
Suasana kampus sudah mulai tampak ramai, kebanyakan mereka sudah mengalungkan kartu identitas sebagai warga kampus, itu artinya mereka adalah senior-senior Ais.
Ais tampak bingung, ia belum tau kira-kira ke gedung dan ruang yang mana ia akan melangkah.
Kampus itu sendiri terdiri atas berbagai macam jurusan, salah satu jurusan yang Ais pilih adalah "engineering"
"Bismillah...go...go....Ais" Ais menyemangati diri sendiri dan berjalan menuju pos security untuk menanyakan keberadaan tempat yang akan dituju, "maaf ncek, kalau boleh tau, tempat untuk acara penyambutan mahasiswa baru disebelah mana ya? Ais memasang wajah ramah pada dua orang security yang sedang berjaga.
"Lurus....terus ada gedung yang tiga tingkat, langsung masok dan naek ke lantai due nanti di sane ade yang akan mengarahkan" jelas security diikuti gerak tubuh untuk mempertegas penjelasannya pada Ais.
"Terime kaseh cek" ucap Ais sambil membungkukkan badan diikuti senyum manis dibibir.
Dengan hati berbunga-bunga, Ais melangkah menuju tempat sesuai dengan petunjuk security tadi.
"Hai....!
mahasiswi baru ya?" tiba-tiba suara laki-laki menyapa Ais.
Ais menoleh ke samping, memastikan untuk siapa sapaan yang barusan ia dengar. Ada cowok berkulit putih dengan mata agak sipit disamping Ais.
"Saya?" tanya Ais sambil menunjuk diri sendiri, untuk lebih meyakinkan dirinya.
"Ia kamu?" jawab cowok yang berusaha mensejajarkan langkah bersama Ais.
"Ais kembali menatap kedepan, "ia...., saya mahasiswi baru"
"Indonesia?" tanya cowok itu lagi, karena bahasa yang Ais gunakan.
"Ia saya Indonesia" Ais menjawab seadanya.
"Aku Rian" ia mengulurkan tangan ke pada Ais.
"Ais..." ucap Ais tanpa membalas uluran tangan Rian, dan terus melangkah menaiki anak tangga.
"Orang tua aku juga asli Indonesia lho? Rian mencari perhatian Ais. Sambil menarik uluran tangan yang tak diperdulikan.
Benar saja, mendengar itu Ais langsung menghentikan langkah, dan menatap ke arah Rian seraya berkata, " Serius? orang mana? jadi kamu juga orang Indonesia?" pertanyaan bertubi-tubi yang Ais layangkan.
"Ia, mama asli Riau" kalau ayah asli penduduk sini, jadi aku blasteran, ha...ha..." Rian menertawai dirinya sendiri.
__ADS_1
"Oh ....", jawab Ais kurang semangat. Karena tadinya ia mengira Rian asli dari Indonesia.
Tak terasa mereka sudah sampai di lantai dua.
"Aku duluan ya" pamit Ais langsung masuk ke ruangan yang telah ditentukan. Meninggalkan cowok blasteran yang terus menatap dirinya.
"Sampai ketemu lagi Ais" ucap Rian sedikit berteriak.
Ais hanya menoleh sekilas memberikan senyum kecil, dan mengacungkan jempol, selanjutnya ia menghilang masuk ke dalam ruangan.
"Huh....sok akrab" gumam Ais.
Kemudian ia pun mendudukkan diri disalah satu kursi baris no tiga dari depan.
Tak lama menunggu, acara pun dimulai dengan pembukaan. Disamping Ais duduk seorang wanita berhijab. Lumayan cantik wajah khas Melayu, dengan hidung yang tidak terlalu mancung namun memiliki sisi kelebihan yang lain, yaitu alis tebal dan bulu mata yang lentik.
Ais pun memperkenalkan diri," hai..., saya Ais" sambil menjulurkan tangan.
" Saya Syarifah Tsania, kamu bisa panggil saya Nia" ucapnya ramah sambil menerima uluran tangan Ais.
"Indonesia?" tanya Nia
"yes" jawab Ais bersemangat
"oh...." jawab Ais sambil mengangguk paham. Banyak obrolan di antara keduanya, hingga acara penyambutan mahasiswa baru dimulai.
