Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
49. Mantap-mantapan.


__ADS_3

Tiga hari setelah kejadian naas itu, baru Ais dapat membuka mata. Pertama kali orang yang ia lihat adalah Reza. Belum ada kedua orang tua maupun adiknya.


Jarum infus masih menancap sempurna disalah satu punggung tangan. Baju pasien bermotif garis-garis hitam putih juga masih ia kenakan.


Ais merasa saat ini waktu yang tepat untuk ia berbagi cerita, agar rasa sesak yang selama ini ia tanggung sendiri bisa sedikit berkurang.


Tubuhnya gemetar, masih dalam kondisi ketakutan. Ais memulai cerita dari awal ia harus menikah hingga malam penganiayaan itu. Tanpa ada yang dikurangi maupun ditambah.


Reza setia menjadi pendengar yang baik, sekali-kali terdengar ia mengajukan pertanyaan. Selama cerita berlangsung air mata Ais tak henti mengalir. Reza dengan penuh perhatian selalu menyeka air mata itu dengan selembar tissue.


Dada Reza dibuat bergemuruh hebat, ternyata kisah hidup Ais sepahit itu tanpa ia tau. Jika dari awal sudah mengetahui jalan kisahnya, pasti tidak akan terlambat seperti sekarang ini.


Reza memberikan pelukan hangat diakhir cerita Ais, membuat si empunya cerita menumpahkan semua kesedihan yang ia tanggung selama ini.


Lama Ais menangis dipelukan Reza. Rasanya ia tidak akan melepaskan pelukan itu jika bukan salah satu perawat yang datang memeriksa.


Setelah mengetahui semuanya, Reza meminta persetujuan Ais untuk memboyong keluarga Ais kekota yang ditempati Ais sekarang untuk menghilangkan jejak dari Hafiz.


Sempat shock, itu juga yang dirasakan keluarga Ais. Namun mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Hanya saja mereka sama sekali tidak menyangka Hafiz yang dikenalnya memiliki kelakuan yang baik ternyata memiliki kepribadian ganda.


Ya...., Hafiz memang boleh dikatakan memiliki kepribadian ganda. Tidak bisa mengendalikan emosi. Namun detik berikutnya kembali menyesal, sebagai contoh saat ia memperkosa Ais. Itu terjadi karena rasa marahnya pada Sofia. Setelahnya ia sangat menyesali perbuatannya. Tidak hanya itu, perlakuannya yang tiba-tiba manis pada Ais, namun detik berikutnya menjadi cuek bahkan marah berujung penganiayaan.


Begitu Ais dinyatakan sehat, Reza langsung memberitahukan niatnya untuk melamar Ais. Pada awalnya Kedua orang tua Ais maupun Reza sempat tidak yakin akan keputusan Reza. Pasalnya Ais yang sekarang, bukan lagi Ais yang dulu. Ditambah ada janin ditubuhnya. Tapi Reza tidak putus asa, berbagai cara ia lakukan untuk meyakinkan orang tuanya juga orang tua Ais.


Setelah restu ke empat orang tua dikantongi, kini tinggal Reza menyampaikan niatnya pada Ais. Pasalnya sebelumnya Reza tidak pernah memberitahu Ais akan niatnya.


Cukup sulit untuk meyakinkan Ais, butuh perjuangan panjang. Reza juga memaklumi, mungkin bekas troma itu masih ada. Sehingga tak mudah bagi Ais untuk memulai hubungan.


Sampailah Ais melahirkan bayi pertamanya, Aidan, ia masih tetap sendiri, tanpa suami.

__ADS_1


Melihat Aidan lahir tanpa sosok ayah, ada kesedihan dihati Ais. Aidan butuh sosok ayah seperti anak yang lain. Ditambah desakan kedua orang tua, akhirnya Ais menerima lamaran Reza, tepat setelah dua bulan kelahiran Aidan. Dibulan ke tiga usia Aidan, mereka pun melangsungkan janji suci pernikahan.


Saat usia Aidan lima bulan, ternyata Ais kembali hamil. Karena baik Ais maupun Reza tak ingin menunda kehamilan.


Keluarga kecil mereka benar-benar dipenuhi kebahagiaan. Aiza lahir sebagai pelengkap. Usaha Reza semakin berkembang, baik yang ada di Indonesia maupun Malaysia. Jadi tidak heran pundi-pundi rupiah mengalir deras kerekening mereka.


Tanpa harus bekerja, kehidupan orang tua Ais sangat terjamin, sakit yang diderita sang ayah berhasil disembuhkan karena rutin menjalani pengobatan tanpa harus memikirkan biaya.


Via adik Ais sekarang tengah mengeyam pendidikan dibangku kuliah. Semua biaya, Reza yang menanggung.


