Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
Bab#21


__ADS_3

Sudah tiga puluh menit yang lalu Ais keluar dari ruangan seperti orang mengendap-endap.


"Alhamdulillah....syukurlah kak Reza tak melihatku" ucapnya dalam hati sambil mengelus-elus dada untuk meredakan kepanikan yang sempat terjadi.


Sekarang Ais memilih mengasingkan diri di bawah pohon yang ada bangku dan meja, di taman kampus. Melirik ke arah hp dan berniat menelpon Hafiz.


Ais mencari kontak yang ada di hp, setelah menemukan kontak yang bernama TUAN ES, ia tak langsung menelpon, melainkan hanya mengirim pesan via wa. Ais masih ingat akan kata-kata Hafiz, bahwa Ais jangan menelponnya, dan cukup dengan mengirim pesan.


Wajah Ais terlihat bingung sendiri, berkali-kali ia mengetik kalimat pesan, sebanyak itu juga pesan yang ia hapus. Tau kenapa?…..........


Karena ini kali pertama ia akan mengirim pesan untuk tuan Hafiz. Entah kenapa ada gemuruh di hatinya, tapi Ais hanya mengartikan itu, sebagai efek dari rasa takut. Tak lebih.


"Alhamdulillah....selesai" ucap Ais pelan saat mengakhiri kalimat di pesannya.


"Assalamualaikum........


Maaf tuan Hafiz, maaf mengganggu, hanya mau bilang kalau Ais sudah pulang. Kalau nanti tuan Hafiz menelpon Ais, dan hp Ais tak aktif, itu artinya hp Ais ngedrof. Sekarang batrai tersisa dua puluh lima persen. Ais sekarang lagi menunggu tuan Hafiz di kursi bawah pohon yang ada di taman kampus."


Send.......


"Alhamdulillah...., semoga tidak ada kalimat yang salah dalam pesan itu" gumam Ais dengan senyum terkembang diwajah nya.


Ais terus menatap ke arah pesan yang ia kirim.


Satu menit......


Dua menit......


Lima menit......


Sepuluh menit.....


Belum ada tanda-tanda wa Ais di baca oleh si penerima. Ais melihat pesan yang dikirim masih bernotif warna hitam, belum hijau.


Ais menarik nafas dalam, tertunduk lesu sambil mengayun-ayunkan kaki di bawah kursi untuk menghilangkan rasa yang tak karuan.


Cemas...., karena hp Ais hampir kehilangan daya, sementara ia tak tau harus memilih transportasi yang mana untuk bisa sampai dirumah.


Selain itu, yang juga jadi permasalahan adalah letak kampus yang berada agak jauh dari jalan raya, tentu akan menyulitkan Ais untuk mencari transportasi umum.


Ais melihat ke arah para mahasiswa, kebanyakan telah meninggalkan kampus.


Rasa dahaga mulai menjalar di tenggorokan, begitu juga dengan perut Ais mulai bernyanyi-nyanyi.


Ais melihat jam yang ada di layar hp, " sudah jam 12.00?" Ais berkata sendiri dalam hati.


🍀🍀🍀


Restoran


Hafiz terlihat asyik ngobrol sambil menikmati santap siang dengan para klien nya.


Sesekali mereka tertawa lepas, sambil menikmati santap siang.

__ADS_1


Ada Hafiz, sekretaris Sela, Ahmad sahabat sekaligus rekan kerja Hafiz dan dua klien nya.


Entah lupa atau apa, yang jelas, Hafiz sama sekali tidak ingat tentang " AIS".


🍀🍀🍀


Ais masih setia menunggu kedatangan Hafiz, namun orang yang ditunggu tak juga menampakkan batang hidung.


Hampir satu jam menunggu, akhirnya Ais kembali mengirim pesan, " Maaf tuan sudah hampir satu jam saya menunggu, apa tuan tidak bisa menjemput Ais? Kampus sudah mulai sepi"


Send......


Pesan ke dua yang Ais kirim.


Satu menit .... .


Dua menit.......


lima menit......


Sepuluh menit.....


Dua puluh menit......


Bahkan hampir satu jam, Hafiz tak juga membalas wa Ais. Jangankan membalas, membaca saja tidak.


"Apa tuan Hafiz sengaja" Ais kembali berkata pada dirinya sendiri. Menerka-nerka apa yang sedang terjadi.


Hampir dua jam menunggu, tak ada tanda-tanda akan dijemput. Jam di hp hampir menunjukkan pukul dua sore.


