Cinta Dua Batas

Cinta Dua Batas
68. 99% Anak Biologis


__ADS_3

Sepulang dari Mall xxx, Hafiz dilanda rasa yang sulit dijelaskan. Ia bisa menangkap sinyal-sinyal, jika Ais sudah mengenali dirinya, hanya saja mungkin sedang berpura-pura tidak kenal. Setidak berharga itukah dia didepan Ais?


Sedih dan penyesalan sudah menjadi santapan. Digulung waktu seribu tahun kedepan pun, mungkin tetap tidak akan hilang, selagi maaf tidak ia dapatkan.


Mata sembab Ais, benar-benar masih bermain di kepala. Tidak ada yang berubah, malah semakin indah. Membangkitkan gelora rasa ingin kembali memiliki.


Mata itulah yang dulu pernah menatapnya dengan cinta. Mata yang pernah memberi ketenangan, serta kenangan tidak terlupakan disaat keduanya menghabiskan malam panas bersama.


Tapi kini mata indah itu, menatap dirinya dengan tatapan yang entah. Hafiz tidak bisa membaca apa yang ada dimata indah itu. Mata indah itu, bukan lagi miliknya.


Mungkinkah masih ada harapan untuk dirinya kembali memiliki mata indah itu?


Bukankah dosa besar jika merobohkan mesjit yang telah dibangun?


Sepanjang jalan terasa hampa, hingga tanpa terasa kini Hafiz tepat berada di depan rumah sakit ternama dikota itu. Kedatangannya kesini untuk menyelesaikan misi yang masih menjadi teka-teki.


****


Malam hari, seperti biasa Ais menyiapkan makan malam keluarga. Tepatnya hanya keluarga kecilnya saja, karena opa masih terbaring sakit dikamar atas, sementara istrinya tidak tau kemana rimbanya.


"Aidan mau ayam Upin Ipin?" Ais menawarkan potongan paha ayam yang sudah digoreng tepung pada Aidan.


Aidan mengangguk. Lalu Ais memasukkan potongan ayam itu kedalam piring Aidan yang sudah berisi nasi juga sayur sup.


"Aiza juga mau?" Ais beralih pada Aiza.


"Aiza mau unda" ucapnya sambil bertepuk tangan karena senang.


"Abang mau yang mana?" Ais bersiap untuk menyendoki menu kesukaan Reza.


"Abang.....?" Reza sedikit bingung, tidak pernah sejarahnya Ais memanggil dirinya dengan sebutan abang. "Kakak" pernah, tapi itu pun dulu sebelum mereka menikah.


"Maksud, unda.....papa?" Ais sedikit kelabakan, ternyata alam bawah sadarnya masih memikirkan Hafiz.


Reza tidak lagi menanggapi. Dia menunjuk menu yang di inginkan. Ais menyendoki menu pilihan Reza.


"Yakin hanya segini?" Ais merasa heran, karena Reza hanya memilih sayur sup doang. Tanpa lauk tanpa yang lainnya.


"Papa lagi sariawan, jadi nggak enak makannya" jawabnya sekenanya.


"Udah minum vitamin?" tanya Ais lagi, sambil menyodorkan piring Reza.


"Nanti papa beli di apotik"

__ADS_1


"Unda..., mau itu! Aidan kembali meminta ditambah kuah supnya.


"Ah.....anak bunda makannya hebat" puji Ais agar Aidan semakin bersemangat makannya.


Selesai melayani anak juga suami, kini Ais mendudukkan diri untuk mengisi perutnya sendiri.


Makan malam berlangsung hambar. Tidak ada obrolan seperti makan malam biasanya. Semua diam dengan pikiran masing-masing, kecuali Aiza dan Aidan, sekali-kali masih terdengar celotehan mereka.


Ais tiap suapan memikirkan tentang Hafiz yang kini berpura-pura sebagai Ahmad, dan yang semakin membuat Ais bimbang Hafiz kini menjadi kuasa hukumnya Reza. Tidakkah itu artinya ada niat terselubung dari Hafiz.


Sedang Reza memikirkan tentang dirinya. Tentang penyakit yang menggerogoti dirinya. Tentang hukum yang sedang dihadapi, karena kemungkinan terburuk dari keduanya sedang menanti. Bagaimana caranya ia berterus terang pada Ais tentang semua itu?


****


"Ahhhhgggg... aghhhh........ ahhhhhn....emmmmm...." Suara erangan.


Merasa terusik dengan bunyi yang tidak jauh dari kupingnya membuat Ais perlahan membuka mata. Cahaya lampu tidur tamaram, membuat penglihatan Ais tidak terlalu jelas. Pandangan masih lurus ke atas, belum melihat kesisi kirinya.


"Ahhhhgggg... aghhhh........ ahhhhhn....emmmmm...."


Suara itu kembali terdengar. Ais menoleh, kekiri. Bukankah itu suara Reza, tapi kenapa? Apa Reza sedang bermimpi?


"Sayang.....! Ais menepuk pelan punggung suami yang membelakangi dirinya.


"Sayang ......kenapa?" menarik tubuh Reza agar posisinya menjadi telentang. Pemandangan aneh yang Ais dapatkan, Reza terlihat tersengal-sengal seperti kepayahan mengambil nafas. Kedua tangan sambil memegang dada sebelah kiri.