Reza benar-benar menjadi sosok papa, suami, menantu dan ipar idaman. Jangan tanyakan tentang godaan wanita yang mencoba menggaet Reza. Tidak hanya satu dua orang, bahkan tidak mempan cara kasat mata, perdukunan juga dilakukan. Namun iman serta kesetiaannya pada Ais tak perlu lagi diragukan. Kerikir-kerikil kecil itu disusun menjadi penyanggah, pengokoh rumah tangga mereka.


Reza juga tidak pernah membedakan antara Aidan maupun Aiza, ia memperlakukan keduanya sama. Tidak pernah berpikir jika Aidan bukan darah dagingnya. Jika tidak karena faktor darah juga agama, mungkin diujung nama Aidan sudah terletip namanya.


Benar-benar keluarga bahagia.


🥰🥰🥰.


"Papa, disuruh bangunin anak-anak kok malah ngajak anaknya main?" Ais masuk kekamar memasang wajah cemberut, sangat lucu, ia menghampiri ketiganya yang sejak tadi menggemakan tawa.


"Unda.....tolong in... Abang....!" Teriak sisulung disela tawanya.


"Udah dong pa! Papakan mau kekantor" Ais mendekat berdiri disisi tempat tidur.


Sikecil Aiza yang masih setia menggelayut dibelakang Reza membisikkan sesuatu dikuping si papa. Reza dengan antusias mendengar bisikan Aiza, bibirnya menyunggingkan senyum licik sambil melirik Ais. Entah apa yang diucapkan Aiza, hanya Reza yang tau dan mengangguk paham.


Ais mengerutkan kening melihat tingkah suami juga anaknya.


Reza mengangkat Aidan, membuat posisinya menjadi berdiri, kemudian ia melakukan bisik berantai persis sama yang dilakukan Aiza padanya.

__ADS_1


Ais semakin mengerutkan kening, tingkah suami dan anak-anaknya selalu saja kompak, kali ini entah misi apa yang mereka bertiga rencanakan. Membuat Ais semakin penasaran dan mencondongkan badan untuk mencuri dengar sesuatu yang lagi dibisikkan.


Aiza cekikikan...... lucu, pipinya yang tak kalah tembem semakin menggembul saat dibawa tertawa.


Aidan memegang tangan Aiza keduanya turun dari tempat tidur dan berlari menutup pintu kamar. Kini yang tertinggal hanya dua orang dewasa.


Reza semakin tersenyum licik pada Ais, ia menaik turunkan alisnya, tak disangkanya si kecil Aiza paling bisa memberi ide gila. Dalam sekali tarikan kini tubuh Ais hambruk ketempat tidur.


Secepat kilat Reza menciumi leher juga kedua tangannya menggelitik bagian sensitif tubuh Ais.


Alhasil Ais tertawa terpingkal-pingkal sambil berteriak kegelian. Sedang kedua bocah yang mengintip dicelah pintu ikut cekikikan menutup mulut, tertawa lucu karena misi mereka berhasil.


Mbok Munah yang sedang melakukan kegiatan bersih-bersih diruang keluarga merasa curiga dengan sikap kedua bocah yang sedang mengintip dibalik pintu. Dikiranya sedang menonton adegan mantap-mantapan sang majikan.


Kemonceng ditangan terlepas begitu saja, ia berjalan tergesa-gesa, takut mata kedua bocah ikut ternodai.


Mulutnya komat-kamit membaca istighfar.


Entah sejak kapan mbok Munah berada diantara dua bocah, matanya juga sempat ternoda melihat majikan laki-laki berada diatas majikan wanita. Keduanya tampak seperti beradegan dewasa.


"Den Aiden sama neng Aiza ikut mbok ya?" ajaknya pada dua bocah yang menatap dirinya.


"Ahhhh.......pa......" suara dari dalam kamar semakin menggoda.


"Astagfirullah........" Mbok Munah terbelalak, kini tak hanya mata, kupingnya pun ikut ternoda. Kedua tangan menutup mata kedua majikan kecilnya.


Dengan sedikit terseok-seok mereka bertiga berjalan meninggalkan tempat reka adegan. Bagaimana tidak, kedua mata bocah ditutup paksa, mbok Munah sendiri dilanda panas dingin berusaha menghilangkan bayangan aneh dikepalanya.


"Ih.....situan sama nyonya kebelit apa, sampai nggak sempat nutup pintu" umpatnya sambil membawa kedua bocah menjauh dari kamar bersuara gila.

__ADS_1


Aiden dan Aiza hanya menatap aneh pada wanita baya yang menyeret mereka.


Bersambung.........


__ADS_2