
Wanita renta itu, memeluk erat disertai isakan, namun tidak ada balasan. Ais mematung pikirannya seketika blank.
"Maafkan kami.....! maafkan kami......!" puan Jijah menangis terisak masih memeluk Ais. Menyesali semua yang sudah terjadi.
Lima menit kemudian. Pelan tapi pasti tangan Ais terangkat. Membalas pelukan puan Jijah. Wanita yang dulu pernah bergelar majikan juga mertua itu tetapi kini, semua sudah menjadi ex alias mantan.
"Mama" ucap Ais parau. Air mata yang berusaha dibendung, ternyata lolos begitu saja. Ia masih meletakkan penghargaan untuk wanita tua itu dengan sebutan mama. Meski tak lagi menyandang status menantu, Ais tidak mengubah panggilan itu.
"Maafin mama sayang!" kembali puan Jijah memohon maaf.
Ais hanya diam, dari pelukan yang ia balaskan menggambarkan ada rasa rindu yang juga di tahan.
Puan Jijah merenggangkan pelukan, ditatapnya wajah Ais dalam.
"Terima kasih karena sudah menjaga dia" untaian terima kasih puan Jijah sampaikan. Setelahnya kembali memeluk erat Ais.
Dia sebutan untuk cucu yang baru diketahuinya. Cucu yang berasal dari wanita yang sekarang dipeluknya, belum melekat di kepalanya nama Aidan yang masih terasa asing. Karena semua terjadi dalam sekelip mata.
"Dan mama mohon tolong maafkan Hafiz, dia sudah menyesali semua perbuatannya, selama empat tahun ini dia hidup dalam lembah penyesalan" sambung puan Jijah lagi.
Saat nama itu di sebut, pelan tapi pasti Ais melepas pelukan puan Jijah. Puan Jijah, merasa gagu, mungkin dia sudah salah bicara. Rasa bahagia dan ingin menjalin hubungan yang baik, mendorong puan Jijah berucap demikian. Tanpa dia tau sampai saat itu, luka itu masih menganga.
"Ais....maaf jika mama salah berkata" sambung puan Jijah lagi, dia merasa bersalah karena melihat perubahan air muka Ais.
Tidak ada sahutan, Ais hanya mendekat kesisi ranjang Aidan. Tangan Aiza terulur minta di gendong oleh Ais. Ais menyambut uluran tangan Aiza, tanpa melihat wajah Hafiz. Gadis lucu itu sekarang sudah berpindah ke gendongan Ais.
Elusan lembut Ais sapukan di kening Aidan. Masih terasa panas. "Cepat sembuh sayang" ucap Ais pelan penuh kesedihan.
Pergerakan Ais tidak lepas dari pandangan Hafiz, ada rasa menghangat di dadanya. Andai saja saat ini dia masih bersama Ais, pasti kebahagiaan yang mereka rasakan. Ais wanita penuh kasih sayang juga kelembutan. Pantas saja Dira belum bisa lepas dari bayang-bayang Ais.
"Aidan biarkan dulu di ruang ini, ada mama juga Abang yang menjaga, biar Ais lebih fokus pada pak Reza" ucapan Hafiz mengalihkan rasa yang semakin menggila. Apa yang dikatakan Hafiz ada benarnya. Jika harus mengurus ke duanya dalam waktu bersamaan, sungguh akan membuat dirinya keteteran. Belum lagi Aiza yang terpaksa dibawa ikut serta semakin menambah beban Ais.
Ais mendekat ke arah koper yang tadi dibawakan sopir. "Biarkan saja dulu koper itu disini, biar nanti saya yang bawakan!" ucap Hafiz lagi.
"Tidak ada jawaban yang Ais berikan. Dia membalik badan, dan berjalan menuju ke arah puan Jijah yang duduk di sofa. Menyalami lalu menitipkan pesan "Ma..., titip Aidan"
"Jangan khawatir, Aidan aman bersama kami"
__ADS_1
"Makasih ma"
"Sudah menjadi kewajiban kami" puan Jijah tersenyum manis pada Ais.
Akhirnya Ais melangkah meninggalkan ruangan Aidan. Tidak ada niat sama sekali menyapa Dira yang masih tertidur nyenyak. Sebenarnya Ais tidak ingin berhubungan dengan hal yang ada kaitannya dengan Hafiz, tapi takdir seolah sedang mempermainkannya.
Kreakkkk....
Pelan Ais mendorong pintu ruangan Reza. Seketika mata indah Ais berubah sayu. Netranya melihat Reza duduk bersandar di kepala ranjang yang sudah di stel sedikit tinggi.
"Papa!" Aiza berteriak begitu melihat wajah Reza. Barangkali gadis kecil itu amat merindukan Reza.
"Princess papa!" Reza pun tidak kalah antusias. Rindu yang sama karena sudah dua hari tidak melihat buah hatinya.
"Mau cama papa!" rengek Aiza sambil mengulurkan tangan pada Reza.
