
Kata-kata romantis Sofia seketika menghipnotis diriku, aku terbuai melupakan tujuan awal. Dari dulu Sofia paling pandai merangkai kata cinta untukku, pada akhirnya kata I Love you, ku sampaikan padanya.
Gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan, semua mahasiswa terhanyut dalam suasa. Pertunjukan ku dan Sofia mengalahkan kisah cinta drama korea yang banyak digilai anak muda.
Lagi dan lagi, aku melupakan keberadaan Ais.
Ketukan pintu menarik aku dan Sofia kedunia nyata, kami melerai pelukan.
Deg....
Lagi-lagi bajingan itu muncul dihadapan ku. Siapa sih, sebenarnya dia?
Jika bisa ingin rasanya aku berdoa, semoga ia terbenam ke dalam inti bumi, biar tidak mengganggu Aisku lagi.
Seketika aku tersadar, ada Ais disana, istri yang sempat kulupakan keberadaannya.
Tatapan penuh damba tampak kentara dimatanya, menangkap sosok Ais yang masih tertunduk lesu.
Sialnya bajingan itu ternyata cukup terkenal disana. Semua menyoraki namanya. Aku berharap tidak untuk Aisku. Tapi aku salah, saat mata keduanya saling bertemu ada magnet yang membuat keduanya tertarik kemedan yang sama.
Aku sakit, sangat sakit. Tak bisakah sekali saja Ais menatapku seperti ia menatap bajingan itu.
Aku suaminya, satu satunya laki-laki yang berhak atas dirinya.
Mendengar sekilas informasi yang disampaikan salah satu dosen yang ikut masuk keruangan itu, dapat ku simpulkan akan ada pertukaran pelajar yang diselenggarakan pihak kampus. Aku sempat terkejut juga, karena sebelumnya Ais tak pernah membicarakannya padaku. Mungkin dia memang tidak ingin ikut, dan aku berdoa jangan sampai Ais ikut. Kalau sampai itu terjadi, aku tak akan pernah memberikan izin untuknya, terlebih yang menjadi pendamping salah satunya si bajingan itu. Meski tak memproklamirkan cinta mereka, aku sangat yakin diantara keduanya memang ada rasa. Kalau tidak, mana mungkin si bajingan itu memberikan perhatian lebih pada Ais. Ini tidak bisa dibiarkan, sesuatu yang sudah menjadi milikku, selamanya akan tetap menjadi milikku.
Emosiku semakin ke ubun-ubun, ternyata Ais semakin suka menantangku, ia mendaftarkan diri sebagai peserta. Ada senyum kemenangan diwajah bajingan itu. Sial.....!
Bagaimana pun caranya, aku tak akan mengijinkan Ais pergi.
***
Sudah dua jam aku duduk di kantin, menunggu Sofia sekaligus mencari cara untuk bicara dengan Ais. Aku harus bicara padanya. Jika tak mempan cara halus, akan kugunakan ancaman untuknya.
Pandanganku sekali-kali melihat ke arah pintu kantin, aku sengaja duduk dibagian out door samping taman. Biar kegiatan merokokku tak mengganggu pengunjung yang lain.
Sebagai pelampiasan emosi, aku sengaja membeli rokok yang di jual di toko depan kampus, sesaat setelah keluar dari kelas Sofia.
Sebenarnya sudah lama aku tak menjamah benda bernikotin ini, karena pada dasarnya aku tak menyukainya, hanya saja, disaat pikiran kacau, dan otak terasa sumpek, rokok inilah sebagai penenang.
Menghirup...., lalu menghembuskan, menghirup lalu menghembuskan lagi, rasanya masalah ikut terbang bersama kepulan asap. Ide-ide turut bermunculan sesaat setelah nikotin kusesap.
__ADS_1
Dari kejauhan aku melihat Ais memasuki kantin, ia digandeng oleh teman wanitanya. Mereka berjalan kearah stand bakso dan turut mengantri disana.
Ada perasaan lega saat melihat Aisku. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Ais duduk tak jauh dari tempat dudukku.
Aku hampir berdiri menghampiri mereka, sayangnya aksiku tertahan dengan kehadiran bajingan itu lagi. Memasang wajah sok ganteng dia duduk disamping Aisku.
Kutatap nyalang mereka yang disana. Fix, bajingan ini sengaja mengibarkan bendera perang.