"Aku belum shalat Zuhur...." Ais pun bangkit dan ingin kembali masuk ke lingkungan kampus untuk mencari mushalla.


Ais berjalan dengan sedikit terburu-buru, ia takut di saat ia sedang shalat nantinya, tiba-tiba Hafiz datang.


Karena buru-buru, kaki Ais tersandung kakinya sendiri.


"Akkkkkk" pekik Ais karena kehilangan keseimbangan.


Beruntung, ada sosok yang menangkap dirinya, sehingga ia tak jadi untuk mencium tanah.


Saat kedua pasang mata saling menatap intens, sebuah kata bersamaan meluncur dari mulut yang berbeda.


"Ais?"


"Kak Reza?"


Buru-buru Ais melerai pelukan Reza, lebih tepatnya Reza secara tak sengaja menolong Ais agar tidak terjatuh. Orang yang paling dihindari, jika yang punya rencana mempertemukan, artinya mereka pasti akan bertemu juga.


"Ya....ampun Ais....apa ini mimpi? kita bisa ketemu disini? ah....ha....." Reza kelihatan sangat senang.


Berbeda dengan Ais, terlihat salah tingkah, kaku dan grogi.


"I...i..ya ...kak," Ais berpura-pura merapikan bajunya.

__ADS_1


"Berarti Ais sudah sejak tadi kan ngeliat kakak?" tanya Reza sedikit menyelidik, dan mencari tau mengapa Ais tidak menghampiri dirinya setelah acara.


Bukan menjawab, Ais malah ingin segera pergi meninggalkan Reza.


"Maaf..., kak Reza, Ais pamit mau ke mushalla dulu ya, belum shalat" ucapnya sambil ingin melangkahkan kaki.


"Ais...!" Reza menahan pergelangan tangan Ais.


Ais melihat ke arah tangan yang di pegang Reza.


"Maaf" ucap Reza sambil sedikit gugup dan melepaskan cekalan tangan Ais.


"Nggak papa, Ais shalat dulu kak, keburu waktu habis" Ais berusaha menetralkan diri, berusaha sekuat tenaga menahan gemuruh dijiwa.


"Kakak antar ya?" pinta Reza pada Ais.


"Jangan, nanti ngerepotin" Ais berusaha menolak secara halus. Jika bukan karena statusnya saat ini, bukan Reza yang meminta untuk mengantar dirinya, melainkan dialah yang meminta Reza mengantar dirinya.


"Nggak ada yang direpotkan, ayok.....!" dengan senyum terkembang Reza menarik tangan Ais untuk menuju mushalla.


Ais tak bisa lagi menolak, seperti anak kecil yang dibimbing orang tua, begitulah Ais dan Reza saat ini.


Selesai shalat, Ais celengak-celenguk melihat ke arah shaf laki-laki, ia berusaha untuk kabur dari Reza. Selesai memasang sepatu, Ais langsung berdiri dan ingin berlari, karena buru-buru, Ais menabrak benda kokoh di depannya.


"Aduuuhhh" Ais mengusap-usap keningnya.


"Kenapa buru-buru?" tanya Reza dengan tangan bersedekap di dada.


"Ya...ampun, sepertinya aku mengenal suara ini" ucap Ais dalam hati sambil mengerutkan kening.


Tatapan Ais dimulai dari kaki, "sepatu ket"


dilanjutkan menelusuri kaki, naik ke badan "aku kenal baju ini" gumamnya lagi.


Deggg....


Saat tatapan itu beralih ke wajah, ada senyum manis di sana, " Kak Reza?" Ais serasa menjadi maling yang tertangkap tangan.


"Ais, mungkin sedang ditunggu" jawab Ais dengan wajah pencuri tertangkap tangan.


"Ditunggu? Siapa yang menunggumu?" tanya Reza penuh selidik.


"Tuan Hafiz" jawab Ais singkat.


"Ayo...." lagi-lagi Reza membimbing tangan Ais.


"Kak lepasin dong!" Ais merengek minta dilepaskan.


"Kenapa?" Reza menghentikan langkahnya.


"Nggak enak di lihat orang" Ais berusaha mencari alasan yang masuk akal. Sambil melihat ke sana kemari.


" Ok...., tapi kakak antar sampai ketemu majikanmu ya?" Pinta Reza yang membuat Ais tak kuasa lagi menolak.

__ADS_1


Mereka berjalan beriringan, melewati beberapa gedung kampus. Sesekali mereka berpandangan tanpa satu patah kata.


__ADS_2