Setelah beberapa senior memberikan kata sambutan dan ucapan selamat datang ke pada para mahasiswa baru. Kini saatnya seorang motivator yang di persilakan naik ke atas podium untuk memberikan pengalaman.
"Kita sambut REZA ANGGARA PUTRA" suara pembawa acara terdengar lantang menyebut nama itu.
Ais yang sedari tadi asyik mengobrol dengan Nia, sesaat tersentak kaget mendengar nama yang tak asing di panggil untuk naik ke atas podium.
Ia pun menyorot tajam ke arah laki-laki berblezer abu-abu yang berjalan ke arah podium. "kak Reza" ucap Ais pelan.
Sambil ikut bertepuk tangan, "Wow...., handsome nye....!" kata-kata itu dengan mudahnya lolos dari bibir Nia. Pandangan matanya tak berkedip menyorot tajam ke arah Reza.
Sambil bertepuk tangan, Ais menoleh sejenak ke arah Nia. Ia juga mendengar Nia meluncurkan kata handsome untuk Reza.
"Ia ...., dia memang ganteng, karena itu aku mencintainya dalam diam" suara hati Ais. Seketika Ais kembali memutar pandangan ke arah Reza yang sudah berdiri di depan podium.
__ADS_1
Tak menyangka sama sekali akan melihat Reza sebagai motivator yang keren, membuat Ais terkagum-kagum. Disela-sela pembicaraan Reza terdengar gemuruh tepuk tangan. Ternyata Reza yang Ais kenal selama ini, sangat berbeda jauh dengan Reza yang ia lihat sekarang.
Ais memilih menyembunyikan wajahnya selama Reza berbagi pengalaman serta memberikan motivasi ke pada para mahasiswa yang baru. Ia tak ingin sampai Reza melihat dirinya.
Reza sosok laki-laki idaman kaum hawa, yang memiliki seribu kelebihan. Semakin menyaksikan itu, Ais semakin minder, ditambah statusnya saat ini hanya sebagai istri siri dari laki-laki dingin yang tak pernah mengakui hubungan mereka.
☘️☘️☘️
Kantor Hafiz
"Selamat pagi tuan" sapa beberapa karyawan.
"Pagi" jawab Hafiz dengan tersenyum kecil dan terus melangkah memasuki ruangan.
Baru saja Hafiz mendudukkan diri dikursi kebesarannya, sekretaris hafiz langsung mengetuk pintu.
Tok...tok....
"Masuk!" ucap Hafiz.
Sekretaris yang bernama Sela, mendekat ke meja Hafiz sambil menyodorkan beberapa tumpuk dokumen.
" Maaf tuan Hafiz, ini ada beberapa file dokumen yang harus ditanda tangani, dan ini bahan untuk kita meeting nanti jam 11.30 siang" jelas sekretaris yang berjelbab putih dengan baju kurung motif bunga.
Hafiz menatap ke arah dokumen yang menumpuk di atas meja, kemudian menatap ke arah Sela, " Makasih sel".
"Ada yang bisa saya bantu lagi tuan?" tanya Sela.
"Tidak ada, makasih Sel, kamu boleh pergi!" ucap Hafiz.
"Baik tuan" sela pergi meninggalkan ruangan Hafiz.
Hafiz mulai membaca dokumen yang diberikan Sela. Sambil sesekali memijat pelipis saat membuka dokumen, seminggu tidak mendatangi kantor, menyisakan banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Lama berkutat dengan dokumen yang ada di meja, tak terasa sekarang sudah menunjukkan jam 11.30 siang. Artinya Hafiz akan segera melakukan meeting. Ia pun segera meninggalkan ruangan dengan beberapa dokumen di tangan, dan melupakan hp yang ada di atas meja.
☘️☘️☘️
Sudah tiga puluh menit yang lalu Ais keluar dari ruangan seperti orang mengendap-endap.
__ADS_1
"Alhamdulillah....syukurlah kak Reza tak melihatku" ucapnya dalam hati sambil mengelus-elus dada untuk meredakan kepanikan yang sempat terjadi.
Sekarang Ais memilih mengasingkan diri di bawah pohon yang ada bangku dan meja di taman kampus. Melirik ke arah hp dan berniat menelpon Hafiz.