"Sini papa gendong" Reza juga mengulurkan kedua tangannya, bahkan ia melupakan jarum infus yang masih menancap sempurna ditangan kirinya.
"Pa.....lupa ya, ditangan ada jarum infus" Ais mengingatkan Reza.
Reza melirik tangan sebelah kirinya, bisa-bisanya dia lupa.
"Papa cakit ya?"
"Ia, doain papa biar cepat sembuh ya"
Aiza mengangguk.
"Mau cium papa?" Ais bertanya ada Aiza yang masih di gendongan.
Dengan antusias Aiza mengangguk.
Pelan Ais menurunkan Aiza, mendudukkannya di samping Reza. Masih muat, karena bed yang ditempati Reza memang cukup untuk dua orang dewasa.
Muaccchhh..... muach...... muachhhh.....
Beberapa bagian wajah Reza, tidak luput dari ciuman Aiza.
__ADS_1
"Udah ya....?" Ais berniat akan memindahkan Aiza.
"Biarkan saja unda, papa juga kangen sama Aiza"
cegah Reza pada Ais yang sudah bersiap akan memindahkan Aiza yang kini sudah ikut berbaring memeluk Reza. Untung posisinya disebelah kanan, sehingga tidak mengganggu slang infus yang menancap ditangan kiri Reza.
"Unda......! baring samping papa juga yuk....! papa kangen" Reza menepuk sisi sebelah kirinya.
"Nggak bisa pa, nanti kalau kena slang infus malah repot" tolak Ais halus.
"Nggak" melihat jawaban kekeh Reza membuat Ais mengikuti kemauan suaminya. Lagian saat ini ia memang sangat merindukan sosok Reza yang selalu jadi sandaran disaat ia tidak baik-baik saja.
Perlahan Ais ikut bergabung, berbaring di samping Reza. Hanya Ais sangat berhati-hati memposisikan diri. Dia tidak mau menjadikan tangan Reza yang terpasang infus sebagai bantal, oleh sebab itu Ais berbaring sedikit di bawah ketiak Reza. Posisi miring dirasa sangat nyaman, sambil mencium aroma tubuh khas Reza yang menjadi kesukaan Ais.
Tidak butuh waktu lama, Ais pun tertidur dengan nyaman. Begitu juga Aiza. Reza tersenyum menatap keduanya. Tidak bisa dipungkiri ada seribu bimbang yang ikut serta bermain di kepala Reza. Ia khawatir akan kesehatan juga keselamatan dirinya dari jeratan hukum yang sedang menanti.
Kreakkkk....
Pintu ruangan Reza kembali terbuka. Begitu dua bola mata hitam beradu pandang, ada rasa ketidak nyamanan.
"Maaf, sepertinya saya berkunjung diwaktu yang tidak tepat" Hafiz menunduk seakan sudah melakukan kesalahan besar dengan menciduk mantan istri satu ranjang dengan suami barunya.
"Kalau begitu, saya per...."
"Masuk saja pak Ahmad!. Nggak masalah, istri saya memang manja seperti ini, dari semalam dia tidak bisa tidur. Karena kebiasaannya, baru bisa tidur kalau memeluk dan mencium aroma tubuh saya" ucap Reza karena memang itulah adanya. Tidak taukah Reza, jika semua kata-katanya barusan bagaikan duri yang sengaja ditancapkan pada seonggok daging yang bersarang di dada Hafiz. Rasanya sakit....teramat sakit....
"Dari semalam dia tidak tidur, itulah istri apabila suami sakit, dialah orang pertama yang akan mengurus kita, iyakan pak Ahmad?" lanjut Reza lagi. Semua kata Reza, mengingatkan pengalaman lampau disaat dirinya demam, dengan telaten Ais mengurus dirinya. Padahal di saat itu, komunikasi keduanya sedang tidak baik, bahkan sebelumnya Hafiz sempat marah pada Ais.
"I...iya pak Reza apa yang anda katakan sangat benar" jawaban Hafiz sedikit gugup.
"Silakan duduk pak!" Reza dengan ramah mempersilakan Hafiz duduk di kursi yang ada di sebelah Aiza. Posisi dimana dirinya dengan leluasa bisa melihat betapa cantiknya Ais saat tertidur.
"Terima kasih" Hafiz mendudukkan diri.
"Si kecil ini juga sepertinya sangat merindukan saya" Reza mengecup pucuk kepala Aiza.
"Sudah berapa hari dirumah sakit pak, soalnya tadi saya sempat telpon kekantor bapak, katanya bapak lagi dirawat" Hafiz memulai pembicaraan, dibuka dengan menu sedikit kebohongan. Karena sejatinya ia tau jika Reza sakit saat bertemu Ais, bukan dari orang kantor Reza.
__ADS_1
"Semalam pak" jawab Reza seadanya, seakan enggan melanjutkan obrolan masalah penyakitnya.
Bersambung...