
Hafiz menggantungkan tangan di udara, saat suapan es krim untuk Aidan terhenti, dikala ada seseorang memanggil "Abang".
Hafiz, Aidan dan Aiza ketiganya menoleh kompak pada Ais juga Reza yang sudah berada dalam stand yang sama dengan mereka.
"Abang, adek....! ya Allah sayang, kalian kemana aja sih, unda bimbang setengah mati" Ais yang sudah duduk jongkok diantara Aidan juga Aiza, mengelus lembut pipi kedua anaknya, menumpahkan apa yang dirasa sejak tadi. Air mata pun lolos kembali mengalir hingga ke pipi.
Dua laki-laki dewasa menatap kearahnya dengan tatapan yang berbeda.
Aidan dan Aiza ikut menangis melihat unda mereka menangis. Padahal tadi keduanya sudah baik-baik saja, bahkan sempat tertawa bersama om temalen, julukan untuk Hafiz dari Aidan.
Ingin rasanya Hafiz ikut bergabung, memeluk erat menenangkan mantan wanitanya. Tapi itu tidak mungkin ia lakukan.
"Terima kasih banyak pak Ahmad, jika tidak ada anda, tidak tau apa jadinya anak-anak saya" ucap Reza ditengah-tengah keharuan.
Hafiz menoleh kearah Reza, hanya senyum yang ia berikan.
Hiporia bertemu kedua anaknya, membuat Ais melupakan orang yang sudah berjasa dalam menemukan dan mengamankan anak-anaknya.
Saat Reza mengucapkan terima kasih, baru ia tersadar.
Perlahan Ais berdiri ingin mengucapkan banyak terima kasih.
Hati Hafiz sudah ketar-ketir saat Ais mulai kembali berdiri. Ia tidak tau reaksi apa yang akan Ais berikan saat melihat dirinya, karena saat ini Hafiz tidak memakai kaca mata. Apa mungkin Ais akan mengenali dirinya? Atau........
"Pak, terima kasih banyak sudah menolong anak sa........." ucapan Ais terhenti saat mata sembabnya beradu pandang dengan mata itu. Mata yang pernah ia lihat. Mata yang pernah menatapnya penuh cinta, juga mata yang melihat dirinya hina.
Tubuh Ais kembali menegang, mengalahkan tegang disaat hilangnya Aidan juga Aiza. Tubuhnya bergetar penuh ketakutan. Keringat dingin tiba-tiba berkucuran, membasahi seluruh tubuh.
"A....anak...sa.....saya" ucapnya terbata. Apalagi mata itu masih menatapnya lekat tanpa berkedip. Dengan tatapan yang sulit diartikan.
Berbeda dengan Ais, apa yang Hafiz rasakan saat ini penyesalan juga rasa rindu yang begitu berat. Terlebih saat mata indah itu bertatapan dengannya, membuat hati Hafiz terasa bergejolak, ingin memeluk, namun ada batasan diantara keduanya.
*****
"Sayang, perkenalkan...., ini pak Ahmad, kuasa hukum sekaligus orang yang telah menyelamatkan Aidan" Reza dengan bangganya memperkenalkan Ahmad yang tak lain adalah Hafiz.
Deg........
__ADS_1
"Takdir macam apa ini, kenapa kami kembali dipertemukan ya Allah? Dan kenapa papa mengatakan jika manusia laknat ini adalah Ahmad? Apa papa tidak tau, dia Hafiz orang yang telah menghancurkan hidupku" suara hati Ais.
"Pak Ahmad, perkenalkan ini Ais istri saya" Reza memperkenalkan Ais pada Ahmad.
Sepanjang perjalanan pulang dari mall, Ais banyak diam, tidak seperti biasanya. Ia kembali teringat saat Reza memperkenalkan dirinya pada laki-laki yang mengaku sebagai Ahmad. Ais benar-benar yakin, jika itu adalah Hafiz, meskipun penampilannya jauh berubah. Pancaran matanya tidak bisa berdusta. Dia orang yang paling Ais benci.
Ais memilih duduk dibelakang, ditengah-tengah Aidan dan Aiza.
Reza, memaklumi, mungkin efek hilangnya Aidan dan Aiza memberikan troma tersendiri bagi Ais.
Dapat Reza lihat dari kaca spion yang ada di atas kepala, saat ini Ais menangis dalam diam, sambil mengelus pucuk kepala Aidan juga Aiza. Kedua bocah itu sudah tertidur nyaman dengan berbantalkan paha kiri dan kanan Ais. Reza tersenyum. Ia merasa beruntung memiliki istri yang penyayang seperti Ais. Tanpa curiga ada penyebab lain yang telah membuat air mata Ais jatuh berlinang.