Keringat dingin bercucuran dikeningnya


Melihat ada yang aneh, Ais berdiri tergopoh-gopoh menuju saklar lampu utama, menekan tombol on dan lampu akhirnya menyala.


Ia kembali mendekati Reza yang sudah kembali meringkuk seperti udang. Kepanikan jelas Ais rasakan. Kenapa suaminya sampai sesakit itu, apa sebenarnya yang ia sakitkan?


"Pa...!, Papa kenapa? apa yang sakit pa?" Ais panik seperti orang gila, air mata pun sudah membasahi kedua pipinya. Kedua tangan memijat jemari-jemari Reza yang semakin mendingin.


Serangan panik Ais rasakan, bukan hanya kaki dan tangan Reza yang dingin. Kini dia juga mengalami hal yang sama. Tubuh Ais bergetar hebat, bukan karena suhu dingin ruangan, melainkan rasa panik juga takut luar biasa.


Tidak ada respon dari Reza, sepertinya sakit yang sedang ia rasakan benar-benar membuat Reza hampir kehilangan kesadaran. Hanya terdengar erangan dari bibir Reza, erangan yang terasa sangat menyakitkan.


Melihat tidak ada respon yang Reza berikan, akhirnya Ais berlari kekamar opa, setibanya di depan pintu Ais urungkan niatnya, karena opa juga sama, sedang sakit.


Lalu Ais berlari menuruni tangga, pergi kebelakang kekamar sopir juga pembantu, untuk meminta tolong membawa Reza kerumah sakit.


Sebelum pergi membawa Reza kerumah sakit, Ais sempat berpesan ke pada pembantu untuk mengurus Aidan juga Aiza.

__ADS_1


****


Pagi menjelang.....


Belum ada tanda-tanda Reza akan sadarkan diri. Beberapa peralatan medis sudah menancap sempurna di bagian tubuhnya.


Ais duduk disamping bed Reza. Menggenggam erat, tangan laki-laki yang menjadi pelindung dirinya selama empat tahun ini. Ditatapnya wajah Reza yang pucat. Sekali-kali mengecup penuh sayang tangan Reza. Ais takut...., sangat takut. Ais takut hal-hal buruk akan terjadi.


Mata sembab, juga mata panda menghiasi wajah pucat Ais. Sejak tadi malam, belum ada Ais kembali terpejam. Ais takut, jika ia kembali tertidur akan mengalami kejadian menakutkan seperti malam tadi.


Semua terlalu mendadak, tidak ada tanda-tanda apapun. Hanya saja semalam Reza sempat mengeluhkan sariawan, sehingga mengganggu nafsu makannya. Hanya itu saja. Tapi kenapa, saat terbangun dari tidur, Ais disuguhkan pemandangan yang sangat menakutkan?


Apa yang sebenarnya disembunyikan Reza?


Apa ada yang tidak Ais ketahui, padahal selama ini mereka selalu terbuka.


Air mata Ais kembali melincur. Dia menangis dalam diam. Terlebih saat ini hanya dia seorang yang menemani Reza.


Tidak terasa, entah bila waktunya, kini Ais tertidur duduk dengan kepala menelungkup disamping Reza.


Lorong-lorong rumah sakit sudah mulai dipenuhi pengunjung, pasien juga para tenaga medis yang berjaga.


Ais akhirnya kembali membuka mata. Tertidur dalam posisi duduk membuat leher terasa tidak nyaman. Perlahan Ais meluruskan badan.


Dilihatnya wajah suaminya, ternyata masih tertutup rapat, mungkin Reza belum juga sadar.


Ais kembali melihat kearah jam yang ada didinding ruangan, ternyata baru jam delapan pagi. Ais berdiri, ia berniat mencuci muka yang terasa lengket bekas air mata juga baru terbangun dari tidur.


Dirumah sakit yang sama namun ruangan yang berbeda. Mata Hafiz membulat sempurna saat melihat tulisan yang menyatakan 99% Hafiz sebagai ayah biologis Aidan. Seketika cairan bening lolos dari mata Hafiz. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Entah apa yang dirasakan, apakah bahagia atau justru sebaliknya.


Lama Hafiz menangis, hingga kekuatan kembali terkumpul, ia pun meninggalkan ruangan tempat pengambilan hasil tes DNA tadi. Dengan langkah gontai ia berjalan dilorong rumah sakit. Pikirannya sungguh sangat kacau, bagaimana caranya ia kembali mengakui anak yang sempat tidak diakuinya, atau lebih tepatnya sudah ia campakkan. Masih adakah maaf untuk ayah seperti dirinya.


Sepanjang lorong Hafiz terdiam, bukan fokus dengan langkah, melainkan pikiran yang dipenuhi bimbang. Sehingga tanpa sadar ia menabrak seseorang yang sedang menelpon.


Bug......


Prakkkk......


Hape jatuh menghantam kerasnya lantai keramik. Membuat benda persegi panjang itu retak tak berbentuk.


Bersambung......


Mohon maaf Upload hanya semampunya🙏 Dikarenakan Author lagi sibuk didunia nyata, dikejar dead line yang harus selesai ditanggal 16 Desember.

__ADS_1


__ADS_2