang gadis yang sepertinya bersembunyi sambil menatap ke arahku.
Deg....jantungku berirama indah. Aku yakin itu Ais. Tapi kenapa ia menyembunyikan wajahnya dariku? Ah...., mungkin ia sengaja untuk mengerjai ku, karena Ais yang ku kenal, selalu antusias saat melihat diriku.
Akhirnya acara pun selesai, aku bersiap-siap menunggu Ais dipintu keluar, sambil pura-pura bersalaman dengan para mahasiswa baru.
Padahal, ada udang di sebalik batu, he...he...
Sialnya nasib tak menyebelahi diriku, mantan dosen mengajak aku keruangannya, untuk membicarakan beberapa hal. Tentunya aku tak bisa menolak, dengan berat hati sambil mata celengak celunguk, aku berjalan meninggalkan aula, berharap ada ke ajaiban bisa berpapasan dengan Ais. Tapi nyatanya harapan tinggal harapan.
Hampir dua jam aku berada di ruangan dosen itu, tak ada lagi harapanku untuk bertemu Ais hari ini. Akhirnya dengan langkah kaki malas aku berniat untuk pergi.
Kuasa Allah kita tidak pernah ada yang tau, saat harapan itu patah, Allah tumbuhkan dengan harapan baru, tanpa diminta gadis itu jatuh kepelukanku. Sungguh romantis, seperti cerita-cerita di novel sana. Ku tatap intens wajahnya, cantik dan sangat sempurna.
__ADS_1