Kehadiran Sofia tak lagi kuhiraukan, aku bangkit dan menuju meja mereka. Sengaja memilih kursi yang ada di depan mereka. Ais terlihat gugup melihat kehadiranku, tapi tidak dengan si bajingan itu, ia tampak ikut menantang.
Sofia duduk disampingku, ia antusias melihat bakso yang tersaji di atas meja.
Si bajingan tampaknya sudah kenal lama dengan Sofia. Dengan ramahnya ia menawari Sofia, untuk makan menu yang sama dengan mereka.
Sofia dan teman Ais beranjak ke toilet, sedang Bajingan kembali mengantri. Memang moment ini yang kunanti sejak tadi.
Dapat kulihat Ais benar-benar tak nyaman duduk berdua denganku.
Aneh.....
Dengan laki-laki lain bisa bersikap mesra, sedang dengan suami sendiri?
"Kamu kenapa?" dua kata pembuka kulayangkan untuknya.
"Kenapa kamu menghindari suamimu sendiri?"
Aku kembali bertanya.
Ais menoleh, tertawa sinis lalu kembali membuang muka. Apa sih aku dimatanya?
Aku semakin geram melihat tingkahnya, kenapa tatapannya begitu jijik padaku.
"Apa karna laki-laki itu?" tunjukku mengarah pada bajingan dibarisan antrian.
"Jangan melempar kesalahan sendiri pada orang lain, kak Reza tidak ada kaitannya" jawabnya membela si bajingan.
Tanganku ulur untuk menyentuh tangan Ais yang ada di atas meja, tapi secepatnya Ais menarik tangannya.
Aku menertawakan diriku sendiri, begitu jijikkah Ais padaku.
"Saya tak mengijinkan kamu untuk ikut acara itu" Ucapku datar dan tak mau dibantah.
__ADS_1
Meski dia diam, aku tau dia sangat kesal padaku.
"Aku suamimu, aku berhak tidak memberimu ijin" ucapku lagi.
Tak kusangka, akhirnya dia buka suara.
"Cih...., suami? sejak kapan tuan Hafiz yang terhormat memperistri seorang pembantu?
Atau tuan mulai amnesia?
Lupa ya, kalau buk Sofia itu yang istri anda? bukan saya! dan bukankah pembantu harus bersikap sebagai pembantu?
Begitu juga majikan, rasanya ....tak mungkin mengakui pembantu sebagai istri. Apa tuan lupa, diantara kita ada batasan?"
Wow ......sekali menjawab, kata-katanya pedas mengalahkan bon cabe level 10.
Tatapannya padaku semakin tajam.
"Dengan atau pun tanpa ijin situ, aku tetap akan ikut"
Benarkah yang ada di depanku ini Ais?
Kemana Ais yang penurut juga lemah lembut selama ini? Aku tak habis pikir, dalam sehari tingkahnya semakin berani padaku. Aku yang merasa tercabar akhirnya kembali mengeluarkan ancaman.
"Ok, kalau begitu aku akan memecatmu"
Mata Ais semakin memanas, tatapannya masih lekat padaku.
Diwaktu bersamaan, bajingan itu kembali bergabung.
"Ais....!, kenapa? kok baksonya nggak dimakan? nanti keburu dingin, apa mau disuapin?"
Amazing...perhatiannya sungguh luarrrrrr biasa. Ingin rasanya kukasuskan saja si bajingan ini, atas tuntutan "perbuatan tidak menyenangkan" karena mengganggu istri orang.
Namun sayang, aku tak bisa berbuat banyak, jika itu kulakukan, sama saja dengan menjebloskan diri sendiri, karena bisa balik dituntut oleh Sofia dengan tuntutan kasus " perselingkuhan"
Sofia kembali bergabung, dikiranya tatapanku iri pada dua manusia di depanku.
Kebetulan ini saat yang tepat, kubalas perlakuan Ais dengan menyuapi Sofia, biar dia merasakan bagaimana rasanya cemburu.
Sofia kembali membahas masalah pertukaran pelajar, membuat Ais tiba-tiba tersedak. Celakanya bajingan itu yang kembali menyodorkan air untuk Ais
__ADS_1
Hatiku semakin diremas-remas, kembali kukeluarkan kata-kata ketus. Setelahnya aku langsung berlalu pergi.
Bersambung.....