Padahal saat ini semua yang ada di kepala Ais adalah Hafiz. Ais terasa kembali masuk kekehidupan empat tahun silam. Semua yang terjadi antara dirinya di empat tahun lalu, berputar ulang, seperti kaset kusut yang membuat kepala Ais berdenyut sakit. Air mata Ais tak henti mengalir, rasa sakit yang pernah Hafiz berikan, seakan kembali ia rasakan. Pemerkosaan, pembohongan juga penyiksaan. Akhirnya tangis Ais pecah tak tertahankan.
"Hik...hik.....hik...."
"Sayang......kenapa? tenanglah Aidan dan Aiza sudah aman bersama kita" ucap Reza yang sedikit kaget melihat Ais tiba-tiba menangis seperti kesakitan. Samai-sampai Reza harus berhenti mendadak, syukur saat itu berada di jalanan sepi, jika tidak bisa dipastikan akan terjadi tabrakan beruntun.
Ais tak merespon, kini ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan, dengan tangisan yang makin menjadi.
"Unda napa?" Aidan sampai terbangun dari tidurnya.
Karena merasa terganggu dengan tangisan Ais. Ia menatap bingung pada Ais yang sedang menangis.
"Unda nggak kenapa-kenapa sayang, unda hanya takut kehilangan Aidan" ucap Ais sambil menarik Aidan kedalam pelukannya.
Apa yang diucapkan Ais ada benarnya, dia takut jika Hafiz tau Aidan adalah anak kandungnya, maka dia pasti akan merampas Aidan dari Ais.
"Sayang, itu tidak mungkin, Aidan sekarang sudah bersama kita" kembali Reza bersuara.
Ais hanya diam, dia tidak merespon ucapan Reza. Untungnya beberapa menit berikutnya kondisi Ais sudah mulai sedikit tenang, sehingga Reza kembali melanjutkan perjalanan pulang mereka.
****
Ditempat berbeda, kediaman orang tua Reza.
"Mama tidak terima, dari dulu papa selalu mementingkan anak itu" ucap seorang wanita yang manis menggunakan baju pestanya.
__ADS_1
"Ma, dia anakku.....,sudah sepantasnya hartaku untuk dia" marah pak Hartanto pada istrinya.
"Tapi, tidak semuanya juga pa, mama juga punya hak, apa papa lupa siapa selama ini yang selalu menemani papa ha...." suara ibu tiri Reza tak kalah nyaring.
"Kau memang selalu menemaniku, tapi.....hanya saat senang juga sehatku saja, karena biasanya jika aku sakit, kau tidak pernah perduli" Ada kesedihan di ucapan pak Hartanto.
"Papa jangan bicara seperti itu, apa papa lupa selama ini mama lah yang selalu membantu papa, sudah semestinya perusahan itu jadi milik mama, lagian di Indonesia Reza sudah punya usaha sendiri, sementara mama?" ucapnya masih tak terima atas pembagian harta yang dirasa sangat tidak adil.
"Keputusan papa sudah mutlak, tidak bisa diganggu gugat" ucap Pak Hartanto tak mau dibantah.
"Ok, kalau itu mau papa, tapi jangan papa menyesal"
Bugggg......
Bunyi pintu dibanting kuat, sebagai pelampiasan kekesalan ibu tiri Reza pada pak Hartanto yang dinilai tidak adil dalam membagi harta yang dimiliki. Dia memilih keluar kamar dan akan pergi bersenang-senang dengan teman-teman sosialitanya.
Diteras ia berpapasan dengan Reza juga Ais. Jangankan menegur, menoleh saja tidak. Padahal Ais sudah mencoba untuk menegur, namun ia berjalan cuek.
Setelahnya ia langsung berlalu pergi dengan diantar sopir.
Ais juga Reza masih menatap kepergian itu, ada rasa aneh juga melihat kelakuannya, tapi mau bagaimana lagi, dia termasuk orang yang harus mereka hormati.
"Mama kenapa pa?" tanya Ais heran, makin hari ini mertuanya semakin aneh, semakin tidak peduli dengan kehadiran mereka.
"Mama memang orangnya begitu" Reza mengelus pundak Ais seraya mengajak masuk kedalam rumah.
"Wadah Oma telammmm..." Aidan ikut berkomentar.
"Hus......nggak boleh ngomong gitu sayang" Ais menegus Aiden yang bicara sedikit kurang sopan. Padahal jauh dilubuk hati Ais, dia sangat setuju dengan ucapan Aidan.
"Uhukkkk....uhuk....." terdengar suara batuk ak Hartanto yang berada dikamar atas.
"Pa, sepertinya papa tambah parah deh batuknya, apa sebaiknya kita bawa kedokter?" tanya Ais khawatir saat mereka sudah masuk ke dalam rumah.
"Papa juga maunya gitu, bahkan udah berkali-kali dibilangin, tapi dasar papanya aja yang nggak mau" jawab Reza sambil melihat Ais.
Bersambung.......
__ADS_1